Pendeta Robot Berlaga

Pengantar

Robot dengan nama BlessU-2 mungkin merupakan robot pertama yang diperkenalkan Gereja di Jerman pada tahun 2017 ketika merayakan 500 tahun Reformasi. Robot BlessU-2 dapat mengucapkan berkat kepada umat/jemaat dalam empat bahasa yakni: Jerman, Inggris, Spanyol, dan Polandia. Robot ini dipamerkan dengan tujuan mengundang dan memicu perdebatan.

“Gagasan utamanya adalah untuk memicu perdebatan,” kata Stephan Krebs, salah satu penggagas pembaruan itu, sebagaimana yang diwartakan The Guardian, Selasa (30/5/2017).

Sekalipun mereka hanya tiba pada pemikiran itu, tetapi tidakkah itu sudah memicu polemik?

Robot sebagai Produk Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Dunia ilmu pengetahuan, teknologi dan seni tidak stagnan dalam perkembangannya. Selalu ada hal baru yang terus-menerus mencengangkan ketika orang tidak segera mengikuti perkembangannya. Satu produk tertentu selalu didasarkan pada hasil kajian ilmiah yang telah melewati prosedur percobaan berkali-kali sebelum dibawa ke ranah publik.

Robot sebagai salah satu produknya. Apa itu robot? Pertanyaan yang akan dengan mudah dijawab oleh awam sekalipun. Tetapi, apakah para awam sudah memanfaatkan robot dalam keseharian? Jawabannya, relatif. Nah, kembali ke pertanyaan di atas, apa itu robot?

“Robot adalah peralatan yang mampu melakukan fungsi-fungsi yang biasa dilakukan oleh manusia, atau peralatan yang mampu bekerja dengan intelegensi yang mirip dengan manusia.” Definisi ini dibuat oleh Computer Aid Manufacturing International, suatu perusahaan yang menciptakan robot untuk membantu manusia dalam tugas-tugasnya. Sementara itu Robotics Institute of America (RIA), membuat definisi yang kurang-lebih sama dengan CAM-I. Robot adalah peralatan manipulator yang mampu diprogram, mempunyai berbagai fungsi, yang dirancang untuk memindahkan barang, komponen-komponen, peralatan, atau alat-alat khusus, melalui berbagai gerakan terprogram untuk pelaksanaan berbagai pekerjaan.

Memperhatikan definisi dan perkembangan penciptaan robot di berbagai bidang kehidupan manusia, robot secara fakta sangat membantu manusia khususnya pada tugas-tugas yang membahayakan, atau mengancam nyawa. Perkembangannya makin gencar, walaupun seorang ahli bernama Prof.Pitoyo Hartono mengatakan, untuk menciptakan satu robot yang mirip manusia berjalan, dibutuhkan waktu selama 40 tahun, lalu membandingkannya dengan seorang anak yang sudah dapat berjalan ketika sudah berumur 2 tahun. Perbedaan yang sangat menyolok.

Penciptaan robot untuk menggantikan tugas dan fungsi yang semestinya dilakukan oleh manusia berdampak positif dari aspek kemanusiaan, yaitu memelihara kehidupan agar manusia yang melakukan tugas-tugas membahayakan itu merasa aman. Padahal, secara ekonomi dampaknya ada pada tergerusnya profesi tertentu dimana orang seharusnya berada di posisi itu, justru digantikan oleh robot. Robot tidak perlu digaji, manusia yang melaksanakan tugas itulah yang mesti digaji. Keuntungan diperoleh pada pengusaha yang memanfaatkan jasa dari robot.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa robot telah bekerja di berbagai bidang tugas. Industri-industri besar dan menengah, bahkan kini telah merambah sampai kepada pelayanan yang bersifat humanis. Rumah makan dan rumah sakit pun sudah ada yang mempekerjakan robot sebagai tenaga kerja. Lantas, apakah gereja akan mempekerjakan robot sebagai pelayan Firman Tuhan?

Robot sebagai Pelayan Firman Tuhan?

Kembali ke awal artikel ini ketika satu Gereja di Provinsi Hesse-Nasau Jerman memperkenalkan Robot yang melayani umat. Robot ini dapat diatur untuk mengikuti minat umat, misalnya dengan memintanya bersuara laki-laki atau perempuan. Ia dapat mengucapkan ayat-ayat alkitab yang dimintakan oleh umat, dan jika diperlukan ia mencetaknya pada lembaran-lembaran kertas untuk dapat dibaca oleh mereka yang memintanya. Ia dapat mengucapkan berkat kepada umat dengan kata-kata, “Tuhan memberkati dan melindungi.”

Jika robot dapat melakukan tugas dan fungsi sebagaimana manusia, hal ini bukan sesuatu yang tabu sebagaimana sudah diurai secara singkat tadi. Bahwa suatu tugas yang dianggap membahayakan atau mengancam jiwa manusia, di sana robot boleh mendapatkan posisi itu sekalipun ada plus-minusnya. Lalu, tugas pewartaan dan penggembalaan bila diserahkan kepada robot, apakah menjadi sesuatu yang wajar pada zaman ini?

Gereja Protestan di Provinsi Hesse-Nasau Jerman sudah mempelopori adanya robot sebagai pelayan umat. Mereka telah mengundang polemik di sana, dan mungkin juga di dunia kekristenan pada umumnya. Sebagai awam saya belum melihat polemik itu di sekitar gereja di Indonesia hingga GMIT. Semoga saya keliru. Tetapi, satu hal yang sangat pasti, kecepatan merambatnya produk-produk teknologi di segala bidang kehidupan akan merambah sampai kepada gereja di Indonesia, termasuk gereja-gereja di Timor (GMIT).

Pada masa kini dan nanti ketika berbagai virus mendera alam semesta dengan menebar ancaman kematian secara masif, robot menjadi pilihan pelayanan. Robot sebagai barang mahal dan mewah, tetapi sekaligus tidak akan terpapar virus yang menyerang tubuh manusia. Ia terprogram secara tetap untuk melakukan tugas-tugas secara tetap.

Para pendeta dapat menulis khotbah yang diinjeksikan dalam chip milik sang robot yang memiliki daya ingat dan simpan secara artifisial dalam waktu yang lama. Ia dapat dimintakan untuk mengulang lagi, dan lagi selama masih ada kerinduan untuk mendengar atau menyaksikan suatu vidio pelayanan yang dibawa dalam program milik sang robot pelayan. Lalu, pendetanya akan duduk manis tanpa mencemaskan kesehatannya karena telah digantikan oleh robot. Robot dapat disentuh. Ia pun dapat menyentuh mereka yang ditemui, menyalami dengan doa dan berkat. Doa dan berkat telah pula diprogram, penggunanya tidak mengalami kesulitan karena semuanya telah terprogram sehingga kemudahannya adalah, klik.

Apakah kelak hal seperti itu yang akan berlaku di dalam gereja-gereja di dunia ini? Apakah mesin yang akan memimpin penyembahan kepada Tuhan yang diimani sebagai Yang Hidup. Jadi perantara kita dengan Tuhan adalah benda tanpa nyawa tetapi bernaluri ipteks. Ia tanpa sel darah, aliran darah dan tanpa perubahan rona pada wajahnya. Emosinya selalu stabil saja, kering. Dinamika suaranya dapat naik-turun seturut program. Lalu manusia akan bertingkah di depannya mengikuti aba-abanya. Akankah kita sama seperti kaum Isra’el (Ibrani) yang membuat anak lembu emas?

Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: “Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami, … (Kel.32:1a)

Tengokahlah frase yang akan berjalan di depan kami… Ketika salah satu di antara kita menjadi pemimpin, ada masanya merasa bosan, muak dan tidak nyaman dengannya. Saat pemimpin yang satu tidak lebih baik daripada pemimpin yang lainnya, senantiasa ada konflik kepentingan di dalamnya. Lalu, siapakah yang dapat menjadi penengah? Rupanya, benda yang dapat diciptakan manusia merupakan solusinya. Lantas,apakah ciptaan itu dapat memberi solusi terbaik? Alkitab berkata,

Berfirmanlah Tuhan kepada Musa: “Pergilah, turunlah, sebab bangsamu yang kaupimpin keluar dari tanah Mesir telah rusak lakunya. Segera juga mereka menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka, mereka telah membuat anak lembu tuangan, dan kepadanya mereka sujud menyembah dan mempersembahkan korban, sambil berkata: ‘Hai Israel, inilah Allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir.” (Kel. 32:7-8)

Benda ciptaan manusia menjadi pemimpin, berdiri di depan mereka. Ia tidak berkata-kata, tetapi dikagumi dan dihormati. Tuhan bekata, manusia seperti itu telah rusak lakunya, menyimpang dari jalan yang diperintahkan-Nya.

Dari aspek ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, benda ciptaan itu, anak lembu emas dan robot tentulah suatu mahakarya seni dengan ide brilian. Tetapi, tentang menjadikannya pemimpin, apalagi menjadi tuan, Tuhan yang disembah, hal itu telah merusak akhlak, merombak keimanan kepada Tuhan yang diyakini sebagai sumber hidup dan Pencipta segala sesuatu. Bahwa robot dapat diprogramkan untuk berbicara dengan manusia, ya. Tetapi, bukankah robot tak memiliki emosi (perasaan)?

Suatu pelayanan gerejawi yang bernilai terletak pada pertemuan yang intens antar orang perorangan, kelompok hingga komunitas. Setiap pendeta memiliki metode dan dinamika yang saling berbeda untuk menyampaikan ulasan Firman Tuhan. Mereka mempunyai perasaan yang kiranya tergambarkan dari kata-kata yang diucapkannya, mimik dan gesturnya. Yesus bertemu, berbicara dan bahkan melakukan sesuatu pada orang-orang yang ditemui-Nya. Ia bahkan mengecam kita bila dengan kata-kata,

… Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak … (Luk.19:40)

Jadi, jika umat/jemaat yang menyembah Tuhan di dalam persekutuan ibadah (misa, kebaktian) kelak akan digantikan oleh robot, bukankah kata-kata Yesus telah terbukti. Robot berbicara tanpa emosi (perasaan). Ia memimpin penyembahan kepada Tuhan. Manusia tunduk mengikuti aba-aba karena kebodohannya sendiri. Manusia menciptakan benda dan menempatkannya sebagai pemimpin atau perantara pada tugas-tugas dan fungsi pelayanan yang membutuhkan sentuhan perasaan. Batu akan berteriak, robot pelayan gerejawi akan berbicara secara terprogram. Ia akan mengikuti kemauan umat atau jemaat. Bukankah ini suatu perkembangan dalam peradaban yang merusak laku dan akhlak manusia khususnya dalam kehidupan keimanan?

Penutup

Akhir-akhir ini pendekatan protokol kesehatan makin diperketat. Kegiatan apapun harus mematuhi protokol kesehatan, terlebih bila harus berurusan dengan banyak orang yang berpotensi adanya kerumunan. Persekutuan Ibadah (misa, kebaktian) umat/jemaat secara live streaming menjadi solusi untuk mencegah kerumunan massa. Hal ini tentu baik adanya demi memelihara kehidupan yang Tuhan berikan pada umat-Nya.

Keseringan atau bahkan selalu berada dalam situasi beribadah dalam jaringan (live streaming) akan berdampak pada ikatan emosional yang makin mengendur. Hubungan antarpersonal makin kendur sekalipun telepon dan berbagai aplikasi memudahkan.

Robot menjadi solusi berikutnya yang sekaligus akan menjadikan akhlak dan laku kita makin rusak saja. Gereja-gereja di Indonesia (salah satunya GMIT) belum sampai pada titik dimana robot menjadi pilihan pengganti manusia sebagai pelayan. Kecanggihan alat ciptaan manusia ini akan sampai di kota-kota dalam industri menengah termasuk layanan publik untuk mencegah merambatnya virus penyebar penyakit pemusnah massal.

Mari kita terus berada di Jalan Lurus milik Tuhan. Ia tidak menghendaki ciptaan-Nya menciptakan alat, benda atau barang yang kiranya menjadi kebanggaan semu, lalu pada saat yang sama melupakan Tuhan. Alat, benda atau barang ciptaan manusia berguna untuk manusia dalam fungsi terbatas. Ia tidak mengantar manusia memahami dan mendalami imannya.

 

Koro’oto, 18 Februari 2021
Heronimus Bani