Mulut Berujar Kaki Menggeser Jejak Tangan Meraba Tanda

Pengantar

Sejak Juni 2020, Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto mulai merambah kerja di tengah kekalutan dan kecemasan kolektif adanya pandemi covid-19. Ketika itu, Bupati Kupang, Drs. Korinus Masneno dan Wakil Ketua Majelis Klasis Amarasi Timur, Pdt. Fernando Paulus, dan sejumlah pejabat hadir bersama jemaat dalam rangka kebaktian peletakan batu pertama renovasi gedung gereja ini. Saya masih ingat satu frase dalam sambutan Bupati Kupang, Apa yang telah dilakukan jemaat sangat luar biasa, berani memulai dan melangkah. Kita tidak akan sampai di tujuan jika tidak melangkah, untuk itu perlu langkah pertama untuk bisa sampai pada tujuan tersebut.

Langkah pertama sesungguhnya telah dimulai oleh para pendahulu. Langkah yang satu ini yang dibuat oleh Jemaat Pniel Tefneno pada Juni 2020 merupakan langkah ke sekian dalam rangka mewujudkan mimpi besar menjadi jemaat yang misioner sesuai visi GMIT. Jemaat yang misioner sesungguhnya bukan terletak pada megahnya gedung gereja, tapi pada kadar dan wujud pelayanan serta hidup keseharian jemaat/umatnya. Lalu mengapa merenovasi gedung gereja?

Bacalah Hagai 1 : 1 – 14 dan Hagai 2 : 19-20

Konteks Jemaat Koro’oto

Antara tahun 1931 – 1974 rumah ibadah dibangun di beberapa lokasi dengan pusat peribadahan di kampung kecil bernama Rua’rofo’. Pusat Ketemukungan bernama Koro’oto di seberang kali kecil bernama Nono’ ‘Nisa’. Di sana satu unit rumah ibadah yang “mewah” pada masanya. Saya menggunakan mewah karena pemisah antara ruang Konsistori dan Aula tempat ibadah dibangun  tembok penuh, sementara sekeling rumah itu konstruksinya setengah tembok. Di samping rumah ibadah ini dibangun satu unit rumah milik Utusan Injil Martinus Bani (Nabubois). Rumah inipun mewah. Rumah ini bukan pastori tetapi perlakuannya seperti pastori. Rumah yang mewah secara konstruksi yaitu setengah tembok.

Di kampung lain seperti di Oepoi (Koro’oto A) dibangun rumah ibadah untuk para penggembala di Nunu’nene’ dan sekitarnya. Di Fo’asa’ ada satu rumah ibadah untuk komunitas yang berasal dari Kuanfau, Kuankiu, Timo dan Fo’asa. Di Makuni’ ada satu unit rumah ibadah dibangun untuk komunitas di Bak’uru, Makuni’, Tutun dan sekitarnya. Selama masa-masa itu ada pula anggota jemaat yang “keluar” menginjil di luar wilayah Koro’oto.

Dalam keyakinan bahwa membangun rumah ibadah akan berdampak pada lingkungan tempat dimana kaum dan komunitas menghuninya, maka ketika terjadi “pembongkaran” kampung oleh pemerintah bekas Swapraja Amarasi untuk membangun desa-desa gaya baru, (1968 – 1975), pada saat itu Jemaat Kolam Keselamatan di Koro’oto dan jemaat-jemaat di tempat-tempat sekitarnya pun dibongkar.

Tahun 1975 Kolam Keselamatan berganti nama menjadi Pniel Koro’oto. Di dalamnya berfusi Jemaat Makuni dan Koro’oto A. Sementara Jemaat di Fo’asa berfusi ke Jemaat Ebenhaezer Naimuti (Tuamese – Fo’asa). Pada waktu itu rumah gereja Koro’oto A direnovasi dari konstruksi darurat menjadi parmanen (mewah menurut takaran zaman).

Pergumulan untuk membangn gedung gereja yang lebih “mewah” terus ada dalam rancangan Jemaat ini. Tersebutlah beberapa kali jemaat menyiapkan lokasi untuk membangun gedung baru, selalu gagal. Baru pada tahun 1992, Jemaat Koro’oto melangkah lagi. Dalam masa 13 tahun membangun, pada Oktober 2005 gedung gereja Pniel Tefneno’ Koro’oto ditahbiskan oleh Pdt. Dr. Ayub Ranoh dan diresmikan oleh Gubernu Provinsi Nusa Tenggara Timur secara in absentia, Piet Alexander Tallo, SH.

Banyak mulut telah mengujarkan frase dan kalimat bermakna dalam rangka membangun rumah dan gedung gereja di Koro’oto pada setiap zamannya. Banyak jiwa sebagai anggota jemaat telah silih-berganti datang dan pergi, lahir dan mati. Di antara mulut-mulut itu ada yang jelas terdengar, sementara ada pula yang kabur di dalam kubur yang menelan jasadnya.

Contoh yang masih terngiang. Pada suatu ketika Pdt (emr) Theofilus Ora (KMJ) mengatakan, sebagai orang lemah marilah tunjukkan kekuatanmu. Kata lain yang diujarkannya berbunyi, di dalam kelemahanmu terletak kekuatanmu. Kalimat ini manjur untuk menggairahkan jemaat dalam usaha membangun gedung kebaktian. Semangat itu dipatri sangat dalam.

Thimotius Saebesi, tidak banyak berkata. Ia pekerja keras yang tidak henti-hentinya ketika jemaat tidak menyediakan anggaran yang cukup untuk pengadaan kerikil. Pengadaan batu kali yang dapat dijadikan pecahan kerikil menjadi solusinya. Maka, Thimotius Saebesi saban hari berada di kompleks pastorian Koro’oto untuk menugaskan dirinya menyediakan batu pecah (kerikil). Kurang lebih 3 tahun ia menugaskan dirinya sendiri untuk maksud itu. Ia tidak sempat melihat bagaimana model bangunan itu pada Oktober 2005 ketika ditahbiskan.

Rentinus Bani berkata, “Di sini tidak ada daging yang dapat memberi kepada kami makanan yang nikmat, tetapi masih ada nangka yang dapat diolah untuk menggairahkan tubuh agar lebih giat bekerja.” Jemaat sungguh bersemangat ketika memasang rangka atap yang telah disiapkan untuk diangkat beramai-ramai dan menempatkannya di posisinya. Ini suatu tindakan yang membahayakan. Rangka atap yang sudah siap, diangkat secara manual oleh tenaga manusia. Masih banyak pelaku pembangunan rumah/gedung gereja di Koro’oto yang menginjeksikan motivasi baik sebelum maupun sesudah pentahbisan dan peresmian pada Oktober 2005 itu.

Pdt Jermarlianus Riwu Djonaga mengatakan, “Sekalipun gedung ini megah dan mewah, tetapi apalah artinya semuanya ini jika tidak diisi oleh orang-orang yang mau beribadah kepada Tuhan. Jika saudara-saudara tidak mengisinya hari ini, akan berlanjut pada suatu ketika ruangan ini akan kosong melompong tanpa jemaat yang bersekutu untuk kemuliaan Tuhan!” Teguran yang keras. Jemaat sadari akan teguran ini. Grafik jumlah orang yang beribadah fluktuatif.

Kini datanglah pandemi covid-19, setiap bangku di dalam gedung gereja boleh diduduki hanya oleh 2 orang anggota jemaat peserta kebaktian. Omponglah aula itu! Rasanya teguran keras Pdt. Jesmarlianus Riwu Djonaga terbukti. Entah harus berkata, tidak atau belum. Kebaktian pada masa darurat kesehatan nasional dilangsungkan 3 kali selama periode Mei – Juli 2020. Lalu antara Agustus 2020 sampai dibuatnya tulisan ini, kebaktian dilangsungkan 2 kali tiap minggunya. Dominan kebaktian kedua yang selalu memenuhi target statistik di atas angka 100 orang anggota jemaat menghadiri kebaktian itu.

Lalu di tengah kekalutan dan kecemasan kolektif pandemi covid-19 itu, Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto mengambil satu langkah lagi, renovasi gedung gereja. Mungkinkah ada dampaknya?

Dalam iman yang tidak seberapa tebalnya, saya meyakini ada dampaknya berdasarkan Kitab Hagai.

Dalam Keyakinan Bahwa ada Dampak Membangun Rumah Ibadah (di Koro’oto) 

Rumah Ibadah dalam konstruksi darurat, semi parmanen, atau parmanen selalu menjadi impian setiap pemeluk agama. Agama manapun rindu membangun rumah itu dalam rangka persekutuan dengan sesama dan Tuhan yang disembah. Ketika rumah ibadah dibangun dalam konstruksi darurat atau semi parmanen, berdinding pelepah gewang (bebak) beratapkan ilalang atau daun gewang dan atau seng, orang merasa belum cukup baik. Orang menyebutkannya sebagai model yang untuk sementara karena yang akan ada di masa depan mesti lebih baik dari sekarang. Maka, usaha untuk mencapai bangunan parmanen dengan gaya dan tampilan tertentu menjadi incaran rumah ibadah masa depan.

Model konstruksi rumah ibadah masa depan itu selalu terlihat megah dan mewah. Hal ini terjadi karena pemeluk agama dalam komunitas satu kampung atau kota melibatkan pihak yang memahami konstruksi bangunan seperti dengan perhitungan daya tampung, kekuatan bertahan untuk masa sekian tahun di masa yang akan datang, dan termasuk kalkulasi pembiayaan atas bangunan itu.

Nah, kita sudah mendapatkan dua dampak di sini.

  • Perubahan pola pikir dan tindak pada komunitas pemeluk agama. Perubahan yang dimaksudkan di sini yaitu adanya keingingan untuk membuat dan membangun satu model bangunan yang berbeda dari yang dimiliki sebelumnya. Perubahan pola pikir ini menyebabkan adanya gerak tindak bersama. Gerak tindak bersama itu mengupayakan agar sumber daya yang dimiliki dapat diberdayakan sebaik mungkin untuk mendapatkan satu bangunan secara nyata dalam wujud yang diharapkan itu.
  • Pelibatan pihak lain, dalam hal ini adanya kerja sama. Kerja sama pada masa ini diwujudkan dalam bentuk Kontrak Kerja Sama atau ada pula yang menggunakan term Nota Kesepahaman. Pihak lain itu ditugaskan oleh komunitas pemeluk agama melalui suatu badan yang dibentuk untuk maksud itu. Misalnya satu Panitia Pembangunan.

Dua dampak pertama ini telah terlihat. Koro’oto telah melakukannya dalam tahun-tahun berjalan ketika menyelesaikan bangunan yang dimulai oleh para orang tua. Sebelum tahun 2005 ketika hendak pentahbisan dan peresmiannya, ada pihak kedua yang menyelesaikan plafon. Selanjutnya ketika membangun aula dan pastori, ada pihak kedua yang menjadi konsultan dan pelaksana sambil tetap bersama Jemaat Koro’oto dalam hal-hal yang sifatnya dapat dikerjakan oleh komunitas.

Kita dapat menyaksikan akan dampak lainnya, yaitu kerja keras di dalam jemaat. Setiap anggota sidi tidak berpangku tangan, walau ada pula yang secara sadar dan sengaja mau mengalpakan dirinya. Pada sisi ini sering sekali mulut berujar dengan cara lain. Benak orang-orang yang merasa dirinya baik menggoreskan jalan ceritanya sendiri tentang orang-orang yang seperti itu. Tapi, ketika kerja keras yang dimaksudkan itu harus ditangani bersama, apakah ada yang lalai? Tidak! Mereka yang malas mengikuti pertemuan-pertemuan ibadah minggu dan ibadah lain di rayon-rayon pelayanan, seringkali justru menjadi pionir penyumbang tenaga.

Memberdayakan lingkungan alam di dalam desa/kampung menjadi dampak ikutan. Kerja bersama untuk mendapatkan sesuatu secara bersama di luar kompleks pastorian turut memberi andil pada pemberdayaan itu. Hasil dari kerja bersama itu diberikan sebagai persembahan kategorial-kategorial.

Dalam semuanya itu masih dapat dibuatkan daftar dampak pembangunan rumah ibadah terhadap kehidupan bersama kaum dan komunitas di Koro’oto. Keimanan yang tak dapat diukur kadarnya pada setiap orang dapat diwujudkan melalui persembahan-persembahan yang mendukung pembangunan rumah ibadah. Persembahan yang diberikan dengan diikuti persembahan tenaga, waktu, pikiran dan perasaan (emosi) pun dinantikan. Setiap keluarga yang memberikan persembahan material, bukan memberikan jaminan keberhasilan pembangunan rumah ibadah. Setiap keluarga yang memberikan persembahan non material bukan pula cara terbaiknya dalam rangka menghasilkan satu bangunan rumah ibadah. Persembahan material dan non material dipadukan dalam satu kesatuan, itulah yang akan mengantarkan kepada terwujudnya satu unit rumah ibadah (dalam konstruksi yang megah dan mewah, atau sederhana darurat).

Tuhan bekerja dalam Pembangunan Rumah Ibadah (di Koro’oto)

Bacalah kisah-kisah pembangunan rumah ibadah (Rumah Tuhan) dalam alkitab baik yang dilakukan oleh Salomo maupun sesudahnya. Saya ajak pembaca membaca Kitab Hagai. Dalam kitab Hagai, ada cerita dimana TUHAN menyampaikan firman-Nya kepada Hagai kepada bupati Yehuda dan imam besar Yozadak untuk kembali membangun rumah TUHAN ketika mereka kembali dari pembuangan. Apa yang melatari hal ini?

Rupanya ketika kembali dari pembuangan kaum Yahuda mendahulukan membangun pemukiman mereka. Prioritas pada komunitas tanpa memberi perhatian pada rumah TUHAN. Dampaknya nyata sebagaimana terlihat pada ayat 6 – 11. TUHAN mengingatkan, menegur melalui penyataan yang mesti dengan hikmat untuk dapat membaca tanda-tanda itu di alam.

Ladang-ladang ditanami, tapi hasil tidak berlimpah
Ada makanan untuk dimakan, tapi tidak memberi kekenyangan
Ada air untuk diminum, tapi tidak memuaskan dahaga
Ada pakaian untuk disandang, tapi tidak menghangatkan tubuh
Ada hasil kerja di genggaman yang dapat dihitung, tapi menyimpannya bagai di kantong belobang.

Kesemuanya ini bila ditarik ke dalam pengalaman keseharian zaman ini dalam membangun rumah TUHAN, bukankah akan mengantarkan kita pada pemahaman bahwa TUHAN terus berkarya bersama kita? Bila ada kelalaian dimana rumah TUHAN mesti menjadi prioritas kaum pemeluk dan pengikut-Nya, bukankah alam akan memberikan tanda-tanda kepada kita tentang maksud TUHAN?

Nuansa terberkati akan berbeda bila membangun rumah TUHAN itu dimaksudkan untuk mendapatkan nama. Dalam situasi dan kondisi tertentu di tempat tertentu orang memperbincangkan kemegahan bangunan yang telah selesai dirancang dan kelak akan berhasil dibangun. Membanggakan kerja keras dan pemberian persembahan pembangunan yang sekalipun terasa berat tetapi justru di situlah letak keimanan pemberinya. Secara pongah memberikan saran dan pertimbangan kepada pihak lain yang kelihatannya lemah agar mengikuti patron yang sudah dibuat oleh jemaat bla bla yang telah berhasil membangun rumah TUHAN. Semua itu justru menurunkan harkat rumah TUHAN dan komunitas pembangunnya menutup pintu berkat pada mereka sendiri.

Tuhan terus berkarya bersama umat-Nya. Ia tidak membiarkan umat-Nya berdiri di atas kepongahan sebagaimana ketika Menara Babel dibangun. Tuhan di dalam Yesus Kristus Kepala Gereja tidak meninggalkan umat-Nya ketika mereka membangun rumah Tuhan dengan ketulusan dan keikhlasan. Dalam hal yang demikian ada pada mereka kerendahan hati tanpa harus diingat-ingatkan berulang-ulang. Mereka akan saling bahu-membahu, tolong-menolong, bagai penari herin dan betiboe di Pah Amarasi. Tarian yang makin pudar di tengah pandemi covid-19 ini.

Tuhan di dalam Yesus Kristus Kepala Gereja tidak membiarkan umat-Nya pongah ketika berhasil membangun rumah pemujaan pada-Nya dalam konstruksi yang luar biasa megah dengan memakan waktu, tenaga dan material, lalu di dalamnya mereka tidak membangun persekutuan. Bukankah Yesus pernah (dan akan) berkata, Batu-batu ini akan bangkit dan memuliakan Tuhan?

bersambung …

 

Koro’oto, 23 September 2020
Heronimus Bani