Selamat Ulang Tahun Kamu yang di Sana?

Selamat Ulang Tahun Kamu yang di Sana?

Beragam tulisan pendek dapat kita baca pada dinding aplikasi media sosial, facebook. Di sana ada dinamika emosi dimainkan oleh para pengguna media ini sedemikian rupa sehingga para sahabat dapat memberikan kemungkinan pilihan suka, suka sekali, peduli, sedih, bahkan marah dan lain-lain. Kalimat pendek seperti judul tulisan kali ini, selamat ulang tahun kamu yang di sana atau halo kamu yang di sana, apa kabar? Ada lagi seperti ini, kamu pasti sudah bahagia bertemu dengan saudaramu, dan sejumlah kalimat lain yang disasarkan kepada orang yang sudah meninggal. Mengapa disasarkan kepada orang yang sudah meninggal? Karena foto/gambar dari orang yang sudah meninggal ditempatkan pada dinding atau beranda akunnya. Wajah orang yang sudah meninggal tidak hilang ketika tersimpan rapi dalam jejak digital pengguna feisbuk. Maka, ketika feisbuk mengingatkan secara otomatis, penggunanya bagai mendapat kabar baik dan baru, sehingga memberikan respon dengan tulisan (caption) seperti yang saya coba rangkum di atas.

Kita boleh bertanya, apakah para almarhum atau almarhumah sedang merasakan apa yang sedang Anda rasakan ketika menulis caption seperti itu? Entahkah kaum ber-Tuhan di dalam Yesus Kristus meyakini bahwa ada kehidupan sesudah kematian, tetapi komunikasi orang yang hidup di balik sana hanyalah suatu kesia-siaan?

Banyak tokoh di dalam alkitab yang dinyatakan meninggal dunia, dikuburkan dengan upacara tertentu menurut tindak kebudayaan masyarakat pada masa itu. Kita ingat cerita bagaimana Abraham hendak menguburkan jenazah Sara, isterinya. Ia membeli sebidang tanah sekaligus tanaman yang ada di sana. Sebidang tanah itu terdapat satu goa yang sekaligus dimanfaatkan Abrahaman untuk menguburkan isterinya itu (Kej.23). Apakah sesudah kematian Sara, Abraham akan sering mengirim pesan kepada sang isteri tercintanya itu yang rohnya hidup di balik sana?

Mari kita lihat tokoh alkitab lain yang kuburannya dikunjungi lalu rohnya dipanggil. 1 Samuel 28 menceritakan tentang Saul yang menggunakan jasa orang yang mampu memanggil arwah (roh orang mati). Orang yang memberikan jasanya kepada Saul, berhasil memanggil arwah dari Samuel yang sudah meninggal dunia. Dialog dibangun antara Saul dan arwah Samuel. Apakah Samuel mengucapkan berkat kepada Saul? Tidak! Ia justru menyatakan kepada Saul hal-hal yang akan mencelakakannya. TUHAN menyerahkan Saul dan orang-orangnya ke tangan musuh mereka. Kematian menjemput mereka untuk bersama-sama dengan arwah Samuel di dunia dimana Samuel berada (28:19).

Banyak tokoh di dalam alkitab yang meninggal, kuburannya tidak dikultuskan dan disembah. Jasa baik mereka dikenang, ya. Mereka tidak boleh lagi disanjung-sanjung bagai junjungan (tuan, tuhan, dewa, dewi) baru.

Tokoh alkitab seperti Yesus. Ia hidup dalam pelayanan dalam waktu yang singkat. Menurut Yohanes, karya-karya Yesus menurut tak dapat dituliskan satu per satu, karena agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis (Yoh.21:25).

Kita mengetahui bahwa Yesus yang disengsarakan hingga disalibkan dan mati di palang salib, Ia dikuburkan. Ia ditangisi. Kuburan-Nya dijaga dan hendak dirempah-rempahi oleh perempuan-perempuan yang berkunjung untuk maksud itu. Tetapi, apa yang terjadi? Mereka tidak menemukan jenazah-Nya. Raga-Nya telah tiada. Ia bangkit dari kematian.

Hal kebangkitan Yesus dari kematian-Nya menjadi alasan yang teramat kuat untuk membangun keimanan umat.

…jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. (1 Kor.15:17).

Yesus yang Manusia Tulen telah menjadi Tuhan. Ia dimuliakan. Dialah yang patut dimuliakan. Segala pujian dan sembah hanya kepada-Nya. Kita tidak diperkenankan menyembah kepada arwah orang-orang yang telah meninggal dunia. Keliru bila orang menyapa mereka yang meninggal dunia dengan sapaan selamat ulang tahun, dan lain-lainnya itu. Siapakah memastikan mereka sedang berulang tahun di dunia yang berbeda dengan dunia kita di permukaan bumi ini?

Sering pula ada pernytaan, jadilah pendoa pada kami. Mungkinkah ada ayat alkitab yang dapat menjadi rujukan atau acuan kita untuk mengatakan seperti itu? Saya mesti jujur, saya tidak mengetahuinya.

Bila melansir berbagai berita kebudayaan tentang arwah, pada budaya orang Tionghoa arwah dapat diajak untuk berdoa bersama dengan memohon izin dari Tuhan.

Bila Anda memiliki keluarga, saudara, sahabat atau siapa pun yang sudah meninggal dan berminat mendoakannya, ajaklah juga arwah atau jiwanya berdoa bersama.

“Lebih baik mereka berdoa sendiri saja karena merekalah yang paling tahu doa apa yang mereka perlukan,”ujar Herwiratno, pria yang sudah ribuan kali berkomunikasi dengan arwah.

Menurut Herwi yang juga dosen sastra Cina ini, para arwah ini sudah tidak lagi memiliki rasa. Karena itu, kalau berdoa tak lagi bisa tersambung rasa dengan Tuhan.

Karena itu doa bersama itu penting supaya kita yang masih menjadi manusia bisa meminjamkan rasa kita untuk mereka. Ketika arwah-arwah itu bisa berdoa sendiri, maka tidak hanya bisa mendoakan diri mereka sendiri tetapi juga bisa mendoakan yang lain-lain.

Herwiratno menyebutkan, setidaknya ada dua cara mendoakan arwah, secara pasif dan aktif. Berdoa secara pasif maksudnya Anda mengajak arwah atau jiwa-jiwa lain berdoa bersama tanpa perlu menunggu permintaan (gangguan) mereka.

“Doa ini dilakukan bersamaan dengan waktu Anda berdoa saja,”ujar penulis buku “Hidup Tidak Lenyap Hanya Berubah.”

Caranya, ketika Anda mulai berdoa, cukup buka dengan kalimat mohon izin kepada Tuhan, bunyinya,”Tuhan mohon izin untuk mengajak jiwa si A dan si B atau jiwa siapa pun yang berada di sekitar sini untuk berdoa bersama.”

Kalimat ini, kata Herwi, diniatkan sekaligus sebagai undangan kepada para arwah untuk berdoa bersama. Setelah itu, silakan Anda berdoa sendiri sesuai yang Anda inginkan. Namun sempatkan untuk diam hening beberapa saat dan beri kesempatan para arwah meminjam rasa batin Anda untuk berdoa pribadi sesuai keperluan masing-masing.

“Saat hening itulah, Anda bisa membuka batin untuk berkomunikasi. Bisa jadi mereka akan menyampaikan pesan-pesannya atau meminta bantuan. Syaratnya Anda harus percaya,” tutur Herwi. (liputan6.com)

Apakah dalam keKristenan terdapat ajaran yang demikian? Tidak ada. Maka, memintakan para arwah berdoa untuk orang-orang yang masih hidup suatu kekeliruan dalam penghayatan akan ajaran dan kepercayaan Kristen.

Dalam ajaran Kristen hanya Roh Kudus yang dapat mendoakan kita ketika kita lemah.

Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh itu sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus. (Roma 8:27-27)

 

Jadilah orang-orang hidup yang berdoa kepada Tuhan di dalam Nama Yesus, bukan meminta para arwah berdoa untuk kita yang masih hidup. Hanya orang hidup yang berdoa sebagaimana Yesus mengajarkannya kepada kita. Bacalah Lukas 11: 2-4 dan Matius 6:5-15

 

Koro’oto, 24 Februari 2021

Heronimus Bani

 

 

One comment

  • Clara Bani

    Orang Ber iman pasti Tidak sekalipun Berharap dpa arwah org mati…memang tidak salah untuk di kenang tetapi cukup hanya di kenang tak perlu berharap.