Sampah Dalam Kesenangan Kita

Sampah Dalam Kesenangan Kita

 

Pengantar

Hari ini, Minggu (1/11/20), ruang-ruang kebaktian dalam jemaat-jemaat GMIT berubah nuansanya. Nuansa lingkungan hidup yang ditampilkan. Liturgi dengan tema, lagu dan doa diarahkan kepada refleksi pada lingkungan. Lingkungan dimana makhluk manusia hidup bersama makhluk hidup lainnya. Bulan Lingkungan Hidup dimulai lagi. Apakah kita sudah sampai pada memberi makna pada apa yang sudah didengarkan berkali-kali setiap bulan lingkungan hidup?

Sampah dalam Kesenangan Kita

Pada Juni 2017 saya berada di satu kota kecil di pedalaman Australia Utara dalam satu urusan keluarga. Sambil menunggu hari pelaksanaan acara itu, saya mendapat kesempatan bersama keluarga yang membawa saya itu untuk berkunjung ke lokasi-lokasi wisata alam; hutan dan pantai. Salah satunya disebut Pante Makasar. Memasuki area itu setiap rombongan pengunjung harus mendaftar dan menyetor sejumlah uang secara online. Setelah mendapatkan izin secara online barulah rombongan atau individu berangkat ke sana. Suatu pengelolaan destinasi wisata yang modern. Tanpa guide, rombongan akhirnya tiba di lokasi.

Ketika tiba di lokasi, ada yang sedang berlibur dengan berkemah. Lalu, datang pula satu rombongan lagi dengan dua unit bus besar. Tidak ramai-ramai sekali, tetapi ada pada saya perasaan bahwa, pemerintah melindungi hutan itu dari perambah liar agar tetap terjaga keasliannya. Terbukti jalan menuju lokasi itu tidak diaspal, tetapi dibiarkan berlubang dan becek. Lalu, saya lihat para pengunjung justru menikmatinya. Artinya, mereka mau menikmati sesuatu yang berbeda.

Memasuki pantai itu, kami mendapati satu situs yang sengaja diciptakan oleh pemerintah Negara Bagian Australia Utara. Situs itu bercerita tentang pertemuan bangsa Aborigin dengan orang-orang dari Utara (maksudnya dari Nusantara, terutama para pelaut dari Bugis, Makasar dan Buton). Saya mendapat kesempatan untuk menyaksikan situs artifisial itu dengan mendengarkan cerita dari Prof. Dr. Charles E. Grimes, Ph.D.

Foto, oleh Chuck Grimes

Anggota rombongan kami menikmati pantai. Anak-anak bermain pasir dan air laut. Tiba-tiba seorang anggota rombongan menunjukkan pada saya sampah-sampah plastik berupa jerigen dan botol-botol buangan di laut. Mula-mula saya pikir sampah-sampah itu buangan masyarakat pelaut di Australia Utara. Tapi, ternyata tidak. Botol dan jerigen-jerigen itu bertuliskan dalam Bahasa Indonesia. Betapa malunya saya. Saya bertanya, “Mengapa¬† sampah dari Indonesia tiba di laut Australia Utara?”

Para pelaut kita dari Rote dan sekitarnya, dari Makasar dan sekitarnya baik yang berlayar resmi, apalagi yang berlayar secara sembunyi-sembunyi, merekalah pembawa sampah-sampah plastik itu. Kelihatannya sedikit, tapi sesungguhnya berserakan di pantai itu dipermainkan ombak yang memukul-mukul bebatuan karang di bibirnya.

Mari kita pergi ke pasar-pasar di kota Kupang dan Kabupaten Kupang. Apakah kita dan masyarakat yang melakoni hidup sebagai pedagang kecil dan menengah di pasar-pasar itu sudah menjaga lingkungan agar tidak tertimbun sampah?

Pasar Lili di Camplong, tengoklah aliran sungai disana. Aliran sungai itu sudah membeku. Buangan dari cirik ternak yang diperjualbelikan siapakah yang peduli? Apakah gereja (dhi, gereja sebagai orangnya) di sana peduli?

Pasar Oesao, siapakah yang peduli pada plastik yang berserakan di tempat parkir hingga beterbangan dan menjadi dedaunan pada pohon-pohon? Siapakah yang peduli pada berbagai jenis sampah plastik di got yang meluap pada saat hujan tiba?

Pasar kota So’e di lokasi ketinggian. Sampah berserakan di area yang dikhususkan untuk menimbun sampah. Tidak ada penggolongan jenis sampah. Semuanya dibaur dalam satu lokasi. Tumpahannya meluap ke got. Lalat hinggap dimana-mana berhubung aroma dari daging, ikan dan sayur membusuk. Plastik tak terhitung lagi. Kita sudah dapat membayangkan apa jadinya bila hujan tiba.

Lalu, dalam Bulan Lingkungan Hidup, November sebagaimana Hari ini, Minggu (2/11/20) kita bersama sebagai warga GMIT berdoa dalam pengakuan dosa sebagai berikut:

Ya Tuhan, kami mengaku bahwa kami telah menyalahgunakan kuasa yang Tuhan beri. Kami tidak saja menguasai tapi kami juga telah mengeksploitasi alam ciptaan Tuhan. Kami mengaku bahwa panggilah untuk merawat alam telah kami ingkari. Kami merusaknya untuk memenuhi nafsu badani demi kebutuhan kami, tanpa kami harus memulihkannya kembali. Di hadapanmu terbuka semua aib dan cela kami. Dengan segala kerendahan hati, kami mohon ampunilah kami. Amin

 

Apakah doa sebagaimana yang tertera dalam liturgi ini hanya teks belaka? Apakah pengucapannya oleh seorang anggota presbiter atau kita mengucapkannya secara bersama-sama hanya suatu ritual belaka? Tidakkah kita harus meresapi dan mesti ada aksi penyelematan lingkungan?

Khotbah yang merefleksikan sikap dan tindakan manusia pada alam akan terus diperdengarkan pada minggu-minggu Bulan Lingkungan Hidup. Gereja (dan Pemerintah) kiranya perlu bersinergi untuk menyadarkan umat (dan masyarakat) tentang ketergantungan pada alam, lingkungan dimana makhluk manusia menjadi bagian penting di dalamnya.

Cavik Deni Ariance Ora, S.Th bertanya dan sebagai pernyataan dalam khotbanya, “Manusia tanpa alam, apa jadinya. Sebaliknya, alam tanpa manusia, justru alam makin alamiah.” Benar pernyataan ini.

Kita ingat kisah penciptaan alam semesta. Tuhan menciptakan segala sesuatunya dalam satuan waktu 5 hari. Tuhan menyediakan segala hal. Lalu pada hari keenam, Ia menciptakan manusia. Kepada manusia, Tuhan memberi perintah-Nya, berkuasa dan memelihara alam. Menamai jenis-jenis binatang, dan mengambil hasil dari tetumbuhan untuk dimakan. Bukankah alam tanpa manusia, maka alam akan tetapi alamiah? Lalu, bila manusia tanpa alam, apa jadinya dia?

Liturgi yang disiapkan dalam kebaktian minggu pertama November ini sungguh membuat kita harus merenung. Kita tidak harus berhenti pada renungan, namun aksi penyelamatan lingkungan. Kita berseru,

Wahai manusia, tidakkah kamu tahu perbuatanmu telah merusak alam. Pohon-pohon ditebang, hutan-hutan dibakar. Akibatnya kekeringan terjadi. Banyak mata air dan sungai kau kotori dengan limbah. Wahai manusia, tidakkah kamu tahu perbuatanmu telah merusak alam? Wahai manusia, tidakkah kamu tahu tindakanmu telah merusak laut. Sampah-sampah yang kamu buang ke laut dapat mematikan makhluk laut. Menangkap ikan dengan bom merusak terumbu karang. Wahai manusia, tidakkah kamu tahu perilakumu telah merusak ciptaan Tuhan yang indah?

Wahai manusia, dimanakah hati nuranimu? Pernahkan terbersit dalam hatimu untuk mengembalikan hutan yang hijau, debit air yang banyak, air dan udara yang bersih bebas dari polusi, laut yang bebas dari plastik dan terumbu karang yang sehat? Pernahkah ada dalam pikiranmu tentang bayangan kengerian bencana yang menimpa negeri ini? Wahai manusia, tidakkah kamu lihat, bencana alam menimpa kita tanpa terelakkan? Wahai manusia, tidakkah kamu lihat, covid-19 masih menyerang kita?

Siapakah yang akan menjawab pertanyaan dan seruan itu? Tentu saja kita (dhi, gereja, GMIT).

Kami mendengar kabar bahwa Kaum Bapak Sinode GMIT, pada minggu pertama November ini akan menggemakan satu gerakan moral, Satu Bapak Satu Pohon (Sabasapo). Semoga semua bapak di semua lini pelayanan GMIT melakukannya.

Kita mejuju ke lingkungan yang bersih dan asri. Tentu banyak lingkungan alam yang bersih dan asri. Banyak yang belum tersentuh perambah hutan. Keaslian dipertahankan sedemikian rupa sehingga memberi nuansa keindahan tiada taranya. Walau sering sekali manusia merasa akan lebih indah bila ada sentuhan artifisial.

Saya ingat lagi Februari 2011. Kami 3 orang berangkat dari Timor menuju Hawaii dalam rangka satu konferensi internasional di Universitas Manoa Hawaii, USA. Pada kesempatan mengikuti kebaktian Minggu di Gereja Presbiterian yang sama dengan GMIT, kami sungguh terpana. Lingkungan dimana gedung gereja dibangun, nampak sangat asri, bersih dan indah. Gedung ini dibangun di kaki bukit. Penataan lingkungan yang indah dan menawan. Ketika berada di dalam gedung gereja, suguhan ibadahnya tentu saja mirip GMIT (Presbiterian), beda pada tampilan depannya.

Penutup

Kutipan berikut ini dari liturgi kebaktian Bulan Lingkungan. Mari cermati.

P: Alam menunggu setiap tangan yang penuh cinta merawat dan memelhara. Alam yang sudah rusak menanti setiap hati yang dipenuhi Roh Kudus untuk memperbaharuinya menjadi alam yang indah bagi manusia.
J: Negeri ini membutuhkan setiap tangan yang dapat bekerja menjaga diri dan oran glain untuk mencegah Covid-19. Negeri ini membutuhkan hati yang penuh ketulusan berdoa untui pemulihannya.
P: Allah memanggil dan mengutus engkau untuk berperan serta dalam karya penyelamatan-nya atas bumi.
J: Dalam nama Kristus, kami siap diutus.
P: Berikanlah tangan dan hatimu untuk memelihara dan merawat bumi.
J: dalam nama Kristus, kami beri tangan dan hati kami.

 

Adakah pada kita kesadaran aksi? Ataukah kita cukup sampai pada ritual yang liturgis seperti yang disiapkan oleh Majelis Sinode GMIT?

 

Kiranya kita ada dalam kesadaran memelihara alam ciptaan Tuhan. Kiranya kita ada dalam kesadaran bahwa kita telah berjanji dengan menggunakan nama Kristus Tuhan. Di sana ada pernyataan siap diutus, dan siap memberi tangan dan hati.

Semoga.

 

Koro’oto, 2 November 2020