Apakah Kemerdekaan sama dengan Kebebasan??

Apakah Kemerdekaan sama dengan Kebebasan??

Pengantar

Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) mempunyai sejumlah tradisi dalam kalender pelayanannya dalam bulan-bulan tahun berjalan. Misalnya, bulan pendidikan, bulan keluarga, bulan bahasa dan budaya, dan lagi sebagai warga bangsa, GMIT memposisikan diri untuk turut serta dalam pembangunan ini dengan bulan kebangsaan. Menarik. Dalam 4 minggu berturut-turut kebaktian dihiasi dengan khotbah yang nuansanya kebangsaan demi menanamkan cinta tanah air dimana Tuhanlah yang menempatkan warga dan anggota gereja (GMIT) di dalamnya.

Hari ini, Minggu 16 Agustus 2020, saya mendapat inspirasi untuk mencoba menulis makna kemerdekaan itu apakah sama dengan kebebasan. Ketika pelayan menyampaikan bahwa ayat alkitab sebagai Firman Tuhan yang menjadi pembimbing dalam kebaktian pagi ini diambil dan dibacakan dari 1 Petrus 2 : 16, demikian bunyinya: Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.

 

Hakikat Merdeka dan Bebas

Dalam Bahasa Inggris kedua kata itu dibedakan, tentu saja sama seperti Bahasa Indonesia di mana kata merdeka kiranya akan sama dengan bebas. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI,2005), di sana ada tiga makna dari kata merdeka; 1, bebas (dari perhambaan, penjajahan, dsb); berdiri sendiri; 2. tidak terkena atau lepas dari tuntutan, 3. tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa.

Sementara itu kata bebas KBBI memberikan uraian lebih panjang hingga 6 point. 1 lepas sama sekali (tidak terhalang, terganggu, dsb sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat, dsb dengan leluasa), 2. lepas dari (kewajiban, tuntutan, perasaan takut, dsb), 3. tidak dikenakan (pajak, hukuman, dsb), 4.tidak terikat atau terbatas oleh aturan dsb; 5. merdeka (tidak dijajah, diperintah, atau tidak dipengaruhi oleh negara lain atau kekuasaan asing), 6. tidak terdapat (didadapi) lagi.

Dalam Bahasa Inggris, merdeka menggunakan kata independence. Sementara kata bebas menggunakan kata free. Maka bila membawa kata kemerdekaan ke dalam Bahasa Inggris dia tetap Independence sementara bila membawa kata kebebasan ke dalam Bahasa Inggris, dia menjadi freedom. Kalau begitu kita patut bertanya, apakah keduanya sama? Jawabannya, sudah jelas baik dalam Bahasa Indonesia maupun dalam Bahasa Inggris keduanya berbeda.

dictionary.cambridge.org mendefiniskan independence sebagai berikut, freedom from being governed or ruled by another country (kira-kira secara harfiah artinya, kebebasan dari pemerintahan atau aturan yang diatur oleh negara/bangsa lain). Lalu, dari Kamus yang sama tentang freedom ia memberikan arti begini, the condition or right of being able or allowed to do, say, think, etc. whatever you want to, without being controlled or limited. (Kira-kira secara harfiah artinya,kondisi atau hak agar mendapatkan atau diizinkan melakukan sesuatu, mengatakan sesuatu, berpikir, dll. apapun yang Anda inginkan, tanpa dikendalikan atau dibatasi.

Jadi simpulan sementara sudah dapat ditarik, antara merdeka dan bebas atau kemerdekaan dan kebebasan itu berbeda, bukan?

Kalau begitu, sesungguhnya hal kemerdekaan (independence) dan kebebasan (freedom) itu berhubungan dengan situasi apa?

Ini yang saya ingin kiranya tulisan ini memberi inspirasi.

Hakikat Kemerdekaan (Independece)

Kemerdekaan dipahami dari aspek sosial-politik dan sosial-ekonomi. Kemerdekaan yagn dipahami dari aspek sosial-politik, menunjuk pada tidak adanya penjajahan dari satu bangsa kepada bangsa lain. Tidak adanya penguasaan satu suku bangsa kepada suku bangsa lain. Ketika suatu suku bangsa dan bangsa berkuasa atas satu suku bangsa lain atau bangsa lain, maka suku bangsa atau bangsa itu akan memegang segala kendali pada segala aspek dan bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Di sana tatanan masyarakat yang sudah ada secara pasti diubah, bahkan kepemimpinan domestik  di dalam suku bangsa dan bangsa itu merekalah yang mengaturnya.

Di dalam situasi yang demikian orang tidak merdeka, orang harus patuh pada aturan yang diberlakukan oleh suku bangsa atau bangsa penguasa (koloni). Mereka yang para kolonialis menjadi penguasa dan menempatkan harkat kemanusiaan mereka lebih tinggi dan mulia, sementara suku bangsa atau bangsa yang dikoloni dijadikan manusia kelas rendahan dengan tidak mempunyai harkat kemanusiaan sebagaimana lazimnya.

Pada posisi itu tidak ada kemerdekaan pada suku bangsa atau bangsa yang dikolonisasi. Mereka telah mencabut kebebasan suku bangsa atau bangsa itu, dan membuangnya sehingga segala aturan yang berlaku di daerah koloni dibuat untuk kepentingan mereka, dan kepentingan penghuni daerah itu yang sebelumnya tugasnya mengimplementasikan aturan-aturan itu. Kepentingan penguasa (kolonialis) yang dikerjakan, keuntungan jatuh kepada mereka sementara suku bangsa atau bangsa yang dikoloni tidak mendapat sesuatu apapun karena hak-hak mereka telah diabaikan.

Pada sisi sosial-ekonomi, segala sumber-sumber daya alam dan sumber daya lain yang dimanfaatkan untuk proses produksi barang dan jasa, semuanya berada di tangan mereka. Masyarakat tidak mempunyai akses kepada sumber daya alam dan lain-lain, kecuali menjadi pekerja tanpa upah. Mereka yang berhasil mendapatkan upah pun merupakan orang-orang pilihan pada kelas tertentu yang hak-hak asasinya pun dibatasi.

Pada aspek ini, kepemilikan usaha mikro hingga makro milik kolonial. Mereka membangun imperium-imperium dan menambah baju mereka yang sebelumnya kolonialis menjadi imperialis. Pada aspek ini mereka makin kaya dan memiliki banyak budak yang dibeli dan dipekerjakan bagai binatang yang dapat dicabut nyawanya (dibunuh) bila proses produksi dan hasil produksi tidak mencapai target.

Pada dua aspek ini, manusia yang berada di bawah kolonialis dan imperialis tidak mempunyai kemerdekaan sesungguhnya apalagi kebebasan. Ketergantungan pada kolonialis dan imperialis sangat tinggi. Hidup bergantung pada mereka dengan menadahkan tangan, hingga bila mendapatkan sesuatu harus sudah dibayar lunas dengan tenaganya, harta miliknya atau bahkan harus menyerahkan budak segar baru.

Hal-hal yang secara gamblang di atas menyebabkan orang-orang dalam kelas tertentu di tengah masyarakat yang dikoloni dan diimperial, merasa harus keluar dari himpitan itu untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak dengan mencapai satu titik masa yang disebut kemerdekaan itu. Maka tidak heran, suku bangsa atau bangsa-bangsa yang dikoloni mulai melawan bangsa kolonial.

Di dunia ini begitu ini bangsa-bangsa Eropa seperti Inggris, Belanda, Jerman dan Prancis merupakan negara-negara kolonial dan imperial yang menguasai banyak bangsa di Asia dan Afrika. Sementara di Asia, orang ingat Jepang sebagai bangsa yang pernah bangkit dengan jargon saudara tua untuk menghalau bangsa Eropa dari Benua Asia, padahal mereka justru menjadi pemangsa paling berbahaya atas saudara muda mereka sendiri.

Sejarah bangsa-bangsa telah mencatat dan mengisahkan bagaimana para pemimpin mereka telah melakukan konsolidasi kekuatan baik dengan berorganisasi maupun dengan soft attack (di antaranya menulis opini dan buku, pendirian sekolah) yang menyebabkan pemimpin-pemimpin kolonial dan imperial harus menemukan trik dan intrik baru agar dapat mematahkan dan atau bahkan harus mematikan upaya perlawanan itu.

Tersebutlah seperti Indonesia yang pada akhirnya terlepas dari kolonialis dan imperialis berkat kerja keras walaupun bersifat kedaerahan. Perlahan namun dalam suatu motivasi yang kuat berdasarkan asas bersatu dalam nasib yang sepenanggungan, akhirnya muncul kesadaran nasional sebagai bangsa.

Titik-titik waktu seperti 20 Mei 1920, dimana organisasi sosial kemasyarakatan Budi Utomo didirikan. Pada titik waktu yang demikian organisasi ini telah dapat menjadi ‘pemicu ketegangan” dengan penguasa. Tanggal 28 Oktober 1928, para pemuda yang sebelumnya berada di dalam organisasi kedaerahan, Jong Java, Jong Selebes, Jong Timorens dan Jong-Jong menurut lokal dimana mereka mengorganisir diri dalam usaha membangun kesadaran nasional, mereka akhirnya menyuarakan satu ikrar/sumpah yang sungguh ampuh dan menjadikan para muda bagai disuntikkan darah baru yang memberi semangat baru pada mereka.

Perjuangan terus dilakukan hingga akhirnya mencapai titik kulminasi dimana bangsa ini mencapai kemerdekaan, terlepas dari berbagai belenggu aturan dan cengkeraman jemari kekuasaan kolonialis dan imperialis. Tanggal 17 Agustus 1945, titik waktu yang memberi peluang untuk mengumumkan kepada dunia bahwa negara ini telah merdeka.

Aspek-aspek sosial-politik dan sosial-ekonomi menjadi milik bangsa ini di bawah kendali orang-orang terpilih. Masyarakat yang tadinya bergantung pada kolonialis dan imperialis penghisap, kini telah dibebaskan (free) untuk mendapatkan kebebasan (freedom). Mereka yang menjadi budak bukan lagi budak tetapi orang merdeka, bebas dari tuntutan-tuntutan, bebas dari ketergantungan.

Negara yang tadinya bergantung pada aturan-aturan penguasa (kolonial dan imperial), kini mengatur dirinya sendiri (swa ~ otonom). Itulah hakikat kemerdekaan sebagai bangsa. Negara lain dan bahkan pemimpin negara lain dengan kuasa kapitalism tidak dapat mengatur satu negara kecil sekalipun. Ada pada negara merdeka hak-hak mereka untuk berpolitik dan melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi untuk mencapai tujuan bangsa dan negara mereka sendiri sesuai amanat konstitusi negara itu.

Hakikat Kebebasan (freedom)

Sesungguhnya makhluk manusia sebagai individu pada saat kelahirannya, dia merupakan satu individu yang bebas. Ia bebas dari ikatan dan kurungan kandungan ibunya. Ia telah melewati pintu kurungan itu dan tiba di panggung kebebasan. Maka, ketika ia menagis sejadi-jadinya di panggung kebebasan itu, siapakah ibu dan para ibu atau bapak yang menegurnya? Tidak! Justru dalam tangisan bayi terlahir itu, mereka bertepuk tangan dan memberi tangan dan pangkuan untuk menggendong dan memangku. Pada saat itulah kebebasan sang anak mulai “dihimpit”.

Sebagaimana sudah disebutkan pada uraian sebelumnya, bahwa ternyata makna bebas lebih luas daripada makna merdeka. Di dalam kebebasan orang mempunyai hak untuk melakukan sesuatu yang didapatkan oleh karena pencapaian-pencapaian tertentu. Di sini orang mendapatkan peluang untuk berpikir dan berkata, bahkan mengurai pikiran dan perkataan itu dalam wujud tertulis dimana perwujudan lebih nyata itu kemudian disatukan dalam organisasi-organisasi dengan eksistensi tertentu. Semua organisasi mendapatkan jaminan dalam konstitusi tentang kebebasannya, tetapi dikendalikan agar tidak saling tumpang-tindih dan bertabrakan dalam implementasi kebebasan. Padahal, kebebasan itu sendiri semestinya tanpa kendali. Tetapi, kebebasan tanpa aturan yang mengikat, bagaimana mendapatkan ketertiban dan keteraturan?

Sebagaimana seseorang itu bebas di alam kemerdekaan, demikian pula suatu suku bangsa dan bangsa di dalam negaranya. Suatu bangsa yang tidak pernah dijajah, ia memiliki kebebasan yang kiranya dipahami mungkin secara berbeda daripada bangsa yang pernah dicabut kebebasannya sehingga berada di bawah kuk perbudakan atau penjajahan. Satu bangsa, negara yang bebas, ia berdaulat atas teritorinya, anak bangsanya, segala sumber daya yang ada padanya, dan mempunyai kedaulatan yang secara bebas ia dapat gunakan untuk membangun hubungan diplomatik dengan negara lain untuk mencapai visi bangsa dan negara itu.

Di sini makna bebas dan kebebasan rasanya akan bergeser. Jika secara leksikon salah satu maknanya adalah tidak ada batasan dan kendali, maka kebebasan yang demikian akan berubah menjadi liar bagai binatang-binatang di hutan. Ketika kebebasan yang demikian yang implementatif, maka jadilah manusia memangsa manusia dimana hukum rimba diberlakukan. Maka, kebebasan pada akhirnya harus dibatasi dengan aturan-aturan yang mengatur dan menata segala potensi yang dimiliki, yang oleh atas nama kebebasan orang semau-maunya mengambil dan mendapatkannya atas peluang yang dimilikinya.

Kebebasan (freedom) tanpa batasan dan kendali, tetapi mesti dibatasi dan dikendalikan. Kuasa untuk hal ini pertama-tama dimulai dari dalam rumah. Kepala Keluarga dan orang dewasa di dalam rumah menjadi pembuat batasan dan kendali itu. Merangkak ke dunia kehidupan sosial-masyarakat disana ada institusi-institusi dan varian lembaga yang dibentuk. Di sana ada pemimpin-pemimpin yang menata kebebasan dalam aturan yang membatasi. Aturan-aturan yang membatasi itulah yang melahirkan Undang-Undang dan segala aturan turunannya.

Kebebasan (freedom) bukanlah kebebasan tanpa kendali. Di alam kemerdekaan dimana secara politik tidak ada lagi penguasaan dari satu suku bangsa kepada suku bangsa yang lain, tidak ada lagi penguasaan dari satu bangsa/negara kepada bangsa/negara yang lain, di sana kebebasan dibatasi agar terhindar dari penyelenggaraan tatanan kehidupan yang menggunakan hukum rimba.

Jika demikian, sesungguhnya siapakah yang bebas di alam merdeka? Adakah seseorang atau satu komunitas yang memiliki keistimewaan agar ia memiliki kebebasan di pintu gerbang kemerdekaan bangsanya?

Tidak ada! Suku bangsa manapun yang menghuni pulau besar dan kecil di dalam negara berdaulat, mereka mempunyai kebebasan yang diikat dengan aturan dan nilai. Maka, kita tidak harus memaknai kebebasan sebagai kebebasan tanpa batas (freedom unlimited).

Kristus Tuhan telah memerdekakan dan membebaskan

Mari kita ingat bagaimana Tuhan menciptakan manusia dan memberikan kebebasan kepadanya di Taman Tuhan, Taman Eden sang Firdaus. Di sana manusia mendapatkan kebebasan untuk melakukan apapun. Di antara kebebasan itu ia diizinkan dan berpeluang memberi nama kepada segala makhluk yang ada di sekelilingnya (Kej 2: 19-20). Bayangkanlah kata-kata TUHAN Allah pada manusia itu, (Kej 2:16), Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya secara bebas, …

Ada kebebasan padanya, walau kebebasan itu sendiri kemudian dibatasi oleh TUHAN Allah yang menciptakan dan menempatkan manusia di dalam Taman itu. TUHAN Allah melanjutkan, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (2:17).

Kebebasan yang dibatasi, tetapi ada ruang dan peluang. Ada izinan dari yang lebih berkuasa yaitu TUHAN Allah.

Waktu terus bergulir, makhluk manusia yang satu itu kepadanya disandingkan penolong yang sepadan, setara hak dan kewajibannya. Kesepadanan dan kesetaraan itu melahirkan keindahan yang luar biasa pada manusia pertama sehingga ia memberi pujian padanya, Inilah dia tulang dari tulangku dan daging dari dagingku… .” (Kej 2:23a).

Pujian yang kiranya tepat itu tidak sedang dalam nuansa menggombalinya. Ia tidak sedang diberikan kemanjaan, tetapi ia pun mendapatkan kebebasan yang sama dengan manusia sebelumnya (laki-laki). Lalu sang perempuan menggunakan kebebasan itu dalam koridor komunikasi dengan makhluk lain. Kebebasannya tercerabik, dan sejak itulah makhluk manusia dan seluruh anak-pinak keturunan dari generasi ke generasi jatuh ke dalam perhambaan. Pada sisi ini, kuasa lain telah merenggut dan merebut kebebasan manusia dan menjadikan mereka sebagai budak dalam dosa. Dosa menjadi kolonialis dan imperialis baru pada manusia dimana Iblis menjadi rajanya.

Banyak ayat alkitab telah dicatat untuk mengaitkan keberdosaan manusia menuju kemerdekaannya. Saya tidak banyak mengutip, tapi tengoklah ketika bangsa Israel berkali-kali berada di bawah tapak kekuasaan bangsa lain. Tuhan selalu menjanjikan “kemerdekaan” itu bila mereka berpaling dari dosa, bila mereka tidak melacurkan diri kepada tuhan bangsa-bangsa asing, Tuhan memerdekakan mereka dan memberikan kebebasan pada mereka.

Nabi Yesaya salah satu di antara para nabi yang bersuara tentang pembebasan yang memerdekakan baik secara sosial-politik, ekonomi, dan geografi, hingga memerdekakan umat Tuhan dari perhambaan kuasa dosa.

Yesaya mencatat (10:27a) demikian, Pada waktu itu beban yang ditimpakan mereka atas bahumu akan terbuang, dan kuk yang diletakkan mereka atas tengkukmu akan lenyap.

Ayat di atas tidak sekedar menunjuk pada perhambaan/penjajahan atas Israel oleh Asyur, tetapi lebih daripada itu. Dosa manusia Israel dimana mereka melacurkan diri pada allah lain menjadikan mereka berada dalam perhambaan allah-allah lain itu, sekaligus berada di dalam cengkeraman bangsa Asyur.

Banyak kisah lain di dalam alkitab yang mirip tentang bagaimana Tuhan Allah membawa bangsa dan umat pilihan-Nya keluar dari perhambaan secara faktual dan memberi kepada mereka kebebasan dalam arti luas di negerinya sendiri.

Namun, manusia tetaplah manusia. Ketika berada di alam kemerdekaan dan kebebasan, mereka justru membaktikan diri pada dosa. Dosa menjadi tuan dan puan atas mereka. Mereka harus berlelah, berkeringat hingga berdarah-darah untuk mendapatkan anugerah kebebasan dari dosa itu.

Tidak ada jalan lain, TUHAN Allah sendirilah yang dapat melakukannya. Maka, IA mengirim Yesus Kristus menjadi Pemberi Kemerdekaan dan Kebebasan itu.

Sampai di sini saya menulis, saya percaya para pembaca lebih paham karya Kristus Yesus Tuhan demi memerdekakan dan membebaskan. Karya Kristus Yesus Tuhan tak dapat digantikan oleh siapapun dengan cara apapun. Bila diparodikan sekalipun tidak demi memerdekakan dan membebaskan umat manusia dari kuasa dosa. Kristus telah mengangkat harkat manusia dan kemanusiaan ke alam kebebasan. Kebebasan menghadap hadirat Allah yang kudus dan mulia. Kebebasan memuja,memuji dan memuliakan Tuhan dalam singgasana-Nya. Kebebasan membawa persembahan kepada-Nya seturut niat hati. Kebebasan menyampaikan pandangan dalam doa-doa kepada-Nya. Dan sejumlah kebebasan yang diikat dengan aturan, kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Dirgahayu Negara Kesatuan Republik Indonesia ke-75. Tuhan telah mengantarkan bangsa ini tiba di alam kemerdekaan. Di alam kemerdekaan bangsa dan negara ini memiliki kebebasan yang dibatasi agar ketertiban dan keteraturan dalam negeri baik, dan hubungan luar negeri menjadi nyaman dan damai.

Tuhan memberkati. Salam dari kampung Koro’oto di Nekmese’ untuk Indonesia.

 

Koro’oto, 17 Agustus 2020

2 comments

  • Renungan yang dalam dan perlu action sekaligus mengajak lebih nitizen untuk memaknai kemerdekaannya kita

    • terima kasih. Ibu Sri Sugiastuti satu-satunya pembaca yang sudi memberikan respon tertulis. Senang sekali ada dalam persahabatan dengan kami di weblog ini. Tuhan yang kami imani di dalam Yesus Kristus memberkati ibu dalam tugas dan karya nyata di sekolah dan lingkungan masyarakat, agama dan keluarga.