Menuju Anggota Sidi

Pada hari ini, di Jemaat GMIT Pniel Tefneno’ Koro’oto, telah dipersiapkan 20 calon anggota sidi baru. Mereka akan diteguhkan dan diperhadapkan pada kebaktian Minggu, 4 Oktober 2020 dalam dua sesi kebaktian. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kerumunan massa sebagaimana yang diharapkan oleh pemerintah melalui himbauan dan penegasan pelaksanaan protokol kesehatan pada masa pandemi covid-19 ini.

Dalam kebaktian persiapan yang dipimpin Pdt. Papi Zina, S.Th, Firman Tuhan yang dijadikan acuan refleksi dipilih dari Kolose 2 : 7

Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.

Dalam refleksi ini diurai dengan membaginya dalam dua hal pokok.

Berakar di dalam Dia

Bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu

Filosofi akar pohon digunakan untuk menggambarkan suatu kehidupan yang nyata, terlihat oleh sekeliling kehidupan manusia paling kurang dalam komunitas hidup bersama. Akar pohon diketahui sebagai yang mencari mineral-mineral yang akan dikirimkan kepada daun untuk proses fotosintesis. Ada kerja bersama yang tiada putus antara akar, batang berkulit dan daun. Akar yang makin kuat tertancap ke dalam tanah, akan terus mendapatkan dan mengalirkan mineral melalui batang berkulit (dan berkambium) menuju daun. Dari daun dikirimkan kembali untuk menutrisi pohon sehingga ia terus tumbuh, bertambah besar dan tinggi batang pohon itu.

Batang pohon yang makin besar dan tinggi akan mendapatkan terpaan angin. Angin sekeras apapun, bila akarnya makin menancap dalam, ia akan menahan tubuh pohon agar tidak mudah roboh.

Dalam filosofi yang demikian, setiap anggota sidi baik yang sudah lama maupun yang baru akan diteguhkan, mesti belajar dari pohon sebagaimana yang ditulis oleh rasul Paulus kepada Jemaat di Kolose.

Selanjutnya, ajaran yang diterima oleh setiap anggota sidi, berasal dan atau bermula dari rumah tangga. Orang tua menjadi pengajar primer (utama) dalam rumah tangga dalam hal pengenalan akan iman. Iman kepada Yesus Kristus Tuhan yang disembah dan dimuliakan. Selanjutnya ajaran-ajaran dogma dan lain-lain ajaran gereja (dhi.GMIT) diajarkan oleh anggota Majelis Jemaat yang ditugaskan untuk itu, seperti pendeta, pengajar atau penatua.

Dalam proses belajar dimana ajaran telah diterima, tidak serta merta kita mengatakan bahwa seseorang telah dinyatakan “lulus” ujian untuk menjadi anggota sidi. Menjadi anggota sidi hari ini atau nanti, bukanlah memberi tanda lulus kepada setiap katekumen. Surat sidi yang diberikan oleh organisasi gereja (GMIT) bukanlah tanda lulus sebagai Katekumen. Belajar dan terus belajar harus ada dalam diri setiap anggota sidi.

Katekumen belajar dari para orang tua, majelis jemaat dimana semua bersumber dari kitab suci (alkitab). Ajaran yang disampaikan orang tua dalam bentuk kata dan tindakan-tindakan nyata yang dapat ditiru. Ajaran yang disampaikan majelis jemaat secara organisasi tentulah berdasarkan ajaran pokok gereja (dhi.GMIT). Maka, tuntunan-tuntunan itu mesti dapat dipegang teguh.

Kokohkan dan teguhkan hati agar semakin berakar di dalam Tuhan. Peneguhan dan perhadapan sebagai anggota sidi sekali lagi bukanlah akhir dari belajar. Belajar selama dan sepanjang menjagi bagian dari kehidupan bersama sebagai gereja. Belajar selama masih menjalani hidup sebagai individu dan anggota komunitas. Belajar bagai akar pohon yang terus masuk ke dalam pori-pori tanah untuk menemukan mineral-mineral dalam rangka meneguhkan (menguatkan) batang pohon. Ketika ia makin kuat, angin menggoyang pun, ia tetap dapat menghasilkan.

Mari menuju peneguhan dan perhadapan sebagai anggota sidi pada masa ini dengan terus berakar dan teguh di dalam ajaran Kristus Tuhan Kepala Gereja.

 

Koro’oto, 3 Oktober 2020