Apakah Anda Senang Menjadi Anggota Sidi?

Apakah Anda Senang Menjadi Anggota Sidi?

 

Minggu, (04/10/20) di GMIT Jemaat Pniel Tefneno Koro’oto telah diadakan dua kali kebaktian Utama. Di dalam dua kebaktian utama itu diteguhkan dan diperhadapkan 20 orang anggota sidi baru. Nah, apa itu sidi? Pertanyaan itu disampaikan oleh Pdt. Papi Zina, S.Th ketika memimpin refleksi pada penggembalaan menuju peneguhan.
Di dalam gereja (GMIT), ada satu tahapan dalam rangka mencapai satu titik pendewasaan iman. Tahapan itu disebut sidi. Menuju tahapan itu seseorang atau sekelompok orang harus masuk dalam satu proses pembelajaran yang disebut katekisasi. Bila bertanya, apa itu katekisasi? Orang segera memberi jawaban sederhana, belajar untuk menjadi anggota sidi.
Katekisasi berasal dari kata bahasa Yunani, katekhein, yang artinya, mengajar, memberitakan dan memperkenalkan. Dalam proses itu ada orang yang mengajar disebut katekhein, ada yang menerima pengajaran yang disebut, katekhisan, dan pengetahuan yang didapatkan itu disebut, katekhismus.
Apakah ada dasar alkitabiah untuk katekisasi? Mari perhatikan ayat-ayat alkitab berikut ini:
Ulangan 6:1-9; Mat. 28:16-20; Yoh. 7:14-18; Efesus 4:11-16, dan lain-lainnya yang bertebaran di dalam Kitab Suci (maaf)

…haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang…

Jadi tidak berhenti ketika seseorang mengaku di hadapan Tuhan dan Jemaat-Nya kemudian berlutut. Selesai.

…ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.

Perintah ini keluar dari mulut Yesus sendiri. Perintah yang amat jelas dan terang. Mengajarkan, memberitahukan, meperkenalkan apa yang Dia perintahkan kepada kita.

… Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang mengutus Aku

Sebagai Gereja (dhi.GMIT), para Katekhein mengajarkan apa yang ditetapkan untuk diajarkan, diberitahukan dan diperkenalkan kepada katekhisan. Kesemuanya berdasarkan Firman Tuhan yang terdapat di dalam Kitab Suci, Alkitab. Gereja melalui para Katekhein tidak mengajarkan sesuatu yang berada di luar Firman Tuhan. Para Katekhein sekalipun mengajarkan tentang gereja sebagai organisasi, ajaran yang demikian pun tidak sekuler. Gereja dalam pengertiamn organisasi pun tetap berdasarkan Firman Tuhan.
Berikut saya kutip ayat yang lebih panjang

Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul, maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yagn sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.

Kembali ke judul. Apakah Anda senang menjadi anggota sidi? Biasanya sampai pada titik ini para muda senang, nampak bahagia, sukacita bagai tak berakhir. Sukacita itu ditunjukkan dengan menitikkan air mata beberapa saat pada saat berlutut. Lalu, sesudahnya mengadakan “ibadah syukur” yang seringkali mengundang tanya baru. Inikah titik berangkat pembaharuan agar tidak diombang-ambingkan?
Saya terus berefleksi. Sesungguhnya tugas maha berat dipundakkan pada setiap anggota sidi. Anggota sidi bukan sekedar izin untuk masuk mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus milik Kepala Gereja, Yesus Kristus. Anggota sidi bukan sekedar cap kedewasaan iman yang dapat saja menjadi semu dan kabur bahkan dapat hilang ditelan angin pengajaran yang dimainkan dalam kelicikan manusia. Anggota sidi bukanlah sekedar tampilan belaka di hadapan orang sesama satu organisasi gereja (seperti di GMIT), tetapi lebih daripada itu.
Anggota sidi memikul di pundaknya tanggung jawab ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang Kuperintahkan kepadamu…Tidak berhenti pengajaran. Pengajaran informal menjadi proses tanpa akhir. Kontinyuitas bergenerasi. Mereka yang telah terlebih dahulu menjadi anggota sidi, menjadi patron, suri tauladan pengajaran dalam tutur, sikap dan tindakan.
Rasul Paulus mengingatkan demikian,

Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia (2 Kor 3:3)

Jika demikian, siapakah yang menjadi anggota sidi lantas berkata, Puji Tuhan, aku telah dewasa dalam iman!
Benarlah demikian bahwa gereja meneguhkan dan memperhadapkan Anda sebagai anggota sidi dengan harapan telah mendewasakan dalam iman. Namun, selanjutnya hal kedewasaan ini mesti dapat ditunjukkan seperti surat hidup yang dapat dibaca.
Setiap pembaca surat hidup akan memberikan respon positif atau negatif. Namun surat hidup di dalam Kristus yang ditulis oleh Roh Kudus di dalam loh daging di hati manusia, senantiasa respon terhadapnya mesti postif, bahkan demi memuliakan Tuhan.
Semoga mencerahkan. Tuhan memberkati.
Koro’oto, 3 Oktober 2020

Dikutip kembali dari Grup FB Mari Menulis

Heronimus Bani