Rindu Saja Tidak Cukup pada Rumah Idaman

Pengantar

Banyak kisah inspiratof di sekitar kita tentang hubungan orang tua dengan anak yang harmonis, dramatis, dan tragedis. Biasanya yang harmonis dan dramatis akan sangat menyenangkan pembaca bila kisah itu ditulis (dibukukan), dan bila dijadikan film atau sinetron, penontonnya akan bergirang melihat tingkah pola yang harmonis antarpara pelakunya. Sebaliknya yang bersfiat dramatis semisal orang tua kehilangan anak dan suatu ketika menemukannya kembali; atau sebaliknya anak yang kehilangan orang tua karena berbagai sebab, lalu suatu ketika mereka bertemu lagi. Betapa trenyuh perasaan, bukan? Lalu, bagaimana bila sangat tragis? Seorang anak tega berkhianat pada orang tuanya, atau membunuh orang tuanya, dan lain-lain yang menyebabkan orang tua berada di pihak yang teraniaya; begitu sebaliknya orang tua menjadi penyebab anak sebagai korban. Kisah-kisah seperti itu sungguh mengeksploitasi emosi.

Berikut contoh-contoh yang saya kutipkan dari https://www.fimela.com/parenting/read/3727122/7-cerita-orang-tua-dan-anak-paling-mengharukan; bacalah;

Mungkin Anda akan terinspirasi. Boleh pula membaca yang satu ini, ketika seorang ibu secara sadar dan sengaja meninggalkan anaknya di satu gubuk. Seorang pemulung perempuan memberinya makanan, besama si anak berlatih menulis hanya untuk menuliskan pesan pada ibunya. Setelah berhasil menulis, ia meninggal dunia. Suatu hari ibunya pergi mencarinya. Sang ibu merasa sangat berdosa sehingga ia harus menemukan anak itu. Suami kedua yang menikahinya mendukung sikap dan tindakannya. Mereka berhasil menemukan tempat dimana anak itu sengaja dibuang. Mereka hanya menemukan seorang perempuan pemulung, secarik kertas bertuliskan pesan dari anak, dan kuburan anak itu. https://www.kompasiana.com/www.puisiapaaja.com/55288c426ea83439058b460e/kisah-mengharukan-seorang-anak-yang-ditinggal-orang-tuanya

Kisah Anak yang Hilang dalam Alkitab

Lukas 15:11-32

Anda Pembaca Alkitab yang baik. Anda pasti sudah membaca berkali-kali perumpamaan tentang anak yang hilang. Bila Anda pendengar yang baik, mungkin Anda pun telah mendengarkan, menyimak secara cermat nuansa teknis penyajian kisah ini oleh para pencerita. Para pencerita akan mengantar sedemikian rupa sehingga akan mengeksploitasi emosi (perasaan) agar hanyut dalam kisah itu, walau dari sumber yang sama.

Yesus secara lugas bercerita tentang hubungan Bapa-Anak yang saling merindukan. Bapa begitu menyayangi anak-anaknya sehingga permintaan si bungsu dikabulkan. Si Bungsu pergi dengan pongahnya karena telah mengisi pundi-pundi perbekalannya untuk kesenangan yang kiranya baginya tiada akan berakhir. Ternyata tidaklah demikian.

Lukas mencatatkan kisah ini secermat mungkin hingga detil kesulitan si Bungsu. Ia terpaksa harus makan makanan untuk ternak babi yang jelas-jelas kotor. Ia telah turun derajat kehidupannya. Ia seorang anak dari manusia berkelas. Orang tuanya kaya raya, mempunyai sejumlah besar pekerja, dan rumah dengan kamar-kamar mewah. Di sana ia dapat menikmati semuanya. Sayangnya, ia telah berdosa kepada Tuhan dan kepada orang tuanya. Ia merindukan untuk kembali kepada orang tuanya, bapanya. Apakah orang tuanya akan menerimanya?

Sementara itu di rumah, bapanya hidup bersama seorang anaknya yang lain, si Sulung. Sebagai yang sulung, ia bekerja di rumah bapanya itu. Secara diam-diam sesungguhnya ia berharap ada satu titik waktu dimana ia mendapatkan kesempatan bersukacita bersama para sahabatnya. Tetapi, ia tidak pernah mendapatkannya. Ia mengharapkan adanya penghargaan (reward) dari orang tuanya. Penghargaan itu tidak pernah didapatkannya. Padahal, begitu adiknya, si Bungsu pulang, orang tuanya (bapanya) mengadakan pesta meriah. Kepada adiknya, bapanya memberikan pakaian yang paling indah dan sepatu yang paling mahal. Pesta terbaik yang pernah terjadi di rumah mereka.

Tidakkah kita membayangkan, siapakah yang dinilai sebagai yang bijaksana di dalam cerita ini? Bila menelisik dan berdiri pada posisi si Bungsu, perasaan malu bercampur haru karena diterima kembali di rumah bapa, bahkan dengan pesta yang meriah. Bila berdiri pada posisi si Sulung, bukankah sebaiknya menghelat suatu acara meriah karena segala yang ada di rumah bapanya adalah miliknya? Sementara bila berdiri di posisi orang tua (bapa), Sang orang tua merindukan kesukaan pada anak-anaknya di rumahnya, rumah bersama; karantina sukacita; wisma kebahagiaan; ropo (lopo) kedamaian; sonaf kemuliaan.

Si Bungsu tidak saja merindukan bapanya. Ia tidak saja merindukan rumah dan suasananya. Ia tidak duduk diam lalu merenungi nasib malang bersama babi-babi dan cirik babi di kandang. Ia tidak saja mengelus dada atau meraung-raung dalam tangis kebodohan. Ia tidak saja meneriaki bapanya. Ia, bangkit. Pulang. Pulang ke rumah bapanya dengan segala resiko yang siap ia tanggung. Apapun itu resikonya, ia akan pikul, asalkan itu terjadi di rumah bapanya. Di rumah yang pernah memberinya kehangatan kasih dari bapa, saudara dan para pekerjanya.

Adakah yang merindukan untuk sampai pada titik ini?

Siapa Yang Tidak Rindu Pulang?

Dalam budaya Atoin’ Meto’ pulang ke umi mnasi’atau uim nono sangat dinantikan. Mereka yang merantau selalu berusaha menentukan waktu yang tepat untuk pulang ke kampung halaman. Di sana akan ada pesta, sukacita akbar di rumah bersama, umi mnasi’, uim nono. Mengapa demikian? Karena mereka yang merantau, ketika pergi membujang/lajang, ketika pulang, ada yang menyertai, yang dibawa; tidak sendirian. Seorang pemuda Atoin’ Meto’ yang merantau, bila mengambil isteri di rantauan lalu memiliki anak, kelak mereka akan tiba di umi mnasi’, uim nono, untuk mengupacarakan perkawinan mereka, menyematkan nama keluarga (nono) pada isteri dan anak-anak. Pesta akbar menanti.

Budaya yang sama kiranya ada pada semua etnis di Nusa Tenggara Timur. Tensinya penerimaan sama, teknisnya berbeda. Isinya, pesta akbar yang membuat mereka yang diterima dari “pulang” itu dan mereka yang menerima, sama-sama bersukacita.

Apakah budaya ini sama dengan budaya di sorga? ha ha…

Seorang master of ceremony berkata, “Bila merindukan sorga, jalan terbaik untuk sampai ke sana adalah, kematian!” Wao… kematian. Kalimat ini dikukuhkan dan diaminkan oleh pelayan yang melayani kebaktian penguburan jenazah pada hari itu. Sang pelayan menjelaskan tentang kondisi-kondisi tertentu yang harus dipenuhi bila kelak akan tiba di pintu kematian. Lalu, berbekal kondisi-kondisi yang telah dipenuhi itu, seseorang yang meninggal dunia akan tiba di sorga yang menjanjikan sukacita selamanya.

Suatu ketika saya menghadiri satu upacara penguburan jenazah seorang bapak. Ketika saya diminta mewakili institusi dimana kami pernah bersama dalam tugas, saya membuat analogi seperti ini.

Dalam budaya orang pulau kecil, (misalnya, pulau Rote) meninggalkan kampung halaman dengan berperahu akan sangat menyayat hati. Tangisan bertalu-talu selama kapal berlayar. Tangisan mungkin baru berhenti ketika layar kapal itu telah ditelan ufuk barat. Tetapi, kesedihan rasanya tidak segera berhenti. Tetapi, baiknya keluarga duka tidak perlu lagi bersedih, karena kemudi kapal layar itu ada di tangah Yesus. Yesus yang membawa kapal itu ke tempat yang paling membahagiakan. Maka, orang tua, bapak yang meninggal itu telah berada di dalam kapal itu. Ia dijemput oleh Yesus sendiri. Yesus mengulurkan tangan-Nya, memeluk, membawanya tiba di dalam kapal itu. Lalu mereka berangkat bersama-sama. Bukankah ini suatu kebahagiaan? Mengapa berdiri di bibir pantai untuk melambaikan taangan sambil menangisi kapal itu? Bukankah sebaiknya kembali ke dalam keseharian hidup, rutinitas sambil memandang kepada Dia yang menghidupkan?

Kita semua, kelak akan pulang. Atau mungkinkah ada yang masih rindu berlama-lama di sini? Akh… mari bersegera ke sana, ropo (lopo) kedamaian dan sukacita.

Kita tidak hanya harus merindukannya. Kita harus mulai menanggalkan segala hal yang membebani diri kita. Ketika menanggalkan semua itu, kita perlu mengenakan “baju” dan isian baru yang diberikan oleh “bapa” pemilik kehidupan yang memberi kedamaian, sukacita, dan kebahagiaan itu. Mengenakan itu semua, kita pun boleh berangkat untuk tiba di sana, diterima oleh-Nya dengan “pesta”.

 

Koro’oto, 17 Maret 2021
Heronimus Bani