Seperti Apa Sekolah Dasar GMIT di masa Pandemi Covid-19?

Seperti Apa Sekolah Dasar GMIT di masa Pandemi Covid-19?
(Refleksi pada Bulan Pendidikan GMIT)

 

Gereja Masehi Injili di Timor berdiri sebagai Organisasi Keagamaan yang mandiri pada 31 Oktober 1947. Ketika berdiri kepadanya telah diwariskan sejumlah besar institusi pendidikan, khususnya sekolah-sekolah rakyat (SR) yang berganti nama menjadi sekolah dasar (SD). Sebagai institusi pendidikan di bawah payung GMIT, kepada mereka disematkan label GMIT. Maka, berjajar dan berjejerlah SD GMIT di berbagai tempat dalam lingkungan wilayah pelayanan GMIT.

Tetapi, dalam dekade 1970 – 1980-an SD GMIT mengalami penurunan jumlah secara drastis yaitu dengan diambilalihnya sekolah-sekolah itu pengelolaannya oleh Pemerintah Daerah (Provinsi, Kabupaten, Kota). Sekolah-sekolah itu dilabeli dengan nama SD Negeri.

Satu tulisan ilmiah yang diunggah secara online oleh https://docplayer.info/, dua alumni mahasiswa MMP FKIP UKSW menurunkan tulisan berjudul, Eksistensi SD GMIT di Rote-Ndao (Studi Deskriptif Penempatan Guru PNS pada SD GMIT Rote-Ndao-NTT). Dalam tulisan ilmiah ini secara gamblang dapat disarikan bahwa ada ketergantungan penuh SD-SD GMIT di Rote-Ndao terhadap pemerintah pada aspek ketenagaa, dana dan sarana-prasarana. Dampaknya, sekolah-sekolah ini tidak memiliki loyalitas kepada yayasan yang dibentuk oleh MS GMIT. Sebaliknya, yayasan milik GMIT yang menjadi induk sekolah-sekolah tersebut mandul dalam pengambilan kebijakan.

Kesimpulan yang dibuat dalam tulisan ilmiah itu di antaranya menempatkan SD-SD GMIT di Rote-Ndao dalam status quasi-state school, dimana yayasan milik GMIT tidak mandiri dalam pengelolaan sekolah-sekolahnya sehingga negara (pemerintah) yang dominan dalam hal ini.

Hal yang demikian nyata secara kasat mata dimana-mana, sekalipun MS GMIT dengan bangganya menyebutkan adanya sekolah-sekolah dasar GMIT yang terakreditasi A. Berapa prosen SD GMIT terakreditasi A? Apakah yayasan mempunyai andil besar dalam pengelolaan sekolah-sekolah itu? Tidakkah itu ada peran negara (pemerintah) di dalamnya dengan menempatkan guru berstatus ASN dan segala fasilitas itu pengadaannya oleh negara?

Ketua MS GMIT dalam suatu kesempatan menyampaikan suara gembala di  di aula serba guna jemaat Pola Tribuana Kalabahi-Alor, Menurut Ketua MS GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon, dari kajian-kajian yang ada beberapa sekolah yang menunjukkan prestasi yang tinggi. “Kita punya SD GMIT 1 Kalabahi yang prestasinya hebat. SD GMIT 1 So’e yang akreditasinya A. Untuk dapat akreditasi A tidak gampang. Ada SD GMIT Ende Empat juga akreditasinya A, yang justru siswa-siswanya terbanyak beragama Muslim di kota Ende,” ujarnya.

Suatu pernyataan yang membanggakan. Data yang disajikan dalam rilis berita http://sinodegmit.or.id/, menunjukkan ada 318 SD GMIT dalam wilayah pelayanan GMIT. Jika melihat ada 3 SD GMIT yang terakreditasi A, sekali lagi apakah itu ada peran yayasan di dalamnya? Ya, itu jawabannya. Berapa besar peran yang dimainkan yayasan di dalamnya?

Kini Sekolah-Sekolah Dasar GMIT sebagaimana sekolah dasar Negeri/Inpres dan swasta lainnya, semuanya secara bersama berada dalam masa pandemi covid-19. Semua sekolah dasar mempunyai karakter permasalahan yang kiranya saling berbeda. SD-SD GMIT pun demikian adanya. Dalam masa pandemi covid-19 dimana tuntutan belajar dari rumah dengan memanfaatkan start-up seperti Ruang Guru dan berbagai media aplikatif, belum tentu dapat diakses oleh semua sekolah dasar GMIT.

Sekali lagi rilis berita http://sinodegmit.or.id/, tantangan pendidikan di sekolah-sekolah GMIT kian berat di masa pendemi covid-19. Pembelajaran online sebagai pengganti tatap muka pun bukan pilihan mudah. Pasalnya, banyak sekolah GMIT di pedalaman tidak mempunyai jaringan listrik dan internet.

Kita mencoba bertanya lagi, apakah yapenkris mempunyai website yang disediakan dalam rangka proses pembelajaran secara online? Betapa hal itu akan sangat menolong dan membanggakan agar para siswa (dan orang tua) yang memiliki perangkat multi media (minimal, handphone android dan laptop) dapat mengakses media itu. Lalu siswa (dan orang tua) yang tidak memiliki akses yang demikian mungkin dapat diajak bersama dalam proses itu di rumah.

Sementara hal seperti itu tidak tersedia, lalu kita perlu mencari mungkin yapenkris mempunyai media yang bukan bermuatan materi ajar. Itu pun tidak mudah menemukannya dengan kata kunci yapenkris. Andaikan ada, pasti ada 13 yapenkris berjejer dalam barisan yang dibuat oleh tuan Gugel ketika orang bertanya kepada mereka.

Beberapa SD GMIT atas inisiatif yang kreatif dari guru mereka memanfaatkan aplikasi medsos seperti facebook paling tidak sekedar berbagi informasi perkembangan sekolah.

Sekolah-Sekolah Dasar GMIT masih dan akan terus berada di area kebanggaan semu. Mereka milik GMIT yang pengelolaannya oleh yayasan yang dilimpahi kewenangan. Apakah kewenangan itu telah diikuti dengan kebijakan tertentu untuk menghidupkan sekolah seperti menyediakan guru kontrak yayasan, guru tetap yayasan, dana segar dari yayasan, atau sebaliknya justru yayasan meminta diakonia pendidikan dari SD GMIT?

Setiap tahun dalam bulan pendidikan, jemaat-jemaat mendapatkan himbauan untuk memberikan persembahan khusus dalam rangka mendukung pendidikan di lingkungan pelayanan GMIT. Persembahan-persembahan itu dikumpulkan dan pemanfaatannya diserahkan ke MS GMIT melalui Majelis-majelis Klasis.

Sebagai bagian dari anggota GMIT semua jemaat baik dalam arti organisasi jemaat maupun individu dan komunitas berharap, kiranya SD-SD GMIT, dan tentu saja SMP, SMA, SMK  Kristen di bawah payung besar GMIT tetap eksis di masa depan dengan perubahan pada mindset penyelenggara agar kebijakan yang ditempuh dapat memandirikan sekolah-sekolah itu.

Tulisan ini hanyalah satu frase refleksi melihat SD-SD GMIT sampai masa ini belum mandiri. Ketika pandemi covid-19 membebani, menemukan lubang kecil sebagai solusi di SD GMIT, dengan ketersediaan fasilitas dan dana mandiri belum dapat memberi jawaban pasti.

 

Koro’oto,  10 Juli 2020
Heronimus Bani

 

 

 

4 comments