Iman Imun Ilmu

Iman Imun Ilmu
(Refleksi pada Bulan Pendidikan dalam GMIT)

Kebijaksanaan akan memelihara engkau, kepandaian akan menjaga engkau supaya engkau terlepas dari yang jahat, dari orang yang mengucapkan tipu muslihat (Amsal 2:11-12)

 

Pengantar

Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) telah menetapkan satuan bulan tertentu dalam tahun pelayanan berjalan sebagai pergumulan bersama seluruh anggota GMIT. Dalam tahun-tahun yang sudah berlalu dengan pergumulan bahasa dan budaya, keluarga, dan pendidikan serta masa raya lainnya, semuanya telah dan akan terus berada dalam pergumulan itu. Berharap sungguh bahwa Kristus Tuhan sebagai Kepala Gereja mendengarkan doa-doa umat-Nya, sambil mereka pun menjadi saluran berkat yang dapat dinikmati oleh sesamanya. Dari sana mereka bersama-sama terus bersyukur dan berterima kasih.

Dalam tahun 2020 ini, bulan pendidikan beralih ke Juli. Pergumulan pendidikan di negara ini setiap tahun diawali tahun pelajaran pada bulan Juli. Wajar bila GMIT menetapkan bulan Juli sebagai bulan pendidikan.

Minggu pertama Juli 2020 ini, pembacaan alkitab dipilihkan dari 1Tawarikh 22:2-19. Majelis Sinode GMIT menetapkan tema, Beriman Berarti Melawan Ilmu Pengetahuan, Benarkah demikian?

Ilmu Pengetahuan

Tanpa saya membuat definisi semua orang yang sudah pernah duduk di bangku sekolah hingga perguruan tinggi sudah mengetahui, apa dan bagaimana ilmu pengetahuan itu. Tapi biarlah sekedar mengingatkan tentang ilmu pengetahuan, merupakan sesuatu yang bersifat sistematis, objektif, rasional, general, reliabel dan komunitas. Semua yang sistematis itu, fakta-fakta disusun dengan urutan yang tepat. Rasional, urutan-urutan fakta itu diterima secara akal sehat. Reliabel, artinya bila diteliti kembali ada kebenaran di dalamnya, dan komunitas artinya dapat diterima umum.

Dengan ciri-ciri seperti itu, sesuatu yang tidak ada anasir begitu, akan disebutkan sebagai bukan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu ada hal-hal yang di luar nalar yang diterima sebagai pengetahuan tetapi bukan yang ilmu. Dongeng dan legenda, misalnya diterima hanya sebagai pengetahuan belaka, dan tidak dapat dikategorikan sebagai ilmu pengetahuan. Dalam dongeng dan legenda tidak ada unsur rasional dan reliabel. Itulah sebabnya keduanya tidak dapat diterima sebagai ilmu pengetahuan. Namun, seringkali dijadikan rujukan awal memasuki dunia logika untuk riset yang sistematis agar dapat dijadikan ilmu pengetahuan.

Sejarah umat manusia mencatat begitu banyaknya pakar yang berjejeran menghias planet bumi ini dengan kepakaran mereka. Mereka telah memberikan sumbangsihnya pada dunia ilmu pengetahuan yang menyebabkan terjadi perubahan pada berbagai bidang kebhidupan. Ilmu pengetahuan bahkan telah dikembangkan dari Filsafat dengan segala anak-pinaknya, Sains dan Matematika dengan keturunannya, Sosial dan Humaniora bersama generasi dan percabangannya.

Tidak satupun dari mereka yang akan lenyap serta-merta oleh karena telah dimanfaatkan bahkan bagai hendak didewakan. Mari kita lihat beberapa di antaranya yang hidup di zamannya masing-masing.

  1. Pythagoras. Filsuf (Pencinta Kebijaksanaan). Etika, Matematika, Metafisika, Musik, Politik dan Agama ada dalam kajian-kajiannya.Sangat disayangkan tidak ada satupun dari antara hasil kajian-kajian itu tersisa sampai dunia modern ini. Walau demikian, ia telah memberi pengaruh kepada Plato dan Aristoteles, Copernicus,Kepler dan Isaac Newton.
  2. Socrates dan Plato. Dua orang ini merupakan guru-murid yang hampir tidak dapat dibedakan mana ajaran guru dan mana karya muridnya. Tulisan-tulisan Plato selalu menyebut nama Socrates dan Plato sendiri larut dalam tulisan-tulisan itu memberi rasa dalam gaya dialog. Walau demikian, popularitas dan influens Socrates dan Plato dan pada giliran berikutnya Aristoteles, tiga generasi filsuf Yunani memberi pengaruh amat kuat sehingga selalu dirujuk karya dan pemikiran mereka.
  3. Muḥammad ibn Mūsā al-Khwārizmī, ilmuwan berkebangsaan Arab yang genius. Karya-karya fenomenal yang terus bermanfaat sepanjang dan sejauh manusia ada di planet bumi ini. Aljabar, daftar garis bujur dan garis lintang berbagai kota dan daerah,  tabel astronomi dan kontribusi penting untuk trigonometri, menghasilkan tabel sinus dan kosinus yang akurat, dan tabel garis singgung pertama.
  4. Galileo Galilei yang menjadi pendukung Copernicus tentang tata surya dimana matahari menjadi pusat tata surya, benda-benda langit (planet) termasuk planet bumi beredar mengelilinginya. Ia menjadi ilmuwan yang telah menjadi “pembebas” atas kebebasan berpikir ketika agama (gereja) menjadi superior dan dominasinya sangat tak dapat dibantah. Pada akhirnya, gereja merehabilitasi namanya dan kepadanya disematkan sebutan sebagai ilmuwan.

Para filsuf pada zamannya. Foto istimewa dari Gugel/Wikipedia

Sekali lagi begitu banyaknya ilmuwan dunia yang memberi pengaruh pada berbagai bidang kehidupan manusia. Sejarah akan terus membuat catatan-catatan dari ilmuwan manapun. Para ilmuwan itu sendiri berkarya untuk segenap umat manusia, karena ilmu pengetahuan itu sendiri ada untuk umat manusia dan alam semesta ini. Ilmu pengetahuan ada bukan untuk segelincir orang. Sifat dan ciri ilmu pengetahuan yang masih dapat dikaji kembali untuk menemukan sesuatu di baliknya dan yang kiranya menjadi cikal-bakal sesuatu kebermanfaatan baru, tidak ditutupi oleh para ilmuwan sendiri.

Itulah sebabnya, ilmu pengetahuan terus berkembang. Perkembangan-perkembangan itu menyebabkan manusia yang berjalan kaki menjadi penyeberang selat, tanjung, laut dan lautan/samudera. Kano, perahu hingga kapal bertonase besar, tanker, dan kapal induk.

Perkembangan itu pula yang menjadikan manusia bergerak dari satu tempat ke tempat lain dalam waktu singkat ketika Wright bersaudara menciptakan pesawat terbang, dan selanjutnya dikembangkan oleh ilmuwan dan perusahaan-perusahaan besar seperti Boeing dan lain-lain.

Dunia tulis-menulis yang menggunakan tinta dan gerakan tangan yang tersentak ketika Guttenberg berhasil menciptakan  mesin cetak. Kertas, tinta segera menjadi teman permainan sang mesin cetak. Bertumpuk dan bertimpuklah cetakan tulisan dari berbagai ilmu pengetahuan, fiksi, non fiksi, seni, dan lain-lain.

Hal-hal kecil seperti kancing baju, peniti, ruisleting, jarum, dan sebagainya. Semua itu dikembangkan berawal dari hasil mengamati. Dari pengamatan dan pengalaman itu, orang mengembangkan suatu sistem riset yang sistematis untuk mendapatkan produk itu. Produk-produk sederhana seperti itu bermanfaat bagi manusia penggunanya.

Ilmu pengetahuan menempatkan manusia makin “naik” derajatnya sekaligus membawa mereka menjadi “dewa” baru pada setiap zamannya.  Saya tidak menulis lebih panjang di sini.Tentu pembaca dapat menambah sendiri dan membuat refleksi sendiri.

Imun

Imun, kekebalan tubuh. Tubuh yang diciptakan Tuhan ini sekaligus di dalamnya ada di dalamnya sistem imun. Sistem imun merupakan sistem pertahanan tubuh yang dapat mengidentifikasi, mengenal dan menghancurkan hal-hal yang asing, yang tidak normal di dalam tubuh. Ia bekerja tanpa dikontrol oleh otak yang oleh karenanya menghindarkan tubuh dari penyakit tertentu.

Ketika dunia makin maju dengan segala hal yang sudah ada dalam pengetahuan oleh karena perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, komunikasi dan informasi, semua itu memberi pengaruh pada tubuh. Sistem imun tubuh patut mendapat perhatian pula. Oleh karena itu para ilmuwan menemukan berbagai cairan vaksin yang diinjeksikan ke dalam tubuh untuk menangkal dan menghancurkan bibit penyakit bila menyerang.

Dunia kesehatan mengenalkan program imunisasi. Suatu program yang mengedepankan proses pemberian vaksin yang merangsang sistem kekebalan tubuh agar kebal terhadap penyakit tertentu. Berbagai jenis penyakit di Indonesia yang dilakukan imunasi seperti, Hepatitis, Polio, BCG, DPT, Campak, Tifus, Dengue, dan lain-lain.  Semua usaha untuk melakukan imunasi terhadap tubuh manusia itu demi menjaga kesehatannya. Dengan menjaga kesehatan secara baik, orang akan bekerja. Ketika orang bekerja diharapkan akan menghasilkan sesuatu yang berguna pada dirinya, komunitasnya dan pada masyarakat pada umumnya.

Sejak akhir tahun 2019 ketika virus korona merebak, usaha untuk menemukan antivirusnya tak henti-hentinya. Melihat begitu banyaknya korban yang ditelan korona, para ilmuwan tidak tinggal diam. Kerinduan untuk mendapatkan antivirus itu memacu mereka untuk melakukan riset dan eksperimen. Butuh waktu yang lama untuk mendapatkannya. Korban terus ditelan korona, bumi membelah dirinya untuk menyimpan jasad setiap korban itu. Di dalam pelukan bumi mereka dikenang oleh orang-orang yang masih hidup dan sedang berjuang untuk kebal terhadap virus-virus penyakit.

Iman

Dalam kitab Ibrani tercatat Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” ( Ibrani 11:1 ). Definisi ini sangat membutuhkan telaah lanjutan untuk memahaminya secara praktis.

Mari menelisik di antara pengalaman hidup insan beriman. Mulailah dari kisah Nabi Nuh. Mari membayangkan apakah Nuh dan ketiga anak-anaknya sudah mempunyai imajinasi tentang satu bangunan besar yang disebut kapal/bahtera? Ia mendengarkan Suara Tuhan dalam titah-Nya. Ia memulai dengan segala perhitungan matematis. Mungkin ia perlu membuat sketsa model kapal/bahtera, atau miniaturnya? Ia butuh pakar perkapalan atau lainnya yang menghitung secara cermat dan teliti agar kelak aman dalam hantaman badai. Kapal/bahtera itu akan menjadi tempat yang paling aman pada kehidupan makhluk ciptaan Tuhan. Di sini, Nuh beriman. Ia meyakini akan adanya sesuatu itu di depan matanya kelak dan akhirnya ia dan keluarganya serta makhluk hidup yang diperintahkan Tuhan hidup bersama dengannya di dalamnya. Merekalah cikal-bakal manusia zaman kuno hingga modern, canggih dan milenial ini (Kej.6:9 – 22; Kej 7-9).

Dalam kitab Kejadian 11, satu menara dibangun dengan kekuatan ilmu pengetahuan yang membanggakan. Mereka tidak saja membayangkan akan adanya satu kota berpagar tembok yang kuat, dalam persatuan dan kesatuan yang kokoh, tetapi mereka juga bangga dan sombong di dalam ilmu pengetahuan itu. Mereka meyakini (beriman) akan adanya satu kota yang aman atas perkembangan ilmu pengetahuan mereka sendiri. Kita mengetahui dari membaca Kejadian 11, bahwa Allah “turun” mengacaukan bahasa mereka. Lalu bubarlah persatuan dan kesatuan itu dalam berbagai bahasa manusia. Iman dan harapan mereka “buyar” dalam kenangan.

Hidup beriman pada manusia segala zaman bukan sekedar ada dalam bingkai agama. Beriman dalam agama manapun bila merefleksikan pada definisi alkitabiah Ibrani 11:1, kita dapat berkata bahwa definisi itu tidak dibatasi dalam ruang dan berpeluang hanya untuk kaum penganut ajaran yang bersumber dari alkitab saja. Definisi itu universal menembus segala lapisan umat manusia beragama dan berkeyakinan apapun.

Oleh karena itu, para penyebar agama baik dengan sebutan Penginjil, Misionaris, Pendakwah, Guru Agama, Ustad, Pendeta, Pandita, dan lain-lain, semuanya bagai “berebutan” menginspirasi insan untuk beriman menurut ajaran yang bersumber pada Inspirator Tertinggi menurut paham mereka. Tidak heran bila iman dari penganut agama A, dipertentangkan dengan iman penganut agama B. Tidak heran bila penganut dan pengikut agama yang satu dengan agama yang lain saling “mencaci dan membenci”.

Kita menyaksikan atas dasar keimanan tercetus perang tertentu sebagaimana Perang salib hingga berjilid-jilid. Tetapi, atas dasar iman, orang menciptakan kedamaian tanpa SARA dan imun.

Yesus menjadi Inspirator Tertinggi yang menginspirasi banyak kalangan termasuk para ilmuwan yang menyebut diri Teolog misalnya. Mereka berusaha sekuat-kuatnya dalam ilmu yang dikembangkan agar ajaran Yesus menembus segala lapisan dan sekat umat manusia. Di sana ditaburlah iman yang imun terhadap segala influens ilmu pengetahuan yang memerdekakan dan juga memenjarakan, yang meninggikan dan menjatuhkan, memuliakan dan sebaliknya menghinakan pula. Yesus Kristus Tuhan berada di segala garda itu untuk membebaskan umat manusia dari jerat kenikmatan sebagaimana tertulis dalam Matius 4:1-11. Di sana ada kenikmatan tubuh (kebutuhan ekonomi, ayat 3-4),  ada kenikmatan kemuliaan dan kehormatan (kebutuhan akan eksistensi,ayat 6-7), ada kenikmatan dalam sapuan keyakinan dan dampaknya (ayat 8-10).

Iman, Imun, Ilmu Pengetahuan, ketiganya saling berbeda namun dapat dikaitpautkan. Mereka yang beriman mesti imun pada penyakit apapun, termasuk penyakit ajaran sesat yang dikemas dalam ilmu pengetahuan. Mereka yang beriman mesti kebal pada pengaruh ilmu pengetahuan yang menawarkan dan memberi kenikmatan tanpa batas hingga mengeskploitasi alam semesta, termasuk eksploitasi sesama manusia demi kepentingan ilmu pengetahuan.

Maka, mari menjadi orang beriman yang imun dan berilmu. Dalam ketiga hal ini biarlah setiap orang menjadi bijak meneropong secara dekat pada suasana dan situasi hari ini, dan hari esok. Ingatlah, bahwa siapapun orangnya dengan ilmu pengetahuan sesederhana apapun yang disalurkannya, kiranya itu harusnya memberi pengaruh positif pada orang-orang beriman. Pada posisi yang demikian itu, orang makin memuliakan Tuhan, Inspirator Tertinggi pada segala zaman.

 

Kiranya Tuhan memberkati.

 

Koro’oto, 10 Juli 2020
Heronimus Bani

 

 

 

 

 

One comment