Lahir sebagai satu Organ Hidup dan Perayaan Sebagai satu Orkestra

Lahir Sebagai satu Organ Hidup dan Perayaan Sebagai satu Orkestra

 

Lahir Sebagai satu Organ yang Hidup

Tengah malam tadi (31/10/20) kami keluarga besar Umi Nii Baki dikejutkan dengan satu situasi darurat. Padahal situasi ini selalu saja kami pertanyakan sejak adanya isi di dalam kandungan seorang anggota keluarga kami. Pada beberapa jam sebelumnya (30/10/20), kami masih mempertanyakan akankah situasi itu akan segera terjadi? Jawabannya, belum ada tanda-tanda hal itu akan terjadi. Mungkin bulan ini, mungkin bulan Desember. Kami tidak dapat memprediksinya, bahkan yang sedang ada dalam kondisi itu pun tidak mampu berkata untuk sekedar memberi jawab atas pertanyaan kami. Akhirnya bayi laki-laki yang bergerak-gerak di dalam kandungan, lahir. Ibunya harus dilarikan ke Puskesmas walau tengah malam berhubung plasentanya belum juga hendak keluar mengikuti sang bayi. Penghubung plasenta itu sendiri telah putus. Suatu situasi darurat kami hadapi. Puji Tuhan. Situasi itu akhinya dapat kami lalui, ibu dan bayi selamat. Sang bayi laki-laki itu telah lahir sebagai satu organ (tubuh manusia) lengkap.

Tiga puluh satu Oktober seribu sembilan ratus empat puluh tujuh, Gereja Masehi Injili di Timor lahir sebagai satu organ (organisasi, institusi). Ia ada dalam kandungan Timor dan pulau-pulaunya selama puluhan tahun. Organ-organ kecil pembentuknya telah bekerja seperti sekolah, jemaat-jemaat baik di kota maupun di desa. Organ induk sebagai payungnya masih ada di tangan Gereja Hindia Belanda. Ia belum berdiri sendiri sebagai organisasi gereja. Padahal, ia pernah sudah dalam kesiapan untuk kelahiran itu, namun ditunda gegara kondisi dan situasi darurat (perang) yang dialami bangsa dan negara.

Berikut ini kutipan sejarah singkat GMIT sebagaimana termuat dalam https://profilgereja.wordpress.com/2010/05/06/gereja-masehi-injili-di-timor/

Cikal-bakal GMIT bermula dari kedatangan Ds.Mattheus van den Broek pada tahun 1614 sebagai pelayan rohani pegawai-pegawai VOC di Kupang. Tetapi tidak lama kemudian pendeta ini pulang ke Belanda. Lalu, setelah kurang lebih 50 tahun, pada tahun 1670 datang Ds.Key Sero Kind, dan kemudian digantikan oleh Ds.A.Corpius tahun 1687 yang bekerja hanya setahun karena meninggal dunia. Demikianlah jemaat di Kupang tidak mendapat pelayanan yang sungguh-sungguh. Untuk melayani jemaat diangkat oleh seorang Kupang bernama Paulus. Kemajuan berarti terjadi pada abad ke-18, seiring dengan didirikannya benteng VOC di Kupang pada tahun 1701. VOC juga mendatangkan pendeta-pendeta ke P.Timor. Sejak itu berdirilah gereja dan sekolah-sekolah di Kupang. Pekabaran Injil pun mulai digiatkan ke beberapa pulau sekitar, seperti: Rote dan Sabu. Setelah VOC bubar, pekabaran Injil diambil-alih oleh lembaga Zending NZG (Nederlansche Zendeling Genootschap). Maka sejak 1817-1942 gereja di Timor menjadi bagian dari Indische Kerk. Pada masa inilah terjadi kemajuan pekabaran Injil yang pesat sampai ke pedalaman Timor dan sekitarnya. Alkitab dan nyanyian-nyanyian juga diterjemahkan para misionaris ke bahasa-bahasa setempat. Kemudian, ketika para Zendeling ditawan oleh Jepang, kepemimpinan diambil-alih putra-putra Kupang dengan membentuk Badan Gereja Timor Selatan. Sebenarnya, gagasan pembentukan GMIT telah dimulai tahun 1933 untuk maksud memandirikan. Namun gagasan ini baru terealisasi pada 31 Oktober 1947, yang waktu itu terdiri dari 6 klasis dan dipimpin oleh Ds.Durkstra.

 

Bagai jalan dengan ukuran panjang tertentu yang harus dilalui, kiranya berharap akan tiba di garis akhir. Ukuran jalan yang dihitung per tahun, telah 73 tahun. Apakah sudah 73 km? Bila menghitung jalan sepanjang dan sejauh itu, tentulah sudah banyak lembah dituruni, bukit dan gunung didaki, dan tanah datar dirasakan. Tidakkah akan ada ceritanya?

Mari menengok Para Ketua dan Sekretaris Majelis Sinode GMIT sejak 1947 sampai sekarang, sebagai berikut:

1947 -1951 (Ketua Ds. E. Durkstra, Sekretaris Ds. E.F. Tokoh)

 

1951 -1952 (Ketua Ds. Johanis. L. Ch. Abineno, Sekretaris Ds. A. J. Toele)

 

1952 -1953 (Ketua Ds. Johanis. L. Ch. Abineno, Sekretaris Ds. Bernadus Meroekh)

 

1954 -1956 (Ketua Ds. Markus Bolla, Sekretaris Ds. Leonidas. Radja Haba)

 

1956 -1958 (Ketua Ds. Johanis L.Ch. Abineno, Sekretaris Ds. Leonidas Radja Haba)

 

1958 -1960 ( Ketua Ds. Leonidas Radja Haba, Sekretaris Ds. Abia Dethan)

 

1960 -1970 (Ketua Ds. Leonids Radja Haba, Sekretaris Ds. Magelhans E. Arnoldus)

 

1970 -1973 (Ketua Ds. Jususf A. Adang, S.Th, Sekretaris Ds. Albinus L. Nitti, S.Th)

 

1973 -1976 (Ketua Ds. Jususf A. Adang, S.Th, Sekretaris Ds. Albinus L. Nitti, S.Th)

 

1976 -1979 (Ketua Pdt. Drs. Max Jacob, Sekretaris Pdt. John Ch. Kalemudji)

 

1979 -1983 (Ketua Pdt. Thobias A. Messakh, S.Th, Sekretaris Pdt. John Ch. Kalemudji, S.Th)

 

1983 -1987 (Ketua Pdt. Thobias A. Messakh, S.Th, Sekretaris Pdt. Drs. Jesaya Sabuna)

 

1987 -1991 (Ketua Pdt. Thobias A. Messakh, S.Th, Sekretaris Pdt. Drs. Jesaya Sabuna)

 

1991 -1995 (Ketua Pdt. Dr. Benyamin Fobia, Sekretaris Pdt. Semuel V. Nitti, S.Th)

 

1995 -1999 (Ketua Pdt. Dr. Benyamin Fobia, Sekretaris Pdt. Achim M. Lulan, S.Th)

 

1999 -2003 (Ketua Pdt. Thobias A. Messakh, S.Th, Sekretaris Pdt. Drs. Messackh D. Beeh, M.Si)

 

2003 -2007 (Ketua Pdt. Dr. Ayub Ranoh, Sekretaris Pdt. Mesak J. Karmany, S.Th)

 

2007 -2011 (Ketua Pdt. Dr. Ebenhaezer I. Nuban Timo, Sekretaris Pdt. Bendelina Doeka-Souk,S.Th,MM)

 

2011-2015 (Ketua Pdt. Robert St. Litelnoni, S.Th, Sekretaris Pdt. Benjamin Nara Lulu, M.Th)

 

2015-2019 (Ketua Pdt. Dr. Mery Kolimon, Sekretaris Pdt. Yusuf Nakmofa)

Artikel ini telah tayang di pos-kupang.com dengan judul Inilah Pemimpin GMIT Sejak Tahun 1947, https://kupang.tribunnews.com/2016/01/10/inilah-pemimpin-gmit-sejak-tahun-1947?page=all.
Penulis: PosKupang
Editor: Putra

GMIT tidak sekedar menjadi organisasi keagamaan yang menempatkan orang-orang terpilih di dalam struktur organisasinya. Justru GMIT telah menghasilkan aturan-aturan yang menjadi acuan dalam kerangka tugas pokok dan fungsi para pejabat gereja (GMIT) dan karyawan serta jemaat. Sejak 1947 sampai dengan saat ini, saya mencatat 8 aturan pokok (Tata Dasar) yang berlaku dalam GMIT

  1. Peratoeran Geredja Masehi Indjili di Timor tahun 1949
  2. Tata Gereja GMIT 1952
  3. Tata Gereja GMIT 1958
  4. Tata Gereja GMIT 1970
  5. Tata Gereja GMIT 1973
  6. Tata Gereja GMIT 1987
  7. Tata Gereja GMIT 1999 dan
  8.  Tata Gereja GMIT 2010

Urutan di atas saya ringkas dari catatan yang dibuat oleh http://gerejalaheroituaksabu.blogspot.com/2017/04/sejarah-tata-gereja-gmit.html.

Sepanjang perjalanan yang jauh itu telah terbentuk organisasi Klasis sebanyak 46 Klasis yang menyebar di seluruh wilayah Pelayanan GMIT, (Timor, Rote, Sabu, Flores, Sumbawa). Di dalam klasis-klasis ini terdapat jemaat-jemaat baik Jemaat Tunggal maupun Jemaat Wilayah hingga pos-pos pelayanan.

Hari ini, semua orang (Jemaat) GMIT baik sebagai organ induk (Sinodal) dan Klasis Jemaat, mata Jemaat, maupun Pos Pelayanan rindu merayakan hari kelahiran GMIT. Semua  perayaan ini akan bagai satu orkestra.

Perayaan Sebagai Orkestra

Saya masih ingat semasa kecil kami sebagai anak-anak akan diingatkan oleh para orang tua bila tanggal 31 Oktober tiba. Kami akan pergi keluar dari dalam kampung menuju suatu lokasi tertentu untuk beribadah/kebaktian. Kami mengetahui nama ibadah itu, ibadah/kebaktian padang. Seiring waktu berjalan, kami mendengar lagi para orang tua mengikuti kebaktian itu diberi nama tambahan sebagai isi dari kebaktian, doa minta hujan. Lalu ada yang menyebutkannya sebagai kebaktian menurut siklus pertanian.

Ada alasan dan acuan tertentu dari kebaktian dengan nama seperti itu.  Kebaktian padang dimaksudkan untuk memberi pemahaman kepada umat/jemaat, bahwa Tuhan terus bekerja tanpa henti-hentinya. Mari lihatlah alam ciptaan Tuhan, peliharalah. Kira-kira demikian pesan yang hendak diinternalisasikan pada umat.

Ketika diikuti isian berikut sebagai minta hujan atau menurut siklus pertanian, hal ini terjadi secara situasional. Mengapa? Ketika kebaktian padang dengan pesan moral dan etika yang berhubungan dengan ekologi tidak mendapatkan perhatian, saat itu alam bagai “menghukum” manusia. Panas. Bila sampai Oktober belum juga hujan, manusia peladang di Tanah Timor mulai cemas. Padahal saat itu mereka sudah dan sedang menyiapkan lahan untuk bercocok tanam. Maka tidak mengherankan sekali bila mereka berlutut di padang (hutan) lalu meminta hujan pada Pemilik dan Pencipta alam, Tuhan Allah sang Khalik itu sendiri.

Tiadalah berhenti sampai di sana. Isian lain yang terdengar sebelumnya tentang Reformasi yang dilakukan di dalam tubuh gereja oleh Martin Luther pada tahun 1517. Pokok Reformasi ini selanjutnya diikuti oleh tokoh-tokoh reformis lainnya yang menyebabkan gereja “terpecah” dan bagai berjalan sendiri-sendiri tanpa saling mempedulikan. Gereja Katolik dan Gereja Protestan (dengan aliran gereja di dalamnya).

Perayaan Hari Reformasi terus digemakan pada setiap 31 Oktober. Nama Martin Luther disebutkan lagi dan tokoh-tokoh reformis lainnya pun tak ketinggalan.

Lalu, dalam ziarah mengisi ruang dan waktu dengan rutinitas pelayanan bermakna di dalam gereja (GMIT), di sana ada bulan-bulan dalam tahun berjalan. Pada bulan-bulan itu terdapat tema-tema besar untuk perenungan. Satu di antaranya bulan keluarga. Pada bulan keluarga ini, orang memahami keluarga dari titik terkecil yaitu keluarga batih, ayah, ibu dan anak. Meluas dan meluas lagi dalam refleksi-refleksi yang selalu berwarna lain dalam kata dan frase yang disusun berbeda sehinga bermakna pada pandengarnya.

Akhir Oktober, pada kebaktian 31 Oktober di sana warga jemaat berdoa dalam rasa syukur sebagai keluarga. Keluarga dalam artian ayah, ibu dan anak; keluarga dalam pengertian lebih luas seperti Jemaat sebagai satu keluarga diman Kristus sebagai Kepala Keluarga.

Di titik ini, besoknya, memasuki November, di sana ada bulan lingkungan hidup.

Pada 31 Oktober setiap tahun, kebaktian-kebaktian itu layaknya suatu orkestra. Ada konduktur yang memimpin untuk refleksi tentang GMIT. Ia mungkin harus mengajak orang menyanyikan Hymne GMIT dan Mars GMIT. Konduktur menunjuk kelompok peladang; mungkin mereka harus memainkan nada keterasingan dalam ketergantungan pada alam. Konduktor menunjuk Reformasi, disana ada ada Sola Gratia, hanya oleh kasih karunia Tuhan di dalam Yesus Kristus. Ia menggunakan tongkat konduktornya menunjuk satu keluarga kecil lalu nada Berbahagia Tiap Rumah Tangga diperdengarkan.

Suatu keindahan pada 31 Oktober setiap tahun.

Penutup

Tulisan ini hanyalah suatu refleksi ketika GMIT Jemaat Pniel Tefneno Koro’oto hari ini beribadah di lokasi yang jauh dari pusat desa. Kami memilih salah satu tempat yang disebut Su’baun. Kebaktian telah dipimpin oleh Pdt Papy Zina, S.Th. Sola Gratia telah dikhotbahkan pada jemaat Tuhan di sana. Khotbah didasarkan pada Efesus 1:4-13. Pembaca Alkitab membaca dari teks berbahasa Amarasi.

Kebaktian diakhiri dengan suara gembala. Isi suara dari sang Gembala, mengingatkan domba agar menyiapkan lahan pengirikan.  Seekor dan atau sekumpulan domba akan merumput di lahan yang hijau ketika hujan tiba. Mereka akan tiba di mata air yang jernih bila ada upaya memelihara alam terutama area sekitar sumber-sumber air.

Satu sesi pendek, saya ceritakan awal dikenalnya kumpulan kampung di Koro’oto. Bahwa anggota Majelis Jemaat ditugaskan untuk memimpin ibadah di kampung-kampung yang saling berjauhan. Empat kampung yang kiranya berdekatan yaitu Safe, Su’baun, Foro dan Tau’reko. Di sana seorang anggota Majelis Jemaat bila bertugas, ia tidak pulang ke rumahnya. Ia akan bermalam satu atau dua malam untuk memimpin ibadah di kampung-kampung ini. Mungkin perlu lebih dari dua malam, bila permintaan ibadah oleh jemaat.

Ketika desa gaya baru terbentuk, masyarakat (dan jemaat) wajib membongkar rumah mereka. Mereka wajib membangun rumah di lokasi baru dengan penataan pemukiman bergaya modern. Pada masa itulah istilah kumpulan kampung mulai pudar. Organisasi gereja (jemaat) dibentuk dengan unit atau satuan kecil beberapa rumah tangga atau kepala keluarga. Sebutan rayon muncul, maka, ibadahnya menjadi ibadah rayon.

Orkestra ibadah rayon berlangsung di Koro’oto pada setiap Senin, Rabu dan Sabtu. Tiap rayon memainkan nadanya dengan mempersekutukan beberapa kepala keluarga. Mereka secara bergilir beribadah di sana.Pandemi virus korona sempat menjadi hambatan, namun tetap saja ada hikmat Tuhan pada kami untuk dapat melaksanakan ibadah rayon.

Orkestra itu akan terus menggemakan kasih Tuhan sepanjang ziarah hidup manusia. Terima kasih Tuhan Yesus, Junjungan dan Sahabat.

 

Koro’oto, 31 Oktober 2020

 

One comment