Anda Meragukan Kebangkitan Kristus?

Anda Meragukan Kebangkitan Kristus?

Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. Lebih daripada itu kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus – padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, kalau andaikata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan. Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu, dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. (I Kor.15:13-18)

 

Rasul Paulus dalam satu kesempatan menulis surat kepada Jemaat di Korintus. Rupanya ada kabar bahwa ada keragu-raguan pada jemaat itu tentang kebangkitan Kristus. Hal itu terlihat atau terbaca pada salah satu bagian dari isi surat itu yang saudara pun dapat membacanya sebagaimana saya kutipkan di atas.  Perhatikan secara cermat, bukankah di sana ada nuansa keraguan pada orang-orang menerima surat itu? Mungkinkah kita yang ada di zaman ini pun merasakan hal yang sama? Entahlah. Tiap-tiap orang dapat menjawab pertanyaan itu secara sendiri-sendiri.

Semua pembaca alkitab yang jeli dan cermat akan mengetahui bahwa para penerima surat itu sedang berada dalam keragu-raguan akan kebangkitan orang mati. Dapatkah hal ini dibenarkan? Dalam dunia saintis, hal itu dapat dibenarkan. Mengapa? Karena seseorang yang telah meninggal dunia bila dinyatakan hidup kembali (bangkit dari kematiannya), sangat tidak masuk akal sehat. Orang tidak mudah menerima pernyataan itu, jika tidak ada bukti empiris saintifik. Itulah sebabnya mengapa orang meragukan berita tentang kebangkitan seseorang dari kematiannya. Maka tidak mengherankan bila Jemaat Korintus meragukan kabar kebangkitan Kristus. Mengapa mereka ragu, padahal rasul Paulus sendiri yang menyampaikannya?

Pada masa itu, kebudayaan helenisme yang berasal dari Yunani telah merambah Asia. Banyak ciri dari kebudayaan helenisme ini, di antaranya: spekulasi dijauhkan untuk menerima yang aplikatif; sintesa dan alalisis yang sistematik dari suatu riset mendominasi dunia ilmu pengetahuan dan mulai menggeser pendapat dan pandangan spekulatif. Hal-hal yang demikian ini menjadi sesuatu yang baru dan tiba juga di dalam Jemaat Korintus. Maka, tidak mengherankan bila mereka kemudian skeptis dan apatis pada kabar bahwa ada orang mati, dikuburkan, tetapi bangkit dari kematian. Kubur kosong, bukan menjadi alasan untuk segera menerima fakta itu.

Sikap skeptis atau sikap yang meragukan, menunjukkan ketidakpastian dan menimbulkan kecurigaan, sangat wajar ada pada individu dan komunitas. Seseorang dapat menunjukkan sikap skeptis ini pada suatu kabar yang paling baru, yang baru pernah didengar, yang sebelumnya tidak pernah ada. Andaikan seseorang hari ini membuka pintu pesawat lalu terjun dari sana tanpa parasut, apakah orang akan mempercayainya? Bisa ya, bisa tidak. Bila tidak ada foto, gambar hidup (video) siapa yang akan percaya kata kabar? Skeptis saja orang yang mendengar berita itu. Kira-kira hal ini sama dengan apa yang sedang terjadi pada Jemaat Korintus. Mereka tidak serta merta percaya bahwa Yesus yang dihukum dengan cara digantung pada palang salib, mati, dikuburkan, lalu bangkit pada subuh hari pertama minggu itu.

Rasul Paulus mungkin resah atau kecewa ketika mendengar sikap skeptis dan apatis dari jemaat Korintus. Ia menulis untuk menguraikan dan memberikan alasan logis tentang pemberitaan yang dibawanya bersama dengan para rasul lainnya.

Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus tidak dibangkitkan. Pernyataan ini amat tegas. Kristus dibangkitkan karena sesungguhnya ada kebangkitan orang mati. Matius mencatat hal kebangkitan orang mati pada satu catatannya, … dan bukit-bukit batu terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka, dan banyak orang kudus yang meninggal, bangkit (Mat.27:51b-52). Peristiwa ini terjadi pada saat Yesus berada disalibkan. Ada kejadian-kejadian aneh yang “dipertontonkan” alam saat Yesus disalibkan. Kejadian-kejadian itu dicatat oleh Matius, salah satunya kebangkitan orang-orang kudus. Memang tidak ada cerita lanjutan tentang mereka yang bangkit pada hari itu. Tetapi, satu kepastian, ada kebangkitan orang mati, atau dengan kata lain, ada kehidupan sesudah kematian bahkan dengan wujud fisik yang dapat dilihat dan diraba.

Yesus bangkit dari kematian-Nya. Ia benar-benar bangkit, hidup dengan rupa dan wujud fisik yang dapat dilihat bahkan diraba. Fakta ini tidak dapat dibantah, ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid, salah satu di antaranya ada pernyataan Yesus kepada Thomas, Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah! (Yoh.20:27). Ini bukti bahwa Yesus yang mati itu benar-benar bangkit dari kematian-Nya. Keraguan, kecurigaan, dan anggapan sebagai ketidakpastian, hanyalah menunjukkan kebuntuan pikir belaka. Orang-orang yang terus mempertanyakan kebangkitan Yesus, akan terus berada dalam barisan yang sama dengan Jemaat Korintus.

Rasul Paulus menekankan makna yang hakiki dari kebangkitan Yesus Kristus dari kematian-Nya, yakni, pemberitaan para rasul menjadi sia-sia, dan kepercayaan yang dianut saat ini pun menjadi sia-sia. Mungkinkah para penganut ajaran Yesus Kristus berada di kanal yang keliru sehingga rasa percayanya menjadi sia-sia?

 

Penulis: Pnt. Heronimus Bani