Bersyukur dengan Ritus Budaya Lokal

Bersyukur dengan Ritus Budaya Lokal

Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan buahnya (Yak.5:17-18).

Bagian Alkitab yang saya kutip di atas bercerita tentang apa yang pernah dilakukan oleh Elia yang dicatat dalam Kitab 1 Raja-Raja 18:44-45; ketika itu Elia berkata kepada bujangnya,

“Pergilah, katakan kepada Ahab: Pasang keretamu dan turunlah, jangan sampai engkau terhalang oleh hujan.”

Maka dalam sekejap mata langit menjadi kelam oleh awan badai, lalu turunlah hujan yang lebat, Ahab naik kereta lalu pergi ke Yizreel.

Pembaca yang budiman. Dalam tahun-tahun belakangan ini musim kemarau berkepanjangan menyebabkan siapa pun berkeluh-kesah tentang kesulitan-kesulitan hidup, terutama kekurangan air karena sumber-sumber air menipis hingga mengering, tanaman dan ternak yang mati karena kekurangan air dan banyak masalah sosial terjadi akibat kemarau berkepanjangan. Doa-doa disampaikan kepada Tuhan, sekiranya Ia berkenan menurunkan hujan. Sementara itu sas-sus di sekitar percakapan informal bahwa proyek-proyek besar yang sedang dikerjakan menjadi kendala datangnya hujan. Para pengusaha menggunakan pendekatan tertentu yang dapat mengalihkan awan mendung ke area lain sehingga hujan di area proyek menjadi batal. Hal ini tidak dapat dibuktikan secara jelas, tetapi sudah menjadi rahasia umum. Apakah begitu? Sekali lagi tidak dapat dibuktikan.

Satu hal yang pasti, alam makin rusak, khususnya hutan dan isinya baik hasil hutan berupa kayu termasuk jenis-jenis binatang liar dan unggas telah dibabat dan dipangkas kehidupan mereka. Mereka yang menjadi bagian dari ekosistem dan jaring-jaring makanan telah dipangkas. Pemangkasan ini menyebabkan unsur-unsur di dalam ekosistem terputus sehingga menimbulkan permasalahan pada cuaca dan perubahan iklim.

Tidak mudah untuk mengatakan bahwa manusia lepas dari tanggung jawab perubahan iklim. Manusia mendapatkan kuasa untuk memelihara dan memanfaatkan alam.

Lihatlah Aku memberikan kepadamau segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh muda bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu (Kej.1:29).

Ayat ini jelas memperlihatkan kepada kita bagaimana manusia menerima mandat untuk mengambil hasil dari tetumbuhan dan pepohonan yang Tuhan Allah ciptakan. Ayat ini tidak memberikan perintah agar manusia merusak alam, sekalipun pada ayat sebelumnya (ayat 28) menyebutkan taklukkan dan berkuasa. Apakah dengan term taklukkan dan berkuasa memberi makna mengambil tanpa memelihara? Tentu tidaklah demikian. Tuhan menempatkan manusia lebih tinggi daripada segala ciptaan-Nya sehingga pemanfaatannya untuk kemuliaan nama-Nya. Ingatlah Mazmur 8 (silahkan dibaca nanti).

Bolehkah Ritual budaya dalam Gereja (GMIT)?

Saya ingat setiap bulan Oktober di pedesaan, jemaat-jemaat pedesaan berbakti di padang. Saat itu mereka berdoa untuk satu maksud minta hujan. Bila boleh bertanya untuk sesuatu yang paradoks, bolehkah manusia melakukan ritual atau ibadah untuk meminta agar musim kemarau segera datang? Belum pernah terjadi. Yang terjadi pada kita yaitu selalu berharap agar hujan segera turun. Betapa hujan amat penting bagi kehidupan. Oleh karena itu, orang beribadah dan berdoa secara khusus untuk mendatangkan hujan. Apakah mungkin hal itu dilakukan dalam gereja menurut tradisi suku tertentu?

Suku-suku di Indonesia mempunyai cara untuk mendatangkan hujan. Apakah hujan benar-benar turun sesudah melakukan ritual itu? Jika hujan benar-benar turun sesudah suatu ritual yang tidak secara budaya, apakah kita akan berkata, mereka telah beragama secara benar? Coba baca tulisan ini, https://travel.tribunnews.com/2018/10/15/kemarau-berkepanjangan-ini-6-ritual-minta-hujan-dari-berbagai-daerah-di-indonesia?page=all

Di Timor sendiri masyarakat dalam sub-sub suku Atoin’ Meto’ memiliki ritual sendiri untuk maksud mendatangkan hujan. https://regional.kompas.com/read/2020/02/11/12374541/musim-hujan-di-ntt-terlambat-masyarakat-gelar-ritual-minta-hujan?page=all

Apakah semua itu akan dengan mudah “meluluhkan hati” penguasa langit agar memberi perintah kepada awan dan angin segera menurunkan hujan? Jawabannya, bukan demikian halnya.

Tetapi, bila budaya ini khas, mengapa tidak dapat dilakukan di dalam suatu akta liturgis yang oleh karenanya mengantar jemaat Tuhan makin dekat kepada Penciptanya?

Akhir tahun 2019 Jemaat Koro’oto dalam salah satu kebaktian Minggu, disisipkan doa minta hujan. Seluruh jemaat menyatukan doa kepada Tuhan dalam satu keyakinan bahwa hujan benar-benar akan turun. http://tefneno-koroto.org/?p=2791

 

Peristiwa ini mengantar jemaat Tuhan makin dekat kepada-Nya. Jemaat bergairah dalam doa-doa syukur mereka. Ibadah-ibadah syukur panen sudah menjadi suatu tradisi. Tetapi, bersyukur atas datangnya hujan kemudian dipikirkan, ditelaah dan akhirnya masuk dalam akta liturgis. Kami yakini bahwa Tuhan mengizinkan hal ini terjadi di Jemaat Koro’oto. Tahun 2020 berlalu dengan persembahan-persembahan syukur sebagaimana biasanya dilakukan ketika panen tiba. Warna ibadah lain masuk pada akta liturgis yakni bersyukur atas hujan dan panen perdana. Tahun 2021 hal ini kembali dilakukan oleh Jemaat di Koro’oto pada kebaktian Minggu, (07/03/21).

Dua narasi yang dimadahkan kepada Tuhan dalam bahasa lokal, Uab Amarasi sebagai berikut.

Aok-bian too srani’ arkit. Neno ia, hit arkit tabua ma ta’mees’ ok atbi Uim Re’u Kninu, Sonbua Kninu’. Hit tahiin ma takeo tak, Uisneno nneek ma namnau tuaf ma fatuf arkit. Hit, mese’-mese’ arkit tnaben tiit Uisneno In manekan naan. Hit arkit tahini msa’ tak, uran ma anin neem natuin Uisneno In tabu ma oras, ka natuin fa mansian ii in tabu ma oras. Es on naan ate, hit arkit re’ atmareen ma tmui’ po’on, tseen ma tbeben roet nahum roet uki-noah, ma pena’-maka’; 
Sekaukah es re’ natorob ma namonib roet ein naan? Hit tbeben ma tsenan sin, mes, re’ he natorob ma namonib sin, Uisneno neikn On. Onaim, hit arkit tsai ma tpoho ‘basak, rarit tasaeb sukur ma makasi teu Uisneno.
Neno ia, hit tait teik fu’-fua’ ma babaun he njair tanar nak, hit he tpao ttein rene ma po’on sin aafk ein  ma neesk ein; Maut he hit tasaeb sukur ma makasi, rarit tait ma tbukae nai.

Terjemahannya sebagai berikut

Shalom, Saudara-saudara. Hari ini kita bersama-sama di dalam Rumah Kudus, Istana kudus. Ada dalam pengetahuan kita bersama bahwa, Tuhan mengasihi dan mengingat kita. Masing-masing kita merasakan kasih-Nya. Kita mengetahui pula bahwa, hujan dan angin itu datang mengikuti yang Tuhan kehendaki pada waktunya, bukan kita yang mengaturnya. Maka, kita berladang dan mempunyai mamar (kebun tanaman umur panjang). Kita tanami semuanya dengan tanaman seperti padi dan jagung. Siapakah yang membuat semuanya bertunas dan bertumbuh? Tuhanlah yang menghidupkan semuanya itu. Jadi, kita memeluk dada dan bersyukur pada Tuhan.
Hari ini kita membawa sedikit dari ladang sebagai tanda bahwa hasil dari ladang sudah tiba. Biarlah kita bersyukur atasnya, dan mulai menikmati semuanya itu.

Di dalam kebaktian ini, jemaat Tuhan mengantar persembahan dengan doa yang kiranya sangat kental. Doa itu dinarasikan sambil musik gong ditabuh, diiringi tarian. Narasi doa pengantar persembahan berbunyi,

Koi Uisneno Amahoet
Hai mfonat iim ampaumaak Ko, Usi’
Hai msiri’ iim amtean Ko, Usi’.
Hai he mi’siti’ meik haan baisenut ma feef baisenut
Hai he mitnaat ma miskau Ho manekam meu kai
Hai mtean Ho mei-fuat akninu’
Hai meik fua’-turu’ ma fuatnatas
Hai msee’ meik sin mi’ko rene ma po’on
Hai mnona’ sin njarin fua’ unu
Hai mifneek ma mi’paen meu Ko, Usi’
Msimo ma mtoup maan sin, tua

Terjemahannya sebagai berikut,

Ya Tuhan yang Sumber Kelimpahan
Kami mendekat pada-MU
Kami makin merapat pada-MU
Kami mengganggu dengan suara berisik dalam hormat
Kami memapah dan menggendong kasih-Mu pada kami
Kami tiba di meja persembahan kudus
Kami membawa persembahan
Kami mengambil semuanya dari ladang dan kebun (mamar)
Kami menyerahkan semuanya sebagai buah sulung
Kami berharap hanya pada-MU
Terimalah semua, ya Tuhan

Kami sungguh yakin bahwa jemaat Tuhan makin dekat dan sangat rindu berada di rumah Tuhan dengan ibadah bernuansa budaya lokal. Beberapa kali kebaktian dengan pendekatan yang demikian selalu dihadiri ratusan anggota jemaat. Mereka sangat antusias membawa persembahan yang kelihatan di tangan dan yang terbungkus rapi. Angka persembahan syukur bertambah karena pemberian itu selalu disadari sebagai ta’tuta’ hanaf he tbaiseun Uisneno, (terj. mengalaskan suara (hati) ketika menghadap hadirat Tuhan).

Demikian suatu rangkaian ritual budaya yang dikemas dalam akta liturgis. Bersyukurlah senantiasa kepada-Nya dengan nyanyian, musik dan tari. Persembahan yang kami tidak seberapa banyaknya, terimalah ya, Tuhan. Kidung ini kami bawakan dalam bahasa lokal,

Fua’-turu’ fuatnatas, hai mnona’ sin ba-baun, amsium ma mtoup maan sin koi, Usi. Amnnek ma mumnau, kai.

 

 

 

Koro’oto, 9 Maret 2021
Heronimus Bani

8 comments

  • Luar biasa, Tuhan Yesus selalu menyertai dalam setiap kehidupan, dan ini yang mau dinyatakan oleh jemaat dalam kebaktian Mijggu Sengsara yang dirangkai dengan rasa Syukur ini. Kiranya apa yg dilakukan hanya untuk kemuliaan nama Tuhan.

  • Venny Bessie

    Terpujilah nama Tuhan untuk segala rasa syukur….

  • Keren Guru : berdoa dan bekerja serta bersyukur kepada Sang Pencipta

  • tulisan yang menarik utk direnungkan pak roni. Budaya mengakui bahwa ada kuasa yang lebih tinggi dari kemampuan manusia.

    • Terima kasih pak Grefer sudah berkunjung, meninggalkan jejak di sini. Saya dan kami terus berada dalam ziarah pelayanan sambil belajar sebagai murid Kristus. Tentu kita semua berlaku sama dengan cara kita masing-masing sesuai konteks tetapi tetap pada acuan yang benar, Alkitab yang berisi Firman Tuhan.