Anda Memberi Makna Apa Pada Natal Desember 2020

Anda Memberi Makna Apa Pada Natal Desember 2020

Pengantar

Rasanya perayaan Natal saban Desember sudah bukan lagi tradisi namun telah membudaya. Maka, ketika orang tidak merayakannya secara lebih meriah, terasa natal itu maknanya menjadi hambar. Saya ingat, sejak kecil ketika sudah mengenal sekolah minggu, lantas setiap Desember tiba, kami di udik sana sekalipun berjauhan pemukiman, anak-anak akan begitu bergembiranya ketika berkumpul di gereja pada perayaan Natal. Terlebih bila para muda mementaskan Drama Natal dengan pernak-pernik ala orang kampung. Tidak ada lampu listrik. Puji Tuhan, saat itu sudah ada lampu petromaks (lampu pompa gas berisi minyak tanah). Lampu-lampu seperti itulah yang digantung di dalam rumah gereja. Saya ingat di rumah gereja itu selalu ada tiga sampai empat lampu. Jemaat berdesak-desakan di dalam ruang kebaktian. Anak-anak selalu duduk di pangkuan orang tua. Betapa kami sebagai anak-anak masa itu menikmati perayaan natal seperti itu.

Seiring waktu berjalan, ketika desa-desa genealogis dihapus dan diganti dengan desa gaya baru dengan pendekatan pembongkaran dan pemindahan, serta pemukiman baru, tradisi merayakan natal terus dipertahankan, bahkan mendapatkan sentuhan-sentuhan kreatif seiring perkembangan pengetahuan dan kreativitas para mudanya.

Banyak sekali kenangan di Koro’oto ketika kami yang anak-anak sekolah minggu dari desa genealogis Koro’oto belajar dan bergembira bersama di rumah gereja Kolam Keselamatan. Kami bertumbuh menjadi pemuda yang sebahagian di antaranya pergi meninggalkan kampung halaman (desa Nekmese’) atas tuntutan “mengejar masa depan” melalui berbagai cara. Ada di antara kami yang tinggal menetap bahkan berkeluarga di kampung sendiri ini. Merekalah yang kemudian bersama-sama para orang tua memelihara perayaan natal, bahkan dikembangkan dengan tambahan-tambahan kegiatan bernatal secara kategorial.

Saya ingat ketika saya beberapa kali diharapkan turut mengambil bagian mengentertain suatu kebaktian natal. Pada saat itu setiap rayon pelayanan membawa satu unit pohon natal mini. Ketika lagu Malam Kudus dinyanyikan oleh jemaat, seorang anggota jemaat dari rayon-rayon membawa pohon natal mini itu dan menempatkannya mengelilingi pohon natal besar. Pada saat mengantar itulah, lagu terus dinyanyikan sementara saya menarasikan prosesi itu. Sangat syahdu dan berkesan. Cara yang menggenangi kenangan kami itu terus kami pelihara dengan melakukan lomba-lomba mengkreasikan pohon natal dalam beberapa tahun belakangan ini, sampai dengan tahun 2019 lalu.

Pengembangan lainnya yaitu pelayanan kasih (diakonia) kepada para lansia. Pada setiap akhir Deember dalam beberapa tahun terakhir ini, program ini diwujudkan dengan kebaktian natal khusus para lansia. Tentang kaum bapak, kaum perempuan, dan kaum muda, semuanya tetap ada dalam tradisi yang makin membudaya.

Lalu, tahun ini semuanya bagai terabaikan. Loyo, lemas. Kira-kira demikian adanya. Anak-anak di Koro’oto walaupun tidak berkumpul untuk melakukan kebaktian natal secara khusus untuk mereka, namun program untuk mereka tetap terlaksana dengan mengunjungi 129 rumah tangga dimana anak-anak itu mendapatkan pelayanan kasih sebagai hadiah natal

Makna Natal Desember 2020

Bangsa-bangsa dunia sejak Maret 2020 tersentak pada serangan corona desease 2019 (covid-19) yang semula endemik di Wuhan – China. Akan tetapi, berkembang dan terus menambah luas wilayah serangannya hingga mendunia. Badan Kesehatan Dunia kemudian menetapkannya sebagai pandemi, yaitu wabah penyakit yang menyerang korbannya secara serentak di berbagai tempat di dunia. Itulah sebabnya pemerintah dan masyarakat bangsa-bangsa di seluruh dunia melakukan berbagai upaya untuk mencegah bahkan merindukan untuk menghentikan penyebarannya. Namun, semakin ada upaya untuk menghentikannya, justru ia semakin membiakkan dirinya. Varian corona desease ditemukan lagi di Inggris sehingga banyak negara melarang warganya berangkat dari dan ke Inggris.

Kecemasan dan kegalauan menerpa umat manusia, termasuk kaum Kristen yang sedang megap-megap hatinya untuk merayakan Natal.

Khusus untuk pulau Timor, begitu bunga flamboyan (sepe) memekar, hati para penghuni pulau “kering” ini bagai lebih mekar dari sang flamboyan. Mereka rada lebih rindu untuk memasuki natal. Kidung-kidung natal digemakan sejak Minggu Pertama Advent hingga mencapai klimaksnya pada 25 Desember dan antiklimaksnya menurun hingga awal Januari tahun berikutnya ketika instansi pemerintah dan swasta serta ragam komunitas merayakan natal.

Lalu, apakah Desember 2020 ini kidung-kidung natal terdengar? Tentu saja telah diperdengarkan. Bunga flamboyan pengantar rasa untuk menikmati hal itu. Entah kidung natal diperdengarkan di toko-toko, dan pasar-pasar tradisional hingga pasar modern (hypermart, supermarket, dll) yang menjual pernak-pernik natal, di pedesaan hingga udik, orang tetap mendengarkan kidung-kidung natal.

Pohon-pohon natal tetap dibangun walau nuansa hati rasanya tidak turut membangun dan mengkreasikan pohon natal itu. Mengapa? Sebahagian Kebaktian natal ditiadakan demi mencegah timbulnya klaster baru akibat berkumpulnya massa (jemaat, umat) dalam kebaktian natal. Maka, kebaktian natal tetap diperlukan dengan pembatasan. Kebaktian natal tidak harus nampak meriah, mewah dan megah. Kesederhanaan. Itulah yang disuarakan dalam pergumulan pelayanan Gereja Masehi Injili di Timor.

Kesederhanaan ayah-ibu Yesus yang berdua saja secara fisik menyambut kelahiran-Nya.

Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya denan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan (Luk. 2:6-7)

Dalam kesederhanaan itulah pasangan suami-isteri ini menyambut Anak mereka. Sesungguhnya mereka dalam perjalanan berhubung suatu program pemerintah yang harus dilaksanakan. Pendaftaran penduduk (sensus). Kita dapat saja menafsir bahwa mereka mungkin cemas pada kelahiran (hal pribadi), tetapi juga cemas bila tidak sempat mendaftarkan diri (patuh pada pemerintah). Alkitab tidak mencatat untuk menjadi pengetahuan pada kita bahwa mereka akhirnya sudah mencatatkan diri sebagai penduduk, warga kota Daud, Betlehem. Tapi, kiranya tersirat di sana,

… ketika mereka di situ… (Luk.2:6 )

Rumah-rumah penginapan sudah penuh. Kiranya sensus penduduk telah mengundang orang dari berbagai tempat untuk kembali ke kampung halamannya masing-masing. Itulah sebabnya Maria dan Yusuf kembali ke kota Daud, Betlehem.

Kesederhanaan berikutnya ditunjukkan oleh para gembala di padang yang mana tiba-tiba mereka “naik kelas” ketika didatangi para Biduan Sorgawi dalam kidung yang mencengangkan,

“Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruslamat, yaitu Kristus, Tuhan di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” 
Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuki Allah, katanya:
“Kemuliaan bagi Alah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang bekenan kepada-Nya.” (Luk.2:10-14)

 

Dalam kesederhanaan itulah para gembala menerima kabar sukacita yang diiringi kidung sorgawi. Siapakah mereka sehingga Tuhan mengirim bala tentara sorga untuk memuji Allah di depan mata para gembala? Bukankah mereka orang-orang sederhana? Tidakkah ada kecemasan dan kegalauan pada mereka sebagai orang sederhana? Tentu saja ada! Mereka harus menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam agar kiranya terhindar dari serangan predator, seperti serigala atau singa, dan lainnya. Ini pun kecemasan dan kegalauan hati.

Ssetelah menerima kabar sukacita dan mendengarkan kidung sorgawi itu, mereka menanggalkan kecemasan dan kegalauan. Mereka bergegas ke Betlehem. Tiada lagi waktu untuk menyiapkan diri berhubung kesiapan (penggembalaan, pastoral) telah dilakukan oleh Utusan Tuhan.

Lalu, bagaimana dengan kita?

Kita ada dalam kecemasan dan kegalauan pula. Cemas dan galau pada pandemi covid-19 yang masih menghantui. Cemas dan galau pada aturan yang membatasi kita agar tidak terjadi kerumunan massa yang dapat saja berdampak pada timbulnya klaster baru penyebaran virus korona. Cemas dan galau oleh karena tidak dapat melakukan perjalanan liburan dalam rangka merayakan natal bersama keluarga. Cemas dan galau pada pencegahan virus korona dengan menerapkan 3M yang belum tentu dapat dipatuhi oleh seluruh umat. Cemas dan galau pada 3T yang dilakukan oleh pemerintah dengan atau tanpa pembiayaan. Cemas dan galau pada vaksin yang simpang siur kabarnya tentang dampak vaksinasi, sekalipun pemerintah memberikan jaminan keamanan pada vaksin yang jumlahnya pun masih terbatas. Cemas dan galau pada radikalisme dan ancaman dis-integrasi bangsa ketika penyintas agama terus-menerus menebar kebencian yang diyakini sebagai ajaran yang benar. Dan daftar ini dapat ditambahkan oleh para pembaca.

Anda yang membaca artikel ini, kiranya sudi menanggalkan kecemasan dan kegalauan sebagaimana Yusuf dan Maria serta para gembala. Mereka menanggalkannya lalu menyambut kelahiran Yesus, Imanuel itu dalam kesederhanaan. Entah lampu kerlap-kerlipkah yang menemani mereka di kandang? Entah bintang atau awan gelap dan embunkah yang menemani dan membungkus para gembala di padang? Mungkin saja api unggun penghangat tubuh pada kedua kelompok orang yang pertama kali menyambut kelahiran Yesus itu.

Maka, baiklah kelompok-kelompok orang (Kategori jemaat, umat) di dalam Jemaat, marilah kita bersama-sama menanggalkan untuk sementara waktu kekategorian kita. Kita bersama dalam satu kebaktian perayaan natal, tanpa pernak-pernik kemeriahan, kemewahan dan kemegahan. Baiklah kita berada dalam refleksi kesederhanaan dengan mengingat berbagai situasi yang melanda dan membungkus kita.

Penutup

Jemaat Koro’oto pada tahun ini memberi makna pada perayaan natal ini dengan kesederhanaan pula. Sebagaimana yang sudah dihimbaukan oleh MS GMIT melalui SOPnya. Penegasan lagi oleh Majelis Klasis Amarasi Timur. Sekalipun dalam situasi itu, makna menerima Yesus untuk tinggal dan hidup bersama di dalam rumah tiap kepala keluarga, tiap rayon pelayanan, tiap organisasi berjemaat, dan terutama dalam tiap hati insan beriman.

 

Koro’oto, 24 Desember 2020

Heronimus Bani

 

One comment

  • Moti Marlino Ora

    Makna NATAL sesungguhnya adalah sukacita dalam kesederhanaan.
    Allah yang begitu mulia dan agung-Nya menyederhanakan diri-Nya setara dengan umat ciptaan-Nya karena cinta kasih-Nya.
    Jika kita menyambut NATAL dengan meriahnya terkadang arti NATAL kita kesampingkan. Jadi mungkin inilah cara TUHAN menegor serta mengajarkan kita utk lebih memahami arti NATAL.