Kisah Para Batu Pertama di Gedung Gereja Pniel Tefneno’ Koro’oto

Heronimus Bani

Peletakan Batu Pertama (Mofut Faut Fua Mese’). Satu term yang selalu dipakai untuk memulai suatu proyek pembangunan gedung di dunia sekuler, termasuk gedung gereja. Pemerintah menggunakan term baru, ground breaking untuk memulai suatu program pembangunan fisik infrastruktur, termasuk gedung-gedung pemerintahan. Begitulah seremoni awal pembangunan fisik di dunia sekuler yang selalu menggemakan suatu “pesta” yang meriah. Sementara untuk membangun gedung gereja, perayaan itu selalu harus selalu liturgis dan dapat dipoleh untuk mendapatkan kemeriahan yang mengesankan.

Di Koro’oto, entah untuk meletakkan batu pertama itu sudah dilakukan pada tahun 1950-an, atau 1975 atau 1992; saya tidak mengetahuinya secara persis. Mungkin dilakukan dengan kehadiran terbatas hanya anggota atau warga jemaat Koro’oto saja tanpa menghadirkan pejabat publik atau pejabat gereja setingkat Ketua Klasis misalnya.

Tapi antara tahun 1992 – 2005 sudah terjadi pembangunan satu unit gedung gereja yang peresmian dan pentahbisannya dilakukan pada bulan Oktober 2005. Ketika seremoni peresmian dan pentahbisan, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Piet Alexander Tallo, SH tidak menghadirinya. Sementara pejabat Gereja yang hadir adalah Ketua MS GMIT, Pdt. Dr. Ayub Ranoh.

Banyak pihak hadir pada kesempatan peresmian dan pentahbisan itu, seperti Koordinator Wilayah Pelayanan Klasis (KPWK) Amarasi Timur, Pdt. Ande Ina, B.Th dan para Ketua Majelis Jemaat se-Klasis Amarasi Timur. Sementara dari pihak pemerintah hadir Ketua DPRD Provinsi NTT, Drs. Melkianus Adoe, dan Kepala Balai Pendidikan dan Pelatihan Provinsi NTT, Ir. Esthon L. Foenay. Pihak Konsultan Perencana, Ir. Paul Liyanto tidak sempat menghadiri peresmian dan pentahbisan gedung gereja Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto pada Oktober 2005.

Lima belas tahun telah berlalu. Gedung Gereja Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto telah mengalami perkembangan pada tampiannya. Di sayap Utara ditambahkan satu unit yang nampak konstruksinya dirancang dua lantai. Lantai bawah dimanfaatkan untuk Sekretariat Majelis Jemaat, dan lantai atas dimanfaatkan untuk ruang serba guna. Di depan atas terdapat satu ruang kecil yang diperuntukkan untuk studio Radio Komunitas, Suara Koro’oto.

Di sayap selatan dibangun satu unit yang sama ukurannya dengan sayap utara. Di sayap selatan dimanfaatkan khusus untuk ruang sidang dan berbagai pertemuan. Ruang Sidang ini dapat dimanfaatkan oleh pihak pemerintah atau NGO untuk mengadakan pertemuan dan workshop bila diperlukan.

Sementara itu telah dibangun pula secara khusus Rumah Pastori dan telah diresmikan oleh Wakil Ketua Majelis Klasis Amarasi Timur, Pdt. Afliana S. Neno-Fay, S.Th. Semua bangunan itu selalu diawali dengan seremoni peletakan batu pertama (mofut faut fua mese’). Batu-batu itupun (entah) akan selalu dikenang di dalam tanah, ditindih dengan batu yang lain, diikat dengan campuran semen yang telah membeku dan mengeras. Di atas batu-batu itu dibangun bangunan yang diasumsikan akan bertahan untuk puluhan hingga seratusan tahun lagi dan lagi.

Tiga belas Juni 2020, dokumen kerja sama ditandatangani oleh antara pihak GMIT Jemaat Tefneno’ Koro’oto dan Konsultan Perencana sekaligus menjadi Pelaksana. Satu tim kecil diutus bertemu dengan Pemerintah Kabupaten Kupang (dhi.Bupati). Tim kecil ini mengundang dan memastikan kehadiran Bupati Kupang dalam rangka peletakan batu pertama pembangunan (dalam bentuk renovasi) gedung kebaktian GMIT Jemaat Tefneno’ Koro’oto.

Sambutan-sambutan disampaikan oleh Majelis Klasis Amarasi Timur yang disampaikan Wakil Ketua MK Amarasi Timur, Pdt. Fernando dan Bupati Kupang, termasuk paparan singkat tentang rencana pembangunan ini oleh Ketua MJ Pniel Tefneno’ Koro’oto, Pdt. Papi Zina, S.Th.

Bupati Kupang Apresiasi Kerja Keras Jemaat Pniel Tefneno Koro’oto

Batu-batu diletakkan; Bupati Kupang memegang satu batu dan diletakkan. Menyusul Wakil Ketua KMK Amarasi Timur, Camat Amarasi Selatan, Jackson M. Baok, S.Pd dan Kepala Desa Nekmese, Krisma J. Baok. Batu-batu itu telah menjadi batu penjuru. Di sana mereka akan menjadi penyemangat yang merohi batu-batu di atasnya.

 

2 comments