Mengeroyok Oktober

Mengeroyok Oktober

Bulan Oktober dalam Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) dikenal sebagai bulan keluarga. Dalam bulan ini, kebaktian-kebaktian utama mingguan ada refleksi-refleksi tentang apa dan bagaimana keluarga itu. Rasanya refleksi-releksi itu akan selalu berkemiripan setiap Oktober walau tema dan judul khotbah yang disodorkan berbeda. Setiap pelayan (presbiter) akan menggunakan cara berbicara yang kiranya tidak mirip dari Oktober tahun sebelumnya.
Satu hal yang selalu sama pada anggota gereja (GMIT) yaitu mewarnai bulan keluarga dengan mengurus legal standing perkawinan pasangan-pasangan suami-isteri. Nikah Massal, menjadi jurus yang paling tepat pada setiap Oktober. Maka, pada bulan Oktober itu selalu saja ada pernikahan yang kiranya dapat disebutkan sebagai musim menikah.
Pada musim menikah ini, ada dua pendekatan yang dipakai oleh keluarga-keluarga demi legal standing perkawinan itu.
  1. Pernikahan sendiri. Para keluarga dan pasangan nikah yang hendak meminta upacara pernikahan secara sendiri, tetap dilayani oleh gereja melalui para presbiter (pendeta, penatua, diaken). Mereka mengajukan permohonan pelayanan pernikahan, dan gereja akan melayani. Umumnya, pernikahan sendiri akan diikuti pesta pernikahan/perkawinan yang sebelumnya dua keluarga besar bertemu dalam satu ritual penyelesaian item hukum adat perkawinan.
  2. Pernikahan Massal. Pernikahan massal artinya ada sejumlah pasangan yang mendaftar atau memohon agar perkawinan mereka mendapatkan pengesahan oleh institusi keagamaan (dan pemerintah melalui pencatatan sipil). Biasanya perniakahan massal direncanakan (program) dalam Program Kerja Pelayanan Tahunan di Jemaat. Tujuan dari penyelenggaraan nikah massal untuk melegalkan perkawinan pasangan-pasangan suami-isteri yang sudah serumah dalam rentang waktu tertentu. Di samping itu, sering sekali pernikahan massal hendak memutus mata rantai keluhan secara ekonomi berhubung hukum adat perkawinan diasumsikan sebagai “penghalang dan pemberat” langkah para pasangan suami-isteri. Maka, bulan Oktober selalu jadi rebutan untuk pernikahan massal, sehingga terjadi tabrakan jadwal pada keluarga-keluarga yang turut serta dalam mengurus perkawinan seperti itu.
Khusus pernikahan massal, ada lelucon di dalamnya. Sepasang suami-isteri mendaftar untuk mengikuti program pernikahan massal. Pasangan suami-isteri ini satu-satunya pasangan yang akan mengikuti ritual liturgis pernikahan di gereja. Saya sebutkan ini sebagai lelucon karena terminologi pernikahan massal, mestinya lebih dari satu pasangan. Jika boleh dalam jumlah pasangan mencapai minimal 10 pasangan, di sanalah pernikahan massal terjadi.
Menikah dalam bulan Oktober, akan selalu identik dengan pernikahan massal, sekalipun pernikahan itu dilakukan secara perseorangan (pasangan sendiri). Mereka yang menikah sendiri akan menyelenggarakan acara peminangan dan resepsi sacara wah dan mewah. Undangan lisan dan tertulis disebar. Kehadiran dari mereka yang mendapatkan undangan sangat dinanti-nantikan.
Ritual peminangan dan resepsi di tengah pandemi covid-19, wajib memperhatikan protokol kesehatan dengan meminta para undangan hadir dengan bermasker. Sementara keluarga pehelat acara menyediakan air dan sabun untuk mencuci tangan. Padahal, posisi duduk tidak berjarak 1 – 1,5 meter. Izin keramaian dimohonkan, lantas atas dasar izin itulah, acara peminangan dan resepsi dilaksanakan.
Ritual liturgis pernikahan yang berlangsung di gedung kebaktian dihadiri oleh segelincir orang saja atas alasan menjaga jarak fisik dan sosial. haha…
Ya, begitulah memberi makna dalam wujud sikap dan tindakan pada bulan keluarga di tengah pandemi covid-19. Kita terus berdoa dan berharap, kiranya Tuhan menjauhkan virus korona dari lingkungan dimana kita berada. Biarlah ekosistem kehidupan kita terbebas dari virus itu dan banyak lagi virus dan bakteri penyebar penyakit. Kita sungguh-sungguh berharap agar tidak ada klaster baru yang muncul dari kerumunan di tengah pesta-pesta perkawinan/pernikahan.
Setiap Oktober akan selalu sama. Ia dikeroyok untuk mengurus sahnya suatu perkawinan. Sungguh Oktober yang berkebajikan.
Koro’oto, 16 Oktober 2020
Heronimus Bani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *