Bahaya Mengancam Tak Terhindarkan

Bahaya Mengancam Tak Terhindarkan

Kejadian 42:25-38

Siapapun tak menghendaki adanya sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri, keluarga, dan komunitasnya. Itulah sebabnya dalam satu keluarga, sang kepala keluarga diasumsikan sebagai pengayom dan pemangku, tempat perlindungan dan perteduhan. Pada sang kepala keluarga isteri dan anak-anak menyandarkan diri untuk mendapatkan rasa nyaman. Ketika bahaya mengancam, isteri dan anak-anak berbari di belakang suami/ayah. Hanya seorang suami/ayah pecundang saja yang lari dari ancaman bahaya dan membiarkan isteri dan anak-anaknya terpapar bahaya itu.

Lihatlah hari-hari ini ketika pandemi covid-19 merebak dimana-mana yang menyebabkan “keterpurukan” kehidupan, para kepala keluarga berpikir keras bagaimana mengatasi masalah ekonomi di dalam keluarga kecilnya. Sangat riskan bila kepala keluarga membiarkan situasi ini tanpa berdaya. Mari kita ikuti kisah Yusuf dan saudara-saudaranya.

Ada yang Tidak Beres

Yusuf memberi perintah kepada para pekerjanya untuk mengisi perbekalan di karong-karong yang akan diangkut oleh keledai-keledai. Di dalam karong-karong itu dikembalikan pula uang yang mereka bawa untuk membeli perbekalan itu. Dalam perjalanan pula ke Kana’an pun mereka dibekali makanan secukupnya. Dengan cara itu mereka tidak mengganggu perbekalan yang dibawa untuk kebutuhan keluarga besar Yakob sang Isra’el itu.

Dalam perjalanan pulang antara Mesir ke Kana’an, mereka butuh beristirahat. Keledai-keledai pengangkut pun butuh istirahat, sekalipun mereka tergolong ternak yang kuat. Namun perjalanan darat Mesir – Kana’an dengan beban tentu sangat melelahkan. Oleh karena itu, mereka harus beristirahat.

Pada saat beristirahat, seorang di antara mereka hendak memberi makan keledainya. Pada saat ia membuka karong perbekalan untuk mengambil makanan, di situ ia menemukan uang miliknya. Ia terkejut. Bagaimana mungkin? Ia memberitahukan hal ini kepada saudara-saudaranya. Lalu, mereka menggumam, “Tuhan, ada apa lagi yang Kauperbuat pada kami?

Perasaan ketidakberesan ini mereka bawa dalam perjalanan pulang. Mereka tiba kembali di Tanah Kana’an bertemu dengan sang ayah dan keluarga besar Isra’el. Ketidakberesan itu mereka ceritakan pada sang ayah. Tentu saja hal ini menjadi cerita yang dikonsumsi oleh seluruh anggota keluarga. Cerita tentang bagaimana mereka diterima oleh orang kepercayaan Firaun sang anak matahari di Mesir. Orang kepercayaan itu luar biasa. Rasanya ia tidak ada rona senyum di wajahnya. Ia bicara lantang tanpa dinamika ketentraman pada penerimaan pendengarnya.

Yusuf, dalam “sandiwara” yang dimainkannya itu berhasil “meluluhkan” hati saudara-saudaranya. Itulah yang dibawa ke Kana’an oleh saudara-saudaranya. Mereka tidak saja membawa perbekalan untuk dapat bertahan hidup dalam masa kelaparan itu, tetapi membawa pula hati yang gundah-gulana. Mereka membawa perasaan tidak beres. Kecemasan dan ketidaktentraman, dan mungkin juga gemas karena tidak dapat berbuat apa-apa sebagai “laki-laki” perkasa di padang penggembalaan yang mampu bertahan di segala musim demi menjaga kawanan ternak mereka.

Keterkejutan hingga ketakutan terjadi pada babak berikutnya. Seluruh cerita telah dibeberkan dengan segala bunga dan bumbu penyedap rasa susah. Kini, mereka ketakuran karena uang yang mereka bawa untuk membeli persediaan perbekalan justru ada dalam karong milik setiap orang. Ketakutan merayapi ayah mereka pula. Dan bila seorang ayah berada dalam lingkaran ketakutan, bagaimana seisi rumahnya?

Sang ayah mencoba berdiskusi dengan melemparkan kesalahan pada anak-anaknya. Perbuatan merekalah yang menyebabkan Yusuf hilang, Simeon ditahan, dan kini nama Benyamin  dipertaruhkan. Benyamin yang telah diketahui namanya itu harus ditunjukkan batang hidungnya. Orangnya harus kelihatan di mata orang kepercayaan Firaun. Bila mereka kehabisan makanan, mereka pasti kembali ke Mesir. Di Mesir ada persediaan bahkan untuk menanggulangi kelaparan itu selama 7 tahun. Mesir tidak kekurangan. Mesir bahkan menjadi gudang perbekalan untuk penduduk di sekitarnya. Maka, bila Kana’an membutuhkan, mereka pasti pergi ke Mesir. Bila saatnya mereka kehabisan persediaan, mereka pasti akan kembali ke Mesir, dengan syarat, harus membawa Benyamin.

Anak-anak Yakob tidak dapat menghindar dari fakta yang ada di Kana’an. Mereka bersaudara 12 orang. Satu di antaranya telah hilang sehingga menyebabkan orang tua mereka sedang ada dalam masa kesedihan yang panjang. Simeon telah pula disandra dengan tebusannya, mesti menunjukkan Benyamin. Semua ini bagai proses menyiksa sang orang tua secara psikologis. Orang tua yang telah bersama-sama dengan semua anak-anaknya sejak dari Mesopotamia, yang dalam perjalanan pulang dengan gaya “melarikan” diri, bertemu dengan Tuhan dalam pergulatan, takut bertemu dengan kakaknya Esau, berhadapan dengan masalah ketika Simeon dan Lewi mengangkat pedang terhadap Sikhem,dan banyak persoalan hidup yang telah dihadapi dan dilewati, termasuk kematian Rahel di perjalanan menuju Tanah Kana’an.

Semua persoalan itu bagai tak akan terhapuskan dari ingatan dan kesan Yakob dan keluarganya. Yakob belum (atau tidak) bersedia mengizinkan Benyamin turut serta dalam perjalanan kembali ke Mesir untuk pengadaan persediaan bekal hidup dalam masa kelaparan yang masih tersisa itu.

Bagaimana dengan kita?

Di zaman modern ini, apakah masih ada kelaparan yang mengancam? Jawabannya, ada. Negara-negara di Afrika sering sekali ada kabar-kabar tentang kelaparan yang melanda penduduknya.

republika.co.id melansir berita pada Januari 2020, di Selatan Afrika ada sekitar 45 juta orang kelaparan menurut catatan Word Food Programme (WFP), Badan Pengan PBB. Enam belas negara di kawasan itu mengalami kelaparan akibat kekeringan, banjir bandang dan kekacauan ekonomi. Ini suatu hal yang memilukan di zaman ini. Antarnegara sudah ada hubungan yang intens untuk saling membantu mengatasi persoalan seperti ini. Ya, di bawah koordinasi Badan Pangan Dunia hal itu dilakukan.

Apakah ada masa kelaparan di suatu daerah di Indonesia yang menghebohkan? Ada. Rilis resmi dari Asia Development Bank (ADB), ada 22 juta penduduk Indonesia kelaparan pada masa antara 2016 – 2018. Indonesia yang negara agraris dan maritim, penduduknya kelaparan, suatu paradoksi. Bagaimana mungkin? Kelaparan tersembunyi, itulah yang terjadi. Orang merasa sedang mempunyai makanan untuk dikonsumsi, padahal makanan itu tidak memberi dampak pada sistem kekebalan tubuh dan perkembangan tubuh, apalagi pada perkembangan otak anak. Mereka makan untuk bertahan hidup, itulah yang disebut kelaparan tersembunyi (hidden hungry).

Adakah kelaparan di Timor? Gagal tanam dan gagal panen oleh karena kekeringan sering melanda daerah-daerah tertentu di Pah Meto’, Pulau Timor. Ancaman kelaparan selalu menghantui penduduk di daerah-daerah seperti itu. Contohnya pada tahun 2014, di Mollo Barat, Timor Tengah Selatan, di sana 600 kepala keluarga mengalami gagal panen, dan ancaman kelaparan terjadi. Mereka yang biasanya panen 3 kali setahun, tetiba harus mengalami hal itu. Mereka yang biasa hidup dari hasil sawah, harus menderita kesulitan mendapatkan makanan pada musim tanam itu.

Setiap zaman ada saja wilayah tertentu dimana penduduknya mengalami ancaman kelaparan. Ancaman seperti itu tak dapat dihindari, kecuali mesti berbijak. Kebijakan seperti apa? Berbijaklah dalam perlakuan terhadap alam. Alam yang Tuhan ciptakan dan bentangkan pada kita mesti dipelihara sebagaimana yang Tuhan kehendaki terjadi pada kita. Tempat dimana kita tinggal, disitulah “Eden” yang Tuhan sediakan, sehingga tugas kita memeliharanya. Kejadian 2:15-16-17, UISNENO nreek mansian naan natua nbi Eden, he npairoir po’on naan rek-reko. Onaim In naprenat mansian naan am nak, “Au ‘konan o he muah hau fua’ saa’-saa’ ahaa na’ko are’ kanan roet anbi po’on ia. Mes anmui’ naan hau uu’ goes, re’ Au ‘taar ko ma’tani’ he kais muah in fuan. Hau naan es re’ hau roet re’ karu mansian ii naah in fuan, in bisa nahiin rais reko ma rais re’uf. Mes karu ho muahn ee te, ho ro he mmaet” (TUHAN memberi perintah pada manusia itu untuk tinggal di Eden untuk memelihara taman itu sebaik-baiknya. Jadi, Ia memberi perintah pada manusia itu begini, “Aku meluaskan kamu mengambil buah-buah apapun dari segala jenis tanaman di sini untuk kamu memakannya. Tapi Aku melarang kamu secara keras dan ketat untuk tidak mengambil dan memakan buah dari satu jenis tanaman di dalam Taman ini.  Tanaman itu bila kamu ambil dan makan, kamu dapat mengetahui hal-hal baik dan hal-hal buruk. Dan terlebih lagi bila kamu memakannya, kamu akan mati.

Apakah kita sudah memelihara “Eden” kita? Saya kira kita perlu berefleksi.

 

Koro’oto, 21 Juni 2020