Koro’oto dalam Puasa dan Doa Jumat Kedua Minggu Sengsara Yesus Tahun 2021

Kebijakan Berpuasa dan Berdoa dalam GMIT

Dalam Masa Raya Sengsara Yesus tahun 2021 ini, Majelis Sinode GMIT memandang perlu mengeluarkan suatu kebijakan organisasi. Kebijakan organisasi keagamaan GMIT kali ini tentang doa dan puasa. Hal ini disadari perlu ada, kiranya “wajib” dilakukan oleh anggota jemaat baik secara individu, keluarga-keluarga dan komunitas hidup berjemaat. MS GMIT mempunyai alasan-alasan teologis ketika mengeluarkan kebijakan yang satu ini yakni Berpuasa dan Berdoa.

Saya kutipkan dasar teologis itu sebagaimana edaran yang sudah sampai di tangan kami Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto.

Tradisi puasa memiliki akar kuat di dalam Alkitab. Alkitab menulis tentang puasa sebagai tindakan perseorangan, seperti uyang dilakukan Musa (Kel.34:28), Daud (2Sam 12:16), Elia (1Raj.19:8), Ester (Est 4:16), Ayub (Ayb 2:13), Daniel (Dan.1:12), doa dan puasa (Dan 9:3), Yunus (Yun.1:17); Yesus (Mat 4:2; Luk 4:2), Yohanes Pembaptis (Mat 11:16(), Paulus (Kis 9:9). Selain itu Alkitab juga mengisahkan puasa sebagai tindakan umat yang mempercayakan hidup kepada Allah. Ester, Mordekhai, dan seluruh orang Yahudi di pembuangan berpuasa untuk menaruh nasib mereka ke dalam tangan TUHAN (Ester 4:3, 16). Jemaat mula-mula berdoa dan berpuasa menyerahkan Barnabas dan Saulus untuk tugas pemberitaan Injil (Kis 13:2-3). Demikian pula par arasul uyang menyerahkan para penatua di setiap kota ke dalamt angan Tuhan melalui puasa bersama (Kis 14:23).

 

Pengajaran Tuhan Yesus tentang hal berpuasa dapat dilihat pada kesaksian Matius 616-18 bahwa puasa tidak dilakukan agar dilihat orang lain, melainkan sebagai upaya mendekatkan diri dengan Allah dan mendapatkan belas kasih Allah. Kita belajar dari Alkitab agar di masa krisis ini semua anggota GMIT dapat berpuasa di hadapan Tuhan. Kita berpuasa untuk memohon pertolongan Tuhan bagi dunia yang sedang digerogoti pandemi covid-19. Puasa bukan sekadar menahan rasa lapar dan haus, tetapi sebagai seruan iman dan tanda solidaritas sosial.

 

Dari dasar teologis dan sekaligus pemikiran tentang sikap solidaritas itu MS GMIT mengeluarkan kebijakan ini. MS GMIT menghimbau tanpa memaksakan puasa dan doa ini sebagai suatu keharusan atau kewajiban pada seluruh individu, keluarga dan komunitas berjemaat se-GMIT. MS GMIT telah pula menetapkan dalam kebijakan ini tentang teknik pelaksanaan puasa dan doa setiap hari Jumat dalam Masa Raya Sengsara Yesus selama 7 minggu (7 hari Jumat berpuasa dan berdoa), ditambah liturgi sederhana yang menjadi panduan ibadah di setiap keluarga.

Sebagai anggota GMIT, saya merasa perlu untuk bertanya, apakah puasa dan doa secara khusus pernah ada sepanjang sejarah adanya GMIT?

Saya baru merasa menjadi anggota GMIT ketika menjadi anggota sidi jemaat. Sebelum menjadi anggota sidi, saya masih bayi, kanak dan anak, pemuda luntang-lantang tak tentu keyakinan pada apa yang disandangnya kecuali memiliki pengetahuan alkitab seadanya oleh karena bersekolah Minggu. Sepanjang masa-masa itu saya belum pernah mendengar adanya puasa dan doa yang diatur secara khusus oleh MS GMIT.

Lantas apakah puasa dan doa yang diatur kali ini kurang tepat? Sesungguhnya menurut saya belum tepat. Mengapa?

  • Ajaran GMIT tentang puasa dan doa yang khusus dan khas belum nampak sekalipun secara teologis ada dasar alkitabiah pada dua hal ini. Berdoa, sudah ada sejak adanya makhluk manusia, Adam dan Hawa. Mereka berbicara dengan Tuhan dengan segala keluh-kesah, puji dan sembah serta syukur. Itu semua sudah doa, oleh  karena kita memiliki pengetahuan tentang doa yaitu berkomunikasi atau berbicara dengan Tuhan. Jadi, setiap orang yang berbicara dengan Tuhan, sesungguhnya dia sedang berdoa. Ketika GMIT melanjutkan misi kerasulan dan pemuridan, hal berdoa terus dipertahankan dengan kadar doa yang dirasakan sendiri oleh individu dan komunitas. Ajaran tentang puasa oleh GMIT, belum ada, atau jika sudah ada belum dapata dilaksanakan secara serentak dalam satu satuan waktu sebagaimana yang sedang terjadi pada saat ini.
  • MS GMIT tentu akan berdalih bahwa sudah ada ajaran tentang puasa. Ya. Sudah ada dalam alkitab. Ajaran tentang puasa dalam GMIT pastilah berdasarkan ayat-ayat Alkitab yang sudah ditunjuk dalam dasar teologis sebagaimana yang nampak dalam panduan berpuasa dan berdoa di Masa Minggu-Minggu Sengsara. Tetapi, sebagaimana GMIT sendiri mempunyai Pengakuan Iman, bukankah hal itu telah melalui suatu kajian-kajian yang memakan waktu hingga menghasilkannya dan menjemaatkannya? Maknanya, sebagai satu pengakuan iman, hal itu sebagai suatu ajaran yang khas GMIT. Maka, puasa semestinya muncul sebagai suatu ajaran sehingga kita tidak berpuasa oleh karena suatu tekanan situasi tertetu apalagi berada dalam kekuatiran sebagai organisasi keagamaan yang “terlambat” mengingatkan anggotanya untuk melakukan sesuatu tindakan keagamaan.

Dalam pada itu saya tidak skeptis apalagi apatis pada kebijakan organisasi keagamaan GMIT. Saya salah satu anggota di dalamnya yang tentu saja bukan pemikir dari aspek manapun dalam hal ini.  MS GMIT tentu mempunyai road map sebagai panduan dalam menjalankan roda organisasi sehingga tidak terkesan sedang tersentil situasi tertentu barulah tergerak untuk mengeluarkan suatu kebijakan.

Pokok Doa dan Refleksi Jumat Kedua Minggu Sengsara 2021

Berpuasa dan berdoa untuk Tenaga dan Fasilitas Kesehatan. Itulah tema refleksi pada hari Jumat ini (26/02/21). Pokok-pokok doa diarahkan kepada tenaga medis di berbagai rumah sakit di seluruh dunia, terutama di kota/kampung di NTT yang sedang bekerja sangat keras untuk menolong saudara-saudara yang terinveksi covid-19. Bagi keuarga tenaga medis yang rela ditinggalkan demi dukungan pelayanan, dan berdoa untuk uypaya pengadaan alat-alat dan fasilitas media yang terbatas serta untuk para pemimpin dan manajemen rumah sakit, puskesmas, dinas kesehatan, laboratorium biokesmas, klinik-klinik yang menangani covid-19 dan kesehatan masyarakat.

Semua pokok doa ini dialaskan dan di bawah terang ayat alkitab yang terambil dari 1 Kor.10:13

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

Dalam teks berbahasa Amarasi terjemahan Unit Bahasa dan Budaya GMIT, bunyinya:

Ansuun oras, karu ho mnaben mak he mmoe’ maufinu, mumnau mak, tuaf bian annaben niit furit on naan amsa’. Mes ho bisa mpirsai Uisneno mak, In nmoe’ natuin In uaban kuun. Fin In ka nkonan ko fa he mupein furit anneis na’ko ho ‘be’im. Ansuun oras re’ ho mupein furit on re’ naan, In nfee ko raan a’po’i. In nroim he nmoe’ ko mahan mu’bei’, he ho kais ammouf.

Kita menyadari bahwa sejak pandemi covid-19 merambah dunia bagai gemetar. Setiap hari selalu ada kabar kematian akibat terpapar korona. Sekalipun para pembuat berita mengikutsertakan kabar keberhasilan mencegah sehingga ada di antaranya yang sembuh, tetap kematian dan upacara penguburannya menjadi tidak membuat nyaman umat manusia.

Hari ini, MS GMIT dan seluruh keluarga besar anggota Jemaat-jemaat GMIT diharapkan melaksanakan puasa dan doa bersama. Pdt. Dr. Mery Kolimon menyampaikan doa melalui beranda akun facebook demikian,

Di tengah pertempuran melawan daya Covid yang mengancam kehidupan
Kami kirim doa untuk para tenaga kesehatan, dokter, perawat, laboran, tenaga palang merah, dan penyintas Covid yang berbagi plasma darah bagi yang membutuhkan.
Tuhan kiranya menjagamu dari susah dan celaka
Dia memberkati ketulusan dan kebaikan hatimu.

Doa-doa dari seluruh anggota GMIT yang turut serta secara sukarela dalam doa dan puasa Jumat Minggu Sengsara Yesus, kiranya sama dan seirama.

Hambatan Puasa pada Jumat ini

Jemaat Koro’oto telah melalui suara gembala yang disampaikan oleh Pdt. Papy Ch. Zina, S.Th, pada hari Minggu, 21 Februari 2021 telah menghimbau anggota jemaat untuk sekiranya mengikuti suara gembala melalui surat yang disampaikan kepada para Ketua Majelis Klasis, Ketua-Ketua Majelis Jemaat dan anggota jemaat se-GMIT untuk berdoa dan berpuasa pada Jumat kedua Masa Raya Minggu Sengsara Yesus tahun 2021 ini. Himbauan itu tidak bersifat wajib. Anggota Majelis Jemaat pun tidak wajib, sekalipun disepakai dalam koordinasi mingguan, Sabtu.

Siapa menduga bahwa akan terjadi kematian di dalam Jemaat Koro’oto. Kematian itu terjadi pada hari Rabu (24/02) dan Kamis (25/02). Kematian yang terjadi senantiasa baru akan dikuburkan setelah dua hari berkabung. Maka, kematian yang terjadi pada hari Rabu, jenazahnya akan dikuburkan pada hari Jumat (26/02). Selanjutnya kematian yang terjadi pada Kamis, jenazahnya akan dikuburkan pada hari Sabtu (27/02). Situasi menjadi tidak nyaman. Puasa untuk pertama kalinya walau hanya sehari antara pukul 07.00 – 18.00. Apakah gangguan sedang membayang? Dapat saja demikian.

Disepakati oleh Majelis Jemaat ketika selesai ibadah penghiburan pada keluarga duka pertama, bahwa puasa tetap akan dilangsungkan walau penguburan akan berlangsung pada hari Jumat (26/02). Sementara itu terjadi perubahan jadwal penguburan jenazah kedua yang meninggal pada hari Kamis (25/02). Jenazah kedua akan dikuburkan pada hari Jumat (26/02). Dengan demikian dalam sehari ini, Jumat (26/02) akan terjadi dua kali kebaktian penguburan jenazah anggota Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto.

Puasa tetap berlaku untuk anggota Majelis Jemaat yang secara diam-diam tidak menunjukkan tanda-tanda sedang berpuasa. Ini pengalaman pertama berpuasa secara “massal” bagi anggota jemaat GMIT di Koro’oto, khususnya pada anggota-anggota Majelis Jemaat. Kebaktian penguburan dua jenazah anggota Jemaat Pniel Tefneno’ Koro’oto tetap dilangsungkan. Kebaktian pertama pada pukul 12.00 WITa, sementara kebaktian kedua berlangsung pada pukul 15.30 WITa. Keduanya berlangsung dalam cuaca yang membuat perasaan tidak nyaman.

Puasa tidak terbatalkan sepanjang seharian. Para petugas penjemput ke ruang makan sesudah ibadah-ibadah syukur kedukaan dapat memahami situasi para anggota Majelis Jemaat.

Lonceng gereja baru ditabuh pada pukul 19.00 WITa. Waktu menutup puasa untuk hari Jumat kedua dalam Masa Raya Sengsara Yesus telah berakhir.

 

Koro’oto, 26 Februari 2021
Heronimus Bani