Peminangan Unik tanpa Calon Pengantin Pria

Peminangan Unik tanpa Calon Pengantin Pria

Pengantar

Pernahkah Saudara membayangkan untuk menikah dengan seorang perempuan yang tidak dikenal sebelumnya? Oh… siapa yang sudi? Pernahkah Saudara membayangkan satu rombongan orang pergi membawa barang-barang berharga untuk peminangan tanpa mengetahui siapa yang akan dipinang? Pernahkan Saudara membayangkan jika ada satu rombongan keluarga pergi meminang gadis tanpa calon pengantin laki-laki? Mungkin tidak pernah. Apakah saudara percaya bahwa peminangan dapat dilakukan tanpa menghadirkan calon pengantin laki-laki? Mungkin saja percaya dalam keraguan atau malah mau tampar muka saya sebagai pilihan, atau lebih baik tidak percaya. Tapi, kalau cerita itu ditulis dalam kitab suci, pasti diyakini kebenarannya, dan percaya. Jadi kalau ditanyakan, seperti itu, berdasarkan kitab suci, pasti jawabannya, percaya saja. Dan bagi saya, hal seperti itu sama dengan latah ~ ikut-ikutan saja.

Bayangkan kalau zaman ini orang melakukannya dengan modifikasi seperti yang dibuat dalam cerita alkitab. Apakah Saudara akan menerima fakta ini? Apakah keluarga pihak gadis akan dengan sukacita menerima rombongan peminangan?

Ribka dipinang bagi Ishak

Bacalah Kitab Kejadian 24.

Saya harap Saudara sudah membacanya sehingga saya tidak perlu mengulangi bagian awal kisah bagaimana Abraham membuat persiapan untuk maksud “pencarian” dan peminangan seseorang gadis sehingga akan dapat diterima oleh anaknya, Ishak. Iman, keyakinan yang teguh dan kokoh menjadi acuan bahwa Tuhan yang disembah Abraham akan memberkati perjalanan hamba Abraham hingga ada sukses di sana.

Mari membayangkan perjalanan yang ditempuh oleh rombongan perutusan Abraham yang dipimpin hamba terpercaya. Saya mau menyebut satu istilah padanya sebagai Jubir ~ Juru Bicara mewakili Abraham (yang sudah menduda setelah isterinya Sara meninggal). Saudara tentu dapat membayangkan jarak tempuh antara Kana’an dan Haran. Ada yang menyebut 500 mil (800-an km, hingga 1000-an km). Perjalanan darat yang memakan waktu dan melelahkan. Mereka membawa 10 ekor unta masing-masing dengan beban baik sebagai perbekalan maupun material persiapan peminangan. Bila membaca saja tanpa menaruh rasa pada kisah yang tercatat dalam Kejadian 24, rasanya, akh… biasa sa.

Saudara, saya hendak soroti khusus pada bagian dimana rombongan akhirnya diterima oleh pihak keluarga dimana ada seorang gadis yang telah “terpilih” ketika bertemu di sumur, di luar kota.

Setelah unta-unta itu puas minum, maka orang itu mengambil anting-anting emas yang setengah syikal beratanya, dan sepasang gelang tangan yang sepuluh syikal beratnya, serta berkata: “Anak siapakah engkau? Baiklah katakan kepadaku! ADakah di rumah ayahmu tempat bermalam bagi kami?” (ayt 22-23)

Sekali lagi mari membayangkan berat anting-anting dan gelang. Kita dapat menghitungnya dengan acuan pada catatan Kamus Alkitab, Ukuran timbangan sebesar 11,4 gram. Jika kita menghitung anting-anting itu dalam satuan gram, maka kita dapatkan 5,7 gram; dan gelang tangan itu beratnya, 114 gram. Saya kira daun telinga nona Ribka akan ditarik turun berhubung berat anting-anting yang dipakainya, dan tangannya akan makin berat ketika harus mengayun saat berlari karena beratnya dua bentuk gelang itu. Bagaimana jika dirupiahkan saat mengikuti pendekatan saat ini?

Saya mencoba bertanya pada mesin pencari Google, berapa harga emas pada bulan Oktober 2020 ini. Saya kutip rilis dari https://personalfinance.kontan.co.id/news/harga-emas-hari-ini-di-pegadaian-senin-26-oktober-2020; sebagai berikut:

  • Harga emas 2 gram: Rp 2.036.000
  • Harga emas 3 gram: Rp 3.021.000
  • Harga emas 5 gram: Rp 5.013.000
  • Harga emas 10 gram: Rp 9.978.000
  • Harga emas 25 gram: Rp 24.784.000
  • Harga emas 50 gram: Rp 49.657.000
  • Harga emas 100 gram: Rp 99.257.000

Saya Tidak mengutip seluruhnya untuk sampai angka 1.000 gram (1 kg). Cukuplah sampai pada angka 100 gram berhubung kita akan mencoba mengkonversi setengah syikal anting-anting emas 5,7 gram dan 10 syikal gelang emas 114 gram. Saudara sudah dapat membuat perkaliannya.

Dua benda itu harganya sudah ratusan juta rupiah. Betapa mahalnya pemberian cuma-cuma itu. Secara sederhana kita mungkin berkata dalam Bahasa Melayu Kupang, “Ko hanya timba aer ko tolong kasi minum unta dong sa… !” 

Benar. Tapi ingatkah Saudara kebutuhan minum seekor unta? Dalam sekali minum seekor unta dapat menelan 150 liter air, yang sama dengan 3/4 bagian dari isi satu drum yang 200 liter. Bagaimana dengan 10 ekor unta? Bukankah mereka meminum 1500 liter air. Apakah Ribka hanya timba air dan tolong kasi minum itu unta dong?

Tapi pemberian itu rasanya melebihi tenaga yang diberikan oleh Ribka? Wajar kita menilai seperti itu, tetapi kiranya kita mesti memastikan bahwa sang Jubir telah memperhitungkan hal itu.

Mari melihat reaksi dari saudara Riba, Laban. Ia mendapatkan kabar dari Ribka. Ia berlari mendapati rombongan itu. Ia menjemput mereka dengan hati yang terbuka, dan sesuati tradisi mereka, yaitu menyediakan air pembasuh kaki (ay.32). Bukankah membasuh kaki sebagai suatu kebiasaan sudah ada sejak zaman purba? Membasuh kaki tentu saja mesti didahului dengan mencuci tangan, bukan?

Mari kita lompati beberapa ayat untuk masuk dalam cerita peminangan.

Lalu Laban dan Betuel menjawab, “Semuanya ini datangnya dari TUHAN; kami tidak dapat mengatakan kepadamu baiknya atau buruknya. Lihat, Riba ada di depanmu, bawalah dia dan pergilah, supaya ia menjadi isteri anak tuanmu, seperti yang difirmankan TUHAN. (ay 50-51)

Nah, sang Jubir telah bercerita tentang Abraham, dan juga tentang Ishak. Ia pun telah bercerita tentang pertemuannya dengan Ribka. Semuanya itu disadari dan diimani sebagai bukti kasih TUHAN pada Abraham.

Kita pastikan saja, apakah sudah ada wajah Ishak yang ditunjukkan kepada Laban, Betuel dan terlebih Ribka? Apakah keutuhan fisik telah dapat dibayangkan oleh mereka bahwa Ishak sehat, tidak cacat, tampilan dan gaya bicara dan lain-lain?

Rasanya bila hal itu terjadi zaman ini, siapa yang akan segera percaya, sekalipun orang membawa material peminangan (dulang) dalam jumlah besar dan mahal. Orang Kupang akan bilang, “Bosong kira kasi di botong nanti botong tamba kaya? Ko bosong sonde kasi ju botong sonde miskin malarat!” Ini gaya yang khas pada masyarakat adat kota Kupang dan sekitarnya di kota-kota Kabupaten bahkan hingga pedesaan.

Kepentingan para orang tua dan pemangku lainnya adalah melihat sosok dari orang yang akan menikah dengan anak gadis mereka. Nah, ini suatu persoalan besar. Jarak tempuh 800-an hingga 1000-am kilometer, bagaimana mungkin menghadirkan Ishak?

Mari melihat pemberian-pemberian (isi dulang) yang diserahkan oleh Jubir kepada pihak keluarga Ribka dan juga kepada Ribka sendiri.

Kemudian hamba itu mengeluarkan perhiasan emas dan perak serta pakaian kebesaran, dan memberikan semua itu kepada Ribka; juga kepada saudaranya dan kepada ibunya diberikannya pemberian yang indah-indah (ay 53)

Saya lantas bertanya, posisi ayah dimana? Posisi pemerintah desa/kelurahan dimana? Bayangkan bila hal ini terjadi pada peminangan di Timor dan sekitarnya. Ayah (dhi.Betuel, tersirat di dalam pemberian kepada ibu, kira-kira demikian). Tapi, tidak ada untuk kalangan yang lain lagi. Itulah budaya mereka. Budaya kita ada sebutan dalam bahasa daerah masing-masing seperti masaksi’i, tersaksikan atau disaksikan oleh…  Salah satu yang turut menyaksikan yaitu pemerintah desa/kelurahan.

Sayang sekali ayat 53 tidak memberikan pada kita rincian beratnya perhiasan emas dan perak. Demikian juga dengan nilai pakaian kebesaran (kehormatan dan kemuliaan) yang diberikan kepada tiga orang (Ribka, Laban dan ibu Ribka).

Sampai di sini kita entah dapat memahami atau malah menertawakan acara peminangan yang unik ini. Calon suami dari orang yang dipinang tidak ada. Mereka bukan sedang berada di dunia maya dan digital sehingga akan dengan mudah saling berkomunikasi melalui vidio call atau yang lainnya. Ini suatu kemustahilan.

 

Sedikit tentang Maso Minta di Kota Kupang dan sekitarnya

Maso minta. Satu frase ini sangat familiar pada masyarakat adat perkotaan, khususnya di kota Kupang, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur. Semua etnis berdatangan ke sana untuk kepentingan yang beragam, seperti pendidikan, pekerjaan, usaha, dan lain-lain. Lantas mereka memilih untuk menetap sehingga meninggalkan kampung halaman baik dari pulau-pulau di dalam Nusa Tenggara Timur maupun di luar Nusa Tenggara Timur. NTT menjadi mini Indonesia, bukan?

Bagaiamana bila sepasang kekasih beda etnis saling jatuh cinta dan bersepakat untuk membangun dan mengembangkan cinta itu dalam satu institusi yang disebut rumah tangga? Maso minta, menjadi solusinya.

Apa yang disiapkan untuk maso minta?

Pertama, Jubir ~ juru bicara dari dua pihak keluarga (nona – nyong). Jubir menjadi jembatan percakapan antara dua keluarga. “Isi hati” dua keluarga disampaikan kepada dua orang jubir, lalu merekalah yang menuangkan isi hati itu untuk sekiranya boleh saling berterima secara lebih cepat dan pengurusan itu segera dapat dilakukan. Item utama dari perbicarangan yang diwakilan kepada Jubir dan disaksikan orang tua dan perwakilan keluarga terdiri dari:

  • waktu peminagan, pernikahan menurut agama, dan sekaligus pencatatan sipil.
  • Isi dulang yang sudah lazim dan yang menjadi budaya etnis yang dimasuki (etnis dari keluarga nona). Pada point ini tidak banyak hal hendak dipertentangkan. Jika mungkin masih terganjal, Jubir akan terus mengusahakan agar nilai yang ditentukan kiranya mesti dapat dipikul oleh pihak keluarga nyong.
  • Resepsi. Dalam hal yang satu ini para Jubir mempercakapkan lokasi. Umumnya ada dua yang dipilih yaitu di rumah atau di tempat sewaan (Hotel dan Restoran)

Kedua, Banyaknya dulang yang kiranya akan dibawa masuk kepada pihak keluarga nona. Umumnya terdiri dari 5 dulang.

  • Lilin dan Kitab suci
  • Pemberian kepada nona (dua unit dulang)
  • Pemberian kepada orang tua (satu unit, di dalamnya termasuk pemberian kepada pemerinah dan institusi keagamaan)
  • Pemberian kepada khalayak (sirih-pinang, kapur, tembakau/rokok)

Selanjutnya ada satu dulang yang tidak diperhitungkan sebagai bagian dari lima unit pertama tadi. Dulang yang dimaksudkan ini menjadi simbol dari rangkaian acara yang akan digelar nanti. Ada yang meminta makhota yang akan dikenakan di kepala nona. Ada yang meminta untuk membawa pakaian pengantin lengkap di satu dulang itu.

Bila bukan pakaian pengantin, maka isi dulang keenam itu memberi tanda tentang resepsi pernikahan.

Saya tidak mengupas lebih banyak lagi tentang hal-hal ini. Para pembaca mengetahui seluk-beluk maso minta yang telah membudaya pada masyarakat kota Kupang. Jumlah dulang pun seringkali bertambah menjadi tujuh hingga sembilan unit.

Penutup

Refleksi dan perenungan dalam Bulan Keluarga GMIT dimana salah satu di antaranya berisi kebaktian/Ibadah khusus untuk pasangan suami isteri (pasutri GMIT) sudah akan segera berakhir pada 31 Oktober nanti. Pada Bulan Keluarga di tengah pandemi covid-19, banyak pasangan kekasih meresmikan perkawinan mereka dengan membawanya ke Rumah Tuhan untuk dikukuhkan. Bersiliweran cerita tentang prosesi peresmian perkawinan menurut hukum adat, baik itu yang berlangsung di perkotaan hingga pedesaan.

Semua itu menjadi bumbu penyedap akan yang terulang lagi dan lagi sepanjang ziarah umat manusia. Pesan sedaging sebagai suami isteri akan terus diulang lagi oleh para pemangku kepentingan dalam hal mengurus perkawinan/pernikahan.

Satu hal yang pasti, masyarakat adat manapun, ketika meminang mestinya memperkenalkan calon pengantin laki-laki (nyong) secara utuh berwujud fisik yang dapat dilihat dan diraba. Calon pengantin yang tampan atau dinilai tidak layak berdampingan dengan si cantik. Tampilannya yang ekselent atau lebai… Semua itu sering sekali ada dalam bisik-bisik di pelataran acara maso minta. 

Kiranya tulisan ini berkenan pada yang membacanya. Tuhan memberkati.

 

Koro’oto, 27 Oktober 2020

2 comments

  • tulisan yang sangat baik pak roni. Sangat baik sebuah kebudayaan ditinjau dari sudut pandang Alkitab supaya kebudayaan itu menjadi bernilai

    Peranan jubir dalam pernikahan sudah terjadi selama ribuan tahun
    Ini pun terjadi secara kehidupan rohani sekarang 2 Korintus 11:2