Tindakan sebagai Hasil Belajar

yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, (Mat.12:7)

Matius 12:1-8

Tindakan sebagai Hasil Belajar

Dalam dunia pendidikan, masyarakat pendidikan khususnya pada bulan tertentu yakni bulan menuju tahun ajaran baru, para orang tua akan “pusing” pada paling kurang dua hal: pertama, kemana anak akan mendaftar baru atau melanjutkan ke jenjang sekolah lebih tinggi? Kedua, bagaimana menanggulangi biaya yang akan muncul di jenjang sekolah yang akan dimasuki anak? Misalnya anak akan segera menyelesaikan proses belajarnya di PAUD/TK, SD, SMP, SMA. Mungkin orang tua akan berdiskusi dengan anak sebelum mendaftarkan ke sekolah baru di sekitar lingkungan tempat tinggal, atau akan ke tempat lain yang jauh dari jangkauan orang tua, tetapi tetap mudah dalam pengawasan mengingat zaman digitalisasi ini.

Para orang tua dan calon siswa baru rasanya “tergiur” dengan sosialisasi atau mungkin lebih tepat iklan pendaftaran peserta didik baru yang ditawarkan sekolah-sekolah favorit, terutama sekolah-sekolah yang dikelola yayasan pemodal besar. Kemudahan dan fasilitas yang diperoleh hingga out put akan seperti apa digambarkan oleh sekolah-sekolah favorit. Lantas, pilihan jatuh ke mana para orang tua dan calon siswa baru?

Materi saat ini yang terbaca dalam Matius 12:1-8 menyinggung tentang praktik atau tindakan, perbuatan dari orang perorangan. Matius menceritakan bahwa Tuhan Yesus dan para murid sedang berjalan di ladang gandum. Ketika melintasi ladang gandum, mereka lapar sehingga mereka memetik gandum dan memakannya. Tindakan para murid ini kemudian menjadi alasan para Farisi untuk mencela Yesus dan para murid. Mereka dianggap telah melanggar Hukum Taurat karena hari itu, hari Sabat, hari perhentian dimana orang tidak boleh melakukan pekerjaan apa pun.

Namun, Tuhan Yesus melihat tindakan para murid dari sisi kebutuhan, bukan untuk melanggar hukum Taurat. Sesungguhnya Tuhan Yesus menunggu siapa yang akan berbelaskasihan untuk memberi makan kepada para murid yang lapar. Adakah di antara mereka yang mau menolong?

Kita belajar saat dari dunia sekolah, adakah sekolah-sekolah favorit menolong para calon siswa bersama orang tuanya? Ataukah sebaliknya para orang tua akan menjadi mainan pelaku pendidikan di sekolah-sekolah seperti itu atas nama favoritisme semu? Tindakan nyata untuk membawa para siswa/peserta didik kepada kebutuhan membekali mereka menuju masa depan jauh lebih berarti dibanding sejumlah aturan yang biasanya membelit siswa dan orang tuanya.

Sangat sering, teori (iklan) selalu menarik dan terlihat memanjakan dan menggiurkan. Praktiknya tidak selalu sebangun. Aturan selalu membatasi, praktiknya pembatas itu dilangkahi bahkan oleh mereka yang membuat aturan itu, sementara yang disasar wajib melaksanakannya.

Tuhan Yesus menghendaki praktik nyata dari hasil belajar, bukan pernyataan belaka yang muluk-muluk.

 

Penulis: Pdt. Nivlen M. Tari
Editor: Pnt. Heronimus Bani
Sumber: Surat na’ko abitan Koro’oto, SnaK; naskah diedit kembali untuk penyesuaian seperlunya.