Unit Bahasa dan Budaya dalam usaha Pelestarian Bahasa Daerah di NTT

Oekabiti,tefneno-koroto.org. Pada halaman akun feisbuk Tateut Pah Meto’ pagi ini tercatat satu artikel pendek yang patut direnungkan. Baiknya kami kutipkan sebagai berikut:

Produk Buku Berbahasa Daerah

Salam sejahtera para Sahabat.
Mungkin sebahagian orang di lingkungan GMIT sudah mengetahui bahwa ada Unit Bahasa dan Budaya, salah satu “tangan” pelayanan GMIT. Mungkin pula ada yang belum mengetahuinya.

“Tangan” pelayanan ini melakukan tugas pendataan bahasa daerah di lingkungan pelayanan GMIT. Selanjutnya diortografikan dan diakukan pelatihan-pelatihan yang hasilnya dipakai untuk penerjemahan alkitab khususnya Perjanjian Baru.

Beberapa bahasa daerah telah diselesaikan prosesnya setelah melalui perjalanan waktu yang panjang, di antaranya: PB Bahasa Melayu Kupang, Uab Meto Amarasi, Helong, Rote-Lole, Rote-Tii, Tetun, Dhao.

Sementara beberapa yang lain yang baru pada Injil Markus seperti Bahasa Klon, Teiwa, Wersing, Amanuban, dan Amfo’an.

Ada pula yang sedang bersiap-siap menuju tangan pembacanya yaitu PB Bahasa Rikou dan Delha. Doakan agar proses ini berlangsung dengan nyaman dan lancar sehingga pada waktunya sudah dapat dibaca oleh komunitas pengguna dua bahasa daerah itu.

Selain menghasilkan buku-buku Perjanjian Baru berbahasa daerah, UBB mengerjakan dan menghasilkan buku-buku yang mendukung program belajar bahasa daerah. Buku-buku cerita bergambar dalam bahasa daerah para sahabat bisa mendapatkannya di sana.

Mari lestarikan bahasa daerah dengan terus bwrbicara dalam bahasa daerah sesuai konteksnya, bacalah dan belajarlah untuk menulisnya.

Di akhir status ini, dibuatkan hatstag (hestek) ubbgmit, bahasadaerah dan lestarikanvbahasadaerah.

Unggahan ini kemudian mendapat sambutan beberapa pengguna aplikasi media sosial feisbuk yang meresponi dengan membagikannya. Mengapa? Ternyata karena isinya bermanfaat untuk pelestarian bahasa daerah.

Salah satu unit di Kantor Majelis Sinode GMIT yang menangani tugas ini disebutkan sebagai “tangan” pelayanan oleh pemilik akun Tateut Pah Meto’. Tangan pelayanan itu bernama Unit Bahasa dan Budaya. Tugasnya dijelaskan dalam situs resmi UBB  http://ubb.or.id/ sebagai berikut

  • Mengkoordinasi usaha penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa daerah yang merupakan “bahasa ibu” warga GMIT. Kualitas penerjemahan itu harus bermutu dan mengikuti standar terjemahan Alkitab internasional.
  • Menyusun kamus-kamus dan bahan lain dalam bahasa daerah tsb.
  • Mengupayakan dana guna membiayai penerjemahan, percetakan, dan penyebarannya.

Kerja keras ini dimulai sejak 1998, intensitasnya makin kuat sejak tahun 2004 ketika namanya yang semula (Central for Cross-Cultural Communication) berada di UKAW dialihkan ke Kantor Majelis Sinode GMIT.

 

By: Admin

Sumber: Akun FB Tateut Pah Meto’

Sumber foto: situs resmi UBB GMIT