Bagaimana Dia Lahir di Kota itu?

Bagaimana Dia Lahir di Kota itu?

Pengantar

Orang tua manakah yang tidak merindukan anak? Semua pasangan suami-isteri merindukan adanya anak. Anak yang hadir dalam kehidupan satu pasutri akan menjadi pelanjut keturunan. Merekalah yang menjadi bunga-bunga penghias kehidupan pasutri itu dalam keseharian. Bunga-bunga itu akan mekar dan makin mekar. Bila menunjukkan keindahan yang mewah atau sederhana sekalipun,tetaplah ia bunga keluarga itu. Bila ia menyebarkan aroma mewangi yang biasa saja hingga yang luar biasa wanginya, ia pun tetaplah bunga itu. Bahkan sebaliknya, bila bunga itu dipandang dari kacamata lain sebagai tidak indah dan tidak memberi aroma mewangi, ia tetaplah bunga di rumah pasutri itu. Pasangan pasutri itu tetaplah akan memelihara dan membesarkannya sampai tiba masa dewasa agar ia memutuskan untuk mandiri. Ketika ia dalam kemandiriannya itulah, rasanya tanggung jawab orang tua menjadi berkurang. Berkurangnya tanggung jawab bukan berakhir sebagai orang tua.

Bila artikel ini sampai di hadapan pembacanya, pada hari terakhir bulan Kebangsaan ia tidak cocok dengan tema besar milik GMIT. Ya! Artikel ini berbeda, berhubung ada satu kelahiran yang terjadi di Kota. Kelahiran itu dialami dan dirasakan oleh sepasang pasutri yang berprofesi sebagai Pelayan (Pendeta) yang sedang ditugaskan di Koro’oto. Keduanya ini menerima kehadiran sang bayi dengan sukacitanya. Artikel ini untuk mengingatkan kami Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto.

Beberapa Kisah Kelahiran yang dicatat Alkitab

Sangat banyak dan beragam versi cerita tentang kelahiran seorang anak dari satu pasutri. Bahkan ada pula anak yang lahir bagai “tanpa” ayah biologis. Catatan Alkitab tentang semua kelahiran anak-anak itu menjadi rujukan refleksi pada umat, pembaca dan pendengarnya. Refleksi yang selalu berbeda pada setiap zamannya.

Beberapa contoh saya kutipkan di sini.

  • Kelahiran Esau dan Yakub. Cerita kelahiran ini sangat diingat oleh para pembaca kitab Kejadian 25:19-34. Ribka pergi kepada TUHAN dan bertanya mengapa anak-anak di dalam rahimnya saling bertolakan? TUHAN menjawab pertanyaannya. “Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda.”  Di sini kita dapat mengetahui dan turut merasakan emosi (perasaan) yang ada pada Ribka, isteri Ishak. Ia dalam kegirangan ketika mengetahui bahwa TUHAN telah menjawab do’a suaminya sehingga rahimnya telah berisi anak manusia pelengkap kebahagiaan rumah tangga, dan pelanjut keturunannya. Ia tidak mandul lagi. Kini, ia sedang dalam penantian kelahiran anaknya. Tapi, pergolakan anak-anak dalam rahimnya menjadikannya patut bertanya. Pada akhirnya, kembar berbeda sifat lahir dari satu rahim.
  • Kelahiran Benyamin (Kej.35:22b-29). Ingatkah pembaca akan isteri-isteri Yakub? Tentu saja diingat! Ada beda perlakuan cinta pada sang suami pada kedua (dan dua yang lain) isterinya. Isteri pertama dicintai apa adanya. Isteri kedua dicintainya sepenuh-penuh hatinya. TUHAN melihat hal ini. IA membuka rahim isteri pertama, Lea. Anak-anak lahir darinya bahkan ditambahkan dari isteri ikutan, Bilha. Sementara Rahel yang dicintai Yakub sepenuh-penuh hati tak dapat memberi buah cinta yang menjadi kebanggaan padanya. Demi keadilan, TUHAN membuka rahimnya, lahirlah Yusuf (Kej.30:22-24) yang rasa kasih sayang ayah pun jauh melebihi yang lainnya, sehingga kisah kehidupan Yusuf pun menjadi berbeda dari saudara-saudaranya yang berbeda ibu atau yang seibu dengannya yaitu Benyamin. Kelahiran Benyamin dicatat sebagai satu kelahiran yang berbeda dalam keluarga Yakub. Ia lahir dalam perjalanan pulang ke Tanah Kana’an. Anak kedua yang dirindukan Rahel. Ia sungguh berbahagia ketika mengetahui ada jabang bayi kedua di rahimnya. Kebahagiaan yang sekaligus kebanggaan, ia pertontonkan kepada suaminya dan kakaknya, Lea. Sangat disayangkan ketika proses melahirkan tiba. Keluarga Yakub melihat secara amat nyata ketika Rahel tidak sempat membesarkan anaknya. Ia sempat memberi nama Ben-Oni pada anak itu, tapi ia tidak memiliki kesempatan untuk hidup bersamanya dalam perjalanan menuju Tanah Kana’an, suatu area yang dijanjikan Tuhan kepada mereka.
  • Kelahiran Musa (Kel. 2). Siapapun akan mengingat cerita kelahiran anak-anak Ibrani di Mesir pada masa perbudakan. Setiap pasutri yang sedang menanti kelahiran buah cinta-kasih, pastilah ada dalam kewaspadaan tinggi. Gentar dan gemetar. Dapat saja emosi tidak dapat ditahankan manakala di depan mata para bidan membunuh anak yang lahir dalam pertolongan mereka. Beruntunglah ada dua bidan yang bekerja dengan hati kemanusiaan oleh karena TUHAN telah mengubah kekerasan hati mereka menjadi hati yang lembut dan berbelas kasih. Musa lahir. Ibunya harus bekerja keras untuk membiarkan Musa hidup. Trik dimainkan dengan menghanyutkannya di Sungai Nil. Siapakah ibu yang tega “membuang” bayinya yang baru saja dilahirkannya? Ia sempat menyusuinya hanya beberapa saat dan demi menghindari pembunuhan oleh bidan yang lain, ia rela bergolak lagi emosi jiwanya. TUHAN tidak menutup mata dan telinga-Nya. IA mengirimkan seorang perempuan dari pihak yang perkasa, kekar dan teguh hati pada implementasi kebijakan negara (Firaun) untuk menjadi orang yang berbelas kasih. Seorang perempuan dari dalam lingkungan istana Kefiraunan. Ya, Perempuan itu justru datang dari dalam pusat penyalaan kebijakan yang dapat membakar hangus dan habis setiap anak laki-laki Ibrani. TUHAN menaruh hati yang berbelas kasih padanya. Ia merawat Musa bahkan menyerahkannya kembali kepada ibu kandungnya untuk disusui hingga masanya untuk disapih dan dikembalikan ke istana Kefiraunan. Di sana ia dididik segala seluk-beluk pengetahuan dan ketrampilan dari dalam istana hingga tata kelola negara. Tapi, apa yang terjadi di kemudian hari? Semua mengetahui kisah kehidupan Musa sampai di batas menuju Tanah Perjanjian.
  • Kelahiran Samuel (1Sem.1:1-28). Mirip kisah Ribka saat itu yang disebut mandul sehingga Ishak wajib baginya untuk meminta pada TUHAN agar membuka rahim isterinya itu. Hana yang mandul disakiti hatinya (ay.6) karena ia tidak dapat memberikan anak pada suaminya. Sakit hatinya itu ia bawa dalam keluh-kesahnya kepada TUHAN dengan pernyataan dan permohonan dalam kerendahan hatinya. TUHAN membuka rahimnya. Di dalam rahim itu TUHAN merajut dan menenun satu anak manusia yang kelak menjadi hakim sekaligus nabi pada bangsa Israel.
  • Kelahiran Salomo (2 Sem.12 :1-25) Kisah perkawinan tak layak tayang antara Daud dan Batsyeba. Satu kisah yang menyebalkan dan membuat greget para pasutri bila disinetronkan. Para penonton yang mungkin mayoritas para ibu akan menggertakkan gigi menyaksikan akal bulus lelaki beristeri yang menginginkan istri bawahannya. TUHAN tidak menutup mata pada pemandangan ini. TUHAN menghukum lelaki itu, Daud sang raja yang diagungkan dan dimuliakan bangsanya. Anak pertama lahir namun harus menjadi tumbal dosa pada sang ayah. Ayahnya bertobat, tapi menaruh cinta yang mendalam pada Betsyeba. TUHAN mengampuni keduanya. Pengampunan yang menghasilkan anugerah yang tak terbilang. Betsyeba melahirkan seorang anak yang kelak menjadi raja yang berbeda dari raja-raja Israel sebelum dan sesudahnya. Bayangkanlah pergolakan hati pasangan suami-isteri terhormat dan mulia ini, Daud-Betsyeba.
  • Kelahiran Yohanis Pembaptis(Luk. 15-25;  57-66). Siapa yang sudah menduga doa dan permohonan apa yang disampaikan Zacharias ketika ia mendapat tugas keimamannya yang hanya dilakukan setahun sekali di Bait Allah dalam ruang Mahakudus? Ketika Zacharias keluar dari dalam ruang Mahakudus itu, lidahnya keluh. Ia tidak dapat berkata-kata lagi pada sesama imam yang bertugas. Kepada isteri dan keluarganya ia berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Suatu pergumulan berat pada pasutri ini, Zacharias-Elisabet. Bisu. Dalam kebisuan seorang laki-laki dengan status suami, ia bergumul dengan anak yang diharapkannya. TUHAN memberi jawaban atas pergumulan itu dengan membuka rahim isterinya, Elisabet. Selanjutnya kita mengetahui bagaimana Yohanis Pembaptis lahir. Kita mengetahui pula bagaimana seorang Elisabet bersyukur, memuliakan TUHAN ketika anak dalam rahimnya bergirang. Ia merasakan kegirangan itu dalam perjumpaannya dengan Maria. Lalu, akhirnya kita mengetahui, anak yang lahir itu menjadi seseorang yang berbeda dari orang sezamannya. Ia menjadi seorang Pengkhotbah yang keberaniannya tak tertandingi, dan Pembaptis yang menggegerkan dunia keagamaan Yahudi, walau pada akhirnya ia mati dengan cara yang sadis. Kepalanya dipenggal, ditempatkan di dalam baki/dulang menjadi hadiah pada seorang penari yang menyukakan hati raja Herodes.
  • Kelahiran Yesus (Mat.1: 18 – 2:1-23; Luk.1:26-37; 2:). Ini kisah yang selalu diulangceritakan setiap Desember atau Januari. Kisah kelahiran yang tiada akan pernah berakhir penceritaannya pada zaman manapun. Kisah unik yang menjadi pokok perdebatan dan bahkan buli dari penganut agama dan kepercayaan lain. Kisah yang dramatisasi dan sinentronisasinya membawa emosi penontonnya hanyut. Seorang gadis perawan mengandung tanpa persetubuhan dengan seorang lelaki. Kabar tentang rahimnya yang telah berisi akan menjadi pergunjingan, hingga calon suamipun hendak melepasnya dari cinta yang telah mereka semai dan mulai bertunas. TUHAN menguatkan keduanya. Mereka harus mengikuti suatu pencacahan jiwa di kota tempat keberadaan suaminya. Dalam kondisi seorang ibu hamil harus berjalan jauh demi mengikuti perintah negara. Kelahiran di perjalanan menuju kota itu. Kelahiran yang mengguncang istana sorgawi hingga bala tentaranya pun turut bernyanyi dalam koor mahabesar. Kisah yang sampai pula kepada para kaum bijak yang membaca tanda alam (majusi). Kisah yang menggetarkan emosi di padang ketika para gembala berdiang menjaga kawanan domba. Akhirnya kisah kelahiran yang menggegerkan istana Herodes di Yerusalem. Emosi yang paling puncak terjadi di sana ketika ada perintah untuk membasmi setiap anak di bawah umur 2 tahun. Sang ibu yang mengetahui seluruh hal ini, bagaimana perasaannya? Kelahiran Yesus menjadi kisah yang dapat ditelaah dari berbagai aspek dan disiplin ilmu bagi mereka yang dengan sukacita rindu berada dalam kisah itu.

Demikian beberapa contoh kelahiran dari catatan Alkitab. Dapatkah pembaca menarik suatu kesimpulan atas proses yang terjadi dan emosi jiwa setiap pasutri dan terutama seorang ibu hamil yang akan melahirkan? Betapa sakitnya proses kelahiran itu harus terjadi. Sakit yang menyenangkan bila pada akhirnya berhasil mengantarkan buah cinta yang ditabur. Taburan itu menghasilkan seorang (atau mungkin kembar), lalu tersenyumlah sang ibu ketika untuk pertama kalinya sang bayi ditelungkupkan di dadanya oleh bidan penolong. Tersenyum pulalah seorang ayah ketika pangkuannya menjadi hangat ketika dipangku dan dipeluknya bayi yang lahir gegara tugas pro kreator telah ia tunaikan.

Proses Kelahiran dalam Zaman Kuno 

Ilmu pengetahuan berkembang dalam berbagai cabang disiplin ilmu. Ilmu kesehatan bukan berbicara satu-satunya tentang beragam penyakit yang diderita manusia, pencegahan, perawatan dan pemulihan pasien. Ilmu itu ada cabang-cabangnya di antaranya kelahiran (natal). Paling kurang proses terjadinya janin, masa pertumbuhan janin di dalam rahim, segala organ yang berhubungan dengan janin, kesehatan dan keselamatannya, hingga proses yang standar ketika seorang penolong kelahiran (bidan, dokter, dukun beranak) memegang bayi di dua belah tangannya. Saat itu, seorang ibu hamil akan tersenyum bahagia bercampur kebanggaan, walau tubuh telah remuk akibat proses itu.

Berhubung artikel ini hanya bersifat informatif, maka tidak banyak catatan dapat ditampilkan di sini untuk proses kelahiran pada zaman kuno. Menariknya ketika saya berselancar menemukan catatan kelahiran yang masih harus dikonfirmasi pada tulisan-tulisan ilmiah sejarah kebidanan.

Satu contoh tulisan Johas Lesniato (https://www.kompasiana.com/teknik-melahirkan-di-bidan-pada-jaman-romawi/). Dalam artikel ini diuraikan secara gamblang proses melahirkan yang pada zaman Romawi kuno.Seorang perempuan telanjang duduk di kursi bersalin (kursi khusus dengan pegangan untuk ibu untuk mencengkeram selama kontraksi), perutnya bengkak. … Melahirkan di kekaisaran Romawi,  seperti semua tempat di dunia kuno, adalah urusan wanita. Bidan perempuan dan anggota keluarga membawa anak-anak ke dunia dan merawat bayi yang baru lahir.

Sementara itu informasi lain tentang kemajuan berbagai disiplin ilmu di Mesir kuno sehingga dengan semua itu dapat menghasilkan karya-karya yang luar biasa, yang membanggakan, termasuk proses kehamilan hingga melahirkan. Di antara informasi yang masih harus dikonfirmasi itu seperti berikut ini.

Ada banyak teori yang digunakan untuk menentukan apakah seorang wanita hamil pada zaman kuno. Metode yang populer melibatkan pemeriksaan pembuluh payudaranya. Metode kedua melibatkan mendudukkan seorang wanita di atas lantai menggunakan persamaan proporsionalitas sesuai dengan berapa kali dia muntah. Metode lain termasuk memasukkan bawang ke dalam vagina wanita dan menentukan apakah itu bisa tercium dari napasnya atau tidak.  Meskipun hanya ada sedikit bukti mengenai apakah salah satu dari metode ini dikonfirmasi sebagai prosedur medis atau apakah hanya cerita rakyat.

Agama memainkan peran utama selama persalinan dan melahirkan. Perempuan memanggil Artemis, seorang dewi dengan kemampuan untuk membawa kehidupan baru ke dunia serta kemampuan untuk mengambilnya. Meskipun dia sendiri tetap perawan, dikatakan bahwa dia menyaksikan rasa sakit ibunya selama kelahiran saudara laki-lakinya, Apollo dan segera mengambil posisi bidan. Jika seorang perempuan meninggal saat melahirkan, pakaiannya dibawa ke kuil Artemis karena fakta kematian itu dikaitkan dengannya. Jika kelahirannya berhasil, sang ibu akan membuat persembahan syukur dengan mengorbankan sebagian pakaiannya kepada dewi itu juga.

Dalam dunia orang Timor (Atoin’ Meto’) zaman ini rasanya tersisa masyarakat tradisional Boti di Timor Tengah Selatan yang masih mempraktikkan proses menolong kelahiran dengan cara-cara tradisional. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Joy Januari A.S. Ninu, Slamet Rihadi dan Kusuma Tirtahusada menemukan metode itu. Ketika menulis sebagai berikut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok masyarakat suku Boti Dalam berpegang teguh pada cara-cara tradisional, karena kepatuhan pada kepala suku dan keyakinan pada adat istiadat yang mereka anut secara turun temurun.Observasi dan wawancara mendalam pada para infoman menunjukkan bahwa dalam penanganan ibu hamil dan pertolongan persalinan, dukun bersalin menggunakan cara-cara tradisional mulai dari pemijatan (mengurut) dan memberikan berbagai macam
ramuan tradisional yang dipercaya dapat meningkatkan kondisi kesehatan ibu dan mengatasi berbagai komplikasi yang timbul selama masa kehamilan, persalinan, maupun masa nifas (masa yang dihitung sejak seorang ibu melahirkan, hingga 6 minggu sesudah bersalin). Peralatan-peralatan yang digunakan
pun serba tradisional dan jauh dari tatacara sterilisasi. Untuk memotong tali pusat, dukun bersalin menggunakan barnbu mil& (dalam bahasa daerah disebut pnio/kme’ok) dan mengikat tali pusar dengan menggunakan benang yang tidak terjamin sterilisasinya.Di samping peralatan untuk menolong persalinan yang serba tradisionil dan sama sekali tidak memperhatikan sterilisasinya, juga posisi waktu menolong persalinan yang tidak lazim yaitu ibu bersalin dalam posisi duduk di atas sebuah batu. Posisi tersebut akan mempersulit mengambil tindakan bila terjadi perdarahan. Selain itu dukun bersalin
akan meminta ibu bersalin mengejan kuathat dan melukan pemijatan pada perut ibu
walaupun pembukaan belum Iengkap untuk mempercepat pengeluaran bayi dan placenta
(ari-ari).

Kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun sebelum menolong persalinan masih sangat rendah, dukun bersalin dan pembantunya hanya menggunakan air bersih tanpa menggunakan sabun. Mereka belum mengenal penggunaan sarung tangan serta masker pada waktu menolong persalinan. Yang lebih berbahaya.

Dalam dunia modern kini, semuanya sudah perlahan tergeser. Para bidan dan dokter-dokter spesialis telah siap dengan segala fasilitas yang mendukung suatu proses kelahiran. Semua itu demi menjunjung kemanusiaan dimana makhluk manusia yang akan lahir harus diselamatkan sekaligus ibunya.

Penutup

Dua puluh delapan Agustus dua ribu dua puluh, di Rumah Sakit Mamami telah lahir seorang bayi perempuan. Ia disambut dengan “upacara” singkat menggunakan pisau bedah dimana ibunya harus menjalani proses operasi agar dapat membawanya ke dunia yang luar biasa ini. Proses awal terjadi di rumah sesaat sesudah mandi. Sang ibu harus dilarikan ke rumah sakit terdekat. Di sana segala hal yang berhubungan dengan proses melahirkan diaktifkan oleh personil yang terlatih dan profesional. Sayangnya, harus menunggu dokter yang khusus menangani operasi persalinan.

Titik dimana proses itu berakhir ditunjukkan oleh ayah sang bayi perempuan itu, ketika ia menempatkan di dinding akun feisbuknya tulisan pendek ini, 11:55 Terima kasih Tuhan Yesus. Sesudahnya, ada 57 orang menyampaikan ucapan selamat kepadanya. Sementara di akun feisbuk per tanggal 29 Agustus 2020 terjadi dua kali postingan, di sana disampaikan ucapan selamat dari 279 orang dan 179 orang berikutnya.

Bayi berjenis kelamin perempuan ini belum mendapatkan nama dari ayahnya. Menurut ibu bayi perempuan ini yang disampaikannya kepada Penulis melalui aplikasi WhatsApp, mungkin urusan kasi nama, urusan laki-laki (ko?)… Jadi sekarang beta pange Nona sa…

Kelahiran seorang bayi pada keluarga manapun akan menjadi satu momentum yang membahagiakan. Seorang ayah rasanya tidak dapat menahan emosi jiwa manakala mendengar suara tangisan pertama. Mungkin sang bapak sangat rindu menjadi orang pertama yang memeluk anaknya, tapi bagaimana terjadi? Semua proses itu berlangsung di dalam ruang persalinan di fasilitas kesehatan.

Kita bersyukur bahwa sang bayi perempuan yang sementara ini masih bernama Nona ini akan tumbuh dalam cinta-kasih pasangan suami-isteri ini. Dia menjadi penambah bilangan pada angka statistik keluarga menjadi 3 anak dari pasangan suami-isteri ini. Tuhan memberikan anugerah-Nya melalui anak ini di tempat bertugas yang baru. Kiranya anak ini memberi nuansa berbeda pada yang lainnya. Ia telah lahir di kota itu.

Ibu sang bayi perempuan itu berkata, Tuhan punya rencana yang lebih besar dari semua yang tak terpikirkan.. Apapun yang Tuhan buat tak pernah ada maksud jahat.. Sebab itu apapun yang kami lakukan, kami lakukan dengan-Mu Tuhan… Ku tak akan menyerah pada apapun juga sebelum kucoba semua yang kubisa. Tetapi kuberserah kepada kehendak-Mu. Hati kami selalu percaya Tuhan punya rencana.

Selamat datang bayiku.

 

Koro’oto, 31 Agsutus 2020

Heronimus Bani

 

3 comments