Tempat Peristirahatan Terakhir?

Tempat Peristirahatan Terakhir

Begitu membaca judul di atas, Anda sudah dapat memastikan tempat itu. Tempat peristirahatan terakhir, sudah pasti kuburan. Benarkah kuburan menjadi tempat peristirahatan terakhir? Boleh jadi, ya. Boleh jadi, kita perlu bertanya lagi; bukankah ada yang lebih dari sekedar beristirahat, yang dalam iman Kristen disebut sorga, tempat sukacita selamanya. Di sanalah tempat beristirahat terakhir selamanya tanpa duka. Tapi, biarlah orang menggunakan term itu, bahkan oleh pelayan (pendeta). Saya tergelitik untuk berpendapat belaka.

Secuil Urai tentang Kematian dan Kuburan dalam Budaya Atoin’ Meto’

Saya membatasi diri sebagai Atoin’ Meto’ dalam sub suku Amarasi khususnya Kotos. Pada kebudayaan Atoin’ Meto’ (termasuk Pah Amarasi-Kotos), seseorang yang tidak bernafas lagi sebagai akhir hidup akan mendapatkan nama indah seperti: ain ee namsoup goen ~ angin telah berakhir; nain jon een ~ telah meninggalkan dirinya.

Jenazah, sangat lazim disebut nitu. Lalu mendapatkan nama indah seperti amates ~ orang mati, uismina’ ~ tuan minyak, atau asaenenot ~ yang naik ke langit.

Selanjutnya hal lain yang berhubungan dengan kematian yaitu peti jenazah dan lubang kubur. Atoin’ Meto’ Pah Amarasi – Kotos menyebut peti jenazah dengan istilah noup paran ~ lubang kuburan pendek; dangkal; atau nama lainnya, panbuat ~ isi bersama-sama; dan lubang kubur disebut nopu mnanun ~ lubang kuburan panjang, dalam. Pada dua tempat inilah orang menempatkan jenazah. Menempatkan jenazah itu sendiri ke dalam dua tempat ini dinamai, pafa’  ~ artinya menyimpan secara terhormat. Oleh karena itu, orang akan berdoa sebelum mengangkat jenazah dan menempatkannya di dalam ruang peti jenazah. Hal yang sama yaitu upacara puncak yaitu ketika akan mengangkut jenazah di dalam peti jenazah yang sudah ditutup. Upacara itu puncak Subat diadakan ibadah menurut agama yang dianut oleh orang yang meninggal dan keluarganya. Sesudahnya, jenazah di dalam peti akan dikuburkan. Semuanya ini disebut pafa’.

Kemanakah roh yang menghidupkan itu pergi. Roh yang mendiami tubuh seseorang disebut smanaf. ketika menarik dan menghembuskan napas terakhir, smanaf keluar dari dalam tubuh orang itu bersama-sama dengan napas ~ snasaf. Jadi smanaf dan  snasaf merupakan dua hal yang berbeda tapi keduanya meninggalkan tubuh dalam satu tarikan. Snasaf berhenti total dalam keyakinan Atoin’ Meto’ Pah Amarasi – Kotos, sementara smanaf tidaklah demikian. Smanaf tetap hidup, sehingga ia mendapatkan julukan baru, nitu. Nitu dari orang yang meninggal ini diyakini kembali kepada induk leluhurnya yang disebut faut kanaf – oe kanaf, yang oleh karenanya ia harus singgah sebentar di fatu bian – hau bian ~ belakang batu dan kayu/pohon. Itulah sebabnya, sebahagian orang takut berjalan sendirian di malam hari bila seseorang baru saja meninggal dan dikuburkan.

Lalu, apakah jenazahnya yang dikuburkan di suatu tempat boleh disebut sebagai tempat peristirahatan terakhir? Mengapa bukan disebutkan sebagai jembatan menuju kehidupan kekalnete-ranan neu ‘honis abar-barat? Saya menduga bahwa tempat itu disebut tempat peristirahatan terakhir oleh karena selama hidup, tubuh itu tidak beristirahat secara total. Ia beristirahat ketika kelelahan bekerja. Ia berisitrahat ketika waktu istirahat tiba yaitu waktu malam untuk tidur. Ia beristirahat bila tubuh didera penyakit sehingga harus diistirahatkan dari segala bentuk kerja keras yang menguras tenaga dan olah pikirnya.

Apa Kata Alkitab?

Alkitab mempunyai banyak catatan tentang tokoh-tokohnya yang dicatat masa hidup dan kematian mereka. Saya tertarik dengan pernyataan Ayub sebagaimana tercatat dalam Ayub 19:25-26

Tetapi aku tahu: Penebusku hidup dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah

Suatu pernyataan iman yang luar biasa. Saya pastikan Anda pernah membaca bagian ini dan akan sangat terkesima dengan pernyataan Ayub, bukan? Pernyataan ini baik sekali untuk dirinya dan sekaligus juga menggambarkan akan suatu masa di depan, masa yang jauh dari masa hidup Ayub. Bukankah Yesus Kristus sebagai Penebus akhirnya  bangkit dari kematian-Nya? Ia bangkit di atas debu. Yesus Kristus pernah dikuburkan. Ini tidak lagi menjadi pengetahuan baru. Yesus Kristus telah bangkit. Setiap tahun kaum Nasrani/Kristen merayakan hari Kematian-Nya pada Jumat Agung. Setiap hari Minggu kaum Nasrani/Kristen mengadakan misa/kebaktian sebagai pengucapan syukur atas kemenangan Kristus atas maut. Ia telah bangkit meninggalkan debu.

Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring… (Mat.28:6)

Kalimat-kalimat pada kutipan ini diucapkan oleh malaikat yang berjumpa dengan Maria dari Magdala dan Maria yang lain ketika mereka pergi ke kubur Yesus untuk merempah-rempahi jenazah-Nya. Ternyata mereka mendapati kubur itu telah kosong.

Bila menggunakna term tempat peristirahatan terakhir, apakah Tubuh/Jenazah Yesus yang ditempatkan di dalam kubur itu sedang beristirahat? Anda yang sedang membaca mungkin mau memberi penjelasan? Lalu, Yesus bangkit dari kematian-Nya.

Ayub pun berkata, bahwa kulit tubuh saja pun, ia akan melihat Allah. Maka, kematian menjadi pintu untuk melihat-Nya. Lalu, mengapa kita kecewa pada kematian?

Sesuatu yang wajar secara manusiawi. Setiap orang yang meninggal pasti meninggalkan kesan mendalam pada kita. Kita akan sangat kecewa, menangis, meratap hingga meradang seakan dia yang meninggal itu satu-satunya harapan. Bukankah kematian menjadi jalan terbaik untuk bertemu dengan Tuhan? Jika demikian, baiklah kita yang hidup meratapi diri yang masih di dunia fana, yang oleh karenanya dipastikan masih akan berdosa, sekaligus ada kesempatan untuk berubah dan bertobat. Ketika masih hidup di muka bumi ini, baiklah kita berada dalam koridor kasih kepada sesama dan kepada Tuhan. Maka, yakinlah, kita tidak beristirahat di kuburan. Tubuh boleh tidur di sana, tetapi roh (smanaf) dan napas (snasaf) telah kembali kepada Khaliknya. Di sana ia bersuka tanpa istirahat, bukan?

Semoga pendapat ini tidak keliru.

 

Terima kasih.

 

Heronimus Bani

 

 

 

4 comments

  • Alexander

    Setuju kaka b sering berpendapat itu tempat singgah menuju kekekalan

  • Setuju kawan, Terima Kasih. Harapan sy kawan bisa tulis lg tentang korban darah “tul na'” menurut artikel orang So’E. dlm konteks Perjajian Baru yg telah terindoktrinasi dari Perjanjian Lama. Maaf, klw kawan irg Amarasi tapi sy minta tlg krn goresan penanya membawa pencerahan bg para pembaca termsk sy. Makasih….