Kaum Biblikal dalam Dunia Digital

Kaum Biblikal dalam Dunia Digital

Pengantar

Saya merasa perlu menulis artikel dengan judul seperti di atas setelah saya berefleksi bahwa kehidupan kaum tani di pedesaan Pah Meto’ pastinya tidak sama dengan petani milenial. Bila kita mengikuti perkembangan informasi di dunia pertanian, rerata kaum tani milenial sudah melek teknologi hingga teknologi digital. Beda dengan petani tradisional di pedesaan, termasuk di kalangan Atoin’ Meto’ di Pah Meto’ ini. Mereka belum familiar dengan dunia yang satu itu. Bila sempat menyaksikan para petani peladang berpindah menggunakan henfon, sangat berbeda pemanfaatannya. Mereka cukup dengan menerima telepon atau sebaliknya menelepon. Selebihnya, bila ada tools lain di dalam henfon mereka tidak familiar dengannya sehingga mereka tidak memanfaatkannya.

Kaum tani yang seperti itu menyaksikan anak-anak dan kaum milenial memanfaatkan produk teknologi khususnya smartphone dan aplikasi-aplikasi yang menyertainya, seringkali mereka menganggap dunia digital telah merugikan. Mereka lalu berasumsi, dimanakah Tuhan sehingga hal-hal itu mengganggu ketenangan mereka. Ketika dunia itu belum tiba, mereka punya permasalahan yang sudah menimpa, menimpuk dan menumpuk. Di antara berbagai permasalahan itu ada yang tidak dapat diatasi, seperti kekurangan secara ekonomi untuk menyekolahkan semua anak dalam satu rumah tangga ke jenjang perguruan tinggi. Kini, bertambah pula masalah ekonomi dan sosial-budaya oleh karena datangnya produk teknologi yang sangat bervariasi dengan durasi pemanfaatan tidak lebih dari 5 tahun sudah harus mengganti yang baru.

Apakah alkitab memberikan jawaban yang kiranya dapat memberi harapan dalam iman, bahwa dunia digital tidak seharusnya menggoda iman, tetapi dengan memanfaatkannya mereka makin bersyukur pada Tuhan di dalam Yesus Kristus Tuhan, Guru Sepanjang Masa itu?

Adakah kata Alkitab tentang Teknologi?

Jika membaca alkitab terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia, dipastikan tidak ada term produk teknologi atau term era digitalisasi. Apakah ini artinya alkitab “kalah” dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (ipteks)? Bukankah alkitab merupakan suatu kitab di atas segala kitab sehingga segala hal di dalamnya telah terkover sepanjang sejarah kehidupan manusia hingga masa depan yang belum diketahui akan akhirnya oleh umat manusia?

Semua pembaca alkitab sudah mengetahui secara pasti bahwa langit dan bumi dan segala isinya telah diciptakan oleh Sang Khalik, Kreator Agung yang tidak dikreasikan, DIA-lah TUHAN ALLAH. Dia-lah causa prima, penyebab utama segala sesuatu yang kelihatan dan yang tidak kelihatan (Kejadian 1). Mari kita mengambil contoh ciptaan yang kelihatan dan atau yang dirasakan namun tak dapat diraba, Angin, cahaya, bunyi dan gelombang elektromagnetik. Adakah yang dapat menyebabkan terjadinya angin, cahaya, bunyi dan gelombang elektromagnetik? Ya, ada. Orang dapat menciptakan benda tertentu yang menghasilkan angin, cahaya, bunyi dan aliran elektronik. Tapi, perlu pemikiran yang sistematis, logis dan berkali-kali melakukan percobaan. Ingatkah para penemu seperti Thomas Alfa Edison, Michael Faraday, Benjamin Franklin dan berderet-deret penemu yang mencengangkan dunia?

Mereka telah bekerja untuk kemaslahatan umat manusia. Apakah mereka bekerja di ruang hampa tanpa sesuatu yang menjadi cikal-bakalnya? Tidak! Mereka bekerja dari apa yang sudah ada sebelumnya yang secara cermat dan teliti, jeli dan jenius diamati. Dari sanalah terbersit minat untuk melakukan riset, uji coba dan menulis jurnal-jurnal yang pada akhirnya dimunculkan pada publik untuk pemanfaatannya.

Yesaya 45:12a dan 18, Akulah yang menjadilan bumi dan yang menciptakan manusia di atasnya;  … Sebab beginilah firman TUHAN, yang menciptakan langit, – Dialah Allah – yang membentuk bumi dan menjadikannya, – dan Ia menciptakannya bukan supaya kosong, tetap Ia membentuknya untuk didiami – Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain.

Dua ayat ini tentu masih diperlukan tafsiran atasnya, baik tafsiran teks maupun konteks. Nah, dalam konteks TUHAN Allah menciptakan dan membentuk langit dan bumi,  banyak hal kelihatan secara kasat mata, banyak yang tak terlihat namun dapat dirasakan, dan ada yang sama sekali tak terlihat. Nah, pada ketiga unsur yang demikian ini, orang mulai berasumsi dan melakukan observasi-observasi. Observasi yang teliti dan cermat, jeli dan jenius akan melahirkan sejumlah pertanyaan dengan kata tanya, mengapa dan bagaimana? Bukankah hal ini yang selalu ada pada para periset yang menemukan berbagai hal yang membelalakkan mata dan mengangakan mulut manusia?

Pertanyaannya sekarang, bagaimana mungkin manusia dapat melakukan semuanya itu? Tuhan berkata, Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, … (Kej. 1:26a). Secara gamblang dapat saja kita mengatakan bahwa manusia yang kelihatan ini adalah makhluk Tuhan. Dengan kata lain manusia yang ada ini merupakan “titisan” Tuhan yang kelihatan. Oleh karena itu, ia mendapatkan daya untuk berimajinasi agar berpikir kritis kreatif dan inovatif. Tentu saja tidak semua orang dapat sama dalam hal berpikir kritis kreatif dan inovatif. Perbedaan-perbedaan itulah yang mewarnai lahirnya berbagai hal yang dikreasikan baik yang amat sederhana maupun yang rumit dan kompleks. Dalam kerumitan dan kekompleksan itulah Tuhan berkarya melalui hikmat dan pengetahuan yang diberikan kepada para pemikir kritis kreatif dan inovatif itu.

Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan (Yoh.1:3). Kiranya apa yang dapat direfleksikan dari ayat ini? Segala sesuatu telah ada. Gelombang elektromagnetik sudah ada di udara. Ide kreatif dan inovatif dalam hikmat dan pengetahuan dari Tuhan sajalah yang dapat menggerakkan seseorang untuk memanfaatkan segala yang telah dijadikan itu.

Ingatkah kita akan gaya gravitasi temuan Isaac Newton? Ia menyimpan hasil riset dan tulisan ilmiahnya selama 20 tahun sebelum dipaksa untuk dipublikasikan oleh astronom Edmond Halley. Apakah gaya gravitasi diciptakan oleh Isaac Newton? Tidak! Ia menemukannya. Apa artinya? Artinya gaya gravitasi sudah ada, tetap tidak kelihatan dalam pandangan mata manusia. Pada orang istimewa sajalah hal ini dapat diketahui. Keistimewaan orang itu adalah berpikir kritis kreatif dan inovatif. Bila berpikir kritis kreatif saja, tanpa melakukan sesuatu yang sifatnya inovasi, bagaimana mewujudkannya?

TUHAN Allah tidak membiarkan manusia-manusia istimewa itu sampai di titik berpikir kritis kreatif.

Aku, hikmat, tinggal bersama-sama dengan kecerdasan, dan aku mendapat pengetahuan dan kebijaksanaan. …  (Amsal 8:12). Tengoklah ayat ini. Tidakkah kita menyadari bahwa Tuhan itu sendiri adalah hikmat yang pada DiriNya? Tuhan telah dan terus mengkreasikan segala sesuatu di ruang, waktu dan situasi yang telah diciptakan-Nya. Kepada manusia yang mengasihi-Nya, Ia menunjukkan hal-hal yang tidak kasat mata. (1 Kor.2:9). Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”

Sekali lagi, apakah kita dapat menangkap dan menempatkan angin, cahaya, bunyi, dan gelombang elektromagnetik dalam satu ruang tertentu? Tentu saja dapat! Bagaimana dapat? Lihatlah cahaya lampu listrik yang telah kita gunakan berabad ini. Lihat saja bagaimana orang menggunakan angin sebagai tenaga pendorong atau pembangkit listrik. Lihat saja bagaimana mengubah gelombang elektron di udara menjadi bunyi (suara) di radio, televisi, dan telepon dengan segala varian di dalamnya. Tapi, apakah dapat diraba? Tidak! Semuanya tidak dapat diraba. Dinikmati, ya!

Rasakan Bedanya

“Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1 Kor.2:9)

Siapakah di antara kita yang berpikir untuk segera menemukan sesuatu yang tidak dilihat oleh makhluk manusia pada umumnya saat ini? Tidak semua orang. Saya menempatkan dalam tulisan ini, hanya orang istimewa saja yang sedang berpikir kritis kreatif dan inovatif yang akan menemukan hal-hal yang sebelumnya tidak dilihat, tidak didengar, dan tidak pernah timbul dalam hati manusia.

Contoh. Mangan di pulau Timor. Apakah ada orang Timor yang pernah berpikir di dalam hati tentang jenis batu yang satu itu? Tidak! Ketika ada orang yang berpikir kritis kreatif dan menunjukkan solusi bahwa batu berwana hitam dengan kandungan tertentu di dalamnya bernilai ekonomi, maka jadilah orang beramai-ramai mengambilnya tanpa peduli akan keseimbangan alam. Begitu pula dengan marmer. Semua itu terlihat di depan mata, tapi tidak timbul dalam hati untuk dimanfaatkan.

Jika yang terlihat saja tidak timbul dalam hati untuk pemanfaatannya, bagaimana dengan yang tidak terlihat seperti yang sudah disebutkan di atas. Bagaimana pula dengan kandungan perut bumi? Bukankah kandungan perut bumi di sana ada sejumlah mineral yang dapat dieksploitasi untuk kepentingan bersama makhluk manusia? Teknologi tepat guna, ribet dan kompleks harus diciptakan untuk maksud seperti itu. Siapakah yang menciptakannya? Mesti orang-orang yang istimewa yang merupakan “titisan” citra Tuhan Allah. Orang-orang istimewa yang mrupakan gambar Allah yang dipenuhi hikmat yang tinggal bersama-sama dengan keerdasan akan mendapat pengetahuan untuk kreatif menemukan solusi kemanfaatan.

Rasakan bedanya, ketika sejarah pemanfaatan material tertentu untuk berkomunikasi. Dimulai dengan tanda/simbol, sandi, suara dalam jangkauan, bebunyian pada alat tertentu yang dapat dijangkau, tulisan dalam surat, radio, dan seterusnya hingga tercipta satu produk teknologi yang makin menyempitkan dunia, smartphone. Tidakkah itu semua memakan waktu untuk menapak dan mencapai puncak ciptaan ini? Manusia sebagai makluk “titisan” dan citra Allah, akan terus berpikir kritis kreatif dan melakukan sesuatu yang inovatif solutif. Ia tidak akan berhenti sebab Tuhan Allah terus dan turut bekerja dalam segala sesuatu. Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (Roma 8:28).

Mari bekerja. Kita tidak dituntut untuk mengerjakan sesuatu yang bersifat luar biasa di luar jangkauan kemampuan kita. Hanya orang-orang istimewa yang mengasihi TUHAN, kepada mereka akan lahir hal-hal yang istimewa. Tapi, dalam keistimewaan itu, TUHAN Allah terus dan turut bekerja. Ia tidak membiarkan orang yang mengasihi-Nya bekerja sendiri. Hikmat-Nya, kecerdasan dan pengetahuan-Nya dicurahkan kepada yang mengasihi-Nya. Semua itu akan menjadi berbeda, dan orang akan melihat dan merasakanbedanya.

Penutup

Tulisan ini hanya suatu refleksi keterkejutan belaka. Bila pembaca telah selesai membaca atau mengabaikan untuk tidak membacanya, pastikan bahwa Allah terus dan turut bekerja dalam setiap tugas dan tanggung jawab yang diterimakan kepada kita. Pastikan bahwa sesederhana apapun teknologi yang dapat kita pakai, itulah yang membuat kita terbelalak pada mulanya lalu memuliakan Tuhan melalui produk itu. Produk itu hanyalah media untuk menjadi titian masuknya hal-hal yang tidak pernah dilihat, tidak pernah didengar, dan tidak pernah timbul dalam hati kita.

Pembaca pasti tidak puas dengan tulisan ini. Tentu saja masih butuh refleksi-refleksi lain yang mungkin lebih komprehensif. Mari merenung, Tuhan telah menyediakan segala sesuatunya, mereka yang kritis kreatif dan inovatif solutif menciptakan sesuatu dari yang sudah ada di ruang keberadaan. Waktu, dan orang istimewa yang tepat menjadi pergumulan. Tuhan menetapkan orang-orang itu tepat pada waktu dan zamannya.

Mari masuk dalam perenungan itu. Tuhan membekati.

 

Koro’oto, 9 September 2020
Heronimus Bani

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *