Lonceng Gereja pada Jumat ini Dalam Balutan Dampak Pandemi Covid-19

Lonceng Gereja pada Jumat ini Dalam Balutan Dampak Pandemi Covid-19

 

Semua orang mengetahui bila lonceng gereja berbunyi sebagai tanda bunyi tanda panggilan bagi umat Kristen untuk berkumpul, berdoa pada waktu yang telah ditentukan. Biasanya umat Kristen mendatangi gedung/rumah gereja pada hari Minggu dan hari raya. Bagaimana jika itu terjadi pada hari Jumat atau hari lainnya?

Di Koro’oto, terdapat dua unit lonceng gereja dengan ukuran berbeda. Lonceng gereja yang satu dipakai untuk kebaktian utama, kebaktian-kebaktian yang bersifat istimewa, dan untuk tanda adanya kematian seseorang anggota jemaat. Satunya lagi dipakai untuk kebaktian-kebaktian kategorial/fungsional serta kegiatan-kegiatan non kebaktian.

Lonceng gereja yang berukuran besar selalu ditabuh pada hari Minggu, hari kebaktian istimewa yang diadakan bukan pada hari MInggu dan ketika kematian terjadi kapan pun itu. Bila lonceng gereja ditabuh pada hari Minggu, semua orang sudah menyadarinya bahwa di sana akan ada kebaktian utama pertama maupun kedua. Sementara bila ditabuh bukan pada hari Minggu, orang akan mempertanyakan, ada apa? Jenis Kebaktian apa? Atau siapa yang meninggal?

Hari Jumat ini, lonceng gereja ditabuh lagi pada pukul 07.00 WITa. Apakah artinya?

Sudah dalam pengetahuan umum khususnya dalam lingkungan pelayanan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) bahwa setiap hari Jumat dalam Masa Raya Sengsara Yesus tahun 2021 ini, lonceng gereja akan dibunyikan. Lonceng gereja yang dibunyikan pada pukul 07.00 WITa sebagai tanda dimulainya hari do’a dan puasa GMIT. Ya, suatu pertanda yang baik walau sesungguhnya berpuasa tidak perlu menyampaikannya secara terbuka kepada khalayak/publik. Tetapi, hal ini patut disadari sebagai cara yang kiranya dianggap tepat untuk memulai secara bersama-sama, serentak dalam satu satuan waktu.

Hari ini, Jumat Ketiga, 5 Maret 2021 seluruh Jemaat GMIT baik sebagai institusi maupun individu dalam komunitas semuanya akan berdoa dan berpuasa. Apakah semuanya atau seluruhnya?

Jawaban atas pertanyaan konyol ini adalah, relatif. Mengapa? Puasa bukanlah sesuatu yang menjadi kewajiban. Puasa bukanlah sakramen yang dianut oleh GMIT sebagai institusi yang merefleksikan diri sebagai murid Kristus.

MS GMIT menghimbau melalui surat yang biasanya disebutĀ suara gembala. Suara Gembala tentang puasa dan doa kali ini mendapatkan respon beragam secara senyap oleh anggota GMIT sebagai institusi bergereja (jemaat) maupun individu anggota GMIT. Itulah sebabnya tidak semua anggota GMIT melaksanakan puasa pada hari yang ditentukan.

Pergumulan utama dalam doa dan puasa Jumat ini yakni Resesi Ekonomi Nasional, dampak dan penanganannya. Hal-hal yang diharapkan untuk didoakan yaitu, semua yang terkena dampak sosial dan ekonomi dari penyebaran covid-19; pekerja harian seperti tukang ojek, pemulung, petani, mereka yang menerima pemutusan hubungan kerja, pengusaha kecil, menengah, dan besar, pedagang kaki lima, pedagang kecil di pasar-pasar, pengelola kios, warung, dan uapay pemerintah untuk stabilisasi ekonomi. Berjubel pokok-pokok doa.

Bagian Firman Tuhan yang menjadi dasar refleksi pada hari ini dipilihkan dari Habakuk 3:17-19

Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membeiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.

Rasanya ayat alkitab ini sungguh-sungguh suatu gambaran yang menghiburkan.

Perasaan petani manakah yang nyaman-nyaman saja ketika ladang, sawah dan kebun tidak menghasilkan? Peternak manakah yang tidak hancur hatinya ketika ternak-ternaknya menjadi bangkai setelah diserang jenis penyakit tertentu? Apakah petani dan peternak akan bersorak-sorak atas semua kemalangan itu, sambil berkata Tuhan dan Allahku menyelamatkanku, Ia sumber kekuatanku? Mungkinkah para pedagang kecil di pasar-pasar dan PKL bersorak-sorak dengan nyanyian dan doa pada Tuhan atas kerugian yang dideritanya?

Pandemi covid-19 telah memporakporandakan sendi-sendi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Pemerintah dan masyarakat negara mana pun tidak tinggal diam. Banyak pemangku kepentingan terus bergiat dalam rangka mempertahankan kehidupan ini di tengah gencarnya “serangan” virus korona yang mematikan hingga mencapai angka jutaan, sekali pun pada saat yang sama pemberitaan berbagai media menyebutkan angka kesembuhan makin naik. Semua data itu mencemaskan dari satu sisi dan menggembirakan pada sisi lainnya.

Pemerintah sudah memulai vaksinasi pada 13 Januari 2021. Presiden NKRI, Ir. H. Joko Widodo menjadi orang pertama yang menerima vaksinasi itu. Berbagai kalangan pejabat dan profesi telah menerima vaksinasi itu. Kabar-kabar miring tentang vaksin telah tertepis dengan sendirinya. Ini semua memberi harapan baru pada masyarakat agar geliat ekonomi yang sedang mundur dan merayap dapat bangkit lagi.

Lalu, apakah sebagai umat/jemaat kita pun akan segera bangun dari “pembaringan” ketika kita gereja-gereja ditutup dan kita hanya beribadah di rumah saja ketika lonceng gereja yang ditabuh untuk mengumpulkan justru tidak dapat mengumpulkan secara fisik?

Ya, kita mesti mengaminkan kata Habakuk. Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.

Mari berdoa dan berpuasa walau ada rasa tidak nyaman di dalamnya. Lakukan hal itu dengan tiada bersungut-sungut. Yakinkan diri dan anggota keluarga yang berpuasa bahwa, Tuhan tidak sedang menutup mata-Nya. Allah kita tidak sedang menutup telinga-Nya. Ia tidak sedang melipat tangan-Nya. Ia terus bersama kita, melihat dan mengulurkan tangan-Nya pada kita. Ia menguatkan kita dengan firman-Nya, memeluk dan membawa kita ke dalam kehangatan pangkuan-Nya. Semoga ada pada kita kerelaan untuk menyerahkan diri pada-Nya melalui doa dan puasa ini. Tuhan memberkati.

 

 

Koro’oto, 5 Maret 2021
Heronimus Bani