Akankah Tuhan Membiarkan Covid-19 Merajai Umat Manusia?

Akankah Tuhan Membiarkan Covid-19 Merajai Umat Manusia?

Pengumuman pemerintah tentang Indonesia yang turut terdampak coronavirus disease 2019 (covid-19), membawa dampak pada berbagai bidang kehidupan. Salah satu di antara aktivitas bidang kehidupan itu adalah ibadah. Pemerintah menyerukan ibadah dilakukan dari rumah saja dengan memanfaatkan produk teknologi yang bertebaran seperti zoom atau youtube; hingga media televisi dan radio. Pilihan terbaik adalah yang dapat dijangkau dari aspek pembiayaan dan dapat diakses oleh umat dalam komunitas agama. Gedung dan rumah ibadah ditututup sehingga tidak diperkenankan adanya kerumuman massa, walau pada akhirnya dibuka pula oleh karena pemberlakuan era baru.

Dari balik itu adanya covid-19, kiranya orang beriman pun belajar  bahwa hal ini berdampak pada peradaban manusia. Menurut para ahli terdapat banyak faktor yang menyebabkan runtuhnya peradaban yang dikreasikan manusia selama berabad-abad. Anda dapat membaca literatur Jared Diamond, Baca pula tautan berikut ini.

https://news.okezone.com/read/2019/04/12/18/2042365/apakah-kita-sedang-menuju-pada-kehancuran-peradaban

Planet bumi yang dihuni paling kurang tiga makhluk hidup yaitu manusia, hewan dan tetumbuhan akan selalu berada di sana, dan terutama manusia akan mengikuti perkembangan dari peradaban yang diciptakannya sendiri. Kebanggaanpada peradaban yang diciptakannya sendiri itu muncul pada pada produk kebudayaan seperti karya monumental yang diikuti perubahan sikap dan tindakan manusia itu sendiri.

Kisah Nuh, anak-anaknya, air bah, akibat dan janji Tuhan dalam Kejadian 7 – 9 merupakan suatu cerita dimana paradaban manusia runtuh. Manusia yang hidup sebelum air bah sangat menikmati kehidupan itu dalam kemerdekaan yang tiada batasnya (Ke. 6). Lalu TUHAN menghendaki akhir dari kehidupan manusia pada zaman itu dengan menyisakan keluarga Nuh saja.

Berfirmanlah TUHAN, “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menciptakan mereka (Kej 6:7)

 

Setelah melewati waktu 100 tahun, Firman TUHAN di atas menjadi nyata. Hujan lebat selama 40 hari tanpa henti-hentinya. Sungai meluap dimana-mana. Air dari dalam tanah muncrat dimana-mana. Makhluk hidup apapun di muka bumi tewas tak dapat menolong dirinya. Daratan berubah menjadi lautan yang menenggelamkan segala makhluk termasuk gunung tertinggi sekalipun. Maka, peristiwa itu telah meruntuhkan bahkan menenggelamkan suatu peradaban manusia yang sudah dikreasikan berabad-abad sebelumnya.

Nuh dan anak-anaknya harus memulai sesuatu yang baru. Mereka memulainya dengan memanjatkan syukur kepada TUHAN melalui persembahan bakaran (Kej.8:20-21). Sejak itu segala musim berlangsung menurut waktu yang telah secara teratur alamiah. Tangan TUHANlah yang mengatur semuanya itu.

Adakah TUHAN membiarkan peradaban manusia zaman Nuh tetap berlangsung sama tanpa perubahan?

Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya ke Mesir. Siapa yang sudah menduga sebelumnya bahwa kelak Yusuf akan menjadi penguasa kedua sesudah Firaun? Yusuf melewati masa-masa sulit. Kejujuran dan kesetiaan pada TUHAN sajalah yang mengantarnya sampai ke puncak kekuasaan, bahkan tanpa direncanakan sebelumnya. Lalu, Yusuf berada di tampuk kekuasaan itu melakukan tindakan-tindakan yang mengubah peradaban manusia pada masa itu, khususnya etos kerja. Pada masa berkelimpahan bangsa Mesir bekerja dengan amat sangat keras untuk mendapatkan hasil berlimpah. Mereka bahkan harus belajar bagaimana menatakelola hasil yang berlimpah itu agar ada persediaan pada masa kelaparan yang telah diketahui melalui mimpi Firaun.

Yusuf mengajarkan dan membimbing masyarakat menjadi orang-orang yang patuh pada pemimpinnya, hingga lahirlah kota-kota dengan lumbung-lumbung persediaan makanan. Peradaban baru pada zaman itu. Orang harus mempunyai lumbung dengan tata kelola yang lebih maju mengikuti pola pikir atau gagasan yang disampaikan Yusuf (Kej.41:37-57).

http://tefneno-koroto.org/?p=3349

Peradaban Mesir makin maju khususnya di bidang pertanian, pertahanan-keamanan, konstruksi dan seni. Peradaban yang demikian itu terlebih makin maju pada masa dimana Firaun pengganti mengabaikan jasa dan tidak mengenal Yusuf (Kel.1:8). Penindasan dimulai oleh Firaun yang satu ini.  Peradaban Mesir kuno bagai berada di dunia modern.

https://www.idntimes.com/science/discovery/alfonsus-adi-putra-alfonsus/bukti-kemajuan-peradaban-mesir-kuno/8

Ziarah kehidupan dan keberadaan bangsa Israel yang juga disebut bangsa Yahudi dan Ibrani sejak keluar dari Tanah Mesir menjadi sejarah tersendiri bagi mereka. Peradaban dan kebudayaan bangsa ini tercatat naik-turun bahkan nyaris tenggelam. Henry C. Adams mencatat banyak hal tentang mereka dalam buku Yahudi, Agama, Etnis, dan Sejarah yang Tersembunyi. Menarik bagi mereka yang rindu mempelajari perkembangan kebudayaan dan peradaban suatu bangsa atau bangsa-bangsa.

Dalam hubungannya dengan judul tulisan ini, Akankah Tuhan Membiarkan Covid-19 Merajai Umat Manusia? Jawaban orang beriman, Tuhan tidak membiarkan hal ini terjadi. Bukankah kisah inspiratif dalam Bilangan 21:4-9 dapat diacu? Ya, Ketika bangsa Israel bersungut-sungut kepada Musa, sesungguhnya mereka bersungut-sungut kepada TUHAN. Lalu, TUHAN menyuruh ular-ular tedung memagut mereka sehingga banyak dari antara orang Israel yang mati. Kematian mengantarkan mereka ke dalam kesedihan dan kesadaran akan keberdosaan. Mereka kembali kepada TUHAN dengan perantaraan ular tembaga buatan Musa atas perintah TUHAN.

Kini, covid-19 melanda dunia. Di pintu masuk kota Kupang terdapat satu baliho raksasa tertulis tiga kata penting, IMAN, AMAN, IMUN. 

http://tefneno-koroto.org/?p=3387

Pada makhluk manusia ada kecemasan akan perubahan peradaban ketika orang harus menjaga jarak fisik hingga jarak sosial. Perilaku hidup yang mesti berubah dari kebiasaan-kebiasaan yang mentradisi dan membudaya mesti ditinggalkan lalu memulai kebiasaan-kebiasaan baru. Sampai di sini kita sadar, Tuhan tidak membiarkan covid-19 merajai umat-Nya. Tuhan “mengizinkan” covid-19 ada di antara kita, bahkan telah merenggut dan merebut orang-orang di antara kita, sebagaimana ular tedung memagut dan menewaskan sebahagian di antara orang-orang Israel. Orang-orang Israel kembali kepada TUHAN dengan perantaraan ular tembaga buatan tangan manusia.

Nah, percaturan peradaban terus berlangsung selama ratusan tahun hingga kelahiran Yesus Kristus, Imanuel itu. Kelahiran-Nya berdampak pada gerakan penyembahan dari orang-orang kecil dan juga bangsa asing dari Timur. Sementara di sisi lain pada saat yang sama ada pemusnahan massal anak bangsa ketika Herodes memerintahan untuk membunuh anak-anak di bawah umur 2 tahun (Mat 2:16-18). Suatu perilaku baru yaitu kecurigaan dari petinggi negeri pada anggota masyarakat kelas bawah dimulai, terlebih ketika orang tertentu bangkit menjadi idola. Pengidolaan pada seseorang menyebabkan adanya kepengikutan. Hal ini terjadi pada bangsa Yahudi dimana kalangan bawah mengikuti Yesus yang mereka sebut Rabi atau Rabuni yang artinya Guru.

Yesus muncul sebagai Rabi baru dengan ajaran baru. Peradaban dan kebudayaan baru dimulai. Hal yang baru di sini berupa ajaran-Nya yang baru.Ajaran Yesus Kristus yang baru ini berdampak luas. Kebencian para petinggi agama dikapitalisasi sedemikian rupa sehingga mereka seakan terbebas dari tangan berdarah. Itulah drama tragis yang dimainkan petinggi agama demi mempertahankan posisi untuk tidak bergeser dari ajaran turun-temurun. Mereka tidak merindukan suatu perubahan kebudayaan dan peradaban. Kematian Yesus menjadi puncak kapitalisasi kebencian, iri hati dan dendam.

Peradaban baru dimulai sesudah kebangkitan Yesus dari kematian-Nya. Keyakinan yang teguh bahwa Kristus Yesus yang telah menang atas maut akan terus memimpin umat-Nya melewati masa-masa sulit sekalipun, termasuk ketika covid-19 merayapi, membungkus hingga merebut dan merenggut nyawa satu per satu di antara kaum dan umat Tuhan. Kematian orang-orang terkasih tidak menyurutkan iman yang teguh, bahwa Yesus Kristus Tuhan terus menyertai. Ia, Imanuel, Allah beserta kita.

 

Koro’oto, 09 Januari 2021

Heronimus Bani