Simpangan Hati

Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. Aku tahu bahwa untuk mereka tak ada yang lebih baik daripada bersuka-suka dan menikmati kesenangan hidup mereka.nDan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah. (Pengkhotbah 3:11b-13)

 

Seharian yang baru lalu hingga pagi ini (12-13/02/21) kaum Kong Hu Chu merayakan dan merasakan sukacita tahun baru Imlek dengan shio Kerbau Logam. Satu stasiun televisi swasta Nasional menayangkan kegiatan peribadahan penganut agama ini di suatu kota. Para pengunjung tempat ibadah diatur secara ketat agar mematuhi peraturan pemerintah tentang protokol kesehatan pencegahan menyebarnya virus korona.

 

Sebagai pemirsa saya mengikuti berita itu sampai akhir dan berganti berita lainnya seperti para pengguna moge yang melintasi kota Bogor dan Kabupaten Bogor tanpa dirazia aturan ganjil-genap dan operasi yustisi. Bupati dan Walikota dua daerah itu “geram” karena tidak satupun petugas yang sedang melaksanakan tugas di lapangan menghentikan mereka untuk maksud razia aturan protokol kesehatan dimana sedang berlaku Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

 

Berita menarik lainnya yaitu Kejaksaan Agung menyita sejumlah kapal dan kekayaan para terduga koruptor Asabri. Oh… Betapa korupsi sudah menjadi penyakit sosial yang kronis. Semakin dicegah makin merambah ke kedalaman relung hati bakal, calon dan pelaku koruptor.

 

Berita-berita tentang perayaan Imlek rasanya kurang mendapatkan sorotan padahal, hari itu sungguh suatu sukacita pada mereka para penganut Kong Hu Chu. Pedagang kecil yang menjual pernak-pernik Imlek merugi sekalipun mereka mengobral dagangannya.

 

Lalu, sebagai pemirsa televisi hati ini akan tertambat kemana agar menimbang kesetimbangan yang bijaksana menyikapi berbagai hal di sekitar. Saya memilih untuk menjadikan semua itu sebagai penghias jagad informasi yang menarik, mencemaskan dan mengenaskan manakala berhubungan dengan korban-korban dari suatu peristiwa kecelakaan misalnya seperti meledaknya satu kapal yang sedang berlabuh di dermaga Samarinda.

 

Hari makin larut ketika kami semestinya sudah pulas tertidur. Mereka yang saya kasihi telah pulas. Saya masih memilih menonton film yang ditayangkan stasiun televisi swasta nasional yang lain. Dua film saya tonton di dua stasiun televisi swasta berbeda. Keduanya saya tonton secara tidak tuntas karena bila iklan tiba chanel saya alihkan.

Semua berita itu danddan film serta banyak lagi berita terbaru yang setiap saat menghias cakrawala informasi. Semua itu bersifat pengetahuan umum yang datang silih-berganti yang kiranya menghibur, mendidik, menganjurkan bahkan mengingatkan agar tidak melakukan hal yang sama atau mirip sebab akan berdampak hukum.Ada pula di antaranya yang hendak membuka pintu kepedulian terhadap sesama.

Tuhan mengingatkan melalui Pengkhotbah, segala sesuatu itu ada dalam alur campur tangan-Nya. Ia dapat mengizinkan sesuatu terjadi sebagai nampak baik atau buruk pada pandangan mata manusia. Manusia baru menyadari dampak positif dari suatu peristiwa yang kiranya dipandang buruk itu.

Saya pindahkan Chanel televisi untuk menonton film yang lainnya.i Padal film satu ini berjudul Along with Gods: the Two Worlds. Saya hampir tidak paham alur ceritanya, namun simpulan yang dibuat dalam salah satu dialognya itu menjawab rasa penasaran saya. Simpulan itu yakni, semua manusia hidup dalam dosa, hanya sedikit orang yang berani meminta maaf, dan sedikit dari mereka yang mau memaafkan.

 

Suatu pesan etik dan moral yang mengesankan. Lebih daripada itu ada pesan Firman Tuhan dalam Mazmur 14:3

Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.

Sampai di sini saya merenung pada suasana di sekitar kehidupan keluarga-keluarga. Sangat sering orang saling berada dalam kekeliruan, kesalahpahaman, dan lain-lain hal yang menyebabkan adanya pemisahan rasa dan raga. Bila ada niat untuk saling memaafkan dan saling menerima, betapa indahnya hidup sebagai sesama saudara.

 

Akh… Hati pun masih ada simpangannya.

 

 

Koro’oto, 13 Februari 2021

Heronimus Bani