Sudahkan Anda Menemukan Damai?

Sudahkan Anda Menemukan Damai?

 

Setiap Desember kata yang selalu diperdengarkan pada umat dan jemaat di dalam gedung dan atau rumah gereja yaitu, damai. Proklamasi kedatangan Kristus terus dikumandangkan sejak Minggu Advent Pertama hingga Keempat. Lalu, kata damai turut menghias bibir para Pemberita Firman Tuhan.

Di sisi dunia sekuler, damai juga menjadi buah bibir tak berkesudahan, berhubung konstitusi negara tertuang secara amat sangat jelas. Perdamaian Dunia. Dunia yang mana? Dunia di dalam negeri sendiri, dan dunia di luar negeri ini.Semua wilayah negara dalam dunia mesti ada damai.

“Berdamailah dengan sesamamu!”

“Kita akan terus hidup dalam rasa damai!”

“Yesus datang membawa damai!”

Dan sejumlah kalimat yang memuat kata damai di dalamnya sebagai penjelas maksud dari pernyataan-pernyataan itu yang diucapkan para Pemberita Firman Tuhan.

Sementara para politisi, pejabat publik, dan figur publik lain yang menyuarakan damai mungkin berkata,

“Mari ciptakan rasa perdamaian di daerah kita ini!”

“Kita tidak boleh merusakan perdamaian yang ada selama ini di antara kita!”

“Kita semua sesama saudara, mengapa untuk berdamai saja kita merasa sungkan?”

Entah kalimat apa lagi yang diucapkan sebagai himbauan-himbauan yang kiranya mengingatkan orang akan pentingnya rasa damai itu.

Bila kita boleh bertanya, apa sesungguhnya damai itu?

Jawabannya, kita lihat pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (hlm 233); disana diuraikan sebagai berikut, damai itu tidak ada perang, tidak ada kerusuhan, aman,

Ada pertanyaan pada mesin pencari Opa Gugel, How do you explain peace? Dia segera memberikan jawaban, Peace is a concept of societal friendship and harmony in the absence of hostility and violence.  (terj. Perdamaian adalah konsep persahabatan dan harmoni masyarakat tanpa adanya permusuhan dan kekerasan.)

Berlanjut ada pernyataan What is peace in Christianity? Sang Opa Gugel memberikan jawaban, … In the Christian view of peace ( peace) is indispensable to justice (justice) and include the dimensions (inner peace) or a spiritual dimension (spiritual peace)(terj. … Dalam pandangan Kristen tentang perdamian sangat diperlukan untuk keadilan dan mencakup dimensi perdamaian yang dipancarkan dan bersumber dari dalam atau dimensi spiritual.

Menengok makna dan definisi-definisi sebagaimana yang sudah saya kutipkan ini, saya hendak kembali ke judul tulisan ini, Sudahkah Anda menemukan Damai?

Suatu pertanyaan yang dapat saja dijawab secara gamblang sebagai sudah, atau belum, atau malah bingung antara sudah atau belum. Mengapa? Karena fakta menunjukkan kepada kita betapa rasa aman saja harus diusahakan untuk mendapatkannya, lalu bagaimana dengan perdamaian?

Bertengkar dengan mengeluarkan suara yang keras hingga terdengar ke rumah tetangga. Para tetangga berdiri di sekitar rumah mendengarkan pertengkaran di dalam satu keluarga. Lalu terciptalah suatu suasana tidak aman, tidak damai pada orang-orang serumah yang bertengkar.

Bertengkar dengan tetangga dengan mengeluarkan kata-kata umpatan, hingga ancaman menggunakan kekerasan fisik. Terciptalah suasana tidak aman antartetangga. Lalu orang lain atau pemangku kepentingan di sekitar lingkungan itu harus extra bertugas mengupayakan perdamaian.

Sekelompok pemuda beramai-ramai pergi ke kampung sebelah menyerang kelompok pemuda di kampung itu. Menghancurkan dan membakar beberapa rumah masyarakat di sana. Keamanan terganggu, kedamaian tercerabik dan tercabut dari akarnya. Ketegangan antarkampung terjadi. Tindakan kriminal dipertontonkan. Ketika mereka yang ditangkap dan hendak diadili untuk menegaskan dan menegakkan keadilan dan rasa damai komunal, saat itu mereka duduk sebagai pesakitan, menunduk menyesali perbuatannya. Lalu, kita bertanya, apakah akan ada damai sesudah pengadilan mengantar mereka ke penjara?

Organisasi X memiliki sejumlah besar pengikutnya. Mereka berlaku sebagai manusia-manusia pembawa perdamaian. Sikap mereka ditunjukkan dengan ujaran dan tindakan yang menista sesamanya. Melarang orang untuk tidak melakukan kegiatan ekonomi pada hari tertentu agar tercipta toleransi dalam keberagaman. Melarang orang yang tidak sealiran dengan mereka untuk tidak melakukan kegiatan yang tidak sejalan dengan olah pikir dan ajaran organisasi mereka,agar tercipta rasa nyaman pada mereka dan dinikmati semua orang. Apakah ini yang disebut perdamaian dan keadilan?

Tidak! Kita tidak segera akan bertemu dengan damai itu.

Damai itu mesti dirasakan di hati yang dipancarkan melalui ujaran, sikap dan tindakan yang berkarakter mengantarkan komunitas dan kaum dalam nuansa aman bersahabat dan harmoni keseimbangan. Di sana rona wajah setiap orang mesti memancarkan senyum ketulusan bukan keculasan. Ujaran setiap orang semestinya mengantarkan rasa adem dan tenang, bukan memberi bogem dan tendang. Sikap orang yang memberi rasa damai terbaca dari bahasa tubuhnya yang tenang berwibawa, bukan remang-remang bersandiwara. Tindakan pemberi rasa damai merupakan cerminan keseluruhan olah pikir, ujaran dan sikapnya yang mengulurkan tangan memeluk sambil membelai, menggandeng dalam jalinan jalan bersisian; dan bukan sebaliknya memelas sambil menyikut, menggarong dalam jelmaan niat suci berdasarkan ayat-ayat kitab suci.

Yesus datang. Ia disebutkan sebagai Raja Damai. Nabi Yesaya (8:23 – 9:1-6) telah menubuatkan ratusan tahun sebelum Ia lahir sebagai Manusia Sejati. Sungguh-sungguh manusia.

Tetapi tidak selamanya akan ada kesuraman untuk negeri yang terimpit itu. …   Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita’ lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang, Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang kekal,Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya

 

Mari temukan damai itu pada Yesus. Ia meneguhkan damai itu di hatimu. Fisik yang sekarang ini ada pada Anda dan saya, tidak merasakan damai bila hati masih berada di berbagai persimpangan. Sangat manusiawi hal-hal itu ada pada kita. Namun, Alkitab yang kita yakini sebagai “surat cinta” Tuhan kepada kita, akan terus menggemakan cinta kasih yang tak berkesudahan. Di sana, ketika kita bertemu dengan-Nya dalam kata-kata-Nya, kita merasakan damai itu.

 

Koro’oto, 20 Desember 2020