Yang Di(h)ajar dan Disesah yang Dikasihi sebagai Anak

Yang di(h)ajar dan Disesah yang Dikasihi sebagai Anak
Refleksi dalam Bulan Pendidikan GMIT

Pengantar

Seri 5 tulisan saya berupa refleksi dalam rangka Bulan Pendidikan GMIT kali ini saya dasarkan pada Ibrani 12:5-6. Begini bunyi Firman Tuhan

Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.”

Berdasarkan firman Tuhan yang ditulis oleh Penulis Kitab Ibrani dimana ia mengutip pula dari kitab Ayub dan Amsal, saya mencoba merefleksikannya sebagai bagian dari ikut menghias cakrawala Bulan Pendidikan GMIT tahun 2020 ini.

Meng(h)ajar dan Menyesah.

Suatu kesulitan terminiogi ketika saya berpikir untuk merumuskan secara sederhana kata/istilah menghajar yang tentu berbeda dengan mengajar. Sudah ada dalam pengetahuan umum bahwa menghajar pastilah kata kerja yang fakta tindakannya adalah menggunakan alat bantu di tangan untuk memukul. Alat bantu itu dapat berupa kayu, cemeti atau apapun yang didapatkan agar berfungsi sebagai alat penghajar. Siapapun mengetahui bahwa menghajar itu pasti sakit dan dapat menyebabkan memar dan luka di bagian tubuh yang terkena hajaran.

Sementara itu term mengajar itu berhubungan dengan kegiatan interaktif antara guru dengan siswa. Hal ini terjadi secara formal di kelas, atau secara non formal pada institusi pendidikan non formal yang memberikan ketrampilan-ketrampilan secara spesifik. Jadi mengajar  lebih fokus pada transfer pengetahuan (trans knowledge), sehingga hal ini berbeda dengan menghajar.

Anehnya, alkitab dalam tulisan Penulis Kitab Ibrani 12 : 6 menggunakan term menghajar dan menyesah.  Dua term yang mirip. Keduanya menggunakan alat bantu yang sangat jelas  menyakiti tubuh yang pada gilirannya menyakiti dan melukai hati (perasaan, emosi).

Heronimus Bani

Mari kita bertanya kepada para orang tua. “Adakah orang tua yang tidak menghajar dan menyesah anak?” Bisa jadi ada yang sama sekali tidak menggunakan alat bantu di tangan untuk maksud itu. Tetapi, tidakkah mulut dimanfaatkan untuk bersuara “keras” sebagai hajaran dan sesahan? Di lingkungan masyarakat sering terdengar, “Sekalipun orang X berbicara saja pun, sakitnya sampai di sumsum!” Artinya, kata-katanya seakan-akan bagai menggunakan cemeti untuk menghajar dan menyesah tubuh. Ini model mendidik dengan gaya keras bagai tanpa sikap dan sifat demokratis di dalamnya.

Bentuk dan pendekatan yang demikian itu bersifat pembinaan (coaching). Pembinaan dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas dan kapabilitas individu yang tergabung dalam komunitas. Setiap individu dapat dipastikan akan memunculkan potensi dirinya akibat dari kesadaran yang ditanamkan dari Pembinanya. Potensi-potensi diri itu diasah sedemikian rupa dengan teknik dan metode tertentu yang memungkinkan pengembangannya. Semakin nampak potensi itu dalam praktik dan sikap yang nyata, membuktikan bahwa yang dibina makin ada perubahan.

Mari saya contohkan dari pengalaman di sekolah. Sepasang orang tua mengantar anak mereka untuk menjejakkan kakinya pertama kali di sekolah. Siswa atau peserta didik baru. Mereka yang datang dari rumah tangga maupun pra sekolah formal mesti diterima sebagai telah mempunyai potensi untuk dapat dikembangkan. Tidak ada anak yang bodoh. Mereka diserahkan oleh orang tua ke sekolah formal untuk dieksploitasi potensi itu agar muncul ke permukaan, disadari dan layak bermanfaat bagi dirinya dan keluarga.

Minggu, bulan hingga tahun pertama sang anak bersosialisasi dengan guru dan sesama teman. Mereka dibina (kata lain digembleng, dididik, dihajar/diajar, disesah) agar dapat memiliki tiga ketrampilan dasar di sekolah dasar. Tiga ketrampilan dasar itu, baca, tulis dan hitung, disingkat calistung. Banyak orang tua mengharapkan lebih daripada tiga ketrampilan dasar itu. Mereka sangat idealis memimpikan anak mereka menjadi super sehingga ketika anak baru ada pada tahap membaca permulaan saja, dan belum mampu membaca lebih daripada yang ada dalam imajinasi mereka, maka anak itu dikata sebagai bodoh. Siapa sesungguhnya yang “membunuh” karakter anak?

Makin “dihajar dan disesah” dengan kata-kata bodoh, begok, blo’on, ngali, mono; makin turun dan tenggelamlah minat anak. Api dan semangat belajar yang hidup dalam dirinya perlahan pudar. Dia sendiri akan memberi merk pada dirinya sebagai bodoh, begok, blo’on, ngali dan mono.

Pada titik yang demikian ini setiap orang dewasa baik guru maupun orang tua yang menggunakan model membina ini, justru merekalah yang “membunuh” karakter anak, sekaligus memadamkan dan menenggelamkan api dan motivasi anak. Sangat besar potensinya mereka akan menjadi “pendendam” untuk masa depan. Mereka menyimpan kata-kata yang diucapkan orang tua dan atau gurunya di benak. Di masa depan kelak mereka menjadi orang yang dapat diandalkan, maka kata-kata itu muncul lagi dan disematkan pada generasi berikutnya.

Model menghajar dan menyesah yang demikian tidak memberi rasa sayang pada anak. Tuhan menghajar dan menyesah (membina dan menggembleng) dengan pendekatan yang berbeda. Tuhan tidak bilang, “Hai kaum, betapa bodoh dan begoknya kamu. Sungguh sangat ngali dan mononya kamu di bumi ini!” Tidak! Tuhan tidak mengatakan demikian pada kita.

Mari kita lihat bagaimana Tuhan menghajar dan menyesah umat-Nya sebagai bagian dari proses mendidik dan mengajari mereka sehingga mereka menyadari siapa mereka. Dengan kesadaran itu mereka kembali kepada Tuhan yang membina, membimbing, dan menggembleng hidup mereka.

Ingatlah cerita tentang Yakob (Kej. 27 – 35). Dapatkah Anda menemukan aspek pendidikan dengan pendekatan hajaran dan sesahan (pembinaan, penggemblengan) Tuhan pada Yakob?

Yakob menipu kakaknya, menipu ayahnya atas pengetahuan dan persekongkolan dengan ibunya. Yakob harus lari meninggalkan seisi rumah dan kampung halamannya. Dalam pelarian itu, ia hidup sebagai pekerja upahan untuk mendapatkan cintanya. Ia ditipu dan tertipu. Protes keras pada mertuanya harus dibayar dengan bekerja keras lagi. Ia mendapatkan harta berlimpah dari kerja kerasnya. Di dalam semuanya itu, Tuhan menyertainya.

Tidakkah kita sadari hal ini dari aspek edukasi bahwa Tuhan sedang menghajar dan menyesah yang dikasihi-Nya sebagai anak-Nya?

Ketika bangsa Isra’el dalam perjalanan exodus mereka dari Tanah Perbudakan, Mesir. Dalam perjalanan itu siapakah yang dapat bertahan pada “hajaran” Tuhan? Umat Tuhan itu menyaksikan betapa Tuhan menghajar mereka untuk ada dalam koridor kepatuhan yang menjadikan mereka diterima sebagai anak yang dikasihi-Nya. Menempuh jarak yang semestinya tidak jauh, justru dijadikan jauh dalam rentang waktu. Bukankah itu suatu hajaran yang mengingatkan mereka secara edukasi?

Dalam pada itu ketika mereka sudah mendekati negeri, masih ada satu kelompok kecil (10 orang) ditugasi memata-matai negeri yang dijanjikan Tuhan. Dua orang di antara 10 orang itu, Yosua dan Kaleb bersikeras bahwa mereka dapat menduduki negeri itu. Delapan lainnya menunjukkan kegalauan hati hingga menyebar kecemasan pada umat Tuhan. Apakah Tuhan diam?

Masih banyak kisah dalam alkitab yang mengisahkan tentang bagaimana seseorang, satu suku bangsa, dan bangsa bangkit. Kebangkitan itu terjadi ketika mereka mendapatkan hajaran dan sesahan yang mengingatkan mereka bahwa pada diri mereka ada potensi untuk hidup mandiri.

Hari-hari dimana pandemi covid-19 melanda termasuk dunia pendidikan. Apakah hal seperti ini lantas bukan menjadi suatu hal yang sedang meng(h)ajar kita untuk maju? Semua pemangku kepentingan sedang berusaha sekuat tenaga dan daya, ide dan apapun kreasi inovatif untuk keluar dari kungkungan si virus yang bagai melaknat dunia. Para orang tua pun merasa sedang tidak layak untuk menjadi pendidik di rumah.

… tak banyak orangtua menyadari bahwa perannya dalam mendukung pendidikan anak sangat mempengaruhi keberhasilan anak dalam belajar dan bersosialisasi. Tak ayal, banyak yang menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada pihak sekolah. Padahal, untuk mewujudkan keberhasilan pendidikan, dibutuhkan sinergi yang harmonis antara pihak sekolah dan orangtua.

Pernyataan di atas saya kutip dari website https://femaleradio.co.id/. Dalam hal meng(h)ajar sebagai proses pendidikan dimulai dan dilangsungkan di lembaga paling tua; keluarga. Lembaga tertua inilah yang memulai proses itu. Di sanalah orang mulai menanamkan segala hal yang bernilai, seperti; etika, moral, norma kehidupan bersama, dan lain-lain. Semua itu dapat diberikan oleh orang tua dengan salah satu pendekatan hajar dan sesah.

Alkitab mengingatkan kita, bahwa menghajar dan menyesah mereka merupakan tindakan kasih. Itu bila tidak menginginkan kematian. Bila menghendaki kematian mereka, tentulah itu melanggar hak asasi manusia, dan telah menjadi tindak kriminal yang dapat dipidanakan.

Maka, mari kita melalui proses pendidikan dengan (h)ajaran yang berharga.

Selamat mengakhiri Bulan Pendidikan GMIT.

 

Koro’oto, 26 Juli 2020
Heronimus Bani

 

 

2 comments