Hanya Buku sebagai Kado pada Hari Istimewa Mereka

Hanya Buku sebagai Kado pada Hari Istimewa Mereka

Dua puluh muda-mudi dalam GMIT JemaaT Pniel Tefneno Koro’oto.telah diteguhkan dan diperhadapkan sebagai anggota sidi. Mereka dalam kesiapan diri untuk bersama-sama para anggota sidi terdahulu boleh turut mengambil bagian dalam perjamuan Kudus. Satu kehormatan mereka terima dari kasih Tuhan di dalam Yesus Kristus yang disembah.
Saya turut mengambil bagian dalam kebaktian peneguhan dan perhadapan yang dilangsungkan dalam 2 kali kebaktian. Kebaktian pertama Pdt Papy A. Ch. Zina, S.Th sebagai pelayan melayani mereka 10 orang dan 10 orang pada kebaktian kedua. Hal ini dilakukan untuk mengikuti arahan dan pedoman pelaksanaan protokol kesehatan pencegahan menyebarnya virus korona.
Dalam 2 kali kebaktian utama Minggu kemarin,4 Oktober 2020, Pdt Papy Zina mendasarkan khotbah pada Kolose 3:18-28. Uraian refleksi dari khotbah ini saya tempatkan di website yang dikelola Sekretariat Jemaat Pniel Tefneno Koro’oto ini.
Dalam pada itu sebagai pegiat Literasi Bahasa Daerah, saya berkesempatan memberikan kado kepada para anggota sidi baru. Kado itu berupa buku Kamus Maruna’ (Bergambar) dalam Bahasa Amarasi, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Selain itu ada juga kitab Kisah Para Rasul serta kitab Kejadian dalam Bahasa Amarasi.
Tujuan memberikan kado ini untuk terus membangun kesadaran berbahasa daerah melalui literasi baik lisan maupun tulisan. Pada zaman dimana bahasa-bahasa daerah makin tergerus, kesempatan mengembangkannya terasa bagai terjepit di antara penggunaan bahasa nasional dan bahasa Inggris atau bahasa lainnya.
Menguatkan kesadaran berbahasa daerah di kalangan para remaja dan kaum muda pada umumnya patut terus dilakukan untuk mencegah tergerusnya bahasa daerah. Mengapa? Dari waktu ke waktu bahasa daerah makin ditinggalkan oleh pemilik dan penggunanya. Siaapkah yang peduli padanya? Mestilah pemilik dan penggunanya.
Pada umumnya orang muda zaman ini mulai meninggalkan bahasa daerah. Sementara itu bahasa daerah menjadi objek penelitian (riset) dari para mahasiswa bahkan mahasiswa Pascasarjana hingga kandidat doktor.
Itulah sebabnya pemilik dan pengguna bahasa daerah mesti menyadari bahwa bahasa daerah itu harus tetap dipakai baik lisan maupun tulisan agar ia tetap lestari.
Kesempatan berbagi kado dengan buku yang selalu saya lakukan merupakan langkah sederhana yang dapat saya (dan Anda) lakukan bila merindukan membangun kesadaran membaca sebagai kebutuhan. Membaca (dan menulis) sebagai kebutuhan mendasar dalam pembangunan dan pengembangan literasi (dan numerasi).
Pdt Papy Zina berharap atau berpesan kepada para anggota sidi yang telah mendapatkan kado itu harus benar-benar membaca. Membaca agar makin lancar berhubung di dalam kebaktian-kebaktian Utama Minggu tertentu, sering sekali ada bagian Alkitab yang dibacakan dalam Bahasa Amarasi (bahasa daerah). Kelancaran lafal yang jelas dan terang hanya bisa diwujudkan dengan berlatih membaca secara terus-menerus dan teratur.
Akhirnya kepada 20 anggota sidi baru ini Majelis Jemaat menyampaikan selamat dan meluaskan mereka untuk turut mengambil bagian dalam perjamuan Kudus.
Koro’oto, 5 Oktober 2020
Heronimus Bani

 

2 comments

  • Buku.jendela dunia. Banyak pesan yang diperoleh dari Buku. Selamat menempuh hidup baru

    • terima kasih ibu Astuti selalu menyempatkan diri membaca dan memberikan komentar. Saya pastikan ibu sungguh sibuk, tapi sebagai Pegiat Literasi selalu tidak lupa membaca blog rekan-rekan Bloger. Tuhan memberkati.