Surga itu Idaman Insan Fana

Menuju surga (sorga) tempat idaman setiap insan fana yang beriman, ber-Tuhan. Beriman kepada Tuhan saja tidak cukup dengan mengatakan telah lahir dalam keluarga yang taat beragama. Bertaqwa kepada Tuhan saja tidak cukup dengan mengatakan telah memeluk atau berpindah dari agama A ke agama B oleh karena ajaran agama sebelumnya meragukan sehingga keimanan menjadi diragukan. Surga menjadi kabur, kasih kepada sesama kurang nyata atau bahkan tidak dapat menginternalisasikan ke dalam sel, darah, jiwa dan roh dogma agama. Dalam kesadaran-kesadaran seperti itu orang memeluk agama atau berpindah agama. Pada sisi lainnya, ada yang sama sekali tidak sudi beragama sehingga bila membicarakan Tuhan dengan segala hal di sekitarnya termasuk surga (sorga), hanya membuang-buang waktu saja. Padahal, para penganut agama yang fanatis akan begitu merindukan surga, bahkan jika perlu melakukan sesuatu agar segera tiba di surga.

Banyak dan beragam cerita orang baik lisan maupun tulisan tentang “kunjungan” mereka ke surga. Cobalah baca artikel-artikel berikut ini

https://www.liputan6.com/citizen6/read/3427857/4-orang-ini-terkenal-karena-mengaku-pernah-melihat-surga-dan-neraka

https://www.merdeka.com/jabar/kisah-nabi-idris-mengenai-kematian-dan-saat-pertama-kali-melihat-surga-dan-neraka-kln.html?page=all

Anda, para sahabat yang setia mengunjungi weblog ini dapat saja berselancar ria untuk menemukan artikel-artikel yang ditebar. Guglinglah. Pengetahuanmu akan bertambah sambil Anda harus bijak menyortir manakah yang patut diterima sebagai informasi bersifat pengetahuan yang valid.

Bagaimana surga itu dalam ajaran agama-agama? Agama di dunia sangat banyak dan beragam. Orang Indonesia menerima dan mengakui sedikitnya 6 agama. Semuanya mengajarkan bahwa suatu ketika orang akan tiba di suatu tempat di luar kehidupan diri dan komunitasnya. Tempapt itu amat sangat luar biasa sehingga tak dapat digambarkan dengan kata-kata manusia. Terbatas, tetapi orang rindu melukiskannya bila sudah sempat tiba di sana.

Setiap muslim percaya bahwa semua manusia dilahirkan suci. Surga tertinggi tingkatnya adalah Firdaus (فردوس)—Pardis(پردیس), di mana para nabi dan rasul , syuhada dan orang-orang saleh. Tempat itu menjadi idaman bagi setiap insan penganutnya. Bukankah hal ini sesuatu yang luar biasa bila berada di sana? Siapa yang tidak merindukan untuk hidup bersama para nabi dan rasul atau syuhada yang dikisahkan dalam kitab suci dan tradisi ajaran? (id.wikipedia.org).

Dalam agama Hindu, surga artinya pergi menuju cahaya. Walaupun pergi menuju cahaya, tetapi surga itu sendiri hanya suatu tempat yang bersifat kesenangan sementara. Kesementaraan itu terjadi karena jiwa harus mencapai moksha yakni bersatunya atman (jiwa) dengan Brahman yang kekal. Di sanalah keabadian sesungguhnya (https://www.malangtimes.com/)

Dalam agama Buddha ada ajaran berbeda. Cobalah untuk menengok di sini https://www.kompasiana.com/sudhana/55202820a333110844b65c03/perbandingan-surga-neraka-dalam-islam-buddha-bag-1?

Lantas apa kata penganut atheis? https://kumparan.com/frisa-pangestiko/saya-bertanya-atheis-menjawab/full

Berdebat dengan kaum atheis atau bahkan bidat dalam agama mana pun sangat mungkin untuk segera meninggalkan atau melepas pelukan pada agama. Logika sangat dimainkan sehingga semuanya terasa nyata di depan mata dan dapat dirasakan. Surga bagi kaum atheis ada atau tidak itu hanyalah ilusi kaum lemah dan bodoh yang menganut agama untuk menghibur diri. Mengapa? Karena ketidakadilan di dalam dunia. Ketidakadilan itu bahkan terbawa sampai di suatu lokasi yang sifatnya imajiner yakni surga vesus neraka. Di sana masih ada ketidakadilan, kata kaum atheis.

Jika demikian, mengapa orang mengidolakan tempat yang bernama surga itu? Bahkan untuk mencapai surga ada oknum fanatis agama rela mengorbankan diri untuk segera sampai ke sana. Mereka yang terpapar ajaran radikal agama mengantar jiwa ke surga itu. Mereka bagaikan sudah pernah berkunjung ke sana, lantas kembali hanya untuk mengakhiri jasad atau raganya agar jiwa dan rohnya tiba di sana lebih awal dari rencana semula.

Tidakkah kita menyadarinya? Jika sebagaimana kata kaum atheis bahwa surga versus neraka hanyalah lokasi imajiner, maka sia-sialah kepercayaan kita pada perkataan para nabi dan rasul. Padahal seluruh kaum penganut agama sungguh-sungguh meyakini akan adanya surga, bahkan Yesus, Nabi dan Imam yang sungguh-sungguh Manusia Istimewa pun mengatakannya.

Yesus menyebut suatu tempat dengan menggunakan istilah, Rumah Bapa-Ku, kata-Nya:

“Di rumah Bapa-Ku banyak tempaat tinggal, Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.
Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.
Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” (Yoh.14;2-4)

Jika Anda sungguh-sungguh percaya pada perkataan Yesus Sang Manusia Tulen nan Istimewa itu, bukankah pernyataan di atas harus diaminkan? Mengapa ragu atau malah memintakan suatu fakta? Ada kisah lain tentang orang-orang yang menghuni tempat itu. Kisah itu disaksikan oleh Yesus sendiri tentang Abraham, Lazarus yang miskin dan seorang kaya. Abraham sudah berada di suatu tempat dan hidup di sana. Lazarus yang miskin mati, lalu dibawa pergi ke sana oleh malaikat untuk hidup bersama Abraham. Sementara si kaya mati pula dan dibawa malaikat ke suatu tempat yang lain. Ia hidup, tetapi dalam derita berkepanjangan. Kisah ini tertulis dalam Lukas 16:19-31

Dikisahkan bahwa ada suatu jurang yang memisahkan dua tempat kehidupan abadi itu. Nuansa kehidupan abadi pada dua tempat itu berbeda. Satunya untuk mendapatkan setetes air saja dari ujung jari seseorang pun, sangat dan teramat sulit, apalagi ada jurang yang memisahkan sehingga tidak dapat menjangkau mereka yang hidup dalam kesengsaraan kekal itu. Lalu, lokasi yang satunya, di sana orang dapat hidup berdampingan dengan tokoh-tokoh besar di antaranya Abraham, Sahabat Allah, bapak segala orang percaya. Nah, kehidupan seperti itulah yang diharapkan terjadi. Lantas rumah yang dimaksudkan Yesus sebagaimana dicatat Yohanis (14:2-4) itu yakni surga.

Penganut Kristen menerima ajaran yang kiranya padat berisi bahwa untuk tiba di tempat dimana Yesus menyediakannya, lantas di mana Yesus berada, di sanalah pengikut-Nya berada, maka orang harus menyadari, meyakini dan melakukan apa yang Yesus ajarkan.

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. … .” (Yoh.14:6)

Pernyataan ini sangat sulit diterima kaum manusia. Bagaimana mungkin Yesus Sang Manusia Tulen yang lahir dari satu keluarga sederhana dapat menunjukkan jalan, kebenaran dan kehidupan? Tidak logis dan realistis. Kira-kira demikian kata kaum atheis. Tidak mungkin, seorang Manusia yang menerima segala hinaan, olokan, buli, hingga disiksa dan disalibkan, mati dan dikuburkan dapat menunjukkan jalan, kebenaran dan kehidupan. Jalan menuju cahaya itu harus jelas,bukan suatu mimpi seperti yang tertulis dalam Kejadian 28:10-22. Ketika Yakob bangun dari tidurnya ia berkata,

“Sesungguhnya Tuhan ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya! Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang sorga.” (Kej.28:16-17)

Tidak rindukah Anda naik-turun tangga itu untuk sampai ke tempat terindah? Di tangga itu pintu gerbang sorga terbuka. Tetapi, apakah Anda harus mempercepat niat untuk tiba di sana dengan cara menghabisi diri raga realistis ini? Tidak, bukan?

Jika demikian, kaum Kristen harus yakini bahwa Yesus mengajarkan tentang Rumah Bapa itu, suatu tempat dimana kehidupan abadi berlangsung. Suasananya tergambarkan seperti Firdaus/Eden baru yang hanya dapat dinikmati bila berada di Jalan Lurusnya, Yesus, Manusia Tulen itu yang rela mati untuk menebus dosa umat manusia. Ia bangkit dari kematian-Nya sebagai kemenangan atas maut. Ia tanpa proklamasi yang menghebohkan dunia, yang membelalakkan mata, mengherankan publik. Ia cukup mengajak para murid-Nya untuk menyaksikan ketika Ia terangkat ke sorga dalam awan.

 

 

Koro’oto, 1 April 2021
Heronimus Bani

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *