Members dan Number

Members dan Numbers

 

Ketika Anda membaca judul tulisan ini, Anda sudah dapat memastikan bahwa dua kata pada judul tulisan ini bukanlah kata dalam Bahasa Indonesia. Keduanya dalam Bahasa Inggris yakni members ~ jamak yang artinya anggota-anggota, pengikut; person di dalam satu organisasi/institusi; dan numbers ~ jamak yang artinya nomor-nomor, angka-angka. Jadi bila suka menggunakan judul ini dengan mengganti kata /dan/ menjadi and, maka judul di atas menjadi members and numbers. Apa yang dimaksudkan dengan members and numbers di sini?

Seperti yang sudah disajikan dalam makna secara lexicon itu, maka tulisan ini diarahkan kepada orang-orang yang dengan kerelaan menjadi bagian dari satu organisasi/institusi. Di dalam suatu organisasi, selain berbagai sumber daya yang tersedia seperti: barang modal baik bergerak maupun tidak bergerak, semua itu hanya akan dapat didayagunakan bila ada orang, person, individu-individu dengan kualifikasi, kapasitas dan kapabilitas (K3) tertentu. Maka, organisasi akan memberi peluang dan ruang pada publik yang memenuhi ketentuan K3 itu dengan persyaratan tertentu yang ditentukan untuk boleh melamar. Semua tahapan seleksi akan dilewati hingga akhirnya akan diterima menjadi bagian [member (s)] dari organisasi itu. Ketika ia diterima, ia akan didaftarkan (registration) dengan urut-urutan tertentu, kemudian kepada sang member ia dipastikan menerima seperangkat number (nomor, angka, bilangan). Number itulah yang akan dipakai oleh organisasi sebagai tambahan identitas diri untuk memudahkan identifikasi.

Maka tengoklahlah, dimanakah organisasi yang anggota-anggotanya (the members) tidak beridentitas dengan angka-angka (the numbers)?

Yesus dan Murid-murid-Nya

Para Penulis kitab-kitab Injil di antaranya tercatat teknik yang digunakan Yesus untuk memilih murid-murid-Nya. Mari sejenak membaca Matius 10 (dan ayat sejajar terdapat pada Mrk 3, Luk.6). Pada Matius 10, khusus pada ayat 2-4 di situ tertulis nama-nama murid (aaz: atoup noni’). Jika kita menghitung berapa jumlahnya, hanya ada 12 orang. Mudah, bukan? Ada nama anggota (the name of members) dan jumlah anggota (the number of members). Maka, organisasi yang Yesus bentuk kiranya amat sederhana, simple, tidak rumit sehingga terjadi kompleksitas masalah yang ribet dan ruwet. Ia memanggil dan mengambil mereka dengan cara yang “mudah” tetapi berkelas. Orang-orang  terpilih yang tidak sekadar tampilan (perfomance) tetapi memiliki K3.

Mereka yang terpilih menerima “pembekalan” segera setelah Yesus memanggil dan memilih mereka. Selanjutnya Yesus mengutus mereka untuk misi organisasi, di antaranya: pemberitaan tentang Kerajaan Sorga, menyembuhkan orang sakit, membngkitkan orang mati, mentahirkan kusta, mengusir setan. Semua tugas ini sesungguhnya tidaklah mudah. Tetapi menjadi mudah karena mereka menerima satu hal yang luar biasa K3 yang dikonversi menjadi KUASA (the power). Kuasa yang mereka terima itu diberikan secara cuma-cuma, maka mereka pun harus memberikannya dengan cuma-cuma pula.

Dalam Matius 10:7-8 yang diterjemahkan oleh Unit Bahasa dan Budaya GMIT dalam Bahasa Amarasi, bunyinya seperti ini, Amnao mireko’ amenat, mimonib mifani’ amates, mireko’ ameen nui-atroki’, ma mriu’ mipoitan nitu. Uisneneo nathoeb anfee ki, mes In ka ntoit fa saa’-saa’ he njair seun-baran. Onaim oras ia, hi ro he mnao mithoeb meu biak ein, mes hi kais amtoit mifani’ saa’-saa’ na’ko sin. Bila kita menerjemahkan secara dinamis teks berbahasa Amarasi ini, akan seperti ini, Pergilah, sembuhkanlah mereka yang sakit, hidupkanlah kembali mereka yang sudah meninggal, sembuhkanlah mereka yang sedang sakit kusta, dan usir keluar setan-setan. Tuhan memberikan secara berlimpah, tetapi Ia tidak meminta sesuatu apapun sebagai imbalannya. Maka, sekarang kamu harus pergi dan berilah secara berlimpah kepada orang lain, tetapi kamu jangan meminta apa-apa sebagai balasan dari mereka. Itulah misi dari organisasi kecil yang Yesus bentuk dengan 12 anggotanya. Suatu misi yang teramat mulia namun sangat-sangat berat. Jumlah anggota terbatas, dengan wilayah pelayanan yang luas tanpa batas geografis, sosiologis, dan politik.

Ketika Yesus masih bersama anggota-anggota-Nya (His members), mereka telah menjelajah wilayah-wilayah yang amat luas. Mereka tidak memerlukan gedung mewah berisikan pendingin ruangan (air condition), listrik (electric), perangkat pengeras suara (sound system), dan lain-lain. Ketika berada di pantai, mereka menyesuaikan diri. Ketika berada di dalam sinagoge, mereka patuh pada aturan sinagoge. Ketika berada di rumah orang (sahabat) mereka masuk dalam jumlah terbatas. Ketika berada di jalan, mereka beriringan secara tertib. Ketika berada di atas perahu, mereka berusaha menyesuaikan pada kondisi yang terjadi, walau terjadi kepanikan pada mereka. Ketika Yesus harus memikul penderitaan, sengsara, hinaan, hingga disalibkan dan mati secara amat tragis, mereka yang terpilih justru berdiri di kejauhan. Seorang di antaranya justru menjadi pengkhianat. Namun, kesemuanya berakhir dengan daya dan kuasa yang lebih besar. Jumlah mereka makin bertambah ketika Yesus terangkat ke Sorga, dan Roh Kudus datang sebagai ganti-Nya. Roh itu tinggal di dalam hati, “menyalakan” jiwa yang takut menjadi amat berani. Jumlah terbatas menjadi tidak terbatas lagi.

Dampak selanjutnya, anggota-anggota (the members) yang menjadi pengikut Yesus Kristus makin bertambah. Angka-angka (the numbers) terus berbilang dan terbilang, ketika orang berusaha terus mencacah mereka. Pemberita Injil yang semula 11 yang tersisa, ditambahkan dengan orang-orang yang makin K3-nya dan Kuasa yang diberikan kepada mereka makin luar biasa. Jumlah mereka (the numbers of members) ditambahkan dari hari ke hari. Luas wilayah pelayanan seluas permukaan bumi.

 

Pnt. Heronimus Bani