Mengapa Rumahku disebut Sekolah?

Mengapa Rumahku disebut Sekolah?

(Refleksi pada Bulan Pendidikan GMIT)

Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan (Amsal 1:7)

Mula Aksara

Sudah dalam pengetahuan masyarakat dan umat di lingkungan Gereja Masehi Injili di Timor bahwa setiap tahun selalu ada bulan tertentu yang ditetapkan untuk menjadi pergumulan bersama dalam satu topik pergumulan bersama. Satu di antaranya Bulan Pendidikan. Hal ini bukan saja menjadi konsumsi GMIT tetapi juga menjadi pengetahuan umum dalam masyarakat sekuler. Tiada orang yang rela anak-anaknya yang dilahirkan tanpa mengikuti Pendidikan terstandar walau mungkin standar-standar itu sangat minimalis yang disebut Standar Minimal.

Dalam minggu kedua Bulan Pendidikan, Majelis Sinode GMIT menetapkan satu tema, Rumahku Sekolah yang Pertama. Tema ini rasanya sangat normatif. Orang berpendidikan serendah-rendahnya pun mengetahui bahwa rumah itu tempat dimana interaksi edukasi sedang berlangsung, bahkan sejak pranatal. Jika yang demikian normatifnya, butuh uraian berbeda yang membuat pendengarnya bukan kagum tetapi memiliki semangat baru untuk menjernihkan proses interaksi orang tua-anak di rumah bagai guru-sisiwa. Saya sungguh percaya para pendeta melakukannya secara amat baik walau berbeda dalam ungkapan kata berasa di mimbar pelayanan hari Minggu itu.

Bagaimana hal itu menurut saya? Saya bukan pakar Pendidikan Keluarga. Saya hanyalah seorang guru SD di pedesaan yang melihat dari aspek seorang guru pada proses interaksi orang tua-anak di rumah. Itulah yang akan saya coba urai di sini, sambil berpaut pada tema yang disajikan Majelis Sinode GMIT, yang oleh karenanya saya mesti mengatakan, terima kasih untuk tema itu. Tapi, tidak lupa untuk menyampaikan bahwa, judul di atas merupakan satu pertanyaan keheranan dari seorang anak ketika mendengar khotbah pendetanya pada hari Minggu. Sayangnya, pendetanya tidak mendengar. Berhubung belum ada khotbah yang menggunakan metode tanya-jawab.

Rumah sebagai sekolah

Sekali lagi bukan teori baru, rumah sebagai sekolah. Rumah dalam pengertian konstruksi, interior dan eksterior tentulah tidak dibangun untuk dijadikan ruang belajar yang mungkin monoton atau variatif posisi mebel dan segala perlengkapan di dalamnya. Di rumah, orang tua dan semua orang dewasa di sana tidak sedang secara sadar menyediakan sesuatu perlengkapan tertentu dan menyebutkan Namanya sebagai media pembelajaran, sumber belajar, fasilitas belajar, alat bantu dan alat bermain sambil belajar dan lain-lain.

Kesadaran tentang belajar itu ada, tetapi tidak direncanakan dalam satu perangkat pembelajaran sebagaimana yang dilakukan guru di sekolah, sekalipun hal itu terjadi di rumah seorang yang berprofesi guru. Manakah guru yang dirumahnya membuat RPP untuk mengajar dan mendidik anak kandungnya dengan berkata,”SSelamat pagi, nak! Hari ini kita belajar tentang dengan teman Diriku!´

Mungkin anaknya akan bingung melihat ibu atau bapaknya dan bertanya, “Mama/Bapak sedang apa dengan dirinya?”

Berbeda misalnya seornag ayah peladang. Ia mengambil parang baru yang dibelinya dari pasar, mengasahnya hingga tajam. Ia mencoba memotong-motong ranting-ranting. Lalu sering pula peladang membiarkan parangnya melekat tetap Ketika dipotongkan pada batang kayu berkulit tebal, kemudian dibiarkan semalam. Anaknya akan bertanya, “Mengapa parang dibiarkan melekat di batang pohon itu?”

Di sini orang tua akan memberitahukan bahwa, parang itu sedang dibiarkan beradaptasi dengan area kerjanya. Ia akan selalu berhubungan dengan apa yang mesti dipotong, di antaraya, baik yang lembut maupun yang keras. Bila ini dapaat diterima anak, maka satu butir pelajaran telah terjadi. Seterusnya bila itu dilakukan oleh pesawarh, penanam holtikultura, pedang (dalam semua level dan takaran modal) hingga pengusaha dan lain-lain.

Mari membayangkan seorang ibu rumah tangga yang biasanya dianggap sebagai guru primer daripada seorang bapak/ayah. Nilai moral, etika dan nilai religi selalu keluar dari mulutnya. Seorang ibu hanya membutuhkan bayangan wibawa sang suami, ayah/bapak dari anak-anaknya. Mengapa? Biasanya seorang ibu rumah tangga di pedesaan dan pedalaman akan menggunakan satu frase “mengancam” jika anak-anak bandel dan bajing pada didikannya. “Nanti mama kasitau bapa!” kira-kira begitu kata seorang ibu rumah tangga pada anak-anaknya.

Apa artinya kalimat itu bagi seorang ibu? Seorang ibu tidak saja mengkonvesi kata ke dalam perbuatan dan sikap. Misalnya, ketika meminta anak membantunya di dapur. Mulai dari membersihkan (mengupas, mengiris, membuang yang tidak perlu, dll), mencuci hingga takaran air dan bumbu penyedap. Semuanya tidak dibuatkan dalam satuan pelajaran. Pernyataan ibu menjadi materi ajar, dan bahan-bahan yang digunakan untuk memasak menu tertentu itulah menjadi media, hingga menyediakan meja untuk duduk bersama menikmati yang tersaji. Di sana, mereka memulai dengan doa, mengakhiri proses bersama itu di meja makan (atau sesuka-suka tempat duduk, makluk biasanya di desa begitu), dan Kembali ke dapur untuk membersihkan barang yang dipakai di meja makan dan dapur.

Semua proses itu bagai sederhana, tetapi sesungguhnya itulah real pendidikan sebagai proses di rumah. Bila sang anak melakukan dengan keliru, sering sekali ibuny akan “menamparnya” dengan kata-kata bodoh. Ini selalu menjadi masalah. Sangat seringnya anak-anak menerima kata bodoh akan membawa mereka merasa rendah diri. Ibunya yang mengandung dan melahirkan, membesarkan dengan kasih-sayang, memberikan asupan makanan bergizi, tapi anaknya bodoh. Betapa di sini kekeliruan interaksi orang tua-anak dalam konteks pembelajaran.

Rumah memang bukan sekolah. Oleh karena itu ia masuk dalam kategori pendidikan informal. Pendidikan informal tidak butuh legalitas formal segala kurikulum dan ikutannya. Di sana tidak membutuhkan kebijakan bla bla bla. Di sana ada interaksi yang berkesinambungan sepanjang masih ada ayah-ibu dan anak; orang dewasa dan orang muda yang patut dibimbing. Sepanjang masih  anak dan orang muda itu belum mandiri, selama itu pula interaksi orang tua-anak patut diapresiasi sebagai interaksi edukatif.

Mari menengok kata seorang anak dalam Amsal 4:4, “… aku diajari ayahku, katanya kepadaku: “Biarlah hatimu memegang perkataanku; berpeganglah pada petunjuk-petunjukku, maka engkau akan hidup.”

Sadarlah kita  bahwa sesungguhnya bila seorang anak membuat pernyataan seperti itu artinya, di rumah ada proses dan interaksi orang tua-anak sebagai pembelajaran! Apakah pendekatan dan pola Pendidikan dalam rumah itu harus dipelajari dalam suatu Lembaga Pendidikan formal? Jawabannya, tidak! Tetapi orang tua harus siap menjadi “guru” yang diteladani dalam kata, sikap, tindakan dan akta berbekas. Itulah sebabnya bila menjadi orang tua yang guru, maka pendekatan pembelajarannya tidak harus memanjakan, otoriter dan ororitarif, membiarkan dan protektif. Kiranya biarlah setiap pasangan orang tua dalam mendidik (pembelajaran) anak di rumah, baiklah seperti dalam kisah Yosua 24:15; 1 Semuel 1:20-28; Rut 1:16-17; 2 Timotius 1:5.

Nancy Mathews Elliot, ibunda Thomas Alva Edison berhasil mendidik/mengajar anaknya di rumah. Anaknya menjadi pencipta lampu bohlam yang disebut lampu pijar. Namanya dikenang dari masa ke masa.
Jangan menyangka Ludwig van Bethoven lahir begitu saja. Ia dibesarkan oleh orang tua yang berusaha menyediakan keperluan anak menurut bakat alamiahnya. Anak itu sendiri berlatih menggali dan mengembangkan potensinya sendiri atas dukungan orang tuanya. Jadilah Bethoven yang fenomenal namanya hingga kini dan nanti.

Seremeh-remahnya orang tua, dialah guru primer, yang utama dan pertama di rumah. Rumah bukan gedung sekolah! Ya! Tapi fungsinya menjadi seperti di sekolah dalam proses informal. Tidak ada hubungan yang teramat formal, pakai seragam, bersepatu, berdasi, upacara menaikkan bendera, menghorma dengan gerakan dan aksi yang nampak, bila keliru dikoreksi. Bila mungkin ada pekerjaan rumah, tugas tambahan belajar bersama teman, dan lain-lain. Semua itu tidak ditemukan secara formal di sekolah. Hanya kesadaran sajalah yang mengantarkan orang tua-anak dalam interaksi edukasi.

Mari mengusahakan menjadi orang tua (guru) yang berhasil dalam mendidik anak-anak. Bila gagal maka akan Nampak seperti cerita-cerita alkitab yang dapat Anda baca. 1 Semuel 2:11-17; Kejadian 25:28; 37:3-4; Matius 4:1-12;

Marilah menjadi anak-anak yang berhasil dalam Pendidikan di rumah, bersekolah di rumah dengan orang tua sebagai gurumu  Bacalah Ulangan 6:1-9, Amsal 22:6 dan Efesus 6:1-4; dan masih banyak ayat alkitab sebagai pegangan yang menghidupkan dan menguatkan untuk proses belajar di rumah sebagai sekolah.

Akhir kata

Saya selalu ingat kata bapak saya. Suatu ketika saya menghadiri suatu acara penguburan jenazah di bekas kotapraja Baun (bekas wilayah ke-usif-an :Pah Amarasi). Pemandu acara menyampaikan kata-kata pengantar bagai sedang mengutip kitab Amsal. Ketika pulang ke kampung, saya bertanya pada bapak saya. Lalu bapak saya berkata, “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen!”

Saya sungguh terkejut. Bapak saya menghafalkan Amsal 6:6-8. Saya segera tersadar bahwa saya ada benar sebagai seorang pelajar (siswa SMEA) pada waktu itu rajin belajar. Pelajaran yang saya dapatkan di sekolah saya berusaha lumat habiskan. Ada pembuktian pada orang tua saya bahwa saya bisa bersaing dengan para pelajar yang sudah ada di kota sebelum saya ke kota. Tetapi, saya malas  membaca alkitab.

Bapak “menampar” saya dengan kalimat bijak itu yang dia kutip dari alkitab. Sejak itu saya menjadi anak yang “rajin” membaca alkitab. Puji Tuhan. Saya memegang ayat ini, Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan (Amsal 1:7). Saya sungguh berharap, anak-anak saya menjejak di jejak yang sama, walau mungkin mereka memberi proses dan nilai baru pada jejak saya.

Jadi, sesungguhnya bila rumah berfungsi sebagai area edukasi, biarlah kiranya para penghuninya sadar bahwa di sana segala nuansa pembelajaran berlangsung yang sangat berbeda dengan nuansa pembelajaran di sekolah formal, dan Lembaga Pendidikan non formal.

Terima kasih. Tuhan di dalam Yesus Kristus Guru sepanjang masa memberkati umat-Nya dan murid-murid-Nya.  Mari menjadi Murid Kristus.

 

Penulis: Heronimus Bani

2 comments

  • Kata Bung Karno, semua orang adalah guru. Orangtua adalah guru bagi anak2nya. Pemimpin adalah guru bagi bawahannya. Penulis adalah guru bagi pembacanya. Dst. Terima kasih, Bu sudah menjadikan kami murid melalui tulisan2 bernas. Gbu!