Solidaritas Melahirkan Kreativitas

Solidaritas Melahirkan Kreativitas

Markus 2:1-12

 

Adakah di sini yang bisa hidup tanpa orang lain? Pastinya tidak ada! Seseorang boleh punya kebun sayur seluas apapun, dia tetap butuh orang yang menjual bibit sayur. Seseorang mau mempunyai ternak sapi, babi atau ayam yang banyak, bukan mustahil baginya tetapi, dia membutuhkan orang lain untuk memberi pakan pada peliharaannya dan pembeli/pedagang yang membeli peliharaannya itu saat dijual. Sehebat-hebatnya seorang penulis buku, dia membutuhkan penerbit dan percetakan untuk menerbitkan dan mencetak bukunya, dan pembaca yang sudi membaca bukunya. Sesenior apapun seorang pendeta di tempat pelayanan, dia membutuhkan tukang sapu gereja, dan seterusnya. Artinya tidak ada orang yang bisa hidup senndiri karena kita memerlukan kerjasama dengan orang lain. Nah hal inilah yang diceritakan dengan jelas dalam bagian firman Tuhan saat ini.

 

Di Kapernaum ada seseorang yang lumpuh. Mungkin bukan hanya kakinya yang lumpuh atau tangannya yang lumpuh, mungkin sebagian besar tubuhnya lumpuh sehingga dia harus digotong/dipikul oleh 4 orang. Tapi apapun keadaannya, yang jelas ada kebersamaan untuk membantu orang lumpuh ini bertemu Yesus dan mendapat penyembuhan. Mari kita renungkan bagian Firman Tuhan hari ini:

Pertama, tidak ada seorang pun yang mengenal ke-4 orang yang menggotong orang lumpuh. Satu hal yang dimungkinkan yaitu keempat orang ini mempunyai perbedaan: suku, status sosial, karekter, bentuk fisik, dst.  Namun, terlepas dari berbagai perbedaan itu, mereka mempunyai hal yang sama yaitu kepedulian. Mereka memiliki hati yang mau merasakan penderitaan orang lumpuh ini sehingga mereka tidak pandang siapa mereka atau siapa dia yg lumpuh dan dengan rela mau memikul beban bersama-sama menuju Yesus, Sang Penyembuh.

Dalam hidup, kelumpuhan tidak hanya menyangkut fisik tapi bisa juga menyangkut hal-hal dalam kehidupan kita. Bisa saja kita mengalami kelumpuhan ekonomi, kelumpuhan kasih, kelumpuhan dalam sistem kehidupan bersama sebagai masyarakat, kelumpuhan semangat, dst. Tetapi melalui Firman Tuhan hari ini, Tuhan mengajarkan dan mengingatkan kita bahwa semua masalah “kelumpuhan” ini hanya bisa diatasi kalau kita punya rasa “terbeban” 1 dengan yang lain. Kita punya rasa peduli yang sungguh2 untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain. Orang Ambon bilang “Ale rasa bta rasa.” Harus ada rasa “terbeban”, rasa peduli yang sungguh supaya bisa jalan sama-sama untuk selesaikan masalah karena kalau tidak ada kepedulian yang sungguh maka tidak mungkin bisa jalan bersama untuk selesaikan masalah.

Bacaan kita jelas menggambarkan hal ini. Ternyata ada juga kelompok lain yang hadir pada saat itu bukan untuk turut merasakan kesakitan orang lain dan mencarikan solusi yang cerdas dan tepat, tetapi hadir dalam kebersamaan untuk mencari-cari masalah. Mereka adalah ahli-ahli Taurat dan sikap mereka ini tidak menghasilkan pemulihan. Dari sini kita belajar bahwa apapun kelumpuhan hidup yang kita alami saat ini, entah itu menyangkut masalah pribadi, masalah keluarga, masalah di masyarakat, masalah di dalam gereja, kita perlu kebersamaan untuk sama-sama “terbeban” mengatasinya. Pastikan kita saling peduli dan turut merasakan penderitaan orang lain (Bdk. Fil. 2:4)

Di rumah, jika kebutuhan makan minum sudah hampir  habis,  Jangan hanya mama yang pikir atau bapa yg pikir solusi atau anak2 pikir sendiri. Semua harus terbuka untuk saling peduli dan usaha cari solusi karena keluarga adalah milik bersama.

Dalam gereja, ada hal yang perlu dibenahi, duduklah bersama-sama untuk saling terbuka dan memberi hati untuk peduli dengan sungguh dan mau benahi bersama-sama karena kita adalah satu tubuh.

 

Kedua, kisah ini tidak hanya dimulai dengan sama-sama terbeban saja (1 sakit, semua rasa sakit) tapi dilanjutkan dengan usaha mengatasi rasa sakit itu bersama-sama. Saat mereka membawa orang lumpuh itu dan sudah dekat dengan Yesus, mereka menghadapi tantangan: orang banyak sudah mengerumuni Yesus sehingga hampir tidak ada tempat untuk masuk, tetapi ke-4 orang ini berusaha bersama-sama untuk mencari jalan supaya bisa bawa orang lumpuh ini kepada Yesus. Seandainya kebersamaan mereka berhenti di situ, orang  lumpuh ini  pasti akan tetap lumpuh. Tapi kebersamaan mereka tidak berhenti di situ mereka tetap cari jalan keluar dan akhirnya Orang lumpuh itu digotongg melalui tangga kemudian mereka membuka atap dan menurunkannya bersama-sama.

Kerja sama memang baik tapi kalau menghadapi tantangan harus mau sama-sama kerja keras. Harus mau bertahan bersama-sama untuk mencari jalan keluar karena dalam kebersamaan lahir kreativitas. Dalam kepedulian lahir banyak ide baru, tetapi sekarang ini orang lebih suka kerja sendiri karena merasa kerja dengan orang lain sama seperti kerja sendiri. “Beta pikir ide, beta yang kerja karena sonde ada yang mau pikir dan kerja.”

Hari ini, Firman Tuhan mau bilang kepada kita bahwa Keberhasilan menyelesaikan masalah tidak ditentukan oleh 1 orang saja. Kepala keluarga punya posisi penting tapi keberhasilan menyelesaikan masalah keluarga ditentukan oleh usaha bersama semua anggota keluarga. Kehebatan pemimpin suatu bangsa bahkan gereja ini memang berpengaruh. Tapi kerjasama dan kerja keras dari semua anggota sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, hiduplah untuk saling bertolong-tolongan menanggung beban karena dengan demikian kita sudah memenuhi hukum Kristus (Gal. 6:2)

Ketiga, Dalam hidup sehari-hari, bukankah seringkali kita juga berjumpa dengan hal-hal seperti yang dialami oleh ke-4 orang tadi yang tidak melihat adanya jalan untuk masuk? Rasanya tidak ada solusi, tidak ada kesempatan untuk masuk. Merasa bahwa semua perjuangan sia-sia. Akan tetapi, bila hanya berhenti pada perasaan-perasaan seperti itu, bagaimana keadaan bisa berubah?

Belajar dari ke-4 orang ini, keadaan hanya akan bisa berubah apabila tiap orang tetap memiliki kepercayaan bahwa meskipun menghadapi keadaan yang tanpa jalan, kita akan bisa tetap menemukan atau bahkan membuat jalan itu ada karena ada mujizat yang terjadi atas kehendak-Nya, kita tunggu beres. Tapi ada mujizat yang Tuhan buat karena permohonan dan usaha bersama.

Kepedulian yang besar dalam kebersamaan mereka, ke-4 orang ini yang tadinya hanya meminta mujizat kesembuhan jasmani bagi orang lumpuh, Tuhan  beri lebih dari yang mereka minta. Orang lumpuh sembuh dan dosanya diampuni (sehat jasmani dan jiwanya selamat) bahkan semua orang turut merasakan hadirat Tuhan dan memuliakan nama-Nya.

Tujuh puluh tujuh tahun lalu, Para pahlawan bangsa kita sudah membuktikan kebaikan dalam kebersamaan. Perjuangan mereka sampai Indonesia merdeka adalah hasil perjuangan bersama. Bahkan saat mereka lihat tidak ada jalan masuk ke kemerdekaan mereka terus berkumpul, mencari solusi dan berjuang sampai merdeka.

Masalah hidup tidak akan selesai hanya dengan dibicarakan. kita harus sama2 terbeban (1 rasa sakit smua rasa itu) lalu sama2 bertahan untuk berusaha mencari jalan keluar, sama2 beriman  dan pastikan hasil akhirnya adalah supaya nama Tuhan dimuliakan. AMIN

 

Penulis: Pdt Desy Kharisni Jeni Lero, M,Si.
Editor: Pnt. Heronimus Bani, M.M