Sukacita Pemberian untuk Dukacita Penguburan

Sofi sebagai Pemberian Duka

Jujur saya mesti mengatakan bahwa saya tidak mengetahui secara persis kata atau istilah yang dipakai oleh kalangan anak-anak suku Atoin Meto’ untuk pemberian yang ditujukan kepada jenazah seseorang yang telah meninggal dunia. Masyarakat adat Pah Amarasi menyebut sofi. Sofi merupakan pemberian terbaik dan terakhir kepada orang yang dikasihi ketika meninggal dunia. Sang jenazah tidak mengetahui apakah jenis pemberian itu benar-benar baru, atau yang sudah pernah dipakai tetapi sangat favorit tetapi direlakan, atau alasan apa pun itu. Suatu kepastian, sofi diberikan dengan ketulusan dengan iringan tangis. Biasanya sofi berupa kain tenunan terbaru atau pakaian baru.

Selain sofi, pemberian lainnya berupa materi (uang, ternak, beras) yang dibutuhkan ketika seseorang meninggal dunia. Pemberian-pemberian itu diperhitungkan sebagai upaya menyokong dan mengangkat beban dukacita yang dipikul oleh satu keluarga yang sedang berdukacita atas kepergian untuk selama-lamanya anggota keluarganya.

Minyak Wangi Pemberian Terbaik

Bagaimana dengan Yesus?

Dalam kebaktian MInggu Sengsara II, pembacaan diambil dari Yohanes 12:1-8; Khotbah disampaikan oleh para pelayan dengan melihat para tokoh dalam kisah yang dicatat oleh Yohanes. Di sana ada Yesus, Lazarus, Maria dan Marta. Bila menengok para tokoh dengan locus dan fokus cerita, para pelayan dapat memberikan tafsiran menarik dan menyesuaikannya dengan situasi yang sedang dialami umat/jemaat pada masa ini.

Ayat 7 dari pembacaan ini menarik untuk diulas dengan menyandingkannya pada situasi zaman khususnya pada mayarakat adat di pedesaan. Maria memberikan sesuatu yang teramat sangat berharga. Yudas sebagai Bendahara organisasi kecil para murid Yesus, menilai bahwa minyak yang dipakai untuk membersihkan kaki Yesus merupakan yang terbaik dan termahal. Bila dijual, hasil penjualannya yang dipastikan mencapai 300 dinar akan sangat bermanfaat untuk kepentingan pelayanan kepada para kaum miskin-papa.

Saya mencoba menggunakan aplikasi id.investing.com untuk mengkonversi mata uang dinar ke dalam rupiah. Terdapat beberapa negara di Timur Tengah yang menggunakan mata uang dinar.  Saya memilih Yordania. Hasil konversinya menunjukkan 300 Dinar sama dengan Rp6.033.000 pada saat ini. Semoga tidak keliru, atau bila keliru sekalipun, angka 300 dinar dalam catatan Yohanes sebagaimana yang diucapkan Yudas Iskariot, merupakan suatu nilai nominal yang besar. Nilai nominal yang besar itu bila benar-benar menjadi nilai kas tunai di tangan seorang Bendahara, betapa besar manfaatnya.

Maka, pemberian Maria sangat luar biasa. Ia tidak saja memberikan milik terbaik dan teramat mahal, tetapi  telah pula “menurunkan” harga dirinya dengan menggunakan rambutnya yang dikerudungi untuk menyeka kaki Yesus agar bersih dari siraman minyak, sekaligus aroma minyak itu menyeruak memenuhi ruangan dimana mereka duduk bersama. Suatu pemberian dan kerelaan yang sangat tidak terukur karena Maria telah memberikannya dengan sukacita dan keikhlasan.

Maka kata Yesus: “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. … .” (ayat 7)

Yesus mengetahui akan hari kematian-Nya. Maria melakukan hal itu sebagai ungkapan rasa terima kasih dan syukur karena Yesus telah bersama mereka dalam jamuan makan di rumah mereka. Di sana ada Lazarus dan Marta, tiga bersaudara yang menerima Yesus. Suatu kehormatan mendapatkan kunjungan itu. Yohanes tidak mencatat orang banyak yang mengikuti Yesus di rumah itu, kecuali para murid Yesus. Tetapi, sekiranya ada orang-orang di sekitar tempat itu, mereka pun dapat menghirup aroma wangi yang menyebar di sekitar ruangan dan di luar ruangan akibat dituangkan dari botol batu yang dipatahkan lehernya itu.

Suatu diskursus akan terjadi secara di tengah-tengah masyarakat   akan membahas sikap dan tindakan Maria pada Yesus. Aspek-aspek kehidupan Maria akan “dicungkil” untuk mengetahui latar belakang kehidupannya bersama Lazarus dan Martha. Profesi dan penghasilan yang didapatkannya agar dapat memiliki minyak wangi yang mahal itu. Aspek pemborosan juga tidak luput dari perbincangan-perbincangan yang kiranya pada zaman ini akan menimbulkan olok-olok dan penistaan-penistaan.

Yesus sendiri akan menerima olok-olok aau bully itu karena tidak mau menegur Maria yang meminyaki kaki-Nya itu. Pastilah dibuatkan meme-meme yang menggambarkan variasi air muka Yesus dan Maria dengan bumbu kata-kata yang mengiris perasaan. Tapi, Yesus pasti diam saja. Maria, Martha dan Lazarus mungkin menjadi trending topik atas kehormatan menerima Rabi Yesus dan para murid-Nya, sekaligus pemberian yang “sia-sia” itu.

Pemberian sebagai Persiapan Penguburan

 

Andaikan hari ini seseorang datang membawa satu pemberian, lalu yang menerima pemberian itu mengaakan, “Ini pemberian sebagai persiapan penguburanku.” Tidakkah orang-orang sekitar akan kecewa dan marah?

Menelisik makna pemberian sebagai persiapan penguburan, mungkin sebaiknya saya mengatakan begini. Setiap pemberian kita kepada sesama, biarlah kita berikan secara sukarela dan sukacita. Kita tidak mengetahui kapan seseorang itu akan meninggal dunia. Seseorang yang sedang memasuki masa tua, hidup menjanda atau menduda; bukankah mereka patut mendapatkan perhatian? Oh… mereka mempunyai anak-anak, menantu dan cucu yang dapat memelihara kehidupan mereka. Setuju. Tetapi, sebagai sesama, apakah kita akan menonton orang-orang dalam situasi semacam itu?

Ketika orang-orang seperti itu meninggal dunia, sebagai sesama kita mengantarkan sesuatu sebagai yang teramat berharga, lalu semua itu dipakai untuk menguburkan jenazah. Bukankah sebaiknya pemberian kita diberikan pada saat ia masih hidup agar dapat dinikmatinya?

Lalu bagaimana ketika ia meninggal, bukankah kita perlu mengadakan upacara subat?

Ya, upacara subat, penguburan wajar dilaksanakan dengan “harga” yang mahal sekaligus mendongkrak “harga diri” keluarga. Pemberian itu untuk terakhir kalinya yang tidak dirasakan oleh jenazah. Pemberian terakhir kalinya itu dilihat oleh orang-orang yang datang dalam suasana duka. Mereka berduka bersama keluarga duka, sekaligus pulang dengan membawa kesan “harga diri” yang tidak tercoreng.

Yesus telah menyiapkan Diri-Nya untuk memasuki dunia orang mati. Maria, tidak menyadarinya. Ia memberikan yang terbaik pada tubuh Yesus. Yesus yang masih hidup saat itu dapat menikmati pemberian itu, bahkan orang-orang sekeliling-Nya pun turut menikmatinya dengan beragam persepsi, termasuk Yudas Iskhariot.

 

 

Koro’oto, 1 Maret 2021

 

 

3 comments

  • Beta senang baca ini tulisan..

    Abis be baca be coba renung sendiri . Semoga bisa jadi lebih baik ke depan.

    Salam hormat bapak guru🙏

  • Be baca ni tulisan be rasa berkesan

    Semoga Beta bisa belajar dari tulisan ini

    • Terima kasih telah membacanya. Sebagai insan pembelajar, mari kita terus belajar sepanjang masih ada kesempatan belajar. Belajar dari hal-hal sederhana. Kita tidak usah menjadi profesor tetapi cukup profesional dalam profesi dan bidang tugas tambahan bila ada di dalamnya. Salam hormat kembali.