Masker sebagai suatu Kewajaran bukan Kewajiban

Pengantar

Ayo pakai masker.Kita sedang menghadapi situasi yang makin buruk. Tahan diri dari pesta-pesta. Perketat jarak fisik. Rajin cuci tangan dan pakai hand sanitizer. Mari saling melindungi dalam masa yang makin susah ini.Terutama lindungi anak-anak, kaum lansia, dan saudara-saudara yang sakit. Kita berdoa dan berdisiplin dengan protokol kesehatan sampai badai ini berlalu.

Pernyataan di atas ditulis oleh Ketua MS GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon yang saya kutip dari akun FBnya. Sejumlah sahabatnya telah mengomentari status itu. Saya pun urun komentar yang memberitahukan bahwa admin weblog ini akan mengutipnya. Pemilik akun pun memberitahukan sebagai Ketua MS GMIT, bahwa MS GMIT akan mengusahakan untuk mengeluarkan surat himbauan akan hal ini. Hal yang dimaksudkan adalah, memasifkan penggunaan masker, mencuci tangan, menjaga jarak fisik dan sosial pada segala kaum dan komunitas.

Bermasker sebagai suatu Kewajaran bukan Kewajiban

Ingatkah saudara pembaca Efesus 5:29? Mari kita baca besama, Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat.

Tanpa menguraikan lebih dalam, semua orang pasti langsung paham akan maksud ayat ini. Siapakah yang membenci tubuhnya sendiri? Semua orang pasti suka pada tubuhnya sendiri, sehingga akan dengan sukacita merawatnya. Mandi, salah satu cara merawat tubuh. Mengobatinya bila sakit. Berpakaian serapi mungkin bahkan menutup hampir seluruh tubuh merupakan langkah bijak merawatnya agar terhindar dari “serbuan” bakteri, virus dan hal-hal lain yang dapat menjadi penyebab tubuh mengalami sakit dan berpenyakit.

Dewasa ini pemerintah dan semua pemangku kepentingan, termasuk Gereja Masehi Injili di Timor melalui Majelis Sinode, Majelis-Majelis Klasis, dan Majelis-Majelis Jemaat terus menggaungkan upaya menjaga kesehatan, terlebih lagi dalam masa pandemi covid-19.

Presiden NKRI, Ir. Joko Widodo telah mengeluarkan Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 11 tahun 2020 tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Corona Virus Disease-2019.

Pertimbangan penetapan Keppres 11 tahun 2020 tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) adalah: bahwa penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) yang bersifat luar biasa dengan ditandai jumlah kasus dan/atau jumlah kematian telah meningkat dan meluas lintas wilayah dan lintas negara dan berdampak pada aspek politik, ekonomu, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan, serta kesejahteraan masyarakat di Indonesia;

Dalam implementasinya, Pemerintah membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 pada tanggal  13 Maret 2020. Gugus Tugas ini bekerja sampai akhir Juni 2020. Selanjutnya Pemerintah mengeluarkan PerPres Nomor 82 Tahun 2020 dimana pada pasal 20 Perpres ini mencabut  Kepres Nomor 7 tahun 2020, dan membentuk Komite Penanggulangan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional.

Tugas-tugas berdasarkan aturan-aturan itu sedang giat-giatnya dilaksanakan oleh para penyelenggara negara yang ditunjuk untuk maksud itu. Secara prinsip nampaknya hal-hal yang bersifat protokol kesehatan tetap sama, yaitu bermasker, mencuci tangan dengan sabun pada air yang mengalir dan menjaga jarak fisik dan sosial. Semua itu berlaku bahkan mulai dari setiap keluarga, di kantor dan tempat-tempat dimana orang berada.

Gereja tidak berpangku tangan. Selau ada himbauan (suara gembala) dari para gembala. Mereka bahkan memberikan contoh pemakaian masker secara terus-menerus. Kebaktian dimana para pendeta memimpin, di sana para pendeta tetap mengenakan masker. Mencuci tangan dengan sabun pada air yang mengalir tetap diberlakukan. Tempat-tempat penampungan air ditempatkan di halaman rumah/gedung gereja. Sabun, cairan pembunuh kuman, hingga disediakan alat pengukur suhu tubuh sebelum masuk ruang ibadah. Di dalam ruang ibadah posisi duduk pun diatur sehingga antaranggota peserta kebaktian tetap berjarak.

Masker, yang sudah disosialisasikan selama ini tetap menjadi perhatian untuk diingatkan kepada para anggota jemaat dan masyarakat. Semua orang yang mengenakan masker, dipastikan sedang tidak membenci dirinya, tetapi justru sedang merawat dirinya agar terhindar dari virus yang merajalela ini. Pemerintah DKI Jakarta bahkan menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar untuk kesekian kalinya berhubung angka kematian meningkat, sekalipun angka orang sembuh meningkat, namun tidak dapat menekan angka kumulatif orang dalam gejala hingga menjadi pasien tanpa gejala.

Bermasker, menjadi penting. Mereka yang tidak bermasker rupanya sedang membenci dirinya dan sedang tidak sudi merawat badan/tubuh. Rupanya ada kerinduan agar si virus korona menyapa ramah di dalam paru-paru, lalu secara perlahan-lahan ia menggergaji bagian itu dalam waktu 14 hari, sesudahnya akan selesailah kehidupan di muka bumi ini.

Bila membaca Roma 12: 1, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Akankah saudara-saudara mau mempersembahkan tubuh yang sedang didera penyakit kepada Tuhan? Mari membayangkan bahwa persembahan lembu, domba atau merpati menurut kitab Ulangan. Bukankah semuanya harus tidak bercacat/cela? Kira-kira tentu maksudnya, bukankah harus yang sehat??

Nah, bagiamana kita membawa diri (tubuh) kita kepada Tuhan dalam keadaan sakit? Bukankah orang yang sedang sakit dipastikan tidak dapat bersekutu dalam persekutuan ibadah? Maka, ketika Yesus sampai di kampung-kampung dan kota-kota, Ia sering dimintai pertolongan-Nya untuk menyembuhkan orang dari penyakit yang diderita mereka, termasuk mereka yang ditemui di tengah jalan pun dilayani-Nya. Bagiamana dengan kita? Bukankah kita perlu menjaga diri kita tetap sehat untuk dapat bersekutu dalam pertemuan ibadah-ibadah?

Maka, ketika pandemi covid-19 sedang benar-benar merebak bahkan makin mencemaskan, tentulah seruan untuk bermasker, mencuci tangan, menjaga jarak fisik dan sosial haruslah didengarkan. Bermasker mestilah menjadi suatu hal yang wajar dalam penggunaannya. Ia bukan lagi suatu kewajiban pada pemakainya. Biasakan mengenakan masker agar menjadi sesuatu yang wajar-wajar saja, bukan wajib. Sesuatu yang bersifat wajib akan berdampak pada sanksi, karena telah terjadi pelanggaran. Bila bermasker menjadi kewajiban, nantikan dan saksikan bagaimana mereka yang tidak bermasker pasti ditindak dengan sanksi-sanksi. Sanksi yang paling ringan sekalipun, tetaplah itu merupakan suatu hukuman atas pelanggaran dari suatu kewajiban, temasuk kewajiban mengenakan masker. Tetapi, bila mengenakan masker sebagai kewajaran, mengapa harus disanksi?

Tetapi kamu harus beribadah kepada TUHAN, Allahmu; maka Ia akan memberkati roti makananmu dan air minumanmu dan Aku akan menjauhkan penyakit dari tengah-tengahmu. – Keluaran 23:25. Kita semua di dalam Sinode Gereja Masehi Injili di Timor telah mengalami suatu masa persekutuan ibadah yang tidak normal antara Maret hingga Juni 2020. Kini setelah pernyataan Presiden NKRI, Ir. Joko Widodo tentang “berdamai” dengan korona, beramai-ramailah pasar, mall, supermarket, dan berbagai tempat dibuka, termasuk rumah/gedung ibadah. Di semua tempat-tempat itu ada aktivitas tanpa memperhatikan protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah. Bagaimana Tuhan menjaukan penyakit dari tengah-tengah kita, bila kesadaran merawat diri dengan membiasakan diri mematuhi protokol kesehatan diabaikan?

Penutup

Tuhan sungguh-sunguh amat baik. Ia terus bekerja bersama umat kepunyaan-Nya. Ia terus memberikan kesembuhan demi kemuliaan nama-Nya, termasuk menjauhkan virus korona. Maka, mari bersama Tuhan dalam karya-Nya dengan bermasker, mencuci tangan dengan sabun pada air mengalir, menjaga jarak fisik dan sosial. Semua itu kita aminkan sebagai suatu kewajaran saja bukan sebagai suatu kewajiban.

Mari Bermasker

 

Koro’oto, 11 September 2020
Heronimus Bani

3 comments

  • Ya, Mari bermasker. Bermasker bukanlah pekerjaan Berat. Itu adalah cara merawat dan melindungi diri. Salah satu bentuk mangasihi dan menyayangi diri sekaligus mencintai orang lain.

    Semoga ia Cepat berlalu!

  • Mery Kolimon

    Terima kasih banyak Bapa Roni Bani. Kita semua harus terus saling mengingatkan untuk memakai masker, rajin mencuci tangan/pakai hand sanitizer dan jaga jarak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *