Dikenangkah bila ada yang Berlalu?

Dikenangkah bila ada yang Berlalu?

Sebab kami mendengar, bahwa TUHAN telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu berjalan keluar dari Mesir, dan apa yang kamu lakukan kepada dua raja orang Amori yang di seberang sungai Yordan itu, yakni kepada Sihon dan Og, yang telah kamu tumpas.
Ketika kami mendengar itu, tawarlah hati kami dan jatuhlah semangat setiap orang menghadapi kamu, sebab TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah (Yosua 2 : 10-11)

Pengantar

Hari ini, keluarga-keluarga dan komunitas-komunitas dimana pun segera akan mengakhiri tahun 2020. Berdebarkah? Apakah jantung akan makin kencang denyutannya atau justru makin melambat? Apakah ada wajah yang tersenyum atau sebaliknya muram dalam kesedihan? Adakah sorak kegembiraan terjadi ketika bunga-bunga api menyebar di udara, ataukah justru orang akan masuk dalam kotak kelamnya yang lampau dalam renungan? Sejumlah hal bergejolak dalam hati individu. Tiap-tiap individu mempunyai cara dan pendekatan tersendiri pada hari terakhir setahun ini. Lalu, adakah sesuatu yang dapat memberi makna pada kita bila menengok kitab suci, Alkitab?

Saya membaca Kitab Yosua 2 : 1 – 24. Satu cerita tentang pengintaian suatu negeri yang akan dimasuki oleh bangsa Israel. Yosua mengirim 2 orang pengintai untuk memata-matai negara kota Yerikho. Mereka bertemu dan bermalam di rumah Rahab. Sebagai negara kota, akan dengan mudah pergerakan masuk-keluarnya orang ada dalam pengawasan. Maka, tidak heran kedua pengintai Israel itu segera diketahui. Kabar kedatangan mereka disampaikan kepada raja Yerikho. Ketika Rahab diminta membawa orang-orang asing itu kepada raja, justru Rahab menyembunyikan mereka.

Mari membayangkan suatu kisah petualangan yang sungguh sangat beresiko tinggi. Bayangkan saja jika Anda pernah menonton film-film aksi spionase. Seorang Spioner yang tertangkap akan disiksa secara amat sadis, bahkan kematian sekalipun ia rela terima asalkan mulutnya tidak mengucapkan sesuatu yang sifatnya rahasia tugas.

Rahab telah membuat perjanjian dengan kedua pengintai itu. Kedua pengintai itu selamat atas bantuan Rahab, dan para pengejar pun kembali dengan tangan kosong.

Bagaimana dengan kisah itu? Adakah sesuatu yang terkenang di sana?

Sesuatu Sudah dalam Pengetahuan Umum Komunitas

Perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir di bawah kepemimpinan Musa dan Harun tidak berakhir ketika Musa (Harun dan Miryam) meninggal dunia. Tongkat kepemimpinan dilanjutkan oleh Yosua (Ul.34:9).  Bangsa Israel tetap berada dalam perjalanan menuju Tanah Perjanjian itu. Tuhan tidak melepaskan mereka. Cerita telah menyebar kemana-mana di seantero jagad informasi pada waktu itu. Suku-suku bangsa dan bangsa-bangsa yang mendengar kabar-kabar itu membawanya ke dalam pengetahuan komunitas-komunitas. Pengetahuan-pengetahuan itu menjadi pokok diskusi pada kelompok orang hingga para petinggi dan pengambil keputusan. Maka, tidak heran seorang perempuan sundal (Yos 6: 22, 25) bernama Rahab pun mengetahui cerita seperti itu. Ia menjadi informan kepada kedua pengintai itu. Ayat 10-11 dan seterusnya menegaskan hal itu.

Sesuatu yang sudah menjadi pengetahuan umum kiranya dapat saja secara utuh, atau kurang-lebih ada pada tiap individu. Orang tertentu dapat mengisahkan sesuatu peristiwa dengan tempat, tokoh dan alurnya secara tepat. Sementara orang sebelum atau sesudahnya belum tentu melakukannya secara sama persis. Kiranya demikianlah cara penceritaan sesuatu yang bersifat pengetahuan umum.

Dalam pengetahuan umum penduduk Yerikho yang kotanya bertembok, bangsa Israel telah menerima perlakuan istimewa dari TUHAN ketika mereka menyeberangi Laut Teberau. TUHAN membelah laut sehingga nampaklah daratan di sana. Sebelah-menyebelah menjadi tembok air, sementara di tengah-tengahnya bangsa Israel berjalan dalam sorak karena telah terbebas dari ancaman di belakang mereka (Kej.14). Ketika mereka tiba di seberang, Musa mengulurkan tangannya di atas air laut. Terjadilah sebagaimana TUHAN menghendakinya agar umat-Nya terlepas dari ancaman. Kematian menjemput pasukan pengejar. Mereka ditelan dan tenggelam dalam laut. Gemetarlah bangsa Israel dan mereka pun percaya pada TUHAN.

Bukankah hal ini kemudian akan viral bila terjadi pada zaman serba mudah ini? Dipastikan akan ada meme-meme gembira bernada buli, sementara ada pula yang bersyukur dalam renungan-renungan yang mendalam.

Penduduk Yerikho, kiranya diwakilkan pengetahuan mereka pada peran seorang perempuan sundal bernama Rahab. Pertanyaannya, mengapa Rahab? Tidak adakah orang baik-baik di dalam kota itu yang boleh dipilih oleh TUHAN agar kedua pengintai mendapatkan informasi tentang suasana hati dan nuansa aspek keberadaan seluruh negara kota itu?

Peran pelacur atau perempuan sundal dalam dunia spionase, pengintaian pada bangsa manapun selalu menjadi menarik. Kisah-kisah penginataian di dunia modern makin menjadi warna dan akan terus ada sepanjang adanya pentas kehidupan manusia. Ini satu contoh kutipan,

Dalam sejarah, para perempuan — khususnya PSK — digunakan untuk menyusup atau mendapatkan informasi,” kata politisi Republik, Peter King sebagaimana dikutip dari CNN
(Liputan 6, 22 Juni 2017, Enam ‘Kombinasi Maut’ Spionase dan Seks Mengguncang Dunia)

Suatu ketika dalam masa awal mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI), Soekarno menggunakan pelacur sebagai mata-mata. Ia membuat pernyataan dalam bukunya yang ditulis oleh Cyndy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, katanya,

Pelacur adalah mata-mata paling baik di dunia. Aku telah membuktikan di Bandung. Dalam keanggotaan PNI di Bandung terdapat 670 orang perempuan yang berprofesi demikian dan mereka adalah anggota yang setia dan patuh. Kalau menghendaki mata-mata yang hebat, berilah seorang pelacur yang baik. Mereka sangat baik dalam tugasnya. (hlm 100)

Apakah dua kutipan ini hendak melegalkan maksiat dalam suatu refleksi kerohanian yang kiranya mengantar pada kesegaran jiwa dan raga?

Tentu saja akan mengantarkan kepada keberdosaan bila menyadari bahwa pelacuran bukanlah hal baik. Bahkan mereka yang melakoni pelacuran dijauhi, dicibir, dihina dan lain-lain. Menjadi buah bibir di tengah masyarakat. Pada diri sang pelacur ada alasan berbeda. Hal itu ada dalam pengetahuannya, pengetahuan mereka yang melakoni dunia itu. Itulah dunianya pelacur.

Ke arah manakah tulisan ini? Bukankah hari ini, Kamis, 31 Desember 2020, hari terakhir dalam tahun ini? Tidakkah suatu renungan reflektif agar menyejukkan roh dan raga?

Ya! Panggung atau pentas dunia adalah satu-satunya tempat dimana makhluk manusia menjalani lakonnya. Tuhan telah mengusir kita keluar dari Taman Eden, Firdaus, Paradiso yang indah itu. Kita berada di area nikmat bertindihan dan gemerlapan di kegelapan.

Kita akan menghitung jarum jam secara mundur hingga pukul 00:00; lalu pada titik itu sorak gempita menggema di udara kampung dan kota. Gemanya akan menerobos dan menerabas tembok dan sekat pemisah yang akan menyatukan untuk sementara waktu mereka yang pernah berpisah. Mereka akan berpelukan sambil membelai sebagai tanda saling mengampuni dan mengasihi.

Dalam kasih yang demikian, orang menoleh pada masa yang terlewati untuk mengingat sesuatu atau lebih dari sesuatu hal yang telah terlampaui. Sebagaimana Rahab dan penduduk Yerikho mengetahui tentang bangsa Israel. Ia pun telah mengetahui akan masa depan kota itu yang akan segera jatuh ke tangan orang Israel.

Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu dan bahwa kengerian terhadap kamu telah menghinggapi kami dan segala penduduk negeri ini gemetar menghadapi kamu (Yos.2:9)

Seorang pelacur dalam negara kota Yerikho mengetahui lebih baik daripada petinggi di sana. Sekalipun kita membaca bahwa para petinggi telah berusaha untuk menghalau para pengintai agar informasi tentang berbagai aspek kehidupan di sana tidak boleh ada dalam pengetahuan orang lain. Yerikho hendak menutup diri terhadap dunia luar. Maka, pengintai harus dilenyapkan. Mereka mengejar, bahkan dalam tempo tiga hari pun sia-sia belaka.

Yerikho berada dalam genggaman bangsa Israel pada akhirnya. Rahab dan kaum-kerabatnya diselamatkan. Bangsa Israel memasuki kota itu dengan terlebih dahulu melakukan psy war. Suatu pendekatan “perang’ yang melemahkan motivasi, semangat dan daya juang. Yerikho gemetaran hingga jatuh pamornya. Maka dengan mudah bangsa Israel merebut negara kota berpagar tembok itu. Dunia baru dimasuki dengan gegap gempita. Rahab dan kaum-kerabatnya turut memasuki dunia baru itu dengan menikmati masa hidup lebih panjang dibandingkan sebahagian besar penduduk Yerikho. Padahal, siapakah Rahab?

Sesuatu Sudah dalam Pengetahuan Umum Jemaat Lokal 

Jemaat lokal yang hendak saya tunjuk dalam tulisan ini, adalah GMIT Jemaat Pniel Tefneno Koro’oto. Sudah ada dalam pengetahuan umum anggota-anggotanya bahwa, jemaat ini telah tua bila dilihat dari aspek waktu berdirinya. Ia bahkan bila diurutkan jauh ke belakang, pada tahun 1913 sudah ada orang Koro’oto yang menerima baptisan kudus walau itu dilakukan bukan di Koro’oto, tetapi di Oekabiti. Tanggal 1 Agustus 1931, tanggal inilah yang dipakai sebagai hari lahirnya Jemaat ini. Jika demikian, maka “perut bumi” Koro’oto mengandung suatu jemaat (gereja) antara tahun 1913 – 1931. Pada 1 Agustus 1931 itulah kelahiran berlangsung. Sangat lama, bukan? Pergumulan yang berat.

Saya tidak mencatat di sini untuk mengingatkan kesemuanya yang terjadi antara 1931 – 2020 ini. Tentulah semua itu akan sia-sia karena akan terputus-putus berhubung, saya, bukan satu-satunya sumber informasi yang valid dan akurat.

Nah, oleh karena itu mengingat tahun 2020 akan berlalu, tidak baikkah bila beberapa hal dicatat di sini sebagai ingatan? Bukankah sebagaimana yang saya tempatkan di judul, Dikenangkah bila ada yang Berlalu?

Tidak banyak hal dalam ingatan dan catatan saya. Sekretariat Majelis Jemaat tentulah mempunyai catatan-catatan yang tidak putus-putusnya, terutama bila menelusuri catatan Warta Pelayanan yang saban Minggu dibacakan. Akan tetapi, secara umum saya hendak mengurai di sini.

Januari – Februari 2020, “bulan madu” yang indah berhubung hujan telah turun, masyarakat (jemaat) memasuki musim tanam yang terlambat. Walau dengan wajah kusam, tetap saja harus bisa tersenyum agar dapat menanam di ladang, sambil berharap curahan hujan paling kurang sampai pada Mei 2020 agar tanaman jagung dan jenis lainnya tercukupi kebutuhan. Pada akhir Februari 2020, kabar-kabar menggetarkan tentang korona mulai disebarluaskan melalui berbagai media. Jemaat Koro’oto pun mendengar, membaca dan melihatnya. Di Koro’oto sendiri selain cerita tentang hujan, hal yang viral berikutnya adalah tugas yang diemban bersama tim kecil dari Faith Comes By Hearing (FCBH); Iwang dan Nano. Dua pemuda yang diutus FCBH untuk merekam seluruh isi Perjanjian Baru yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Amarasi.

Maret – Juni 2020. “bulan muram” yang menyebabkan orang mulai berpikir, bersikap dan bertindak agar terhindar dari ancaman virus korona. Iwang dan Nano pulang segera setelah proses rekaman berakhir. Korona makin mengganas. Rumah-rumah ibadah ditutup; semua anggota jemaat harus beribadah dari rumah. Seruan nasional berisi tiga hal, bekerja, belajar dan beribadah dari rumah. Suatu keniscayaan,bukan? Ya. Akhirnya terjadi hal yang tidak dibayangkan sebelumnya oleh orang-orang di kampung. Mungkin para pelihat, nujum dan peramal sudah melihat sebelumnya.Entah…

Jemaat Koro’oto menjalani ibadah dari rumah. Seruan datang dari MS GMIT agar setiap malam pada pukul 21.00 WITa lonceng gereja dibunyikan dan secara serentak seluruh anggota GMIT dimana pun harus duduk dalam satu ibadah (ibadah raya). Bayangkanlah jika seluruh anggota GMIT pada setiap jam itu berkumpul di suatu tempat, tentulah tempat itu harus mempunyai kapasitas tampung yang banyak karena jumlahnya akan mencapai dua jutaan, mungkin.

Uji coba pelaksanaan kebaktian dengan pendekatan siaran langsung diberlakukan. Beberapa anggota Majelis Jemaat menghadiri kebaktian. Radio Suara Koro’oto dihidupkan untuk menyiarkan kebaktian. Advokasi untuk melegalkan berdirinya Radio Komunitas ini berlangsung pula. Pdt de Fretes memimpin kebaktian Minggu, 14 Juni 2020, sesudah itu materi tentang proses hingga hasil adanya suatu Radio Komunitas disampaikan kepada MJ. Pada “bulan muram” ini terdapat minggu-minggu “aneh nan lucu” karena pada saat itu anggota jemaat beribadah di rumah, lalu sesudah itu pergi ke gereja untuk mengantarkan persembahannya.

Dalam pada itu satu tulisan menarik diunggah oleh Pdt. S. V. Nitti pada akun feisbuk yang dikelolanya. Saya minta izin untuk mengutip keseluruhannya dan menempatkannya pada web ini.

http://tefneno-koroto.org/?p=3087

Selanjutnya, beberapa catatan lain yang menghias Maret – Juni 2020. Satu di antaranya yang berkesan seperti ini,

http://tefneno-koroto.org/?p=3142

http://tefneno-koroto.org/?p=3362

Juli – Desember 2020. “bulan labil”, antara masa yang disebut Era Normal Baru (New Normal) diberlakukan pada masyarakat. New Normal berlaku di seluruh dunia, mengingat perekonomian di banyak negara mulai ambruk yang berdampak pada kehidupan sosial. Pemutusan hubungan kerja, pengangguran dan bahkan angka terpapar virus korona dan kematian yang naik, walau diimbangi pula dengan angka kesembuhan. Pencegahan dengan sosialisasi bermasker, mencuci tangan, menjaga jarak fisik, semuanya wajib dilakukan. Razia dilakukan di kota-kota, bahkan hingga kota-kota kecamatan. Pintu-pintu masuk ke desa-desa ditutup. Terjadi upaya menyaring pergerakan masuk-keluarnya orang ke kampung-kampung. Nekmese’ pun melakukan hal ini. Orang menyebutkan namanya sebagai portal. Gedung gereja kembali dibuka walau kebaktian harus berlangsung tiga kali. Kebaktian yang demikian ini akhirnya surut dan meninggalkan satu kali kebaktian saja.

Menjemput Bupati Kupang merupakan suatu sikap dan tindakan yang dianggap tepat oleh Majelis Jemaat. Meletakkan batu pertama pembangunan gedung gereja yang diprogramkan pada 6 tahun silam hendak dimulai. Pemugaran (renovasi) beralih menjadi pembangunan gedung baru. Pendekatannya “membungkus” gedung lama dengan yang baru.

http://tefneno-koroto.org/?p=3447

Di antara kecemasan ketika memungut hasil ladang, para peladang yang adalah anggota jemaat rindu bersyukur bersama. Maka, program ibadah syukur tetap dapat dilaksanakan dengan tetap mengikuti protokol kesehatan. Bulan keluarga ditandai dengan pemberkatan nikah, dan penutupannya dilakukan di Suu’baun. Sejumlah program tak terlaksana secara baik, kecuali pelayanan diakonia yang makin gencar dilakukan berhubung bantuan sosial dari pemerintah pun lebih gencar lagi.

Desember tiba. Diawali dengan kebaktian Minggu Advent pertama pada akhir November 2020, di sana tahun gerejawi dimulai. Advent, Natal, Masa Raya Sengsara, Jumat Agung, Paskah/Kebangkitan, Pentakosta, Pekabaran Injil; itulah tahun gerejawi (note: mohon koreksi bila keliru). Kebaktian-kebaktian natal direncanakan, termasuk pelayanan sakramen: perjamuan kudus dan baptisan kudus. Tidak lupa program unggulan, diakonia tetap mendapatkan porsi lebih. Sementara pembangunan gedung gereja terus digenjot majunya secara perlahan dalam kepastian.

“Bulan-bulan muram” dalam tahun 2020 di Koro’oto entah segera akan berlalu? Banyak hal terlepas dari ingatan,  kesan dan catatan. Akhir 2020 telah tiba. Apakah Jemaat Koro’oto akan mengintai terlebih dahulu tahun 2021 untuk memasukinya sebagaimana pengintai dalam Yosua pasal 2?

Koro’oto Mencoba Mengintai Tahun 2021

Bila membayangkan tahun 2021 sebagai suatu samudera luas, artinya di sana ada kesulitan untuk menyeberanginya. Bagaimana mungkin orang Koro’oto yang menempati sebahagian  lereng Sismeni yang ketinggiannya mencapai 500 meter di atas permukaan laut ini mampu menyeberangi Samudera Hindia yang setiap hari dilihatnya?

Adakah kemungkinan untuk menyeberangi “samudera waktu” tahun 2021 pada orang Koro’oto?

Tidak mungkin untuk tidak melewatinya. Hanya jenazah, bangkai hewan dan bangkai kayu saja yang tidak lagi merasakan satuan waktu yang baru itu. Semua orang akan sampai pada titik itu dengan atau tanpa keraguan dan kecemasan. Semua individu akan memasuki lorong waktu itu dengan atau tanpa kegembiraan. Semua orang di kampung Koro’oto yang belum tentu paham apa itu resolusi akan sampai pada hari itu. Lalu, bagaimana menyikapinya?

Sebagai individu dan keluarga-keluarga, di sana dipastikan ada rencana tergurat di benak. Maklum sebagai orang kampung, mana ada yang menulis program kerja di rumah. Program kerja itu ada pada institusi seperti Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto.

Memasuki Tahun 2021 dipastikan akan dibuatkan kalender pelayanan. Ini sudah membudaya walau tahun 2020 tidak sempat ada print outnya. Kebaktian Minggu, Layanan Sakramen, Diakonia, Peneguhan dan Perhadapan, Ibadah Rayon, sudah dalam kepastian akan tetap dilaksanakan pada tahun 2021. Jadi, tidak perlu mengintip tahun depan, bukan?

Walau semua itu tetap akan dilakukan, tetapi pengembangan akan berlaku oleh karena pemberlakuan era baru, tatanan baru dengan kebiasaan baru. Kerja keras untuk itu harus dimenangkan oleh jemaat ini (dan jemaat-jemaat lainnya dalam GMIT). Mereka tidak perlu mencari pelacur untuk tidur menumpang di rumahnya. Mereka membutuhkan orang-orang yang mau bekerja dalam kebersamaan, walau di tengah-tengah mereka pasti ada yang dianggap sebagai “pelacur” yang menodai kebersamaan.

Misalnya, pada program pembangunan gedung gereja. Anggota jemaat tertentu telah beranggapan bahwa dengan memberikan persembahan wajib selama 5 tahun berturut-turut dan terlunasi, maka kewajiban memberikan persembahan tenaga dan waktu tidak diperlukan lagi. Kontraktor mempunyai kewajiban untuk mewujudkan “mimpi” adanya gedung gereja baru di Koro’oto. Mereka yang demikian ini dapat meracuni pikiran, mencuci otak anggota lain, yang pada gilirannya akan mengantar pada ketidakberesan dalam kebersamaan yang disebut gotong royong masyarakat pedesaan.

Siapakah yang mengharapkan untuk disebut “pelacur” di dalam tubuh gereja? Tidak ada! Tidak seorang pun meniatkan untuk melacurkan diri dan menyelingkuhi kebersamaan. Itulah sebabnya orang berusaha menjaga dengan sangat baik prinsip-prinsip hidup bersama.

Yosua mengikhtiarkan kemenangan. Di pintu gerbang negara kota Yerikho, ia dihadang Panglima Balatentara TUHAN (Yos.5:13-15). Ia tunduk, patuh dan menyembah TUHAN dengan menanggalkan alas kakinya. Ia berdiri di tanah yang kudus.

Jemaat Koro’oto telah berada di depan Gerbang tahun 2021. Apakah di sini Panglima Balatentara TUHAN sedang menghadang? Jawabannya, Ya! Ia tidak menghadang dengan niat memusnahkan kita. Ia akan mengantarkan agar kecemasan dan ketakutan terhalaukan ketika memasuki 2021. Intip-mengintip, intai-mengintai terhadap isi dari tahun 2021 sudah dilakukan. Masuki dan lakukan apa yang kamu pandang baik untuk kemuliaan nama-Nya.

Penutup

Hujan di hari terakhir 2020 ini miungkin hendak menggenangi dan bahkan menghapuskan jejak dan tapak tangan yang telah berkarya. Hujan mungkin rindu mengguyur kepala berisi ingatan dan kesan. Siapa yang mengetahuinya. Peladang bersyukur sambil berdiang di dalam pondok kecil (uim rene) di ladangnya. Kehangatan didapati walau tubuh berbalut pakaian lusuh yang basah. Peternak menghampiri ternak sapi dan babi di tambatan dan kandang. Ketika pulang mereka redup dalam basahan. Mereka akan segera menyeduh kehangatan, terlebih bila disambut hangat oleh penunggu rumah.

Tanaman jagung, kacangan, ubi, labu, turis, semuanya telah tumbuh. Kisah keberadaan mereka di tahun 2020 akan terbawa ke 2021 ketika musim panen tiba. Gedung gereja di Koro’oto akan berubah tampilan dalam masa pembangunannya. Sementara anggota jemaatnya akan bertambah pada satu sisi melalui kelahiran, dan sisi sebelahnya akan berkurang karena kematian. Ini suatu kepastian. Rumah-rumah penduduk (anggota jemaat) dapat saja ada yang berubah tampilan, sementara orang-orangnya mungkin ada yang pergi merantau. Kampung dan desa Nekmese akan ada dalam tatanan perencanaan untuk mengubah wajah dan tampilannya menjadi lebih menarik sehingga disebut berkembang maju. Nama baik para pelaksana dan pendukungnya akan berkibar. Sementara mereka yang mengkritisi secara konstruktif akan dicibir.

Tuhan memberkati kita.

 

Koro’oto, 31 Desember 2020
Heronimus Bani