Bolehkah Tiup Lilin pada Syukuran Hari Lahir?

Bolehkah Tiup Lilin pada Syukuran Hari Lahir?

Hai anakku, dengarkanlah dan terimalah perkataanku, supaya tahun hidupmu menjadi banyak (Amzal 4:10)

 

 

Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa (Maz 23:6)

Pengantar Kata

Saya mesti jujur bahwa saya tidak punya pengetahuan awal sebagai acuan bahwa setiap seseorang individu merespon hari kelahirannya dengan meniup nyala api di lilin yang ditempatkan sebagai makhota pada sebentuk kue. Acara ini telah menjadi budaya masyarakat secara luas dimana-mana. Rasanya orang yang tidak sempat melakukannya di zaman ini, mereka termasuk golongan orang yang tidak berada dalam zaman alias ketinggalan zaman, belum move on. 

Menyatakan syukur pada hari kelahiran yang berulang setiap tahun dengan berdoa pada Khalik Agung Mahasempurna itulah kiranya yang patut diprioritaskan, sementara hal lainnya hanyalah bagai bunga dan pewarna, atau pemanis belaka yang sirna dan hilang dari refleksi.

Tetapi, apakah kita semua menyadarinya? Saya pastikan bahwa ada kesadaran itu dalam benak.

Apa kata Alkitab tentang Perayaan Hari Kelahiran?

Saya pilihkan 2 ayat alkitab untuk menjadi acuan pada refleksi kali ini. Amsal 4:10 dan Mazmur 23:6 sebagaimana sudah saya kutipkan.

Alkitab melalui Salomo dalam amsal sebagai peringatan dan nasihat, ia mengingatkan umat Tuhan pada masa itu tentang pentingnya mendengarkan nasihat orang tua. Para orang tua memegang peran penting sebagaimana yang sudah diperintahkan Tuhan dalam Hukum ke-5; Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu (Kel.20:12). Nasihat dalam Amsal kiranya mengacu pada Hukum ini. Siapakah yang menolaknya.

Mengapa patut mendengarkan orang tua? Kita dapat memberi alasan fisiologis dan biologis. Secara fisiologis, orang tua lebih dewasa, mereka telah mengalami pahit-manisnya kehidupan. Pengalaman hidup menjadi pembelajaran yang membekas pada mereka. Mereka memberi makna pada pengalaman-pengalaman itu. Mereka bertanggung jawab untuk menyampaikan hal-hal bermakna itu kepada anak-anaknya. Hal yang demikian ini patut didengarkan oleh anak-anak. Mendengarkan dan meresapi ajaran orang tua (manusia yang lebih dewasa) bukan sesuatu yang haru, namun patut terus didengarkan oleh karena waktu bergulir maju dengan segala dinamika, romantika dan problematikanya.

Bahwa orang tua secara biologis, merekalah “penyebab” adanya anak (anak-anak). Lantas merekalah orang-orang yang paling dekat. Dari mereka ada ikatan emosional yang teramat kuat. Merekalah yang menurunkan sifat dan karakter pada anak. Semua orang ingat pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, bukan? Jika anak nyata melakukan sesuatu yang baik atau bahkan sangat baik dan istimewa, banyak orang sangat suka menggunakan pepatah ini untuk mengibarkan bendera kebanggaan, tetapi sebaliknya, sangat sering pembelaan diri dibuat dengan ungkapan tambahan, buah yang jatuh itu sedang berguling menjauh dari pohonnya.

Orang tua yang baik menjadi teladan bagi anak-anaknya. Mereka bukan saja secara genetika menurunkan sifat dan karakter, namun mereka pula yang secara eksternal menjadi gambaran imitatif pada anak untuk diperlihatkan kepada orang sekitar. Mereka sangat tidak dianjurkan untuk membandingkan anaknya dengan anak orang. Bila ada orang tua yang menaruh sangka secara buruk pada anak, betapa orang tua kurang peka pada perkembangan anak. Para orang tua tidak diperkenankan memaksa anak untuk segera menjadi dewasa. Pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak seturut pertambahan umur sehingga tuntutan menjadi segera dewasa adalah sikap dan tindakan keliru bila orang tua melakukannya.

Itu sebahagian hal yang berhubungan dengan anak menghormati orang tua agar tahun hidup menjadi banyak (panjang umurnya).

Bila hal mendengarkan dan menerima perkataan pada orang tua sudah dilakukan secara baik, bukankah hal ini akan lebih mudha diterapkan pada mendengarkan dan menerima perkataan Tuhan? Mendekatlah pada Tuhan, dengarlah dan terimalah kata-kata (Firman) Tuhan. Bagaimana cara mendekat agar dapat menerima Perkataan Tuhan? Jawabannya, berdoa dan membaca kitab suci.

Raja Daud, melagukan pujian pada Mazmur 23. Satu pujian yang amat kuat dalam ingatan pembaca kitab suci, alkitab. Enam ayat pada mazmur ini menjadi hafalan terbaik dari sekian banyaknya mazmur. Entah sudah berapa banyak lagu yang digubah dari kata-kata yang diucapkan Daud ini. Entah dalam berapa banyak bahasa mazmur ini dimadahkan sebagai pujian kepada Tuhan sekaligus rasa syukur kepada-Nya.

Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku sepanjang umurku. Bukankah selama orang hidup dalam rentang waktu yang panjang ada begitu banyak hal yang diterima dan dinikmati? Siapakah yang dapat menambah hikmat  Secara leksikal, kebajikan artinya perbuatan baik, jasa, sesuatu yang mendatangkan keuntungan. Nah, siapakah orang tua yang menginginkan tercoreng wajahnya sehingga ia menjadi malu? Semua orang menginginkan hal baik dalam segala hal. Umumnya orang membuat ringkasan hal baik itu dalam tutur kata, sikap dan karakter, serta tindakan dan perbuatan yang nyata-nyata baik. Jika semua itu dirasakan manfaatnya, maka jasa telah dibenam dan tertanam pada orang-orang sekitar. Maka, pada fase berikutnya orang akan mengingat itu sebagai ingatan komunal, lantas doa-doa dilafalkan untuk kebaikan orang. Doa-doa itu ada dalam rentang waktu dimana salah satu titik waktu itu adalah hari kelahiranmu?

Kue Bertakhtakan Nyapa Api Lilin.

Adakah kaum Kristen diajar untuk membuat kue dengan hiasan dalam rangka merayakan hari kelahiran? Saya pastikan tidak! Saya mau memastikan sekali lagi bahwa membuat satu bentuk kue dengan hiasan lilin yang dinyalakan dan ditiup pada saat perayaan hari kelahiran bukanlah ajaran Kristen. Lalu, darimana asal-muasal budaya tiup lilin yang marak dipakai kalangan Kristen bahkan telah merambah hingga pedesaan?

Budaya yang mudah diserap dan diaplikasikan biasanya tidak dapat ditangkal. Penggunaan handphone yang pada mulanya dengan fitur-fitur sederhana, kini makin banyak aplikasi ikutan bahkan telah diciptakan smartphone yang makin canggih dengan berbagai merk yang membanggakan pemakainya. Siapakah yang dapat memangkas penyebarannya? Hal ini karena ada manfaat yang besar padanya, sekaligus tersirat ketidaknyamanan karena ketergantungan padanya.

Mirip dengan tiup lilin. Budaya ini berasal dari Yunani, dimana bangsa Yunani dengan sekian banyak sembahan pada dewa-dewi, satu di antaranya dewi Artemis. Dewi Artemis atau dewi bulan yang dipercaya sebagai pemberi kesuburan dan perburuan, padanya orang menyampaikan dan membawa persembahan. Mereka membawa kue ke dalam kuil Dewi Artemis, lalu lilin-lilin dibakar agar ada cahaya yang menunjukkan keberadaan mereka di depan Dewi Artemis. Lilin-lilin yang menyala itu ditiup agar nyalanya padam. Ketika padam, asap membumbung ke hadapan Dewi Artemis. Asap itu membawa aroma harum pada Dewi Artemis. Saat itulah sang Dewi mengetahui bahwa ada yang memberikan persembahan kepadanya, sehingga ia harus memberikan kesuburan dan umur panjang agar dapa melanjutkan kehidupan pada tahun berikutnya.

Jika hal ini terus dilakukan tanpa kesadaran, bukankah kita sedang melestarikan suatu budaya penyembahan yang tidak benar? Kita sedang melestarikan penyembahan kepada Dewi Artemis tanpa kesadaran. Kita ikut-ikutan (latah) pada budaya yang dibawa atau dipertontonkan melalui berbagai media oleh bangsa (orang) asing kepada kita. Bukankah kita telah jatuh ke dalam dosa?

Sebagai penganut ajaran Yesus Kristus, kita ingat bagaimana kelahiran Yesus dirayakan. Ada pohon natal yang juga dianggap sebagai adopsi budaya penyembahan kuno yang “dibaptis” agar hari kelahiran Yesus dapat dirayakan. Jika demikian, bukankah sebaiknya mengadopsi budaya tiup lilin mesti disadari sebagai suatu tanda syukur kepada Tuhan dengan wewangian dari diri setiap orang dan terlebih pada orang yang sedang bersyukur?

Bukankah meniup nyala api itu sama dengan mematikan kehidupan?  Tidak sadarkan kita bahwa nyala api itu sebagai lambang pembakar semangat. Bila kita menyadari bahwa Roh Kudus hidup di dalam diri kita dengan “api-Nya”, mengapa kita tiup matikan?

Saya rindu mengatakan, sebaiknya kita menyatakan rasa syukur dengan membakar api kehidupan yang baru. Kita tida perlu meniup nyala api pada lilin yang semestinya api itu terus hidup agar menerangi dunia sekitar.

Jika orang sadar bahwa salah satu lambang dalam ke-Kristenan adalah lilin yang terus menyala, mengapa dipadamkan pada saat Anda merayakan hari kelahiran? Bukankah api itu mesti terus dinyalakan agar dunia sekitar mengetahui bahwa ada satu kehidupan baru yang terus berlangsung?

Penutup

Saya berhenti sampai di sini. Saya rindu untuk memberi makna pada perayaan hari kelahiran yang menggunakan kue dan lilin sebagai berikut

  • Kue yang manis itu dibuat dari beragam bahan dalam satu adonan. Beragam bahan itu satu di antaranya adalah ragi (fermipan, bibit roti) yang menyebabkan kue mengembang. Ingatlah pada kata Yesus tentang ragi (Mat 13:33; Luk.13:20-21). Bukankah kue itu mesti menjadi alat yang memberi makna bahwa kehidupan dari orang yang merayakan hari kelahirannya harus meluaskan (membuat menjadi berkembang) Kerajaan Allah?
  • Lilin, kita tidak menemukan secara tersurat bahwa ada lilin yang dibakar untuk maksud merayakan hari kelahiran tokoh tertentu dalam alkitab. Alkitab mencatatkan kepada kita, Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak dapat menguasainya (Yoh 1:5). Bukankah Terang itu adalah Kristus Yesus yang kita Junjung dan Sembah? Mengapa dipadamkan di dalam “gereja” yang hidup

Mari menjadi pelaku Firman Tuhan, bukan menjadi pelestari budaya asing tanpa mengetahui seluk-beluk asal-usul dan makna yang terkandung di dalamnya.

 

Koro’oto, 12 Oktober 2020
Heronimus Bani