Dalam Kebaktian Minggu di Siloam Metina

Dalam Kebaktian Minggu di Siloam Metina

Kebaktian/Ibadah pada setiap hari Minggu dalam Jemaat/Umat beragama Kristen, rasanya menjadi suatu rutinitas belaka bila tidak memberi makna padanya baik oleh seluruh pelaku akta liturgis di dalamnya. Hal yang sedang dan sudah terjadi ratusan tahun hingga berabad sejak berdirinya jemaat-jemaat Kristen.
Sakramen, peneguhan dan perhadapan, paling kurang tiga hal ini ada dalam kebaktian-kebaktian minggu sebagai yang utama.Layanan sakramen dalam Gereja Protestan di Indonesia, khususnya dalam Gereja Masehi Injili di Timor yaitu perjamuan kudus dan baptisan kudus. Sementara peneguhan dan perhadapan banyak versinya, di antaranya sebagaimana yang terjadi pada hari kemarin, Sabtu (04/07/20), dan hari ini Minggu, (05/07/20) di GMIT Jemaat Siloam Metina.
Seorang pelayan melakukan pembaharuan komitmen dan dilepas untuk melakukan tugas di medan layan yang baru, sementara yang seorang diperhadapkan kepada jemaat Tuhan untuk menerima estafet kepemimpinan dan pelayanan di medan layan baru pula.
Acara hari ini dikhususkan pula dengan pendekatan kebaktian utama yang dipadu temu-pisah. Bertemu dengan pelayan baru dan berpisah dengan pelayan lama. Pelayan baru bukan amat baru, dan pelayan lama bukan teramat lama. Keduanya utusan dari Gereja Masehi Injili di Timor untuk melayani jemaat-jemaat yang oleh karena regulasi organisasi, mereka harus senantias membaharui komitmen pelayanan dengan kewajiban etik dan oral untuk menerima tantangan dan peluang baru agar keluar dari zona nyaman bila sudah berada di suatu medan layan dalam durasi waktu yang lama (maximal 12 tahun dalam satu wilayah Klasis).
Hari ini, Jemaat Siloam Metina melepaspisah Pdt. Yefta Henderonikus Bani dan menerima Pdt. Melkianus SO Lopo sebagai Ketua Majelis Jemaat Siloam Metina.
Dalam sambutan temu-pisah, perwakilan jemaat Siloam Metina yang ramai-ramai menyebut namanya Opa Mathen Luther Saek, menyampaikan banyak hal, yang disarikan dalam kata-kata berikut:
  • Tiap orang ada waktunya, dan tiap waktu ada orangnya.
  • Bungkuslah dalam buah ketupat hal-hal buruk ketika kamu pergi. Buanglah ketupat buruk itu di selat Puku’afu. Biarlah yang gelombang ganas itu menghanyutkannya.
  • Bungkuslah dalam buah ketupat hal-hal baik dan bawalah menyeberangi Selat Puku’afu, biarlah itu menjadi bekal yang menghidupkan bersama keluarga di tempat tugas dan medan layan yang baru.
  • Bila sudah berhasil di Rote, Anda telah “lulus dan lolos” ujian ketabahan, kesabaran dan ketekunan.
  • Jangan lupa, kabar baik dan buruk kabarkanlah pada kami. Kita telah menjadi satu keluarga.
Sambutan-sambutan lainnya, khususnya dari Pdt. Melkianus SO Lopo, sangat singkat. Sang pendeta tidak banyak berkata kecuali kalimat pendek ini,
  • Dalamnya laut akan kuselami bersama keluarga besar Siloam Metina untuk menemukan mutiara yang akan dipersembahkan pada Yesus Tuhan kita.
  • Kita akan saling mengenal. Saya akan berkunjung ke rumah keluarga-keluarga saya yang baru di sini, dan berharap keluarga-keluarga mengunjungi kami di Pastori.
Kira-kira begini dulu, cerita kami hari ini di Siloam Metina Klasis Lobalain, Rote.
Ba’a-Rote, 5 Juli 2020
Heronimus Bani

2 comments