Kematian itu Pilihan Terikat

Kematian akan terus berada di sekitar kita sepanjang adanya mayapada dimana segala makhluk hidup menghuninya. Di sana makhluk hidup apa pun pada satu titik waktu akan mengalami apa yang disebut kematian. Pepohonan akan mati, walau di sana ada yang tumbuh lagi karena adanya bijian yang ditinggalkan untuk melanjutkan jenisnya. Rerumputan dan semak yang dibakar atau terbakar hingga hangus orang menyebut rumput dan semak telah mati. Hewan, binatang atau ternak akan mati pada titik waktu tertentu karena sakit oleh wabah penyakit tertentu, atau justru mati di tangan makhluk hidup sesama binatang dengan jenis dan karakter berbeda; dan terlebih lagi  mati di tangan makhluk hidup istimewa bernama manusia. Jadi, kematian merupakan pilihan terikat. Ada yang memilihkan dan objeknya terikat pada pilihan itu.

Makhluk hidup istimewa yang disebut manusia, diciptakan oleh Sang Khalik, Allah, Tuhan Maha Pencipta. Ia menciptakan mereka laki-laki dan perempuan.

Maka Allah menciptakan mereka itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka (Kej.1:27)

Jadi, makhluk manusia yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan ini, diciptakan secara istimewa. Keistimewaannya terletak pada pendekatan Allah dalam menciptakannya. Salah satu yang terdapat di dalam ayat alkitab yang saya kutip di atas, istimewanya manusia karena diciptakan menurut gambar-Nya. Menurut gambar Allah.

Saya ingat para perempuan bila membuat gambar di lungsinan benang. Gambar itu ada dalam imajinasi mereka. Bila mereka menuangkannya di atas kertas gambar kelihatan tidak indah, namun bila dibentuk pada lungsinan benang, betapa orang menyukainya dan bangga mengenakannya. Bayangkanlah bagaimana “gambar imajinatif” Allah yang nyata sebagai makhluk hidup, manusia. Mulia, agung, terhormat, bukan? Maka kepadanya, ia mendapatkan kehidupan. Ia diistimewakan pada saat hidup dan mati. Ia hidup dengan berbaju raga, dan mati meninggalkan raganya. Itulah sebabnya sekalipun raga itu hanyalah seonggok daging yang segera akan membusuk, tokh harus mendapatkan perlakuan istimewa dengan melakukan upacara padanya.

Upacara dilakukan menurut anutan dari etnis pada entitas tertentu untuk menguburkan jenazah sebagai raga yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Upacara subat pada kalangan Atoin’ Meto’; Ngaben pada masyarakat Bali, Rambu Solo pada etnis Tana Toraja, Marapu pada etnis Sumba, Saur Matua untuk masyarakat Sumatera Utara, dan lain-lain. Semuanya itu hendak memberi kesan istimewa pada keistimewaan yang dimiliki manusia ketika ia hidup dan bahkan pada kematiannya.

Tetapi, kematian bukan pilihan orang yang mati. Siapa yang memilih mati, ia melakukan perbuatan tercela. Bunuh diri merupakan perbuatan tercela. Ia mati atau tewas hingga meninggalkan raganya. Ia tidak menjadi manusia istimewa; celaan dan hinaan, buli dan olokan akan menjadi bunga dan buah percakapan di sela suasana duka pada mereka yang mati secara normal. Kata-kata terhormat disampaikan kepada orang yang meninggal seperti: almarhum, almarhumah, atau mendiang. Orang tidak menyebut jenazah atau jasad, apalagi bangkai busuk pada raga yang teronggok tanpa napas dan darah. Ia tidak memilih kematian, tetapi, ia terikat untuk sampai pada kematian itu.

Orang memberi pilihan-pilihan kata seperti: mati, meninggal, mangkat, wafat, tewas, dan mampus. Pilihan kata (diksi) seperti apa yang Anda pilih ketika berada pada suatu suasana berkabung? Di sana orang mesti secara etik dan moral menjaga ucapan yang keluar dari mulutnya. Ia harus menyampaikan sesuatu yang kiranya dapat membesarkan hati, menghiburkan, dan menghilangkan kepedihan dan pilunya hati karena kehilangan orang yang dikasihi, bahkan dengan cara kematian yang sangat tidak disukai, misalnya, bunuh diri, dibunuh, atau kecelakaan.

Coba Anda telisik secara cermat kutipan berikut ini, apakah orang yang mati dibunuh akan mendapatkan kata terhormat, mangkat atau wafat?

Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia. (Kej.4:8)

Pada peristiwa ini, Habel akhirnya mati. Habel tidak memilih untuk mati. Kainlah yang memilihkan cara matinya Habel. Pada kisah selanjutnya, Kain mendapatkan hal buruk dalam kehidupannya. Ia harus menerima akibat dari memilihkan cara kematian pada adiknya, Habel. Mengapa harus terjadi demikian pada Kain? Karena Kain bukanlah yang memberikan kehidupan kepada Habel. Kain dan Habel juga tidk menerima kehidupan dari Adam dan Hawa, orang tua mereka. Kehidupan itu datang dari Allah, Tuhan Sang Khalik yang mengistimewakan manusia.

Nah, jika Tuhanlah yang memberikan kehidupan itu pada kita, Ia pun menghendaki kita merasakan kematian. Kematian dalam hal ini bukanlah yang bersifat kekal, tetapi kematian yang maknanya sebagai meninggalkan raga fana. Jadi Tuhan sendiri yang meminta kita keluar dari raga (baju) yang fana itu untuk pergi kepada raga lain yang kekal (baka). Ketika Sang Khalik membangun raga ini untuk dihuni roh yang diberikan kepadanya, raga itu bagaikan satu unit rumah pada roh. Maka, bila rumah itu harus ditinggalkan, pasti ada rumah lain yang lebih baik, indah dan sempurna yang disediakan oleh Sang Khalik itu sendiri.

Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat dimana Aku berada, kamu pun berada (Yoh.14:2-3)

Pikirkan kata-kata seperti; tewas dan mampus; sebagai cara orang mencapai kematian. Tewas dan mampus tidak ada pada pilihan orang hidup. Pilihan itu diberikan oleh mereka yang menginginkan sasaran/korban mengalaminya. Tuhan tidak menghendaki hal itu, sekalipun sering sekali orang berkata, “Itu kehendak Tuhan!” Apakah Tuhan menghendaki seseorang mati dibunuh dengan cara tidak terhormat? Ada kematian yang dikehendaki Tuhan. Ketika Tuhan menghendaki orang-orang lalim mati dibunuh dalam perang, mereka ditewaskan. Orang-orang yang menjadi penyebab tewasnya para korban dalam perang, sebetulnya Tuhan menggunakan tangan mereka untuk memilihkan cara kematian mereka. Berbeda dengan kematian yang terjadi karena perencanaan menghilangkan nyawa orang.

Kematian itu pilihan terikat. Kematian dipilihkan oleh mereka yang menghendaki hal itu terjadi. Bila yang menghendaki hal itu terjadi adalah sesama kita, maka dosa sedang mengintai.  Bila yang menghendaki kematian itu ada pada Allah Sang Khalik, betapa Ia hanya meminta kita untuk keluar dari raga fana menuju ke rumah-Nya. Bukankah hal ini kabar gembira?

 

 

Koro’oto, 18 Maret 2021
Heronimus Bani