Eksploitasi Minol sebagai Kearifan Lokal

Eksploitasi Minol sebagai Kearifan Lokal

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun (1 Kor.10:23)

Omong Dulu

Peraturan Gubernur Nusa Tenggara Timur Nomor 44 tahun 2019 melegalkan minuman beralkohol yang diproduksi secara tradisional “naik kelas” menjadi produk pabrikan dalam skala menengah. Pada awalnya pro-kontra terjadi di tengah-tengah masyarakat tentang hal ini. Pro-kontra itu terjadi dengan berbagai alasan dan latar pikir yang mengantar ke dalam polemik dan diskusi-diskusi. Sekalipun demikian, produk lokal minuman beralkohol dengan nama Sophia telah resmi, walau baru sebatas Peraturan Gubernur dan belum tiba pada Peraturan Daerah.

Ketika Peraturan Presiden Nomor 10 tahun 2021 disahkan, Pemerintah Pusat mengizinkan investasi pada sektor yang satu ini yakni pengelolaan minuman beralkohol pada empat provinsi. Keempat provinsi tersebut yaitu, Bali, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara dan Papua. Tetapi, sosialisasi baru berjalan dalam waktu dua pekan, pro-kontra makin kencang sehingga menimbulkan “kegaduhan” sosial-politik. Presiden NKRI, Ir. Joko Widodo mendengar kegaduhan itu sehingga ia mencabut lampiran Peraturan  Presiden itu. Ketika dicabut, para pengamat dan buzzer serta pengguna media sosial makin ramai membahasnya. Lagi-lagi pro-kontra berlangsung di sana.

Tarik-menarik dalam hal minuman beralkohol terjadi oleh karena cara pandang yang saling berbeda. Sebahagian pengamat kebijakan publik menilai positif dipandang dari aspek ekonomi dimana pengelolaannya diatur sehingga ada keteraturan di dalam distribusinya ke tengah-tengah masyarakat. Hal ini dimaksudkan untuk menata para pengelola minol lokal dapat bergabung dalam sentra-sentra produksi untuk disalurkan kepada industri menengah yang berinvestasi untuk memproduksi minol tersebut. Di sisi lain, para politisi menggoreng aturan ini sebagai mengeksploitasi kearifan lokal dan mengkapitalisasinya.

Makin menarik ketika kaum agamawan angkat bicara. Suara kaum agamawanlah yang pada akhirnya didengarkan agar investasi di sektor ini dihentikan. Padahal, minol (atau miras) pada kalangan kelas bawah dikelola secara tradisional dimana-mana, diperdagangkan secara bebas, ditenggak pada perhelatan budaya yang resmi. Bahwa ada di antaranya yang kemudian menimbulkan permasalahan, mabuk, hal itu terjadi karena individu yang menenggak minol (miras) lebih dari kemampuan tubuhnya menerima  minol itu.

Suara Gereja di tengah Polemik RUU Larangan Minol

Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Dr. Gomer Gulthom membuat pernyataan berbeda sebagaimana dilansir dari CNNIndonesia;

“Saya melihat pendekatan dalam RUU LMB (RUU Minol) ini sangat infantil, apa-apa dan sedikit-sedikit dilarang. Kapan kita mau dewasa dan bertanggung-jawab?” … Padahal, negara lain seperti Uni Emirat Arab mulai membebaskan minuman beralkohol untuk dikonsumsi dan beredar luas di masyarakat.

Sebaliknya, Indonesia malah melarang hal yang mulai dibebaskan oleh negara lain alias mundur beberapa langkah ke belakang.

Pdt. Gomer Gulthom tidak berhenti di situ, Ia mengatakan,

Yang dibutuhkan saat ini adalah pengendalian, pengaturan, dan pengawasan yang ketat, dan mesti diikuti oleh penegakan hukum yang konsisten. A

turan-aturan berkaitan dengan minuman beralkohol sendiri telah diatur dalam KUHP (pasal 300 dan 492) dan Peraturan Menteri Perdagangan No. 25/2019.

Konferensi Waligereja di Indonesia melalui juru bicaranya, Benny Susatyo mengatakan,

Pengendalian minuman beralkohol tidak membutuhkan Undang-undang tersendiri. Liarnya peredaran minuman beralkohol lantaran tidak ditegakannya aturan pengendalian minuman keras. (kbr.id)

Suara gereja melalui dua tokohnya ini sama yakni menginginkan adanya pengendalian, pengaturan dan pengawasan yang ketat hingga penegakan aturan itu secara tegas. Suara kedua tokoh gereja ini boleh jadi mewakili gereja di Indonesia dalam hal isu yang sedang hangat di tengah-tengah masyarakat yang melek, antara setuju, tidak setuju, atau abu-abu. Sementara masyarakat yang tidak melek informasi justru tidak memberi respon apa pun, padahal merekalah yang pada akhirnya akan terdampak pada aturan yang berlaku pada suatu saat. Gereja yang berlandaskan alkitab sebagai Pokok Ajarannya tidak serta-merta mengenyahkan suatu hal yang bersifat kearifan lokal.

Minuman beralkohol (minol) atau minuman keras (miras) selalu ada di tengah-tengah masyakat. Masyarakat pada kelompok tertentu memproduksi, mengedarkan, dan khalayak yang memelihara budaya mengkonsumsinya dalam takaran tertentu. Hal yang demikian positif adanya. Tetapi, gereja menentang mereka yang menenggak minol/miras hingga merusak diri sendiri, keluarga, dan komunitas sampai melanggar norma hukum dan etika. Itulah sebabnya gereja bersuara untuk pengendalian dan pengaturan, serta penegakan hukum secara tegas.

Alkibat mencatat banyak ayat yang berkaitan dengan minuman keras dengan menggunakan kata anggur. Saya kutip seperti ini,

Anggur adalah pencemooh, minuman keras adalah peribut, tidaklah bijak orng yang terhuyung-huyung karenanya (Amsl 20:1)

Ya, mereka yang pernah menenggak minuman keras hingga terhuyung-huyung menjadi bahan cemoohan. Mereka dibuli. Anehnya, ketika dibuli, justru seakan bangga dengan situasi itu. Mereka bukannya malu karena telah “terhuyung-huyung” tetapi justru makin menambah intensitas waktu meminum. Bila menyadari bahwa minuman keras yang ditenggak melebihi kekuatan tubuh untuk menerimanya, baiknya berhenti. Tidak ada orang yang memaksakan untuk menenggak minol/miras sebanyak-banyaknya.

Saya sendiri mengalaminya. Sering minum bersama orang-orang sekitar. Menambah dan menambah hingga menyebabkan tubuh tidak mampu menerima minuman itu. Sejujurnya, minuman itu sendiri bila ditenggak dalam jumlah dan kadar alkohol terukur, semestinya ia menyehatkan. Menenggak dalam jumlah dan kadar yang tidak terukur itulah yang menyebabkan seseorang atau kelompok orang yang minum itu mabok dan tidak dapat lagi mengendalikan diri hingga menimbulkan masalah.

Hal yang demikian ini baru saja yang kecil. Hal yang makin besar muncul di sekitar menenggak minol/miras yang oleh karenanya gereja terus-menerus mengingatkan, bahkan pada titik tertentu dapat menerapkan aturan disiplin gereja (sanksi) moral kepada mereka yang benar-benar telah melanggar ajaran.

Pengkhotbah mencatat untuk mengingatkan umat Tuhan. Catatannya berbunyi,

Mari, makanlah rotimu dengan sukaria, dan minumlah anggurmu dengan hati yang senang, karena Allah sudah lama berkenan akan perbuatanmu (Pengkh.9:7)

Nah, rasanya terjadi kontrakdisi antara ayat sebelumnya yang benar-benar mengingatkan pada umat yang suka menenggak minol/miras. Catatan Pengkhotbah justru mengajak agar kita makan roti dan minum anggur dengan hati yang senang. Bila merespon ayat ini secara lurus saja, kita memahami bahwa makanan dan minuman itu semestinya kita nikmati dengan hati gembira tanda syukur kepada Sang Khalik yang memberikannya pada kita. Tetapi, bila kita telisik secara baik-baik, kita patut ingat pada Perjamuan yang diadakan Yesus dengan para murid-Nya, dan yang akhirnya kita terima sebagai salah satu sakramen dalam gereja. Ketika kita makan roti dan minum anggur, baiklah kita bersukahati, berterima kasih, dan bersyukur pada Tuhan. Semua itu terjadi karena Yesus sebagai Manusia Tulen telah merelakan tubuh-Nya sebagai “makanan”, dan Ia merelakan darah-Nya tercurah sebagai “minuman”. Dalam kesadaran akan “makan roti” dan “minum anggur” sebagia perlambang Tubuh dan Darah Yesus Kristus, kita patut bersyukur.

Lantas, apakah minol/miras patut disyukuri?

Kita bersyukur bahwa ada hikmat dari Tuhan kepada orang tertentu untuk mengolahnya menjadi minuman dengan kadar alkohol tertentu untuk kesehatan. Kita bersyukur, alkohol yang terkandung di dalam minuman itu bermanfaat di dunia kesehatan. Pemanfaatan secara serampanganlah yang menyebabkan orang terjerumus ke dalam kebobrokan akhlak dan moral. Kebobrokan akhlak dan moral menyebabkan manusia jatuh dalam berbagai-bagai kesalahan yang menimbulkan masalah hukum. Itulah sebabnya, minol/miras harus ada dalam pengaturan yang ketat oleh pemerintah yang mendapatkan kuasa dari Tuhan. Lalu, mereka yang mengelola secara tradisional pun harus mendapatkan pencerahan akan manfaat dan dampak yang muncul pada masyarakat sekitar dari usaha mereka. Distributor mesti punya aturan yang kuat dalam penjualan, sehingga bukan asal mendapatkan keuntungan, tetapi tetap dapat menjaga marwah kemanusiaan. Sementara konsumen harus bijak ketika menjadi orang yang meminum, baik pada perhelatan adat (budaya) resmi maupun di baliknya.

 

Koro’oto, 6 Maret 2021
Heronimus Bani

 

4 comments

  • Bonefasius Zanda

    Mantap guru

  • Nelci

    Minuman berakohol itu tidak salah.. Tapi bila di konsumsi berlebihan itu yang salah..

    Saya rasa tindakan gubernur utk melegalkan minuman beralkohol khas NTT itu sangat baik karena dengan demikian kita bisa membuka pasar ekspor dalam dan luar negeri. Karena rasanya kualitas minuman beralkohol di daerah kita sangat baik.. Banyak pemesanan yang di lakukan secara ilegal kenapa tidak di buat secara legal sehingga pendapatan daerah bisa meningkat..

    Sekarang tergantung kitanya, manfaat alkohol sangat banyak.. Tapi kita harus bijak..

    Terimakasih bapa tulisannya.. Membuat kita yang baca jadi terbuka pikirannya.. 🙏🙏