Sudahkah Anda Memberi Persembahan terbaik dari Ladangmu?

Dalam bulan Juni dan Juli 2020, keluarga-keluarga di dalam Gereja Masehi Injili di Timor Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto mengadakan ibadah syukur atas panen dari ladang-ladang mereka. Ibadah dilangsungkan di rayon-rayon pelayanan. Ada 14 rayon pelayanan di dalam GMIT Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto. Jadwal ibadah disusun oleh Majelis Jemaat Harian (MJH) agar mereka dapat mengkoordinasikan kehadiran para anggota MJH dan BP3J.

Ibadah-ibadah itu dipimpin oleh anggota Presbiter dan calon vikaris. Di setiap rayon pelayanan prosedur mengumpulkan hasil ladang sebagai berikut.

  1. Anggota presbiter di Rayon Pelayanan menyiapkan satu daftar khusus untuk mencatat persembahan yang dibawa oleh anggota keluarga di dalam rayon yang bersangkutan.
  2. Daftar itu diisi dengan hasil berupa; jagung, padi, jenis-jenis kacang, dan lain-lain. Lalu ada hasil dari po’on berupa, pisang, kelapa, sirih-pinang. Masih ada persembahan berupa ternak peliharaan seperti ayam dan babi, serta hasil kerajinan seperti kain hasil tenunan dan karya tukang kayu seperti meja, dan kursi.
  3. Presbiter di rayon menghitung keseluruhan persembahan di dalam daftar itu. Jagung diakumulasi dalam satuan rean, kelapa dalam satuan buah, dan lain-lain.
  4. Selain hasil yang dicatat sebagaimana disebutkan di atas, keluarga-keluarga dalam rayon pelayanan masih menambah persembahan berupa amplop berisi sejumlah uang yang secara ikhlas diberikan sebagai tanda syukur.

Foto-foto diambil dari Akun FB Bani Yedijah

Ibadah berlangsung. Bacaan alkitab dan renungan/refleksinya menyebutkan tentang pengucapan syukur dalam musim tanam yang senantiasa dibayang-bayangi kesulitan. Di antara kesulitan itu seperti hujan yang kurang, atau sebaliknya curah hujan berlebihan ditambah angin kencang yang membuat tanaman gagal sebelum berbunga. Kendala lain misalnya, longsornya ladang ketika hujan deras untuk beberapa hari.

Dalam ibadah itu seringkali ada kesaksian dari anggota jemaat tentang bagaimana mengolah lahan di tengah situasi tertentu yang bagai hendak gagal panen, atau bahkan di awal musim tanam bagai hendak gagal tanam.

Foto-foto diambil dari Akun FB Bani Yedijah

Sesudah ibadah berlangsung, semua yang diserahkan itu diuangkan dengan cara lelang. Lelang dengan akumulasi pemberian nilai/harga pada item yang dilelang. Hasil lelang diserahkan sebagai persembahan tunai kepada Majelis Jemaat Harian melalui annggota Majelis Jemaat di Rayon Pelayanan. Dua puluh lima prosen tunai diserahkan untuk pelayanan kasih (diakonia).

Kini pertanyaan muncul,  Sudahkah Anda memberi persembahan terbaik dari Ladangmu?

Pertanyaan ini akan mendapatkan jawaban secara pasti dari pemberi persembahan itu. Seorang bapak yang dipengaruhi alkohol akan memberi jawaban terlebih amat pasti. Misalnya, “Ya! Saya sudah membawa yang paling baik dari ladang saya. Saya bawa jagung 100 bulir besar. Panjang tiap bulir 20 – 30 cm. Tiap bulir berisi 10-15 baris jagung. Setiap baris jagung berisi sekitar 25 – 30 butir jagung. Apakah ini bukan suatu jumlah yang banyak?”

Foto-foto diambil dari Akun FB Bani Yedijah

Jawaban seperti itu mengindikasikan dua hal. Pertama, aspek fisik yang nampak pada bulir jagung sebagai persembahan, dan kedua, aspek kuantitas yang dapat dihitung

Pada aspek fisik, setiap orang (Kepala Keluarga) membawa persembahan dalam tampilan yang kiranya diasumsikan sebagai yang terbaik. Jagung berbulir besar, kelapa berbuah besar, pisang berbuah besar, pinang berbuah besar, padi berbutir besar, ubi kayu yang isinya besar-besar. Ayam walaupun kecil karena akan dilanjutkan pemeliharaannya oleh yang mengambil lelang. Anak babi, akan dilanjutkan pemeliharaannya oleh yang mengambil lelang. Dan lain-lain.

Pada aspek kuantitas, jumlah pemberian itu belum tentu sesuai hasil yang didapatkannya. Bila saya bertanya pada seorang bapak, “Berapa rean jagung yang bapak peroleh tahun ini?” Dan bila bapak itu menjawab, “Saya memperoleh 10 rean!” Apakah bapak ini akan memberi persembahan syukur panen sebanyak 10%?

Bila ia harus memberi sebanyak 10% maka hitungannya adalah sebagai berikut.

  • 10 rean sama dengan 10 ‘kofu,
  • 10 rean sama dengan 40 suku
  • 1 rean sama dengan 400 bulir jagung
  • 10 rean sama dengan 4000 bulir jagung

Maka pemberian bapak ini bila harus benar-benar 10%, ia akan memberikan sebanyak 4000 bulir dikalikan 10% sama dengan 400 bulir yang sama dengan 1 rean. Satu rean itu terdiri dari 4 ‘kofu dimana setiap ‘kofu terdiri dari 100 bulir jagung atau 10 ikat. Tiap ikat itu terdiri dari dua bagian yang masing-masingnya 5 bulir.

Itu baru hitungan jagung. Kita belum menghitung berapa buah kelapa yang dipetik dalam setahun, yang mestinya ia bawa sebagai persepuluhan. Kita belum menghitung berapa ekor ayam yang dipelihara dalam setahun, ia menjual atau menikmati daging ayam kampung berapa banyaknya, lalu memberikan seekor atau sepasang yang bagai baru lepas susu. Kita tidak bertanya, apakah memberikan anak babi sebagai persembahan ini dihitung sebagai persepuluh dari 10 ekor anak babi yang didapatkan dalam setahun?

Bila seorang ibu membawa sehelai po’uk (selendang khas) yang ditenun. Mungkin kita perlu bertanya, bila sehelai itu sebagai persepuluhan, maka ia telah menghasilkan 10 lembar/helai po’uk dalam setahun sehingga ia membawa dan memberikan sebagai persembahan sebanyak satu lembar. Apakah begitu?

Kita tidak bertanya, berapa banyak tandan pisang yang telah dipotong dan dijual dalam setahun sehingga ketika ibadah pengucapan syukur panen tiba, ada yang membawa pisang yang bila diperam pun belum segera matang (masak) walau telah lebih dari 4 hari.

Dan masih banyak lagi hal yang bila dipertanyakan, akan memberi pada kita pengetahuan tentang pemberian persembahan persepuluhan dari ladang para peladang di Pah Amarasi, khususnya di kampung bernama Koro’oto yang berjemaat GMIT Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto.

Kiranya Tuhan berkenan menerima semua persembahan syukur yang dibawa, diantarkan kepada-Nya dalam ibadah. Kiranya para penerima lelang ibadah syukur segera mewujudkan nilai barang secara tunai agar pengelola dapat memanfaatkannya untuk kepentinan pelayanan pembangunan iman khususnya pada bangunan yang sedang dikerjakan.

 

Tuhan memberkati. Kiranya kualitas jagung sebagai prioritas dari ladang para peladang itulah yang mendapat perhatian, bukan kuantitas (jumlah). Saya setiap tahun mengambil minimal 100 bulir jagung dari ibadah dan lelang. Di antara 100 bulir itu, sering sekali sudah fufuk. Hampir selalu saya mengambil pisang. Sangat sayang bila pisang itu diperam tetapi lebih dari 4 hari satu pun belum matang. Apa artinya, pemberian itu belum sampai pada waktunya.

Terima kasih.

 

 

Koro’oto, 21 Juli 2020
Heronimus Bani