Tuhan Berkehendak Lain?

Sangat sering orang berkata, “Tuhan berkehendak lain!”

Kalimat seperti itu diucapkan oleh mereka yang mendapatkan kepercayaan memandu acara penguburan jenazah. Siapa pun yang pernah sakit, ada usaha yang tak henti-hentinya untuk mendapatkan kesembuhan dengan pendekatan apa pun, asalkan sembuh dan bukan sebaliknya meninggal. Usaha yang seperti itu rasanya harus “mendapatkan perhatian” dari Tuhan. Mengapa? Karena di dalam usaha-usaha seperti itu, pasti ada “laporan” kepada Tuhan. Dalam “laporan” itu pada bagian akhir ada harapan pada Tuhan. Harapan itu merupakan kesembuhan pada orang yang dikasihi. Orang itu sedang dalam keadaan sakit (koma, sekarat, menahun, dan lain-lain).

Jika Tuhan menghendaki seseorang meninggal dunia, bolehkah kita berkata, “Tuhan berkehendak lain?” Boleh jadi, ya. Kita mungkin boleh saja mengatakan seperti itu karena kehendak Tuhan bukanlah kehendak kita. Kehendak Tuhan tidak sama, beda, lain dari yang kita kehendaki. Tapi, apakah kita perlu mengatakannya pada publik? Ketika kita mengatakannya pada publik, seakan kita sedang kecewa pada kehendak Tuhan itu. Kehendak Tuhan yang satu ini, ketika Ia menetapkan suatu keputusan untuk mengambil seorang dari antara kita dengan cara kematian, apakah kita harus kecewa?

Bacalah Ayub 14; di sana ada kekecewaan, ya. Tapi, ada pula harapan-harapan.

… Engkau akan memanggil, dan aku pun akan menyahut; Engkau akan rindu kepada buatan tangan-Mu. Sesungguhnya Engkau menghitung langkahku, Engkau tidak akan memperhatikan dosaku, pelanggaranku akan dimasukkan di dalam pundi-pundi yang dimeteraikan dan kesalahanku akan Kaututup dengan lepa (Ayub 14:15-17)

Masih banyak ayat alkitab yang dapat kita kutip untuk menyebutkan suatu kematian. Bahkan kematian Yesus sekali pun telah dinubuatkan jauh sebelum Ia datang sebagai Manusia Tulen. Ia datang untuk melayani, sengsara, mati, dikuburkan dan bangkit sebagai Tuhan yang menang atas maut.

Jadi ketika seseorang meninggal dunia, kita mungkin sebaiknya berkata, “Tuhan telah menghendakinya. Ia lebih memilih dia daripada kami (kita) yang masih hidup sekarang ini. Ia memberikan kesempatan kepada kami (kita) untuk menyelenggarakan kehidupan saat ini. Ia telah memilih satu di antara kami (kita) karena kerinduan padanya.”  Bagaimana dengan kalimat seperti itu? Bukankah kita justru berada sejalan dengan Tuhan, karena secara tersirat ada kerinduan kita pada-Nya? Coba bandingkan ketika kita berkata, “Kami telah berusaha, tetapi Tuhan berkehendak lain!” Pada kalimat seperti itu, ada indikasi kita menyalahkan Tuhan, kecewa pada Tuhan yang tidak mendengarkan “laporan dan harapan” kita.

 

 

Koro’oto, 18 Maret 2021
Heronimus Bani

 

2 comments