Judas Iskariot, Maat Ranan menuju Kematian

Judas Iskariot, Maat Ranan Menuju Kematian

 

Minggu, (14/03/21), dalam kebaktian Minggu Sengsara Yesus, nama yang satu ini kembali disebutkan. Judas/Yudas Iskariot. Satu nama yang selalu identik dengan intrik dan keburukan. Begitu “buruknya” nama ini sehingga menyebutkan dan hendak menyematkannya pada seorang anak yang baru lahir, tidak akan diterima oleh orang tua mana pun, kecuali mereka yang sama sekali tidak tahu-menahu tentang kisah hidup Judas/Yudas Iskariot. Bahkan nama ini dipakai sebagai istilah yang tergolong sifat buruk pada kalangan masyarakat ketika orang berkata, “judes!” Orang yang punya judes tidak disukai oleh siapa pun.

Lady Gaga dalam satu lagu berjudul Judas bercerita tentang pergumulan manusia yang dalam perjalanan menuju terang hidup. Manusia berusaha merengkuh cahaya Ilahi, sementara Iblis mengintip dari belakang dan siap menerkam. Jadi, Judas/Yudas Iskariot akan selalu disebutkan sebagai murid Yesus dengan fungsi lain yang disandangnya, pemegang kas, hingga pengkhianat. Ia tidak sama dengan Simon Petrus yang menyangkal Yesus bahkan tiga kali dalam satu satuan waktu yang saling berdekatan. Simon Petrus malam itu juga menangisi dirinya sendiri. Ia telah menyangkal Gurunya di depan orang-orang lain yang menggodanya.

Judas, maat ranan. Dia menjadi penunjuk jalan kepada orang-orang yang akan menangkapnya. Konspirasi tingkat tinggi antara Judas/Yudas Iskariot, imam-imam kepala, tua-tua adat Yahudi, guru-guru Agama, dan petinggi lainnya di kalangan kaum Yahudi. Bukan suatu hal yang mudah ketika melibatkan kekuasaan untuk menghancurkan “kaum lemah”. Yesus berada pada posisi kaum lemah. Ia disenangi dan diikuti khalayak, publik dari banyak kalangan yang mengharapkan-Nya kelak akan menjadi raja yang dapat membebaskan mereka dari penjajahan kekaisaran Romawi pada saat itu. Kaum lemah dalam jumlah besar tidak mudah untuk ditaklukkan oleh kalangan elit. Maka mereka harus menemukan celah untuk menembus “barikade” kaum lemah sehingga mereka dapat menangkap dan mencelakai Yesus.

Maat ranan, dalam Bahasa Amarasi secara artinya mata jalan. Bila suatu kasus pencurian terjadi di dalam kampung, orang berasumsi bahwa pencuri yang datang dari luar kampung, hanya bisa masuk bila ada seseorang dari dalam kampung bertindak sebagai maat ranan. Ia mengetahui seluk-beluk kampung, termasuk jalan keluar yang dapat meloloskan mereka bila harus lari menghindari kejaran. Maat ranan menjadi informan yang amat berharga pada kelompoknya. Judas Iskariot memenuhi syarat ini. Ia salah seorang yang amat dekat dengan Yesus. Ia bahkan menjadi salah satu orang kepercayaan di dalam komunitas para murid. Dialah pemegang kas. Bukankah seseorang yang menjadi pemegang kas itu seorang yang mendapatkan kepercayaan?

Maat ranan dalam kasus pencurian, bila berhasil. Ia akan mendapatkan bagiannya tersendiri karena ia bukanlah yang turut memainkan peran di dalam pencurian itu. Ia akan berdiri di tempat yang jauh, menjadikan dirinya bukan objek persangkaan. Ia memiliki alibi bila para anggota kelompok tertangkap.

Yesus ditemui Judas Iskariot dan prajurit yang ditugaskan mengkap-Nya. Para prajurit tidak mengetahui rupa Yesus seperti apa. Para prajurit mungkin pernah mendengar nama-Nya, tetapi belum bertemu langsung dengan-Nya. Mereka bersemangat dalam tugas penangkapan seseorang yang dianggap membahayakan keamanan negara (kota) pada saat itu.

Judas Iskariot sebagai penunjuk jalan, melakukan tugasnya dengan baik. Ia tidak berdiri jauh-jauh. Justru ia sampai di depan Yesus, guru-Nya. Ia menyapa dan mencium guru-Nya itu. Ciuman itu sebagai tanda kepada para prajurit untuk segera menangkap-Nya. Ciuman Judas (judes). Ciuman yang menggetarkan dada, mendesirkan darah. Ciuman yang membahayakan guru-Nya dan para sahabatnya.

Guru-Nya ditangkap, para sahabatnya berlarian masing-masing ingin menyelamatkan diri. Judas Iskariot merasa telah berhasil menjadi pahlawan di hadapan para elit Yahudi, khususnya kaum agamawan, saleh, dan bermoral. Mereka menyambut Yesus dengan sukacita dan sukahati. Musuh besar yang selama ini tak dapat disentuh aturan dunia, akhirnya dapat ditangkap, dan segera akan menerima hukuman terberat yang disiapkan mereka. Hukuman mati merupakan rancangan mereka sebagai cara yang menghabisi Yesus.

Judas Iskariot telah menjadi maat ranan yang mencelakai guru-Nya sendiri.

 

 

Koro’oto, 15 Maret 2021