P a s u t r i

Pasutri, Pasangan Suami-Isteri

Kisah Para Rasul 5 : 1 – 11

Apa yang menarik dari akronim ini? Pasangan suami-istri. Laki-laki dan perempuan yang saling mencintai dan bersepakat untuk hidup bersama dimana suasana hati bukan hanya jatuh cinta saja, tapi bagaimana membangun cinta. Sisa waktu untuk menjalani hidup bersama itu dihabiskan berdua dengan janji saling setia. Tapi apakah semua pasutri hidup bahagia seideal kata kalimat sebelumnya?
Mengutip guyonan Pdt. Yandri Manone, S.Th., dalam khotbahnya berkata, “Ana muda dong, Jang buru-buru menikah e. Bosong kira menikah tu enak? Yang namanya bulan madu tu hanya satu bulan sa, bulan berikut yang tinggal hanya dia pung lebah sa, yang saban hari badedek trus..” (dialek Melayu Kupang). Beliau mau bilang bahwa hidup rumah tnagga sebagai suami istri, jangan hanya berpikir bahwa semua enak-enak saja, harus siap yang tidak enaknya dan harus terus periksa diri supaya rumah tangga bisa jadi baik. Dan itu tidak mudah.
Alkitab mengisahkan tentang kehidupan banyak pasangan suami-istri dengan sisi positif dan negatifnya masing-masinag. Contohnya, Adam dan Hawa, Isak dan Ribka, Priskila dan Akwila, Ananias dan Safira, dan masih banyak lagi. Cerita hidup mereka menarik untuk dikisahkan dan terlebih untuk diambil pelajaran hidup sebagai pasutri.
Ananias dan Safira sebagai contoh sepasang suami-istri yang kehilangan nyawanya secara tragis hanya karena hal yang seharusnya tidak terjadi. Pada masa itu, dalam kehidupan jemaat mula-mula, ada pola hidup berjemaat yang unik. Mereka yang hidup dengan berkat yang berlebih, bisa membagi-bagikan kepada anggota jemaat yang lain yang membutuhkan. Demikian juga Ananias dan Safira, mereka punya kerinduan untuk juga berbagi kepada orang lain dengan cara menjual sebidang tanah mereka dan hasil penjualannya diserahkan kepada para rasul untuk didoakan dan dibagikan kepada jemaat yang membutuhkan. Sampai di sini semuanya berjalan dengan normal dan sangat baik.
Masalah terjadi ketika mereka menyerahkan hasil penjualan kepada Petrus dan ternyata bahwa yang mereka beri hanya sebagian dari hasil penjualan. Hal ini dikonfirmasi kembali oleh Petrus, apakah memang tanah itu dijual hanya seharga ini? Ananias selaku suami menjawab, ya. Ananias bersikeras untuk mengatakan bahwa apa yang dia bawa adalah seluruh hasil dari penjualan tanah itu. Ananias bukan saja berdusta pada diri sendiri, tapi pada Petrus, pada jemaat Tuhan dan pada Roh Kudus. Seketika itu Ananias jatuh dan kehilangan nyawanya. Hal serupa dilakukan dan terjadi pula pada Safira.
Saudara, saya secara khusus mencoba melihat kehidupan kedua suami-istri ini. Apakah salah ketika mereka membagi dua hasil penjualan tanah itu, sebagian untuk mereka dan anak mereka, lalu sebagian untuk diberikan bagi kebutuhan pelayanan? Sebagai suami-istri, ada banyak hal yang menjadi kebutuhan hidup kita dan keluarga yang membutuhkan biaya tidak sedikit. Kebutuhan makan-minum, pakaian, tempat berteduh, kebutuhan sekolah sampai pada pemenuhan hukum adat-istiadat dan budaya dalam hidup berkeluarga dan bersesama. Semua tidak dapat diabaikan dan membutuhkan biaya juga. Sebagai suami istri mungkin saja Ananias dan Safira punya pergumulan kurang lebih seperti ini yang tak dapat mereka utarakan di depan Petrus. Tapi apa yang salah? Kisah Para Rasul 5:4 berkata : “Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.” Inilah letak kekeliruan mereka.
Mungkin mereka dilema. Antara mau jujur nanti dikatakan tidak tulus memberi, akhirnya mereka memilih untuk tidak jujur. Mungkin mereka terhimpit juga dengan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi dan mengambil jalan demikian, mungkin mereka membutuhkan berkat itu juga bagi kebutuhan anak mereka. Namun cara mereka tempuh itulah yang salah.
Saudara, banyak kali kita sebagai suami-istri berhitung untung-ruginya pula dengan Tuhan. Sekian banyak berkat Tuhan kita terima dan pakai, tetapi kita merasa berat mengeluarkan perpuluhan. Atau kita selalu merasa berkekurangan ketika harus memberi bagi pekerjaan Tuhan. Atau kita banyak mempertimbangkan hidup kita sampai kemudian kita tidak tulus dan jujur dengan Tuhan dalam hal memberi.
Suami-istri bisa bersepakat untuk menjaga kemuliaan Tuhan, tapi hati-hati, suami-istri juga bisa bersepakat untuk mempermalukan Tuhan lewat pola pikir dan hidup yang Tuhan tidak kehendaki. Tuhan tidak memaksa kita sebagai suami-istri untuk harus memberi kepada Tuhan, sehingga kita harus galau saat memberi kepada Tuhan. Apa yang ada pada kita tetap milik kita, anugerah Tuhan. Namun jikalau kita sadar bahwa hidup, berkat kekayaan, kehormatan dan umur panjang adalah anugerah Allah semata-mata maka pemberian untuk pekerjaan pelayanan harusnya menjadi pemberian penuh jujur dan sukacita dari sepasang pasutri yang bersepakat berdoa untuk menggunakan berkat Tuhan dengan baik.
Kalau demikian adanya, sepasang pasutri dalam Tuhan harus selalu bersepakat untuk memohon hikmat Tuhan dalam hal apapun, termasuk dalam hal memberi kepada Tuhan. Kadang menurut kita itu hal yang sederhana. Mau hal memberi atau tidak, tokh orang tidak lihat. Beda kalau kita “kumpul keluarga”. Nama harus dicatat di buku dan semua keluarga bisa membaca, malu kalau tidak beri, atau malu kalau beri tapi sedikit. Tapi pemberian kita kepada Tuhan, kita pikir beri saja setengah, atau tidak usahlah beri, tokh Tuhan tahu kita sedang susah.
Akh, saudaraku, Tuhan tidak mencari apa yang tidak ada padamu, Tuhanpun tidak menuntut lebih dari apa yang kau mampu. Tuhan membutuhkan hatimu, ketulusanmu mencintai-Nya, itu saja.
Apakah Tuhan tidak mencintai janda miskin yang memberi hanya sedikit? Apakah Tuhan tidak mencintai Zakheus yang memberi dengan berlimpah bahkan berkali kali lipat? Tuhan mengasihi yang memberi banyak ataupun sedikit, karena Tuhan tidak lihatĀ  nilainya, tapi Tuhan butuh cintamu.
Pasangan pasutri yang berbahagia, marilah bersepakat, bergandengan tangan dan berdoa sambil berucap, Tuhan Yesus, kami mau mencintai-Mu dengan segenap hati kami. Ajar kami mengenal-Mu tiap-tiap hari dan mengajarkan tentang-Mu kepada anak-anak kami. Amin
Penulis: Pdt. Yulita Zina-Lero, S.Th
Editor: Heronimus Bani

One comment

  • Elsye Pandie

    Trmksh Ipend…renungan yg memberkati…teruslah jadi berkat Ipend syg.TYM