Samakah Kuliah Mimbar dengan Khotbah Mimbar?

Samakah Kuliah Mimbar dengan Khotbah Mimbar di Gereja?

(Refleksi pada Bulan Pendidikan dalam GMIT)

Apa yang Kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Harulah engkau mengkatkannya sebagai tanda pada tnganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu (Ulangan 6:6-9)

Mula Aksara

Berikut ini refleksi saya yang keempat untuk bulan pendidikan yang ditetapkan dan dilaksanakan oleh keluarga besar Gereja Masehi Injili di Timor. Saya mengamati proses pembelajaran yang dilakukan oleh gereja (GMIT) melalui mimbar-mimbar Mingguan atau “mimbar” di dalam keluarga anggota satu komunitas ibadah, seperti Rayon, Gugus, Sektor, Resort, dan lain-lain istilah yang dipakai di Jemaat-Jemaat.

Rasanya antara mimbar kuliah dengan mimbar gereja mirip. Kemiripan itu yang hendak saya urai di sini sebagai refleksi saya.

Kuliah Mimbar

Perguruan Tinggi manapun pasti mengenal istilah kuliah, karena hanya perguruan tinggi saja yang dominan menggunakan istilah ini. Ini tidak berarti di luar perguruan tinggi orang tidak menggunakan kata kuliah, tapi tentu terbatas pada kalangan tertentu. Misalnya, zaman ini ada istilah kuliah online yang tidak dilakukan oleh perguruan tinggi, tetapi oleh grup-grup yang dibentuk untuk maksud belajar bersama. Mereka menghadirkan seseorang pakar pada bidang yang mereka kehendaki. Sang pakar memberikan materinya, lalu para peserta menamakan cara itu sebagai kuliah.

Di kampus, dalam ruang-ruang kuliah disediakan selain kursi-kursi kuliah dan papan tulis putih serta perlengkapan lainnya yang mendukung seperti multi media (LCD, proyektor, laptop), senantiasa ada mimbar. Seorang dosen memasuki ruang kuliah, berdiri di mimbar, menyajikan pengetahuan dari satuan acara perkuliahan yang disiapkannya. Perkuliahan yang demikian disebut kuliah mimbar. Kuliah mimbar di sini artinya dosen/pengajar menyampaikan materi ajar berupa pengetahuan yang sifatnya informatif, merangsang para mahasiswa untuk berpikir kritis agar dari sana lahir diskusi yang membangun dan mengembangkan materi kuliah. Dosen/Pengajar akan berdiri di mimbar, dan bila menggunakan multi media dipandu oleh alat bantu, pointer.

Kuliah mimbar selalu diasumsikan sebagai satu metode kuno yang monoton. Walau demikian, metode ini dianggap paling efektif untuk menyampaikan materi dalam sekali pertemuan untuk banyak orang dibanding metode lain. Para mahasiswa yang banyak tidak mungkin semuanya mendapat kesempatan turut berdiskusi. Waktu yang terbatas sementara sajian materi masih memerlukan waktu,menjadi perintang diskusi dalam durasi waktu yang lebih lama.

Daya serap dari metode kuliah mimbar mungkin tidak seberapa banyaknya, tetapi hal itu harus dilakukan mengingat penghematan pada waktu. Sesudah kuliah berakhir, mahasiswa keluar dari ruang kuliah entah membawa sebahagian isi materi kuliah atau sama sekali tidak membawa apa-apa. Lalu mereka akan berdiskusi di bawah pohon yang ditanam di halaman kampus atau duduk lesehan dan bergurau atas materi kuliah yang baru saja mereka terima.

Padahal seorang dosen tentu telah menyiapkan diri dengan ketrampilan mengorganisasikan materi dan suasana perkuliahan hingga penyajian yang semenarik mungkin agar menghindari kejenuhan. Salah satu di antara hal yang dapat diasumsikan sebagai penarik minat dalam kuliah mimbar adalah gaya dan variasi bicara dosennya. Mari membayangkan bila seorang dosen sekalipun sudah menyiapkan diri sebaik-baiknya, namun bila menyajikan materi di mimbar secara loyo tanpa enerji, bukankah akan memantik kejenuhan dan antipati? Sebaliknya bila sudah menyiapkan diri kemudian menyajikannya dengan varian kalimat dan gaya berbicara dalam bahasa tubuh yang menarik, bukankah para mahasiswa akan mengikuti kuliah dengan baik? Bahkan mungkin berharap jadwal kuliah berikut segera dimulai sebelum minggu itu berakhir.

Pada kuliah mimbar di sana ada kelebihan dan keterbatasannya. Materi disajikan secara satu arah, mahasiswa mendengarkan saja. Bila sempat menyela, mungkin diskusi akan panjang hingga materi tak sempat tersaji seluruhnya. Bila diskusi dikurat oleh dosen atas alasan materi masih tersisa dan waktu makin mepet, maka ketidakpuasan ada pada pihak para mahasiswa.

Kuliah mimbar dalam segala hal yang dimilikinya tetap exis sampai saat ini dengan variasi tambahan pada pemanfaatan perlengkapan multi media. Apakah itu sudah menolong?

 

Khotbah mimbar

Setiap minggu dalam rumah atau gedung gereja dimanapun, mulai dari wilayah perkotaan hingga kota-kota kecil, pedesaan hingga dusun-dusun, di sana ada penyelenggaraan ibadah/kebaktian/misa. Hal ini rasanya bagai suatu ritual yang rutin belaka. Lonceng gereja ditabuh. Suaranya mendayu menggelombang di sela kesibukan dan celah para anggota jemaat/gereja. Bila tanpa lonceng gereja, jadwal ditempelkan pada sudut-sudut terlihat dan terpampang jelas dan terang, sehingga semua orang yang rindu beribadah dapat mengetahui dan datang tepat pada waktunya.

Ritus keagamaan seperti itu sekali lagi rasanya hanya sesuatu rutinitas belaka yang dapat saja diasumsikan sebagai suatu acara kumpul-kumpul biasa tanpa nuansa istimewa dan prioritas. Ritus keagamaan seperti itu bila tidak mendapatkan sentuhan berbeda pada minggu sebelumnya dan pada minggu yang berlangsung itu, mungkin akan berkurang pengunjungnya. Ritus keagamaan yang mengundang decak kagum atau justru sebaliknya para pengunjungnya mencekak pinggang dan menggeleng-gelengkan kepala.

Bila ritus keagamaan itu mendapatkan sentuhan berbeda yang memberi nuansa baru dan menghidupkan, di sana bagai tumbuhnya satu benih baru ketika ditetesi embun segar di tanah subur. Ia perlahan namun pasti menunjukkan kesegarannya di lubang kecil yang secara sadar dibuat oleh peladang untuk membenam sang benih. Ketika dalam hitungan 3 hari sesudahnya, benih (misalnya, jagung atau kacang) akan membusuk lalu berkecambah meninggalkan kefanaan hingga muncul kehidupan baru yang menghijau, merambat, tumbuh tinggi, berbunga, dan berbuah.

Bagaimana menata ritus keagamaan yang “rutin” itu? Bukankah liturgi telah rapih tersusun menurut urutan otomatis? Semua urutan itu akan secara runut diwujudkan dalam tata laku ibadah oleh para pengunjung ibadah. Mereka akan duduk manis, atau berbinar mata dengan wajah segar memerah manakala salah satu di antara urutan liturgi itu memekarkan hati bagai bunga yang sedang mekar.

Mimbar gereja. Di atas mimbar gereja itu akan berdiri seseorang yang akan menyampaikan pesan Firman Tuhan melalui pembacaan dan refleksinya (khotbah). Dapatkah berkhotbah di mimbar itu disamakan dengan kuliah di mimbar kampus? Rasanya sama. Seseorang berdidi di mimbar, berbicara kepada pendengar/pengunjung (jemaat, mahasiswa), dan tidak sempat ada tanya jawab, atau bila ada tanya jawab, hal itu dilakukan laksana basa-basi penghias ranah khotbah sehingga tidak terkesan monoton.

Tapi, tentu saja ada bedanya. Khotbah di mimbar mengandung banyak pesan. Pesan teologis menjadi titik sentral ketika seseorang berdiri di mimbar, berbicara untuk Firman Tuhan yang dibacakan dan diperdengarkan. Di dalam pesan teologis itu ada pesan edukasi, pengajaran yang memberi nuansa baru pada pendidikan keluarga, hidup berjemaat, hidup bermasyarakat dalam segala aspeknya. Nuansa pengajaran itu sendiri mesti praktis implementatif.

Aspek-aspek kehidupan berjemaat seperti dalam GMIT yaitu persekutuan, kesaksian, liturgia, pelayanan kasih, dan penatalayanan mesti mendapatkan sentuhan, minimal satu di antara lima hal ini dalam setiap kali seseorangpresbiter (pendeta, penatua) berkhotbah. Hal ini untuk mengingatkan jemaat bahwa hidup bersama dalam gereja (khususnya di GMIT) lima aspek kehidupan berjemaat ini harus terus melekat erat pada anggotanya. Pendidikan dan pengajaran dari mimbar dalam wujud khotbah mimbar mingguan yang seperti suatu rutinitas haruslah terus-menerus mengulang, mengulang dan mengulanginya lagi. Kebosanan tentu ada, tetapi, bukankah para pemberita mempunyai trik dan gaya berbahasa yang saling berbeda yang menjadi ciri pembedanya?

Kitab Ulangan mengingatkan, … haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang…Term berulang-ulang di sini tentu saja bila dengan tensi yang sama akan memberi dampak kejenuhan. Tensi dan gaya yang berbeda sajalah yang akan membuat suasana hidup dan memotivasi. Motivasi untuk menghadiri kebaktian/ibadah mingguan bukan karena, supaya orang lain tahu bahwa saya ikut kebaktian, atau nanti apa kata orang bila saya tidak mengikuti ibadah minggu, juga bukan karena minggu ini yang memimpin pendeta X yang khotbahnya wao… .

Motivasi yang demikian itu tentu bukanlah yang harus diprioritaskan. Motivasi kita beribadah dengan mendengarkan khotbah mimbar adalah mendengarkan apa pengajaran Tuhan dalam ibadah itu yang secara praktis disampaikan lewat bibir seseorang yang mendapatkan kepercayaan untuk berdiri di mimbar dan berbicara di sana. Motivasi berikutnya, pengajaran itu sesuatu yang menghidupkan roh. Roh yang ada dalam diri setiap orang adalah roh yang menghidupkan, bahkan Roh Tuhan yang ada pada setiap orang akan lebih menghidupkan bila kita meminta-Nya. Jangan biarkan Roh Tuhan “tidur” dalam dirimu. Hidupkanlah Roh Tuhan yang sudah ada dalam diri kita masing-masing.

Memang, harus diakui bahwa Roh Tuhan pulalah yang sebaliknya menghidupkan kita. Dialah yang akan menghidupkan kita bila kita menyadarinya. Tetapi, seringkali kitalah yang memadamkan ‘api’ Roh Tuhan itu dengan tidak mendengarkan Suara-Nya dan bisikan-Nya. Apakah itu mungkin sama dengan para mahasiswa yang mengikuti kuliah mimbar di satu ruang besar (aula)?

Kuliah itu mungkin membosankan, khotbah mimbar mungkin menjenuhkan pendengarnya, sehingga mereka mulai meninggalkan ruang ibadah atas alasan tertentu. Mereka baru kembali ke dalam ruang kuliah atau ruang kebaktian setelah kuliah atau khotbah berakhir dan dilanjutkan dengan item berikut dari kebaktian/ibadah/misa.

Jika seorang presbiter berdiri di mimbar dengan gaya yang monoton, tentulah hal itu akan menjadikan khotbahnya dipahami sebagai suatu rutinitas keagamaan biasa. Tidak ada hal baru dalam isi kecuali pesan teologis dan edukasi praktis implementatif yang monoton, maka hal itu belum dapat memberi dampak perubahan pada para pendengar dan pengunjungnya.

Berkhotbah bukanlah memberi kuliah. Berkhotbah dapat saja diselingi dengan tanya jawab, walau seringkali pertanyaan akan dijawab secara beramai-ramai atau bahkan tidak ada jawaban sama sekali. Diam. Bisulah mereka yang ditanyai.

Akhir Kata

Tidak dapat disangkal bahwa ada kemiripan antara kuliah mimbar dan khotbah mimbar. Keduanya monoton, Beda pada isinya, tampilan dan gaya bicara dari orang yang sedang berdiri di mimbar. Gaya bicara yang variatif cenderung lucu selalu menarik, tapi, apakah pesan akan sampai? Gaya bicara yang serius dan berenergi selalu akan diingat walau tidak seberapa banyaknya yang dapat mengingatnya, karena diksi yang digunakan sering sekali konotatif.

Mari, kita tidak sedang menyamakan kuliah dan khotbah. Lokus, person, dan muatannya berbeda. Pendekatan menyampaikannya dengan ketrampilan yang berbeda pula. Tapi, kacamata awam seperti saya ini menilai ada kemiripan. Selamat berefleksi pada Bulan Pendidikan GMIT tahun 2020 ini di tengah pandemi covid-19.

 

 

Koro’oto, 17 Juli 2020
Heronimus Bani