Instant Sajakah Pilihan Gaya Hidupmu Masa Kini?

Kebaktian pada Minggu (25/08/19) di Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto dipimpin oleh Pdt. Yulita Y. Zina-Lero, S.Th. Pembacaan diambil dari Yermia 18:1-12 tentang pelajaran dari tukang periuk.

Ilustrasi yang digunakan oleh sang Pengkhotbah hari ini dimulai dengan tindakan manusia zaman ini yang serba instan.

Pdt. Yulita Y. Zina-Lero

  • belajar secara instan zaman ini melalui mesin pencari; gugel. Zaman ini para pelajar kurang nyaman duduk di perpustakaan membaca buku. Zaman ini pelajar-pelajar tidak membuka buku-buku pelajaran, tidak membaca literatur. Cari yang gampang, atau istilah gaulnya, HG, harap gampang.
  • makanan, orang mau yang instan, yang cepat saji. Salah satu di antaranya mie: mie rebus, mie goreng, dan lain-lainnya.
  • menemukan pacarpun orang maunya instan. Tengok satu acara di televisi, take me outAcara itu menggambarkan betapa manusia zaman ini tidak mau melihat proses untuk menemukan jodoh, tetapi justru dengan cara yang teramat instan, ada tindakan memamerkan kebolehan diri, harta kepunyaan dan lain-lain yang semuanya menggambarkan kenyamanan dan kenikmatan.

Proses, sangat kurang disukai manusia ini. Orang lebih suka langsung pada hasilnya. Orang kurang kerja keras untuk mengetahui proses sesuatu untuk menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.

Pelajaran hari ini tentang tukang periuk. Tuhan memberikan pelajaran penting kepada Yermia, bahwa jika tukang periuk dapat membentuk periuk dengan proses.

  • Persamaan, Tukang Periuk dan Tuhan Allah, sama-sama menjadi pembentuk sesuatu. Sesuatu itu adalah satu jenis benda. Tapi, sayangnya, ada perbedaan.
  • Perbedaan, tukang periuk membentuk periuk yang dipakai sementara. Sedangkan Tuhan Allah membentuk manusia untuk tujuan kekekalan. Tukang periuk membentuk dan membakarnya lalu dipakai. Suatu ketika akan pecah dan habislah sudah. Bedanya, Tuhan membentuk kita manusia untuk bermafaat sepanjang masa proses untuk “menjadi”.

Allah mendesain manusia dalam rancangan-Nya untuk hari ini dan masa depannya. Ia menaruh pada manusia apa yang terbaik pada masa yang akan datang. Ia terus memberikan kepada kita semangat dan kekuatan untuk terus membaharui hidup kita.

Sebagai gereja, biarlah kita terus berbenah untuk pembaharuan. Biarkan Tuhan berkarya di dalam gereja agar ada pembaharuan yang terus berproses.

Jika hidup kita di luar Tuhan, di sana kita akan mengalami kehancuran. Bukankah tangan Tuhan seperti tangan tukang periuk yang dapat membentuk bejana periuk yang lebih baik? Maka, baiklah hidup kita mesti di dalam tangan Tuhan. Izinkan Dia berproses bersama-sama dengan kita. Kita jangan sekali-kali mengharapkan hasil tanpa proses.

Marilah kembali dan belajarlah dari tukang periuk yang membentuk bejana/periuk; Ingatlah bahwa Tuhan lebih dari tukang periuk dalam membentuk manusia ciptaan-Nya yang sempurna itu.

Kebaktian utama pada Minggu ini telah dihadiri oleh jemaat sebanyak  322 orang yang terdiri dari laki-laki sebanyak 108 orang dan perempuan sebanyak 214 orang. Dengan demikian, mereka yang hadir hari ini baik anak-anak, remaja, pemuda hingga para orang tua (dewasa), kiranya membawa benih Firman Tuhan yang menghidupkan itu.

 

Penulis/Editor: Pnt. Heronimus Bani