Anda sudah Berpuasa?

Surat Edaran Pemerintah Daerah/Kota tentang Berdoa dan Berpuasa

Pemerintah Kabupaten Rote-Ndao dan Kota Kupang telah menyerukan doa dan puasa kepada masyarakat di dua daerah otonom ini. Bupati Rote-Ndao, Paulina Haning-Bullu, SE mengeluarkan suatu Maklumat untuk Berdoa dan Berpuasa dalam Menghadapi Pandemi Covid-19. Maklumat ini ditujukan kepada  Pemimpin Organisasi Keagamaan dan Masyarakat Kabupaten Rote-Ndao. Maklumat tertanggal 1 Pebruari 2021 mendapat respon dan apresiasi dari seorang Pendeta (yang jika boleh) aktif sebagai Pengkhotbah via Youtuber (Youtuber). Umat Kristen terberkati dengan siraman rohani sang Pendeta yang menggunakan pendekatan berbahasa lokal, bahasa yang paling mudah dimengerti oleh pendengarnya. Bahasa Melayu Kupang yang dicampuradukkan dengan Bahasa Indonesia, sering sekali menggelitik pada sasaran.

Bukan hanya Bupati Rote-Ndao yang mengeluarkan surat itu, tetapi Walikota Kupang, Dr. Jefry Riwu Kore (Jeriko) juga mengeluarkan surat himbauan tertanggal 6 Pebruari 2021 yang ditujukan kepada para Pemimpin Organisasi Keagamaan dan Masyarakat Kota Kupang untuk berdoa dan berpuasa. Kompas TV merespon dengan menyebarluaskan surat ini sebagai suatu berita baik untuk secara bersama menangani penyebaran virus korona di berbagai daerah, dimana salah satunya dengan berdoa dan berpuasa sebagai umat yang ber-Tuhan.

Persoalan kita sekarang ketika mengetahui adanya dua Kepala Daerah mengeluarkan surat himbauan agar sebagai penganut agama apapun, kita mesti secara sukarela berdoa dan berpuasa. Di sini kita patut bertanya, apakah kedua Kepala Daerah ini memahami substansi dari suatu tindakan berpuasa secara massal? Lebih spesifik, apakah kedua Kepala Daerah ini sadar model dan pendekatan doa dan puasa dalam agama yang dianut masyarakatnya?

Kata Alkitab Tentang Puasa.

Pada hari yang kesepuluh bulan yang ketujuh itu haruslah kamu mengadakan pertemuan yang kudus dan merendahkan dirimu dengan berpuasa, maka tidak boleh kamu melakukan sesuatu pekerjaan (Bil.29:7)

Puasa sebagaimana terlihat pada Bilangan 29:7 ini dilakukan oleh umat Israel pada masa tertentu. Masa yang ditentukan oleh Tuhan yaitu setiap tanggal 10 bulan Ketujuh dalam Kalender Ibrani. Ayat sejajar dengan Bilangan 29:7 ini tertulis dalam Imamat 16:29

Inilah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu, yakni pada bulan yang ketujuh, pada tanggal sepuluh bulan itu kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa dan janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan, baik orang Israel asli maupun orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu.

Melihat dan membaca dua ayat alkitab ini, ada unsur penting yang mesti menjadi perhatian kita bila kita mau mengikuti jejak umat Israel dalam hal berpuasa.

  • Ada yang menetapkan waktu berpuasa. Oknum yang menetapkan waktu berpuasa di sini adalah Tuhan Allah sendiri. Ia menyampaikannya kepada hamba-Nya, Musa. Ketetapan waktu itu jelas dan terang.
  • Ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu: 1) semua orang harus merendahkan diri dalam puasa. Kira-kira maknanya semua orang harus duduk bersama dalam suatu ibadah dan doa dalam satu satuan waktu yang sama. Dalam satuan waktu yang sama itu, semua orang harus berpuasa (tidak makan dan tidak minum); 2) siapa pun tidak boleh atau dilarang bekerja pada hari berpuasa itu. Syarat kedua ini amat jelas. Jadi bekerja sebagai suatu keharusan pada kita untuk mendapatkan “sesuap nasi” dilarang pada waktu yang ditentukan untuk merendahkan diri dengan berpuasa itu.

Jika merujuk pada ayat alkitab di atas untuk pelaksanaannya secara riil, maka semestinya suatu daerah akan mengalami suatu situasi yang sepi dan hening. Tenang tanpa hingar-bingar rutinitas pekerjaan. Kira-kira sama seperti Hari Raya Nyepi umat Hindu.

Ada pula model puasa tidak seutuhnya “melaparkan dan menghauskan” diri yang juga tercatat di dalam Alkitab. Daniel dan kawan-kawannya berpuasa. Mereka tidak seutuhnya berpuasa dalam pengertian tidak makan dan tidak minum. Mereka tetap makan dan minum tetapi pada makanan tertentu bagi mereka tidak pantas untuk dimakan dan diminum. Mereka berpuasa pada makanan dan minuman yang tidak pantas itu. Sementara makanan atau minuman lain bagi mereka boleh dimakan dan diminum. Ini pun berpuasa secara terbatas.

Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya. (Dan.1:9)….

 

Ayat alkitab ini dan cerita yang mengawali dan seterusnya bila kita membaca kitab Daniel 1, kita mengetahui dari sana informasi mengenai upaya melarang diri sendiri untuk tidak makan dan tidak minum semua yang disiapkan secara mewah dan istimewa dari hidangan yang biasanya disiapkan untuk raja. Artinya, Daniel dan kawan-kawan semestinya bersyukur sebagai orang buangan, mereka diperlakukan secara istimewa di istana raja Babel. Tetapi, Daniel, dan kawan-kawan justru memilih cara makan-minum yang berbeda. Suatu sikap dan tindak keberanian yang patut dicemasi. Mengapa? Bukankah mereka orang-orang buangan yang dibawa masuk ke sarang penguasa, (tahanan politik mungkin) sehingga akan dengan mudah dihukum?

Puasa pada makanan tertentu diberlakukan pada diri sendiri dalam satu satuan waktu tertentu. Hal ini dilakukan Daniel dan kawan-kawan. Mereka tidak makan dan minum dari makanan yang disiapkan untuk raja. Mereka memilih makanan dan minumannya sendiri untuk dibuatkan percobaan yang membandingkan orang-orang muda yang makan dan minum dari hidangan raja dengan Daniel dan kawan-kawannya itu. Waktu yang ditentukan selama 10 hari. Hasilnya terlihat, Daniel dan kawan-kawannya jauh lebih sehat bahkan Tuhan memberikan kepada mereka hikmat dan pengetahuan melebihi kebanyakan kalangan pemuda.

Puasa lain masih ada tercatat di dalam Alkitab. Saya membatasi untuk mencatat seluruhnya. Saya mengutip catatan bagaimana Yesus berpuasa.

Yesus yang penuh dengan Roh Kudus kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. Di situ Ia tinggal empat puuh hari lamanya dan dicobai Iblis. Selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar. (Luk.4:1-2).

Merujuk ayat ini, kiranya puasa yang dilakukan Yesus terlihat seperti puasa makan saja. Perhatikan kalimat selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar. Ia tidak makan apa-apa. Ia puasa pada makanan. Tetapi, waktunya selama 40 hari (siang) dan 40 malam. Tidakkah hal ini sangat memberatkan? Tubuh manakah yang dapat bertahan selama 40 hari dan 40 malam tanpa sebutir nasi? Hal ini kemudian menjadi suatu tindakan puasa yang luar biasa. Yesus bertahan dalam kondisi tidak makan apa-apa. Apakah Anda dapat mengikuti cara ini?

Padahal puasa yang dilakukan Yesus bukan sesuatu yang luar biasa, puasa makan. Yesus tidak mengalami kekurangan cairan (dehidrasi) dalam tubuh-Nya selama 40 hari dan 40 malam. Namun, satuan waktu untuk tidak makan apa-apa itu sangat lama, sehingga akhirnya Ia lapar. Ketika lapar, Iblis pun mendatangi-Nya dengan godaannya.

Musa pernah dua kali berpuasa dengan satuan waktu seperti itu, 40 hari dan 40 malam. Puasa untuk menerima Hukum-hukum Tuhan (Ul.9:9) dan puasa untuk menebus dosa-dosa umat Israel yang membangun anak lembu emas dan menyembah kepadanya (Ul.9:18).

Kota Niniwe pernah berpuasa demi mengetahui bahwa Tuhan akan menghukum mereka jika masyarakat kota itu tidak bertobat (Yunus 3).

Dan masih banyak lagi kisah-kisah para tokoh dan masyarakat kota atau tempat tertentu di dalam catatan Alkitab tentang puasa.

Melaksanakan Maklumat dan Himbauan Bupati dan Walikota

Kembali ke topik Anda sudah berpuasa? Jika mengantarkan kalimat tanya itu untuk masuk ke dalam Maklumat dan Himbauan Bupati Rote-Ndao dan Walikota Kupang, pertanyaannya menjadi, Apakah Anda sudah berpuasa mengikuti Maklumat Bupati Rote-Ndao? Atau, Apakah Anda sudah berpuasa mengikuti Himbauan Walikota Kupang?

Sebagai masyarakat di Kabupaten Rote-Ndao dan Kota Kupang, siapakah yang sudah berdoa dan berpuasa? Mungkin ada di antaranya. Kita patut bertanya, apakah Bupati Rote-Ndao, Paulina Haning-Bullu, SE dan Walikota Kupang, Dr. Jefry Riwu Kore sudah berdoa dan berpuasa? Sejujurnya pasti kita mendapatkan jawaban, sudah berdoa dan berpuasa. Kita ajukan pertanyaan berikutnya, berapa lama waktu yang dipakai berpuasa? Kemudian, pendekatan manakah yang dipakai? Apakah tidak makan dan tidak minum, atau makan dan minum sebahagian? Apakah doa dan puasa sambil tetap bekerja atau seluruhnya komponen harus “tiarap” dalam doa dan puasa seperti raja dan masyarakat kota Niniwe?

Saya ingat himbauan MS GMIT ketika pandemi mulai merambah tiba di wilayah pelayanannya. Seluruh Jemaat diminta berdoa setiap jam 9 malam. Lonceng-lonceng gereja dibunyikan. Pada setiap jam 9 malam warga GMIT di tiap rumah tangga berkumpul, membaca alkitab, bernyanyi, dan berdoa. Lalu, kini kita bertanya, apakah pendekatan itu masih berlangsung sampai sekarang, atau jemaat-jemaat dalam lingkungan pelayanan GMIT sudah enggan melakukannya?

Kembali kepada masalah berdoa dan berpuasa sebagaimana yang dimaklumatkan dan dihimbaukan oleh kedua Kepala Daerah itu. Kita belum mendengar cerita atau membaca berita tentang dampak dari doa dan puasa sebagaimana maklumat dan himbauan itu. Kedua Kepala Daerah sebagai orang ber-Tuhan sudah melakukan suatu tugas yang teramat berbeda. Menyurati para pemimpin organisasi keagamaan dan masyarakatnya untuk berdoa dan berpuasa. Dogma puasa antarumat beragama saling berbeda, sehingga tidak secara mudah maklumat dan himbauan itu dapat dilaksanakan. Bahwa berdoa saja belum tentu dapat dilakukan oleh orang-orang yang mengaku ber-Tuhan, lalu bagaimana berpuasa? Siapakah yang menjadi petugas monitoring pelaksanaan doa dan puasa di tengah-tengah masyarakat? Maklumat dan himbauan itu bersifat moral dan etis belaka. Masyarakat dapat atau tidak melaksanakannya, tidak satupun di antara kedua pejabat itu yang dapat menjatuhkan sanksi.

MS GMIT bukan organisasi keagamaan yang boleh diatur oleh Pemerintah. Sinergi dan koordinasi antar institusi pemerintah dan organisasi keagamaan (dhi. MS GMIT) menjadi pendekatan berharga. Maka, MS GMIT mengeluarkan surat tertanggal 11 Februari 2021 yang isinya mengajak anggota dalam Jemaat-Jemaat GMIT untuk berpuasa setiap hari Jumat selama 7 kali Minggu Sengsara.

Apakah surat dari MS GMIT segera tiba di tangan para Ketua Majelis Klasis dan Ketua Majelis Jemaat untuk segera diwartakan dan diikuti dengan pelaksanaannya?

Mungkin sudah, mungkin belum. Mungkin ada yang melaksanakan secara baik pada hari Jumat Minggu Sengsara I, dan seterusnya sampai 7 kali hari Jumat.  Lalu kita akan melihat dampaknya.

Saya menyadari bahwa berdoa dan berpuasa bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilaksanakan. Pemerintah hanya dapat menghimbau, demikian pula Majelis-Majelis secara berjenjang (MS, MK, MJ). Himbauan itu selalu bersifat moral dan etika. Himbauan itu harus diikuti dengan tindakan nyata dari mereka yang memberikan himbauan.

Oleh karena itu, kiranya kita perlu merenung lagi pada kata-kata Yesus

“Dan apabila kamu berpuasa, janganah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalas kepadamu.” (Mat.6:18-18).

Saya akhiri tulisan saya ini di sini. Kiranya MS GMIT dan para Kepala Daerah yang merindukan adanya puasa, mungkin perlu duduk bersama mengkaji dampak dari maklumat dan himbauan untuk berdoa dan berpuasa. Duduk bersama itu perlu pula dihadiri pemimpin organisasi keagamaan lainnya seperti Keuskupan Agung, Sinode Gereja Denominasi, Majelis Ulama Indonesia wilayah, dan lain-lain.

Hal berdoa, siapapun dapat melakukannya, tetapi hal berpuasa, tidak semudah mengatakannya. Bukankah ada kondisi tertentu yang kiranya mesti menjadi perhatian dalam berpuasa?

Mari, bila masyarakat Rote-Ndao dan Kota Kupang sudah dihimbau dan mungkin ada yang melakukannya. Bila anggota-anggota dalam jemaat-jemaat GMIT telah dimintakan berpuasa tujuh kali dalam perayaan tujun Minggu Sengsara Yesus, mungkin sudah ada yang melakukannya. Saya lebih sadar bahwa saya tidak dapat melakukannya. Sementara itu, Anda sudah berpuasa?

 

Koro’oto, 19 Februari 2021

Heronimus Bani

2 comments

  • Marthinus Ora

    *Selamat siang pak Bani.* 👏🏻👏🏻👏🏻
    _Wah, seru nih utk dibahas._
    *Saya secara pribadi mohon maaf kalau saya katakan; “berhati²lah dalam mengutarakan/mengatakan sesuatu apalagi menghimbau secara publik.” Karena TUHAN menyelidiki hati, buakan apa yang kita lakukan*
    _Jangan sampai terkesan najis. Karena apa yang keluar dari mulut, berasal dari hati. (Pesan dari Junjungan kita, TUHAN Yesus Kristus)._
    *Nah, pemahaman saya pribadi ttg masalah “berdoa dan berpuasa” itu mengenai urusan pribadi tiap² orang dengan TUHAN yang tentunya berdasarkan niat yang benar² timbul dari hati, apa yang ingin disampaikan kepada TUHAN. Jadi menghimbau boleh, tp harus di dahului pendekatan, pemahaman mengenai apa maksud dan tujuan yang ingin diniatkan kepada TUHAN. Bukan himbauan secara instan begitu.*
    _Memang setiap orang yang beragama bahkan yang tidak mengenal Tuhan pun pasti pernah berdoa dan melihat/mendengar orang berdoa. Pertanyaannya; apakah setiap kata yang kita ucapkan dalam doa kita benar² dari hati dan sejalan dengan hati kecil dan pikiran kita? Disinilah kita harus jujur secara pribadi._

    _Marilah kita merenung; apakah selama ini kita masing² sudah berlaku benar sesuai dengan apa yang dikehendaki TUHAN?_
    _Wajib kita minta bimbingan Roh Kudus dan memberikan hikmat-Nya agar kita dapat menjalani hidup ini dengan benar._

    *Janganlah di kala ada bisikan hati dan atau kita menelan mentah² apa kata orang tapi mintalah hikmat TUHAN agar kita terhindar dari kesesatan.*

    _Ingat! Akan tiba saatnya, nabi² palsu timbul dimana-mana. Sadarkah kita akan hal ini, apakah ini saatnya nabi² palsu itu muncul? Entahlah!_

    *Kiranya hikmat TUHAN selalu menuntun, membimbing kita dalam kehidupan kita masing². TUHAN Yesus Kristus memberkati kita semua.* 👏🏻👏🏻👏🏻

  • Moti Marlino Ora

    *Selamat siang pak Bani.* 👏🏻👏🏻👏🏻
    _Wah, seru nih utk dibahas._
    *Saya secara pribadi mohon maaf kalau saya katakan; “berhati²lah dalam mengutarakan/mengatakan sesuatu apalagi menghimbau secara publik.” Karena TUHAN menyelidiki hati, buakan apa yang kita lakukan*
    _Jangan sampai terkesan najis. Karena apa yang keluar dari mulut, berasal dari hati. (Pesan dari Junjungan kita, TUHAN Yesus Kristus)._
    *Nah, pemahaman saya pribadi ttg masalah “berdoa dan berpuasa” itu mengenai urusan pribadi tiap² orang dengan TUHAN yang tentunya berdasarkan niat yang benar² timbul dari hati, apa yang ingin disampaikan kepada TUHAN. Jadi menghimbau boleh, tp harus di dahului pendekatan, pemahaman mengenai apa maksud dan tujuan yang ingin diniatkan kepada TUHAN. Bukan himbauan secara instan begitu.*
    _Memang setiap orang yang beragama bahkan yang tidak mengenal Tuhan pun pasti pernah berdoa dan melihat/mendengar orang berdoa. Pertanyaannya; apakah setiap kata yang kita ucapkan dalam doa kita benar² dari hati dan sejalan dengan hati kecil dan pikiran kita? Disinilah kita harus jujur secara pribadi._

    _Marilah kita merenung; apakah selama ini kita masing² sudah berlaku benar sesuai dengan apa yang dikehendaki TUHAN?_
    _Wajib kita minta bimbingan Roh Kudus dan memberikan hikmat-Nya agar kita dapat menjalani hidup ini dengan benar._

    *Janganlah di kala ada bisikan hati dan atau kita menelan mentah² apa kata orang tapi mintalah hikmat TUHAN agar kita terhindar dari kesesatan.*

    _Ingat! Akan tiba saatnya, nabi² palsu timbul dimana-mana. Sadarkah kita akan hal ini, apakah ini saatnya nabi² palsu itu muncul? Entahlah!_

    *Kiranya hikmat TUHAN selalu menuntun, membimbing kita dalam kehidupan kita masing². TUHAN Yesus Kristus memberkati kita semua.* 👏🏻👏🏻👏🏻