Di Makasar Nada itu Dimainkan Lagi

Hari Minggu (28/03/21) kabar menggemparkan beredar di jagad informasi. Sebentuk bom meledak. Isinya bom bunuh diri yang terjadi di depan pintu masuk Gereja Katedral Makasar. Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo mengutuk tindakan brutal ini. Menteri Agama melakukan hal yang sama. Para rohaniawan Katolik dan Kristen menyerukan doa dan menghimbau umat untuk tetap tenang menyikapi peristiwa ini. Pegiat Kemanusiaan resah. Bom kembali memakan korban jiwa pada mereka yang terindoktrin dengan ideologi teorisme yang radikal. Tewas sia-sia, walau dallam ingatan mereka sendiri, mereka telah melakukan jihad di jalan Allah. Padahal, tidaklah demikian ajaran agama mana pun untuk menghilangkan nyawa sendiri dan sesama.

Yang bersangkutan merupakan merupakan bagian dari kelompok … yang terkait dengan kelompok yang pernah melaksanakan kegiatan operasi di Jolo Filipina…,” kata Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, hari Minggu (28/03).

“Kita tindak lanjuti dengan melaksanakan pemeriksaan DNA yang bersangkutan untuk bisa kita pertanggung jawabkan secara ilmiah, namun demikian hari ini untuk inisial pelaku saya kira kita sudah tuntas dan kita sedang kembangkan untuk mencari kelompok yang lain,” kata Kapolri (bbc.com/indonesia/)

Pernyataan Kapolri hendak menegaskan bahwa ada jaringan internasional yang bergerak secara senyap di bawah tanah. Mereka tidak segan dan sungkan untuk membunuh diri sendiri dan menewaskan orang lain. Pemberitaan tentang peristiwa di Jolo pada Januari 2019, dimana kejadian meledakkan bom bunuh diri telah menewaskan 20 orang warga sipil. Bom bunuh diri ini dilakukan di salah satu gedung gereja di Jolo-Filipina.

“Kami mengecam keras ledakan yang terjadi di Jolo,” kata Harry Roque, juru bicara Presiden Rodrigo Duterte, seperti dilansir Channel News Asia pada Senin, 24 Agustus 2020.

Delapan tentara dan enam warga sipil tewas dalam serangan ini. 27 petugas keamanan dan 48 warga sipil terluka.

Reuters melansir belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas insiden ini. Ini merupakan serangan terbesar di sana sejak Januari 2019.

Saat itu, dua orang pelaku bom bunuh diri meledakkan dirinya di sebuah gereja di Jolo dan menewaskan lebih dari 20 orang serta melukai lebih dari 100 orang

Mari kita renungkan sejenak apa kata Alkitab tentang hal-hal seperti ini?

Bunuh Diri. Itulah kata kunci dari tewasnya orang yang melakukan tindakan bom bunuh diri yang menyebabkan dirinya tewas, menciderai dan menewaskan orang lain.

Bunuh diri tidak dibenarkan dalam ajaran agama manapun. Kaum Kristen  melalui Alkitab di sana tercatat banyak peristiwa kematian yang terjadi di antaranya dengan bunuh diri. Caranya dengan menggantung diri atau menikam diri dengan pedang hingga tewas. Lihatlah contoh berikut ini:

Lalu berkatalah Saul kepada pembawa senjatanya, “Hunuslah pedangmu dan tikamlah aku, supaya jangan datang orang-orang yang tidak bersunat ini menikam aku dan memperlakukan aku sebagai permainan.”
Tetapi pembawa senjatanya tidak mau, karena ia sangat ssegan. Kemudian Saul mengambil pedang itu dan menjatuhkan dirinya ke atasnya.
Ketika pembawa senjatanya melihat, bahwa Saul telah mati, ia pun menjatuhkan dirinya ke atas pedangnya, lalu mati bersama-sama dengan Saul (1 Sam. 31:4-5)

Tewasnya raja Saul di medan tempur bukan atas serangan musuhnya. Ia malu bila musuh berhasil menangkap dirinya dalam keadaan hidup, lalu akan dijadikan tawanan dan tertawaan. Ia memilih mengakhiri hidupnya sendiri yang diikuti oleh pengawalnya. Suatu tindakan yang dalam budaya Jepang akan dihormati dan dihargai sebagai pahlawan. Daripada dipermalukan, sebaiknya mati dengan “cara terhormat” harakiri atau seppuku.

Saul melakukannya setelah tidak mendapatkan jawaban pasti dari pengawalnya. Keseganan dan rasa hormat pada sang raja yang dikawalnya itu menyebabkan ia tidak berani melakukan tindakan tidak terpuji itu. Tetapi, akhirnya ia melakukannya pada dirinya sendiri setelah menyaksikan di depan matanya bagaiman sang raja mengakhiri hidupnya.

Hal kisah lain yang menyebabkan seseorang mati dengan cara membunuh dirinya terjadi pada seorang penasihat di masa kepemimpinan raja Daud. Saat terjadi huru-hara di kalangan istana dalam keluarga raja Daud, Ahitofel memberikan nasihat yang tidak dihiraukan. Ia kemudian mati di rumahnya sendiri dengan cara membunuh dirinya.

Ketika dilihat Ahitofel, bahwa nasihatnya tidak dipedulikan, dipasangnyalah pelana kudanya, lalu berangkatlah ia ke rumahnya, ke kotanya, ia mengatur urusan rumah tangganya, kemudian menggantung diri. Demikianlah ia mati, lalu ia dikuburkan dalam kuburan ayahnya (2 Sam. 17:23)

Apakah tindakan bunuh diri atas alasan tertentu atau bahkan mengatasnamakan “jihad di jalan Allah” sebagai sesuatu yang mulia? Tidak! Tidak demikian adanya. Tindakan mengakhiri hidup yang merupakan anugerah Tuhan bukanlah tindakan terpuji. Hidup itu pemberian Tuhan pada makhluk istimewa yang diciptakan-Nya sendiri dengan tangan-Nya. Bagaimana mungkin orang mengakhiri hidupnya dan orang lain atas nama “jihad di jalan Allah”  lantas itu merupakan tindakan terpuji dan mulia?

Yudas Iskariot, salah seorang murid Yesus akhirnya tewas setelah menggantung dirinya. Ia mungkin saja sudah malu, merasa sangat berdosa. Mungkin dia mengira bahwa setelah menjual Yesus, gurunya itu, orang-orang hanya memperlakukan-Nya sebagai permainan lalu dilepaskan. Ternyata ia keliru. Yesus disengsarakan dengan begitu banyak ragam kehinaan hingga yang terhina yakni disalibkan. Yudas memilih untuk menggantung dirinya.

Maka ia pun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri (Mat.27:5)

Tidak dikisahkan secara detil suasana kebatinan keluarga Yudas Iskariot sesudah kematiannya. Satu hal yang dapat kita pastikan, ia tewas sia-sia. Kepengikutannya kepada Yesus sebagai murid, sia-sia. Ia “tidak lulus” dalam “ujian akhir” yang diikuti para murid. Para murid lainnya lari dalam “ujian akhir” itu. Petrus mengikuti dari belakang dan mendapatkan “ujian akhir tambahan” yang menyudurkan dirinya. Ia tidak lulus di sana, tetapi segera berbalik dan menyesal. Murid-murid yang lain berdiri di kejauhan saja. Perempuan-perempuan sajalah yang dengan keberanian yang dipaksakan mendekat pada Yesus ketika Ia berada di jalan kesengsaraan menuju bukit Golgota.

Satu nada intolerasi yang disasarkan pada kaum pengikut Yesus Kristus telah dimainkan. Nada itu sungguh sangat minor sehingga hanya orang tertentu saja yang mampu memainkannya. Penikmat nada itu trenyuh dalam keperihan dan kepedihan hati. Menyayat kalbu, menghancurkan rasa dan raga. Yesus sebagai Manusia Utuh pernah mengalami sengsara melebihi kesengsaraan yang dimainkan dalam nada dan irama kehancuran dan kematian rasa kemanusiaan. Di sini, kebhinekaan diancam. Kemanusiaan sedang ditindas oleh mereka yang merindukan keberingasan dipentaskan di altar kudus ala mereka.

Umat Kristen terus berada di jalan kesengsaraan sebagai “ujian” yang tidak dapat dihindarkan. Tidak ada dalam kamusnya umat Kristen bahwa, mengikut Yesus itu suatu hal yang mudah. Memikul salib yang berat merupakan tugas kita. Satu di antara salib itu nyata di depan mata, bom bunuh diri menyasar tempat ibadah dan umat yang sedang beribadah.

Mari terus berdoa dan berjaga-jaga. Hiduplah selalu dalam Tuhan yang mengasihi kita. Ia setia, maka sepatutnyalah kita setia pada-Nya.

Mari kita doakan mereka yang melakukan tindakan brutal membunuh diri dan orang lain. Kiranya Tuhan mengubahkan indoktrin yang telah tertabur di dalam ide dan darah mereka yang terpapar.

 

Koro’oto, 29 Maret 2021.
Heronimus Bani

4 comments

  • Venny Bessie

    Beta hanya selalu bertanya….apa yang mereka cari????

  • Johnny M. Banamtuan

    Alur cerita yg menarik, yg membawa para pembaca dari info terupdate dan membadingkan dari contoh-contoh dari dalam Alkitab. Yang menjadi pertanyaan, apa sih tujuan dari bom bunuh diri tersebut? Apa yang didapat dari tindakan tersebut? Ini berbanding terbalik dengan apa yang dikatakan dalam Alkitab, “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Matius 16:25 (TB)
    Ini semua dapat jadi bahan perenungan bagi kita yang masih hidup untuk dapat menjalani hidup dengan bijak.

  • Johnny M. Banamtuan

    Alur ceritanya menarik, para pembaca dibawa dari informasi terupdate ke dalam contoh-contoh dari Alkitab. Yang jadi pertanyaan, apa yg si pembom itu dapat dari tindakan itu? Tentunya kematian. Tapi mengapa mereka berani kehilangan nyawa mereka untuk hal yang “konyol”?

  • Apa yang mereka cari? Mungkin kenikmatan berbeda dari suatu cara atau metode kematian.

    Tentang barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, akan memperolehnya kembali, itu persoalan berbeda. Mungkin perlu satu artikel pendek lagi… haha…
    Terima kasih untuk dua sahabat yang sudah tiba di kolom komentar. Mari melanjutkan amanat agung Yesus Kristus, jadikanlah semua bangsa murid-Ku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *