Bersama Menuju Hari Baru Kelak

Bersama Menuju Hari Baru Kelak

Hari ini, Senin (20/7/20) di GMIT Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto berlangsung satu kebaktian yang khusus. Kebaktian ini dikhususkan kepada para lulusan dari semua jenjang sekolah (SD, SMP, SMA/K) bersama para orang tua mereka. Semua lulusan ini berasal dari Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto. Mereka yang sudah lulus ini kemudian telah memilih untuk melanjutkan ke jenjang SMP dan SMA, mungkin ada yang mendaftar melanjutkan ke perguruan tinggi, dan ada pula yang memilih berhenti atau menunda kuliah.

Dari mimbar Pdt. Papi Zina,S.Th bertanya tentang jumlah siswa lulusan SD, SMP, dan SMA/K. Jumlahnya untuk SD, 14 orang, SMP 14 orang dan SMA/K, 6 orang. Dengan demikian terdapat 46 lulusan yang berasal dari Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto.

Mengapa baru tahun ini ada ibadah syukur pendidikan yang dikhususkan?

Sepanjang tahun-tahun adanya GMIT Pniel Tefneno’ Koro’oto memang setiap kali menghadapi ujian, para siswa calon peserta ujian melalui anggota Majelis Jemaat mereka menyampaikan untuk didoakan dalam ibadah-ibadah mingguan. Lalu para siswa satu per satu maju memberikan persembahan khusus. Persembahan khusus itu ditempatkan dalam kotak yang tersedia untuk persembahan-persembahan yang khusus.

Melihat fenomena itu yang selalu terjadi pada saat menjelang dan sesudah ujian, selalu “ramai” para siswa mengantar persembahan khusus itu, maka disepakati untuk dibuatkan satu ibadah khusus peserta ujian bersama para orang tua. Maka, pada beberapa bulan yang lalu sebelum korona merebak, sempat diadakan ibadah itu.

Ketika korona merebak dan membatasi ruang gerak, ujian di sekolah-sekolah kabarnya antara jadi dan tidak jadi dilaksanakan. Akhirnya terlihat kembali dimana anak-anak peserta ujian datang ke peti persembahan khusus. Mereka memberikan persembahan khusus itu kembali sebagai tanda syukur bahwa mereka telah melewati masa ujian di sekolah, walau hal itu tidak sempat terlaksana secara keseluruhan.

Mereka telah lulus. Menurut kabar, belum ada ijazah yang mereka harus terima. Mereka menerima surat keterangan lulus. Bermodalkan surat keterangan lulus, para lulusan mendaftar ke jenjang yang lebih tinggi, SMP, SMA baik di dalam kampung sendiri maupun keluar kampung ini.

Para orang tua rindu melihat anak-anak mereka maju dalam pendidikan mereka. Kualitas dan kompetensi diri patut “dieksploitasi” secara lebih baik dalam dunia pendidikan melalui sekolah. Di sekolah manapun mereka memilih untuk melanjutkan, di sana ada harapan untuk maksud itu terpenuhi.

Pdt. Papi Zina, S.Th dalam khotbanya menyampaikan bahwa ada tiga kecerdasan yang patut diperhatikan untuk didapatkan dan dikembangkan dari seseorang yang sedang dan terus belajar. Tiga kecerdasan itu berupa kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). SQ dikembangkan di dalam lembaga keluarga dengan membangun mezbah sebagaimana Ishak membangun mezbah di dalam rumahnya (Kej. 26:25).

Ishak memanggil nama Tuhan. Ia membina keluarganya dan orang-orang di dalam rumahnya dengan terus-menerus memanggil nama Tuhan. Suatu pembinaan SQ yang patut dicontohi. Dengan tiga kecerdasan sebagaimaa disebutkan itu, kiranya orang tua dan anak akan bersama-sama hendak meniti jalan menuju hari baru kelak. Ketika meniti jalan itu, mereka harus terus belajar. Belajar di rumah sebagai institusi pendidikan informal. Belajar di lembaga non pendidikan formal, dan belajar di lembaga pendidikan formal.

Seseorang yang belajar itu mesti dapat menunjukkan perubahan pada berbagai aspek dirinya. Di antara aspek diri yang patut dikembangkan dan kiranya terlihat itu adalah pada sikap dan tutur. Tindakan yang menggambarkan ketrampilan dan keahlian kiranya menjadi modal hidup. Demikian pula tentang kepakaran. Semua itu diperoleh bila berada di jalur apa yang disebut sebagai belajar.

 

Koro’oto, 20 Juli 2020
Heronimus Bani

 

4 comments

  • Johnny M. Banamtuan

    Wah….suatu budaya menarik yang dibangun untuk anak2 bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan. Gereja mengambil peranan yg sangat penting. Luar biasa…Jemaat Pniel Koro’oto menjadi model dan teladan bagi jemaat yg lain. Salut!

  • Alexander

    Mantap seringkali minta d doakan saat mau ujian saja tapi tidak ada kebaktian khusus seperti ini. Perlu d contohi